Sudah dua jam berlalu. Namun, Frans belum kunjung bangun dari tidurnya. Efek bunga tidur itu benar-benar luar biasa. Sekali disentuh akan langsung bereaksi.
"Berapa lama kita harus menunggu hingga Frans bangun?" tanyaku pada Steven yang sedang asyik membaca buku.
Dalam keadaan seperti ini dia masih bisa sesantai ini. Bagaimana jika Frans tidak bangung, apa mungkin Steven akan bersikap seperti ini?
"Sebentar lagi dia akan bangun. Efek bunga tidur hanya dua jam. Ini sudah lewat dari dua jam, jadi pasti sebentar lagi bangun," jawab Steven santai.
Aku harap yang dikatakan Steven benar. Semoga saja Frans segera bangun dan perjalanan bisa diteruskan.
Perlahan, Frans membuka mata. Akhirnya dia bangun dari tidurnya karena efek bunga tidur yang sengaja dia petik. Aku bersyukur dia baik-baik saja.
"Frans, kau tidak apa-apa?" tanyaku memastikan keadaannya.
Frans mengangguk tanda dia baik-baik saja. Baiklah, tidak ada yang perlu aku khawatirkan kembali. Sekarang, perjalanan bisa dilanjutkan.
"Kau bisa berdiri? Bisa kita lanjutkan perjalanan?" tanyaku memastikan kembali keadaan Frans yang masih terlihat lesu setelah bangun tidur.
"Aku sudah katakan, jangan sentuh bunga apapun. Kenapa malah memetiknya. Untung saja yang kau petik hanya bunga tidur, bagaimana jika yang kau petik adalah bunga kematian, pasti nyawamu tidak akan tertolong." Steven terlihat sedikit marah karena ulah ceroboh Frans yang tidak mau mendengarnya.
"Memang wujud bunga kematian seperti apa?" tanyaku yang memang tidak tahu bagaimana wujud bunga kematian itu.
"Bunga kematian seperti bunga mawar, dia juga berduri, hanya saja bunganya berwarna oranye, karena itulah bunga itu terlihat sangat menarik. Tapi, jangan sekali-kali menyetuh durinya karena sekali disentuh racunnya akan langsung masuk ke tubuhmu dan kematian akan datang dalam kurun waktu dua jam."
Mengerikan!
Hutan ini memang indah. Namun, bahaya tersembunyi ditiap keindahan yang ada. Hutan ini lebih mengerikan dari hutan larangan yang penuh kegelapan. Mungkin, karena hal itu para Roughus menjadikan hutan ini sebagai tempat tinggalnya.
Ditengah perbincangan antara aku, Steven dan Frans yang baru bangun, aku mendengar suara semak-semak diinjak, tapi entah dari mana suara itu berasal.
"Ada apa, Eliza," tanya Frans yang masih terlihat mengantuk.
"Seperti ada yang bergerak disemak-semak, tapi aku tidak tahu dari arah mana."
"Biar aku periksa." Frans beranjak untuk mencari asal suara yang aku maksud. Steven juga mengikuti apa yang dilakukan Frans.
Aku melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada yang mencurigakan, takutnya ada hewan buas yang mendekat.
"Aaaa!" teriak Frans.
Sontak aku dan Steven menghampiri sahabatku itu. Alangkah terkejutnya saat aku melihat sesuatu yang membuat Frans berteriak tadi. Seekor kelinci besar sedang bersembunyi dibalik pohon besar.
Ukuran kelinci itu tidak biasa, kelinci itu berukuran setinggi manusia. Besar, tetapi sama sekali tidak menakutkan. Saat aku mendekat pada kelinci itu, hewan itu tetap diam seolah dia mengijinkan aku untuk mendekat padanya.
"Kau sangat cantik, Tuan Putri Youlexa," ucap kelinci itu tiba-tiba.
Youlexa?
Siapa dia?
"Maaf, siapa Youlexa?" tanyaku terbata-bata karena ada rasa cemas tersendiri saat brrhadapan dengan kelinci besar ini walau sebenarnya hewan ini tidak menakutkan sama sekali.
"Aku Revus, kelinci betina penjaga bunga-bunga di hutan larangan bagian dalam ini. Aku tahu kalau kau adalah putri dari Ratu Alexa dan Raja Daniel. Namamu yang sebenarnya adalah Youlexa," jelas kelinci yang mengaku bernama Revus itu.
Sungguh sulit dipercaya, jadi namaku yang sesungguhnya adalah Youlexa? Ada sedikit keraguan untuk mempercayai Revus. Namun, mungkin yang dia katakan benar.
"Kalian akan mencari Roar, bukan?" tanya Revus.
