Aku masih mengingat genggaman tangan Steven yang mengucapkan kata maaf. Mendadak pipiku terasa panas karenanya. Apa karena aku menyukai pria itu?
Aku membencinya. Namun, perlahan hilang begitu saja. Mungkin karena rasa benciku bukan karena tidak suka padanya melainkan tidak suka dengan tindakan dia memanfaatkan orang lain.
"Eliza," panggil seseorang dari luar rumah. Panggilan itu membuyarkan pikiranku tentang Steven.
Saat membuka pintu, Paman Rodrigo telah berdiri di depan pintu dan membawa tas besar yang aku sendiri tidak tahu apa isi tas itu.
"Paman, apa yang kau bawa ini?" tanyaku penasaran.
"Kita buka di dalam. Biarkan aku masuk dulu."
Aku mempersilakan Paman Rodrigo masuk dengan tas besarnya. Paman Rodrigo terlihat kesulitan membawanya seolah tas itu berisi sesuatu yang melebihi dari berat tubuhnya.
Perlahan, Paman Rodrigo membuka tas itu dan mengeluarkan isinya. Rupanya, ia membawa sebuah kotak emas besar yang lagi-lagi aku tak tahu apa isinya benda itu.
Saat Paman Rodrigo membuka kotak itu, tiba-tiba muncul ribuan kupu-kupu berwarna warni dari kotak emas itu. Atap rumahku dipenuhi kupu-kupu itu.
"Pa-Paman, kenapa mereka banyak sekali?" tanyaku sedikit gemetar karena melihat banyaknya kupu-kupu di rumahku.
"Mereka akan menemanimu dalam perjalanan menyelamatkan Lootopia."
"Sebanyak ini? Untuk apa? Paman saja membawa mereka dengan sulit. Bagaimana denganku?"
"Mereka tidak akan merepotkanmu. Sekarang, katakan " La Pia Fly "."
"Mantra apa itu, Paman?"
"Ucapkan saja."
"La Pia Fly." Tiba-tiba ribuan kupu-kupu itu terbang ke arahku, sontak aku menutup mata.
Aku membuka mata untuk memastikan tidak ada yang terjadi padaku. Sebuah keajaiban terjadi, aku memiliki sebuah sayap kupu-kupu yang bersinar terang.
"Paman, sayap kupu-kupu?" Aku memegang pelan sayap, sangat halus dan bersinar.
"Iya, kau bisa gunakan sayap itu untuk membantu kesulitanmu selama perjalanan."
"Tapi, bagaimana cara menghilangkannya, Paman? Tidak mungkinkan kalau sayap ini terus muncul?"
"Katakan mantranya kembali, maka akan hilang."
Aku menuruti ucapan Paman Rodrigo. Aku hirup napas dalam lalu perlahan mengeluarkannya.
"La Pia Fly." Secara tiba-tiba sayap kupu-kupuku hilang tidak berbekas. Sungguh menakjubkan.
"Malam ini, kau harus melakukan perjalanan menyelamatkan Lootopia. Sudah mempersiapkannya? Siapa yang ikut denganmu, pastikan orang itu dapat dipercaya."
"Iya, Paman. Semuanya sudah siap. Steven dan Frans juga ikut, harusnya Noura ikut, tapi dia sedang pergi ke rumah sang nenek."
Malam begitu cepat datang, aku mengikuti Paman Rodrigo di belakangnya untuk bertemu dengan yang lain di terowongan Nues yang menjadi pintu gerbang rahasia hutan larangan.
Saat sampai di sana, Frans, Steven dan Tuan Pecth telah ada di sana. Tempat ini akan menjadi awal perjalananku merebut Lootopia dan menegakan keadilan di dunia sihir yang hebat ini.
"Kalian siap?" tanya Tuan Pecth.
Aku, Steven dan Frans mengangguk secara bersamaan. Tekadku sudak bulat, akan kubawa kembali Lootopia pada tangan ayah dan ibu.
Akan aku bebaskan semua dari kekejaman Ratu Samara.
"Di ujung Nues kalian akan sampai di pintu gerbang hutan larangan. Di sana kalian harus cari Roar. Dia adalah pemimpin para Roughus, dia yang akan menuntun langkah selanjutnya untuk bisa menyelamatkan Lootopia," jelas Tuan Pecth panjang.
Aku sedikit gugup. Namun, tiba-tiba tangan Steven menggenggam tanganku seolah dia tahu kalau sedang merasa gugup.
