Aku melihat diriku di cermin mengenakan gaun biru dengan mahkota menghiasi kepalaku setelah cahaya yang muncul tadi hilang.
Apa arti semua ini?
Aku mencubit pipiku untuk memastikan kalau ini bukan mimpi seperti sebelumnya. Alhasil aku merasa kesakitan karena ini bukan mimpi.
Gaun biru ini sangat cantik, mahkota yang kupakai juga luar biasa indahnya.
"Tuan Pecth, apa ini sihirmu?" tanyaku memastikan.
"Itu bukan sihirku. Itu jati dirimu yang sebenarnya," jawab pria tua itu.
Aku tidak mengerti dengan jawaban yang diberikan. Jati diri apa? Siapa sebenarnya aku?
"Paman Pecth, aku sudah la-" Tiba-tiba Steven masuk ke dalam ruangan. Dia menghentikan ucapannya saat melihatku.
Pria itu menatapku dari atas ke bawah dan melakukannya cukup lama seolah dia tidak percaya bahwa wanita yang dia lihat sekarang adalah aku.
"Eliza?" tanyanya memastikan.
"Dia Eliza, Steven. Inilah jati dirinya," jawab Tuan Pecth seraya tersenyum padaku.
"Paman, aku tahu dia adalah dia, tapi aku tidak tahu kalau dia secantik ini." Ucapan Steven membuatku sedikit gugup. Entah kenapa, hatiku berdebar saat pria itu memujiku.
Tunggu!
Dia memuji atau mengejekku?
Dia bilang, dia tidak tahu kalau aku secantik ini? Memang biasanya aku tidak cantik?
"Maksudmu, biasanya aku tidak cantik?" tanyaku memastikan.
"Biasanya, kau terlihat seperti wanita tua yang suka mengomel pada orang lain," jawabnya dengan nada meledek.
Tuan Pecth dan Frans tertawa dengan ucapan Steven. Rasanya aku ingin sekali memukul pria itu sekarang. Bisa-bisanya dia menyebutku wanita tua. Awas saja, akan aku balas nanti. Sekarang, aku tidak boleh emosi dulu.
"Sudah, Steven. Jangan seperti itu padanya. Jika dia tahu siapa sebenarnya dia, mungkin kau akan langsung dihukum gantung," ucap Tuan Pecth dengan senyum tipis.
"Memang siapa dia, Tuan Pecth?" Pertanyaan Frans sama dengan pertanyaan yang ingin aku tanyakan. Siapa sebenarnya aku? Kenapa Tuan Pecth terlihat begitu mengenaliku sedangkan ini kali pertama aku bertemu dengannya.
"Kalian bertiga, ayo ikut. Aku akan jelaskan semuanya di ruangan rahasia di gedung ini."
Aku, Frans dan Steven mengikuti Tuan Pecth dari belakang. Aku tidak ruang rahasia apa yang ingin dia tunjukan. Apa ini ruang rahasia penuh emas? Akan sangat menyenangkan jika itu benar-benar terjadi.
Aku dan yang lain menghentikan langkah saat Tuan Pecth berhentu di depan sebuah pintu besar. Tuan Pecth membukanya dengan mantra dan pintu itu langsung terbuka.
Aku sangat takjub saat melangkah masuk. Ruangan ini dipenuhi lilin yang menyala. Tiap cahaya menerangi ruangan ini. Ini adalah tempat rahasia paling indah yang pernah kukunjungi.
"Eliza, buka lukisan besar yang ditutupi kain biru itu," perintah Tuan Pecth.
Pria tua itu menyuruhku melakukan ini dan itu, sebenarnya menyebalkan. Namun, entah mengapa aku masih menurutinya.
Perlahan, aku membuka penutup lukisan yang dimaksud Tuan Pecth. Saat terbuka, aku melihat lukisan seorang wanita dan seorang pria. Sang wanita mengenakan mahkota yang sangat indah. Mungkin, ini adalah lukisan raja dan ratu.
"Tuan Pecth. Lukisan raja dan ratu dari mana ini?" tanyaku diiringi langkah Tuan Pecth mendekat.
"Ini lukisan raja dan ratu Lootopia."
"Ratu Samara?"
"Bukan, dia adalah Ratu Alexa dan Raja Daniel."
"Ohh, aku tidak tahu jika sebelum Ratu Samara berkuasa, ada Raja Daniel dan Ratu Alexa yang memimpin Lootopia."
Saat memperhatikan lukisan ini lagi, aku merasa pernah melihat sosok Ratu Alexa yang ada dilukisan ini, akan tetapi di mana? Kuperhatikan lagi lukisan ini agar aku bisa mengingatnya.
Oh ya, aku ingat. Ratu Alexa muncul di mimpiku. Dia wanita yang memberikan kalung padaku dalam mimpi.
"Tuan Pecth, aku pernah bermimpi tentang Ratu Alexa. Dia datang padaku dan memberikan sebuah kalung. Kalung itu sama persis dengan yang diberikan ibu padaku," jelasku panjang.
