Perjalanan mencari batu giok warna dimulai. Aku sangat antusias untuk mengumpulkan batu-batu giok itu, semoga saja rintangan yang aku hadapi nanti bisa dengan mudah dilalui.
Aku dan yang lain mengikuti Roar dari belakang. Ke arah barat aku mengikuti pemimpin Roughus itu. Kakiku terasa sakit kali ini, mungkin karena perjalanan sudah dilalui cukup jauh.
"Kita bisa istirahat di sini," ujar Roar seraya berbalik ke arahku dan yang lain.
Jadilah aku dan yang lain berhenti di sini. Sebuah pohon yang akar besarnya keluar menjadi tempat yang aku pilih untuk duduk.
"Aaaa!" teriak seseorang, entah berasal dari mana suara itu.
"Suara teriakan siapa itu?" tanyaku seraya memperhatikan sekeliling, takut melewatkan orang yang berteriak.
Sekali lagi aku memperhatikan sekeliling. Namun, tetap saja tidak ada wujud orang yang berteriak. Mendadak aku jadi merinding.
"Jika ingin duduk, maka katakan lebih dulu agar aku tidak terkejut." Seorang kurcaci berhidung dan bertelinga panjang seperti kelinci tiba-tiba keluar dari pohon yang akarnya aku duduki.
Kurcaci iti tiba-tiba keluar dan aku sangat terkejut ditambah lagi penampilan anehnya juga turut andil dalam rasa terkejut yang aku alami.
"Roar, siapa dia?" tanya kurcaci itu pada Roar. Mereka terlihat saling mengenal satu sama lain.
"Dia Youlexa, atau kau bisa panggil dia Eliza. Putri dari Ratu Alexa dan Raja Daniel," jawab Roar.
"Oh ... dia keturunan suci. Tuan Putri, duduklah dengan tenang aku akan segera kembali." Kurcaci itu pergi meninggalkaku dan yang lain di sini. Entah apa yang akan dia lakukan hingga menyuruh aku dan yang lain tetap menunggu di sini.
"Roar, siapa dia?" tanyaku penasaran dengan identitas kurcaci kecil dan imut.
"Dia adalah Boma, kurcaci yang ikut melindungi hutan bagian dalam bersamaku dan Revus. Boma juga penjaga area masuk di mana batu giok disimpan oleh para leluhurmu," beber Roar dengan jelas.
"Jadi, kita sudah dekat dengan salah batu giok yang kita cari?"
Roar mengangguk membenarkan jawabannku. Akhirnya, batu giok pertama akan segera aku dapatkan.
Boma kembali dengan setumpuk buah-buahan yang ia bawa dengan kain berwarna hitam. Dia meletakan buah-buahan itu di depanku. Boma memberi isyarat memintaku untuk memakan buah-buahan itu.
Aku menatap Roar sebelum memakan buah-buahan yang diberikan Boma padaku. Roar mengangguk mengijinkan aku untuk memakan pemberian Boma.
Pertama, aku memakan buah apel. Rasanya sangat manis, tidak seperti buah apel biasa. Sangat manis hingga aku ingin terus memakannya.
"Kalian semua, makanlah," pinta Boma pada yang lain.
Mereka semua makan buah-buahan itu tanpa terkecuali Roar juga ikut memakannya.
Buah-buahan itu sangat manis, tidak seperti buah-buahan yang biasa aku makan. Apa istimewanya? Sungguh rasanya sangat enak.
"Tuan Putri. Bawalah aku untuk ikut mengambil batu giok," pinta Boma dengan suara lirih.
"Boma, kau boleh ikut kami. Tapi, katakan dulu batu giok mana yang ada di tempat ini?" tanya Roar.
"Giok Biru, ada koala besar yang menjaganya. Koala itu bernama Rubik, dia suka bermain lompat tali," jawab Boma menjelaskan.
Kedengarannya aneh, seekor koala adalah penjaga batu giok biru dan dia suka bermain lompat tali. Aku jadi penasaran dengan wujud koala bernama Rubik itu.
Boma menghentikan langkah saat ada dua pohon besar yang berjejer sperti pintu gerbang. Boma menyuruhku dan yang lain untuk masuk mengikutinya melewati dua pohon besar itu.
