Hari semakin gelap, tetapi keberadaan Roar masih belum bisa diketahui. Revus telah memberi petunjuk tentang keberadaan pemimpin para Roughus itu. Namun, tetap saja sulit untuk bertemu dengannya.
"Menurut kalian, apa tidak aneh dengan ucapan Revus sebelumnya. Kelinci besar itu mengatakan kalau Roar suka menyendiri dengan kembarannya. Apa mungkin, Roar punya kembaran?" Steven terlihat berpikir keras.
Steven membuatku berpikir kembali soal ucapan Revus, apa iya, seekor serigala mistis yang menjadi pemimpin serigala mistis lain punya kembaran? Terdengar aneh memang. Namun, hal itu juga tidak bisa dikatakan mustahil.
"Ohh ... mungkin yang dimaksud kembaran adalah pantulan diri Roar sendiri," ucap Frans tiba-tiba.
"Pantulan? Itu bisa jadi. Apa ada tempat yang memiliki cermin di sini?" Hanya cermin yang terpikirkan olehku saat ini. Namun, apa mungkin ada cermin di dalam hutan?
"Ini hutan, Eliza, bukan rumahmu," sindir Steven padaku.
"Ya, mungkin saja, apa yang tidak mungkin di Lootopia?" protesku.
"Bisakah kalian tidak bertengkar?" Aku pusing mendengarnya," protes Frans dengan muka polosnya.
Tanpa disadari, aku telah membuat Frans tidak nyaman karena pertengkaran yang terjadi antara aku dan Steven. Ingin sekali tidak mendebat Steven. Namun, dia terkandang menyebalkan hingga aku tidak bisa menahan emosiku.
"Frans, maaf ya, aku tak bermaksud untuk berdebat setiap saat dengan Eliza. Tapi, dia itu sungguh menyebalkan," ucap Steven seraya menatapku dengan tatapan anehnya.
"Kau bilang apa? Aku menyebalkan!"
"Mulai lagi, kan?" protes Frans lagi.
Steven terdiam, aku juga tidak mau berdebat lagi. Aku rasa perdebatan ini tidak bisa dilanjutkan, karena jika perdebatan ini berlanjut, akan ada yang marah.
Aku menatap Frans seraya menringis di depannya. Bukannya tersenyum atau mengatakan sesuatu, Frans malah pergi meninggalkan aku dan Steven yang masih betdiri di tempat.
Aku berjalan lebih dulu dengan perasaan kesal pada Steven. Aku kira dia berubahmenjadi pria romantis. Namun, apa yang aku pikirkan salah. Dia tetap menyebalkan.
Frans menghentikan langkahnya dan berbalik menghadapku. Frans tersenyum aneh dan aku merasa ada sesuatu yang ingin dia katakan, mungkin sebuah ungkapan protes atau sesuatu yang lain.
"A-ada apa, Frans?" Aku mendekat pada Frans untuk memastikan keadaannya, mungkin saja dia merasa pusing atau ada hal lain yang dia keluhkan.
"Eliza, Steven ... aku lapar," ucap Frans seraya meringis.
Ternyata dia lapar, aku kira mungkin dia pusing karena efek bunga tidur. Aku mengeluarkan bekal makanan yang aku bawa dari rumah, setidaknya makanan ini bisa mengisi perut Frans yang keroncongan.
"Makanlah, kita harus segera bertemu Roar. Kita tidak bisa menghabiskan banyak waktu di sini." Aku memberikan sekotak makanan dan sekotak lagi untuk Steven.
Perutku juga terasa lapar. Namun, rasanya aku tidak punya napsu untuk makan. Kira-kira, apa ayah dan ibu makan dengan baik di penjara istana? Apa mereka merindukanku sama seperti aku yang merindukan mereka bahkan sebelum aku tahu siapa kedua orang tua kandungku, aku selalu merindukan mereka.
"Eliza, makanlah." Frans memban membuka kotak makanan milikku. Senada dengan Frans, Steven menuangkan air minum ke dalam gelas.
"Kalian berdua ... terima kasih."
Belum sempat memakan makananku, aku mendengar sesuatu berjalan ke arah aku duduk saat ini. Telingaku ini sangat sensitif karena itu aku tahu ada yang mendekat.