Aku dan yang lain mengangguk bersamaan sebagai jawaban. Semoga saja Revus tahu di mana keberadaan Roar agar perjalanan lebih cepat mencapai tujuan.
"Roar suka menyendiri dengan saudara kembarnya. Sekarang, aku sudah memberitahu kalian keberadaan Roar. Bisakah kalian membantuku? Carikan buah anggur berwarna coklat, buah itu ada di antara buah anggur berwarna hijau. Aku ingin sekali memakan buah itu."
"Dimana kami bisa menemukan pohon anggur? Di sini terlalu banyak bunga-bunga yang berbahaya." Frans melihat sekeliling, wajahnya tampak cemas, mungkin dia takut hal buruk terjadi seperti sebelumnya.
"Carilah pohon itu dengan kejujuran, kalian akan menemukan kebun buah anggur ajaib," jawab Revus.
Frans dan Steven menggaruk-garuk kepala secara bersamaan. Mereka terlihat seperti orang yang kebingungan. Aku juga merasa bingung, apalagi di sekeliling tempat aku berdiri sama sekali tidak ada pohon buah anggur.
"Aku menunggu kalian di sini," ucap Revus yang terdengar sangat imut.
Aku mengikuti langkah Steven dan Frans yang mulai mencari buah anggur yang diinginkan oleh Revus.
Sekarang, bagaimana mencari pohon anggur itu? Ditambah lagi Revus mengatakan kejujuran yang akan membuat aku menemukan buah anggur berwarna coklat itu.
"Bagaimana ini, aku sudah memeriksa tempat ini. Namun, aku sama sekali tidak melihat pohon anggur." Steven terlihat kesal.
Sebuah ide terlintas dipikiranku. Semoga saja ide ini bisa membantu. Aku mengajak Steven dan Frans untuk duduk dengan santai.
"Sekarang, aku ingin tanya dan kalian harus menjawab dengan jujur. Seburuk apapun itu kalian harus jujur karena kejujuran adalah kunci kita." Aku berharap jawaban mereka dapat membuka jalan untuk menemukan buah anggur coklat yang diinginkan Revus.
"Menurut kalian, gadis seperti apa diriku ini?" tanyaku untuk memancing jawaban jujur dari dua sahabatku ini.
"Aku jawab dulu," pinta Frans dengan berani.
"Kau itu gadis baik, selalu berpikiran positif, berani. Kau selalu berusaha sebaik mungkin untuk melakukan semuanya," lanjut Frans.
Aku merasa hampir terbang karena pujian yang terus dilontarkan Frans. Dia jujur atau hanya ingin keping emas lebih dariku?
"Bagaimana menurutmu, Steven?"
"Kau cerewet," ucap Steven singkat.
Seburuk itukah aku baginya?
Hanya satu kata, tapi aku rasa satu kata itu mewakili pandangannya terhadapku. Mungkin baginya aku hanya gadis cerewet.
"Tapi ... sama seperti yang dikatakan Frans, kau adalah gadis yang berani dan selalu optimis," lanjut Steven.
Ucapannya membuat jantungku berdegup kencang. Entah apa yang terjadi, tapi aku merasa sesak di d**a, terlebih lagi dia terus menatapku intens.
"Anggur coklat! Anggurnya ketemu!" teriak Frans.
Kapan dia beranjak dari tempat dia duduk. Kenapa aku tidak melihat dia pergi? Atau karena aku terlalu fokus pada Steven hingga tidak menyadarinya.
Steven yang sudah berdiri lebih dulu mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. Dengan senyum dia melakukan hal itu. Sekarang dadaku semakin terasa sesak.
Tangannya terasa hangat saat kugenggam. Aku jadi sedikit gugup, apa karena ini kali pertama aku tanganku digenggam seorang pria seperti ini?
"Di mana anggur coklatnya, Frans?" tanya Steven pada Frans.
"Ini dia, buahnya ada di tanah." Raut wajah senang terlihat di wajah Frans.
Anggur yang tidak biasa, berwarna coklat dan untuk menemukannya membutuhkan kejujuran. Lalu, apa yang membuat Revus ingin memakannya?
"Kalian sudah menemukannya?" Revus melompat ke arahku.
Aku memberikan anggur coklat itu pada Revus dan berharap dia menyukainya.
"Terima kasih atas kejujuran kalian. Sekarang, kalian bisa melanjutkan perjalanan untuk bertemu Roar. Ingat yang aku katakan, Roar suka menyendiri dengan kembarannya."
Aku akan mengingat pesan Revus. Aku tidak akan melupakan peristiwa istimewa saat bertemu kelinci besar--Revus, sang penjaga bunga berbahaya di hutan larangan.