Setelah melewati pohon-pohon itu, pemandangan luar biasa menyapaku. Tempat ini, terlihat sama dengan hutan biasa. Namun, hutan itu terlihat istimewa karena berbagai macam buah yang masih ada di pohon. Apa buah-buahan yang dibawa Boma tadi berasal dari sini?
"Itu dia Rubik," ucap Boma menunjukkan keberadaan Rubik--si koala yang suka bermain lompat tali.
Aku dan yang lain mendekat untuk meminta ijin Rubik mengambil batu giok biru. Namun, sepertinya Rubik tidak mengijinkan aku mengambil giok biru itu walau aku sudah memintanya secara baik-baik.
"Jika ingin giok biru, kau harus bermain lompat tali denganku," ucap Rubik memberi persyaratan.
Lompat tali? Itu hal yang sangat mudah. Aku akan kalahkan dia dan mengambil giok biru itu.
Frans memulai permainan. Tali yang digunakan untuk bermain lompat tali adalah tali ajaib, jadi tidak perlu ada yang memegangi tiap ujung tali agar bisa bergerak.
Frans bersiap memulai lompatan. Namun, anehnya sahabatku itu terlihat tidak bisa mengangkat tubuhnya sendiri.
"Ada apa, Frans?" tanyaku memastikan.
"Entahlah, tubuhku terasa sangat berat, Eliza. Aku tidak bisa melompat," jawab Frans yang terlihat cemas.
Steven maju untuk menggantikan Frans bermain lompat tali. Anehnya, sama seperti Frans, Steven juga tidak bisa mengangkat tubuhnya sendiri untuk melompat.
Aku menggantikan Steven untuk memastikan keanehan yang terjadi. Sama seperti yang dialami Frans dan Steven, aku juga tidak bisa bermain lompat tali. Apa yang aneh? Kenapa seperti ini?
Saat berjalan aku merasa baik-baik saja, tetapi saat mencoba melompat untuk bermain, tiba-tiba tubuhku terasa sangat berat. Apa yang sebenarnya tetjadi?
"Roar, apa kau tidak ingin mencoba?" tanyaku pada pemimpin Roughus itu.
"Tidak perlu, Eliza. Kita sudah tahu hasilnya," ucap Roar pesimis.
Roar pesimis dengan usaha yang telah dilakukan. Aku juga seperti itu. Namun, aku tetap merasa aneh, kenapa tiba-tiba tidak bisa melompat?
Aku melihat Boma tersenyum nakal. Mungkinkah dia yang sudah menjailiku dan yang lain?
"Boma, apa ini ulahmu?" tanyaku sedikit menyudutkan.
"Tidak, aku tidak melakukan apapun. Memangnya apa yang salah?"
Ada keraguan dalam hati. Aku masih merasa kalau ini semua ulah Boma. Lihat, dia masih saja sesekali tertawa lirih setiap aku atau yang lain mencoba untuk bermain lompat tali dengan Rubik.
"Boma, katakan apa yang membuatku tidak bisa melompat?" tanya Steven sedikit keras.
"Ya, itu karena kau tidak bisa bermain lompat tali. Jangan salahkan aku jika tidak bisa melompat." Boma terus nerusaha mengelak tuduhan yang mengarah padanya.
"Itu tidak mungkin! Aku ini sehat, bugar. Bagaimana bisa melompat saja susah."
Aku mencoba memikirkan kemungkinan lain yang bisa membuatku jadi sperti ini. Sebelumnya aku memakan buah-buahan yang dibawa Boma, mungkinkah buah-buahan itu penyebabnya?
"Boma, kau membawa buah-buah yang kami makan dari sini, kan? Aku melihat banyak buah-buahan saat pertama masuk tadi."
Boma meringis, sepertinya yang aku katakan benar. Buah-buahan itu penyebabnya ditambah lagi sikap jail Boma membuat aku dan yang lain tidak berdaya dalam menghadapi Rubik.
"Jika kalian fokus dan tidak meremehkan, sebanyak apapun buah yang kalian makan tidak akan memengaruhi tubuh kalian," ucap Boma.
Fokus dan tidak meremehkan? Ah, ya. Aku memang meremehkan permainan lompat tali ini. Aku menganggap bahawa ini adalah hal yang sangat mudah untuk dilakukan.