Entah kenapa aku mulai merinding, firasatku mengatakan kalau yang mendekat adalah sesuatu yang berbahaya.
"Aku rasa ada yang mendekat ke arah kita," ucapku memberutahu kedua temanku.
"Mungkin Revus," tebak Steven dengan keadaan makanan dimulutnya yang belum habis.
Revus?
Aku rasa itu tidak mungkin. Jika dia pasti sudah menyapa dari tadi. Lagipula ada hal apa yang membuat Revus kembali menghampiri, tidak mungkinkan?
"Eliza ... Steven," lirih Frans dengan raut ketakutan di wajahnya.
Aku menoleh ke arah belakang dan mendapati seekor serigala hitam sedang mengawasi. Serigala itu terlihat kelaparan. Apa dia akan memangsa? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kakiku gemetar.
"Tenang, sepertinya dia Roughus pemangsa, dia terlihat kelaparan, jadi jangan takut, bersikap biasa saja," Steven menenangkan.
Dia pandai bicara, mana ada orang yang bisa tenang saat berdapan dengan hewan buas?
"Saat aku mengikat Roughus pemangsa ini dengan sihir. Kita lari sama-sama, ya." Ide Steven cukup bagus. Aku mempersiapkan diri untuk berlari saat pria itu mengikat hewan buas itu dengan sihir.
Steven mulai mengucapkan mantra dan tiba-tiba sebuah tali yang bercahaya keluar dari telapak tangannya dan langsung mengikat swrigala yang terlihat kelaparan itu.
Aku dan yang lain berlari sekuat mungkin untuk menghindarinya, karena tali sihir itu tidak akan menahan serigala itu lama.
Aku berlari sekuat tenaga, karena tanpa disadari, aku berlari terpisah dengan yang lain. Aku berlari sendirian dan Roughus pemangsa itu terus mengjarku.
"Frans, Steven!" Aku berteriak meamnggil mereka, mencoba meminta bantuan karena napasku mulai habis, aku akan kehabisan tenaga.
Aku terus berlari untuk menyelamatkan hidupku sendiri. Ayah, Ibu tolong aku.
"Aa ...." Aku tesandung dan akhirnya jatuh tersungkur. Roughus itu mendekat padaku dengan tatapan laparnya. Apa mungkin ini akhir hidupku?
Aku menutup mata karena tidaj sanggup melihay serigala itu makin mendekat. Cuku lama aku memehamkan mata. Namun, aku rasa ada yang aneh.
Beberapa saat kemudian aku membuka mata karena aku tidak merasa sakit atau apapun dan sepertinya Roughus itu tidak menyerangku.
Aku mendapati serigala yang besar itu sedang tertunduk di depanku dan ada cahaya yang keluar dari kalung yang aku pakai. Mungkinkah karena cahaya ini serigal itu tertunduk?
"Eliza!" Frans berlari ke arah, Steven mengikuti di belakang.
"Kau tidak apa-apa, Eliza?" tanya Steven.
Aku mengangguk sebagai jawaban. Aku bersyukur serigala itu tidak jadi memangsaku.
"Kau adalah keturunan suci Lootopia. Mari ikut aku bertemu Roar," ajak serigala itu.
Dengan rasa takut aku dan yang lain mencoba mengikuti serigala itu. Semoga saja serigala itu tidak berbohong.
Aku dan yang lain sampai di sebuah air terjun. Suasananya dingin di sini mungkin karena percikan airnya.
Aku melihat seekor serigala sedang duduk di pinggir sungai aliran air terjun. Dia melihat ke dalam sungai seakan sedang memperhatikan sesuatu.
"Roar, aku membawa keturunan suci Lootopia," ucap serigala tadi pada serigala yang duduk di pinggir sungai itu.
Jadi, dia adalah Roar--sang pemimpin Roughus. Dia serigala yang terlihat berwibawa. Cara dia duduk juga terlihat seperti pemimpin.
"Kemarilah, Tuan Putri Youlexa," pinta Roar.
Aku mendekat perlahan, masih ada rasa takut dalam hati, akan tetapi aku tidak bisa menolak permintaan Roar.
Saat aku benar-benar dekat dengan Roar, pemimpin Roughus itu menunduk di hadapanku.
"Aku dan para Roughus siap melindungi Lootopia kembali," ucap Roar.