"Menurutmu, siapa Ratu Alexa? Apa hubungannya dengan dirimu. Bagaimana bisa dia memberikan kalung yang sama persis dengan yang ibumu berikan?"
Aku terdiam, mencoba menelaah setiap kata yang diucap Tuan Pecth. Kalung yang sama diberikan oleh Ratu Alexa. Mungkinkah dia adalah ibuku? Akan tetapi rasanya itu hal yang tidak mungkin. Bibi mengatakan kalau ayah dan ibuku hilang dihutan larangan dan sampai saat ini tidak pernah kembali, jadi tidak mungkinkan kalau Ratu Alexa dan Raja Daniel adalah ayah dan ibuku.
"Tuan Pecth, apa mungkin kalau Ratu Alexa adalah ibuku?" tanyaku memastikan.
Tuan Pecth terdiam tidak menjawab, yang dia lakukan hanya menatapku. Aku sama sekali tidak tahu arti diam dari pria tua itu, hanya saja jika dia terus diam seperti ini, aku tidak akan bisa tahu kebenarannya.
"Benar, Ratu Alexa dan Raja Daniel adalah kedua orang tuamu," jawab Tuan Pecth.
Aku tidak bisa melakukan apapun kecuali hanya diam. Aku mencoba menerima ucapan Tuan Pecth. Namun, dalam hati masih tidak percaya dengan ucapan pria tua itu.
"Tuan Pecth pasti sedang bercanda, kan? Mana mungkin aku adalah anak dari Ratu Lootopia?" Aku berusaha untuk tetap tenang, walau sebenarnya kaki gemetar setelah mengetahui fakta yang Tuan Pecth katakan.
"Inilah faktanya, Eliza. Kau adalah putri mahkota Lootopia. Kau yang akan menyelamatkan negeri sihir kita ini," ucap Tuan Pecth dengan penuh keyakinan.
"Tidak! Itu tidak mungkin!"
"Aku mengatakan yang sebenarnya, Eliza. Bibimu adalah adik dari Raja Daniel. Dia menyembunyikanmu agar Ratu Samara tidak bisa membunuhmu," jelas Tuan Pecth dengan penuh keyakinan.
Dari ucapan pria tua itu sama sekali tidak ada keraguan. Mungkinkah apa yang dia katakan adalah kebenaran? Aku adalah putri mahkota Lootopia?
Aku menyetuh lukisan raja dan ratu Lootopia. Ada perasaan rindu yang tiba-tiba muncul. Aku sendiri tidak pernah tahu wajah ayah dan ibu hingga aku belum bisa meyakini sepenuhnya semua yang dikatan Tuan Pecth.
"Semua yang dikatakan Tuan Pecth adalah kebenaran, Eliza," ucap seseorang dari arah belakang.
Saat menoleh ke belakang, aku mendapati Paman Rodrigo telah berdiri di belakangku. Ia tersenyum saat aku memandangnya.
"Paman Rodrigo, kau juga yakin kalau aku adalah putri mahkota Lootopia?" tanyaku memastikan.
Paman Rodrigo mengangguk seraya tersenyum. Ia mulai mendekati dan langsung memeluku. Sepertinya Paman Rodrigo tahu perasaan yang sedang aku rasakan.
"Nak, aku, Tuan Pecth dan bibimu diutus oleh kedua orang tuamu untuk menyembunyikan jati dirimu dan menjagamu hingga waktu yang tepat datang. Saat ini, waktu yang tepat telah datang, dan kau harus mampu mengemban tugas yang berat," jelas Paman Rodrigo panjang seraya melepas pelukannya padaku.
"Tugas apa itu, Paman?"
"Menyelamatkan Lootopia dari kejamnya kepemimpinan Ratu Samara." Paman Rodrigo duduk di sebuah kursi perak yang ada di sebelah lukisan Ratu Alexa dan Raja Daniel.
"Ratu Samara adalah bibi dari ibumu. Dia iri karena tongkat estafet kepemimpinan Lootopia diberikan pada Ratu Alexa oleh nenekmu, padahal sebagai kakak dari nenekmu, Ratu Samara sangat menginginkan tahta itu," lanjutnya.
Dari penejelasan Paman Rodrigo, aku mulai mengerti masa laluku. Harusnya, yang bertahta adalah ayah dan ibuku, bukanlah Ratu Samara yang terkenal karena kekejamannya itu.
"Lalu, sekarang di mana ayah dan Ibuku?" tanyaku pada semua orang orang.
"Raja dan Ratu dikurung dalam penjara istana selama bertahun-tahun. Mereka menyimpan rindu untukmu, Eliza," jawab Tuan Pecth.
Ratu Samara benar-benar kejam! Dia memenjarakan ayah dan ibu, lalu berusaha untuk membunuhku. Sepenting itukah sebuah tahta hingga ia mampu mencelakai keluarganya sendiri?
Aku disembunyikan dan kedua orang tuaku dipenjara. Kenapa masa laluku sama seperti kisah yang baru saja ditampilkan oleh Savana. Apa kisah itu adalah kisahku?
