Aku tidak tahu harus mengucapkan apa. Melihat pemimpin Roughus menunduk di hadapanku saja sudah membuat diriku bingung.
"Aku senang, keturunan suci telah kembali. Harapan Lootopia kembali seperti sebelumnya juga pasti akan terlaksana," ujar Roar seraya menatapku.
Aku terdiam karena tidak tahu harus bicara apa. Ini kali pertama aku bertemu Roar dan rasa takjub saat melihatnya tidak kunjung hilang.
Roar membawa aku, Steven dan Frans ke suatu tempat. Aku tidak tahu tempat apa yang dituju. Namun, jalanan yang dilalui menuju ke hutan lebih dalam.
Udara di sini sangatlah segar, mungkin karena daerah ini adalah hutan bagian dalam. Kupu-kupu terbang ke sana ke mari. Di sini, aku juga sudah tidak melihat bunga-bunga berbahaya seperti saat bertemu Revus, mungkin memang hanya daerah itu yang memiliki berbagai macam bunga yang mengerikan.
"Apa kau lelah, Putri Youlexa?" tanya Roar yang menghentikan langkahnya.
"Aku baik-baik saja. Tolong panggil aku Eliza saja. Aku belum terbiasa dengan nama Youlexa." Nama itu masih aneh bagiku, Eliza lebih baik untuk saat ini.
"Wajahmu mengingatkanku pada Ratu Alexa. Jika saat itu aku tidak terpengaruh karena serbuk emosi, mungkin Lootopia masih dibawah kepemimpinan ratu yang adil seperti ibumu." Penyesalan terdengar dari Roar. Sebagai pemimpin, pasti dia merasa sangat bersalah. Lootopia yang harus dia jaga terluka oleh Ratu Samara.
Tibalah aku di tempat tujuan. Tempat ini sangat indah tidak berbeda jauh dengan hutan tempat aku bertemu Revus.
Beberapa Roughus menyambut kedatangan. Mereka terlihat sangat menghormati Roar.
"Tidurlah untuk malam ini di sini. Kita akan melanjutkan perjalanan besok," ucap Roar.
Aku menuruti pemimpin Roghus itu. Steven membuat tenda dengan mantra untuk tidur, sedangkan aku duduk di luar tenda, memperhatikan para Roughus yang duduk di sekeliling, mereka terlihat seperti sedang menjagaku.
Selagi Frans dan Steven menyiapkan tenda, aku berjalan untuk menemui Roar yang sedang duduk tidak jauh dari lokasi tenda.
"Roar, apa kau baik-baik saja?" tanyaku pada serigala mistis itu.
"Aku sedang merenung, kembalinya keturunan suci akan mengembalikan Lootopia yang aman, kan?"
"Aku akan melakukannya. Aku akan melakukan semua sekuat tenaga, kau juga harus ada di sisiku, Roar, karena dirimu adalah pelindung Lootopia."
"Kau benar, Eliza."
Aku menikmati pemandangan langit malam yang indah bersama Roar. Ada satu harapan yang aku ucapkan saat ada bintang jatuh. Harapan agar Lootopia segera bisa kembali seperti sebelumnya.
"Setelah ini, kau harus fokus mencari sembilan batu giok warna. Perjalanannya akan sangat penuh rintangan dan mungkin nyawamu tidak akan selamat," lanjut Roar.
Seketika aku merasa takut karena ucapa Roar tadi. Kira-kira rintangan apa yang aku hadapi nanti?
"Apa yang akan kita lakukan jika berhasil mendapat sembilan batu giok warna?"
"Batu giok itu akan menyempurnakan kekuatan sihirmu. Kau bisa mengurung Ratu Samara saat kau telah berhasil nanti."
Aku mulai mengerti sekarang, tidak ada yang bisa mengalahkan sihir Ratu Samara kecuali dengan batu giok warna.
"Tapi, Roar. Di mana kita mencarinya?"
"Kita harus keluar dari hutan ini dan berjalan ke arah barat Lootopia. Semua giok warna itu ada di daerah barat. Namun, letaknya berpencar dan setiap batu giok warna memiliki penjaga. Tidak mudah untuk menaklukan mereka. Tapi ... yakinlah kalau kau pasti bisa."
Serigala ini benar-benar bijaksana. Pantas dia menjadi pemimpin para Roughus. Dia sungguh luar biasa.