"Pergilah, kalian. Tetap bersama dan jangan berpisah dan jangan pernah melepaskan kalungmu, Eliza. Itu adalah identitas yang akan membuat Roar percaya kalau kau adalah keturunan suci dan pewaris tahta Lootopia."
"Baik, Tuan Pecth."
Aku, Frans dan Steven mulai melangkah melewati Nues. Aku berharap semua berjalan dengan baik dan semua akan kembali normal.
"Terowongannya gelap sekali, aku tidak bisa melihat apapun," ucap Frans dikegelapan. Memang sangat gelap, aku saja tidak bisa melihat kedua temanku.
Steven menjetikan jari dan munculnya bola cahaya yang sangat terang. Bola cahaya itu menerangi seluruh terowongan hingga bahkan jika ada semut yang lewat akupun bisa melihatnya.
"Ayo jalan lagi," ajak Steven.
Perjalanan di Nues begitu terasa panjang, biasanya jika aku melewati jalur biasa untuk pergi ke hutan larangan tidak sejauh ini. Kenapa bisa terasa sangat jauh, kaki lelah sekarang.
"Jika lelah, kita bisa istirahat dulu," ucap Steven.
Aku melihat Frans dan Steven juga lelah, karena itu semua sepakat untuk beristirahat dulu.
"Kenapa harus melewati Nues? Jalur biasa kan lebih cepat sampai." Aku terus memijat kakiku yang terasa pegal.
"Banyak mata-mata Ratu Samara. Jika kita melewati jalur biasa, ratu jahat itu akan tahu kalau kau adalah putri dari Ratu Alexa dan Raja Daniel," jelas Steven.
Aku mulai mengerti sekarang. Apapun yang aku lakukan harus secara tersembunyi, karena jika Ratu Samara tahu tentang misi ini, dia akan langsung menghabisi kedua orang tuaku dan tentunya diriku juga.
"Ya sudah, ayo lanjutkan lagi. Lebih cepat sampai ke gerbang hutan larangan. Kita akan lebih cepat bertemu Roar." Aku sangat antusias untuk bertemu Roar. Ini kali pertama aku akan melihat Roughus secara langsung.
Walau cukup lama, akhirnya perjalananku sampai di gerbang hutan larangan. Aku dan yang lain melangkah masuk ke hutan larang untuk melanjutkan perjalanan.
Belum jauh melangkah, aku melihat portal yang tiba-tiba menghalangi jalan. Portal menuju kemana ini?
"Ini adalah portal menuju hutan larangan bagian dalam. Hutan itu tempat tinggal para Roughus," ucap Steven menjelaskan.
"Inilah istimewanya kita melewati Nues, portal ini muncul dengan sendirinya karena kita melewati Nues tadi," lanjut Steven.
Luar biasa, sangat luar biasa. Aku jadi lebih antusias untuk bertemu Roar. Aku melangkah masuk mengikuti Steven dan Frans yang masuk lebih dulu.
Pemandangan menakjubkan terlihat jelas di depanku. Berbeda dengan hutan larangan tempat masuk, hutan larangan bagian dalam ini sangat indah.
Jauh berbeda dengan hutan larangan biasa yang gelap dan banyak kelelawar yang berterbangan, di sini langitnya terang, yang berterbangan juga bukan kelawar melainkan kupu-kupu. Bunga-bunga bermekaran dengan indah dan warna-warni.
"Apa ini bukan tempat yang salah, Steven. Para Roughus tinggal di tempat ini?" tanya Frans yang terdengar sedikit ragu.
"Iya, kenapa?"
"Jauh dari kesan menyeramkan."
Jika dipikir lagi, memang aneh. Roughus adalah serigala mistis, aku kira tempat tinggal mereka ya penuh dengan kegelapan, akan tetapi tempat ini terlalu cantik untuk dihuni oleh serigala.
"Roughus tinggal di sini. Memang tempat yang indah. Namun, jangan sampai menyetuh bunga apapun di sini. Walau cantik tapi berbahaya." Steven memperingatkanku.
"Eliza, bunga ini bisa kita tanam untuk menemani bunga Loot di.rumahmu," ucap Frans yang memetik sebuah bunga berwarna merah.
"Frans! Kenapa kau petik! Itu bunga tidur!" bentak Steven.
"Bunga tidur?" Tiba-tiba Frans jatuh tersungkur. Dia benar-benar tertidur.