Saat memperhatikan Roar, tanpa sengaja aku melihat luka goresan yang besar di kaki pemimpin Roughus itu. Luka seperti itu pasti sangat menyakitkan.
"Roar, ada bekas luka di kakimu? Kenapa?" tanyaku
"Ini luka yang dibuat Ratu Samara saat penobatan ibumu. Dia melukaiku dengan tongkat emasnya."
"Apa bisa sembuh? Sepertinya lukanya parah."
"Luka ini akan sembuh, jika luka yang Lootopia alami telah sembuh. Dan ... yang bisa melakukan hal itu hanya dirimu."
Banyak orang yang berharap padaku, bahkan pemimpin Roughus juga mempercayaiku dan berharap sangat besar padaku. Mereka semua ingin melihat kebaikan mengalahkan kejahatan.
Memang sudah seharusnya yang baik menang. Namun, untuk mencapai hal itu, akan banyak rintangan yang harus kulalui. Aku adalah gadis biasa, itu yang aku rasakan saat ini. Namun, mereka semua membuatku menjadi gadis yang kuat.
"Istirahatlah," perintah Roar seraya berjalan pergi meninggalkanku.
Aku masih ingin menikmati cahaya bulan yang terang. Cahaya yang terang di langit sana, apa ayah dan ibu juga bisa melihatnya? Aku berharap, walau mereka ada dalam penjara istana, cahaya bulan bisa menerangi mereka, setidaknya walau aku tidak ada di sana bersama mereka, cahaya itu bisa menghangatkan hati mereka.
"Kau tidak istirahat, Eliza," ujar Steven yang mendekat dan duduk di sampingku.
"Aku sedang mengamati bulan. Cahayanya sangat terang, kan?"
Steven mengangguk setuju. Dia tersenyum padaku, hal itu membuatku gugup. Aku tidak boleh seperti ini. Fokusku sekarang adalah menyelamatkan Lootopia dan kedua orang tuaku.
Ayolah Eliza, ini bukan waktu untuk beromantis ria, kau harus pikirkan cara untuk mencapai tujuanmu.
"Tapi lebih terang senyummu," celetuk Steven.
Lagi dan lagi, dia tersenyum seperti itu padaku. Jantungku berdebar kencang lagi olehnya.
***
Kicauan burung Luck terdengar lebih merdu dari biasanya. Rasanya aku ingin tertidur lagi. Namun, burung Luck tidak membiarkaku untuk tidur lagi, jadi aku keluar dari tenda untuk melihat keadaan luar.
Saat keluar, aku mendapati Roar seperti sedang berbicara dengan para Roughus lain yang duduk di hadapan Roar. Pemimpin Roughus itu seperti sedang membicarakan hal penting.
Karena rasa penasaran, akhirnya aku mendekat dan mencoba mendengarkan apa yang Roar bicarakan.
"Eliza ... kenapa kau berdiri di sini? tanya Frans yang terlihat seperti baru saja mandi.
"Kau mandi? Di mana?" Aku penasaran karena memang aku ingin mandi.
"Di bawah air terjun. Mandilah, kita akan melanjutkan perjalanan, bukan?"
Setelah selesai mandi dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan, aku kembali menghampiri Roar yang masih berbicara dengan para Roughus.
"Selama aku pergi, kalian harus menjaga tempat kita ini. Aku harus membantu calon ratu kita untuk mendapatkan ketenangan Lootopia," ucap Roar di depan para Roughus lain.
Semua Roughus menunduk untuk memberi hormat pada pemimpin mereka sebelum pergi. Sungguh pemandangan yang sangat luar biasa.
"Ayo pergi," ajak Roar
Aku, Steven dan Frans mengikuti Roar dari belakang. Perjalanan untuk mencari batu giok warna dimulai. Aku harus mempersiapkan diri atas segala kemungkinan seperti yang dikatakan Roar semalam.
Ditiap langkah, aku memikirkan kejadian kemarin, kenapa kalungku bersinar saat Roughus itu berusaha menyakitiku? Apa karena kalung ini adalah kalung dari ibu?
"Roar, bolehkah aku bertanya?" tanyaku pada serigala mistis yang berjalan di depanku.
"Ada apa."
"Saat Roughus berusaha untuk menyakitiku, tiba-tiba ada cahaya yang keluar dari kalungku ini. Apa sebenarnya yang terjadi?"
"Kalung itu adalah identitas sekaligus pelindung untukmu, jadi cahaya itu keluar untuk memberitahu bahwa kau adalah keturunan suci Lootopia."