"Tuan Pecth. Kisah yang baru ditampilkan Savana adalah kisahku?" Aku mencoba memastikan perasaanku ini.
Tuan Pecth mengangguk membenarkan perasaanku. Jadi, kisah itu benar-benar terjadi. Kekejaman Ratu Samara pasti membuat ayah dan ibu sangat menderita. Mereka pasti merasakan kesakitan yang luar biasa karena perlakuan jahat dari ratu jahat itu.
"Ratu Samara memperlakukan ibuku dengan sangat kejam seperti pertunjukan tadi?" tanyaku lagi.
"Iya, ratu jahat itu menyeret paksa ibumu untuk turun dari tahta disaat para Roughus berubah menjadi buas karena serbuk emosi yang ditaburkan para peri kecil yang jahat," jawab Tuan Pecth.
Kejam! Ratu Samara sangat kejam. Aku akan pastikan untuk membalas rasa sakit yang orang tuaku dapatkan darinya. Aku akan memberika rasa sakit seratus kali lebih menyakitkan dari yang Ratu Samara berikan pada kedua orang tuaku.
"Ini adalah kertas pendapat yang dikumpulkan tadi. Kau bisa membaca keseluruhannya agar kau mengerti bahwa mereka semua menyayangimu dan kedua orang tuamu walau tidak secara langsung." Tuan Pecth memberikan tumpukan kertas padaku. Lalu, Tuan Pecth dan Paman Rodrigo meninggalkan aku di sini bersama Frans dan tentunya Steven.
Aku duduk di kursi tempat Paman Rodrigo duduk tadi dan mulai membaca pendapat para penonton Savana tadi. Tiba-tiba Frans dan Steven duduk di lantai dan mengulurkan tangan untuk ikut membaca tumpukan kertas yang sangat banyak ini.
Aku memberikan sebagian tumpukan pada dua pria yang diduduk didepanku.
Belum sempat aku membaca, Frans tetawa dengan sangat keras. Entah kenapa sahabatku ini teratawa sangat keras seperti.
"Frans, kenapa tertawa sepeti itu? Memang ada yang lucu?" tanyaku pada Frans.
"Ada, Eliza. Pendapat ini sangat lucu," jawab Frans.
"Memang apa pendapatnya?"
"Saat bayi raja dan ratu dewasa nanti. Aku akan menikahinya, tapi jika dia tumbuh menjadi nenek keriput, aku akan meninggalkannya. Itu pendapatnya, Eliza."
Steven tertawa sangat keras setelah Frans menyelesaikan ucapannya. Apa yang lucu? Itu bukan pendapat. Bisa-bisanya menuliskan hal seperti itu.
"Apa yang lucu? Berikan padaku." Aku meminta kertas itu untuk kulenyapkan. Setelah melenyapkan kertas itu dengan mantra. Aku kembali fokus membaca satu-persatu kertas ini.
Beberapa pendapat menyemangatiku untuk membalas sang ratu jahat. Ya, aku akan membalas perlakuan buruk dan kekejaman Ratu Samara selama selama dia menjadi Ratu Lootopia.
"Jangan terlalu fokus, Eliza. Ini hanya pendapat. Kau harus meyanikini diri sendiri, bahwa kau mampu melakukannya. Kau mampu membuat Lootopia kembali aman bagi semua." Ucapan Steven terdengar menyemangati.
"Baik. Oh ya, Steven. Kau mengenal Tuan Pecth sejak kapan?"
"Aku tinggal dengan Paman Pecth sejak berumur dua tahun. Ayah dan ibu menitipkan aku pada Paman Pecth karena mereka juga dipenjara di istana. Sama seperti kedua orang tuamu."
"Kenapa Ratu Samara mengurung orang tuamu juga?"
"Aku tidak tahu pasti alasannya. Sekarang, aku hanya bisa berharap kau mampu mengembalikan kedamaian Lootopia, sehingga kedua orang tuaku juga bisa bebas."
Tatapan mata Steven terlihat tulus, kali ini dia benar-benar terlihat lemah saat membicarakan kedua orang tuanya. Aku mengerti perasaanya, karena hal itu juga aku rasakan.
"Oh ya, Eliza. Tolong beritahu Frans, untuk tidak meminta barang-barang ajaib lagi dariku. Aku tidak mau kena marah lagi olehmu," ucap Steven seraya menatap Frans.
"Frans, kau masih membeli barang rongsokan lagi dari penipu ini?" tanyaku pada Frans.
"Hei! Tunggu! Siapa yang penipu? Aku sudah mengatakan padamu kalau aku bukan penipu! Tidak ada yang merasa ditipu olehku selama ini," bentak Steven seraya berdiri.
Rypanga Steven ingin memulai perdebatan denganku. Baiklah, aku terima.
"Kau itu penipu, Steven. Kau memanfaatkan orang-orang dengan lever sihir rendah untuk mendapakatn banyak keping emas, benarkan?"
"Eliza! Katakan sekali lagi, maka aku akan bersikap kasar padamu!"
"Lakukan! Lakukan! Ayo lakukan!"
"Ssst! Diam!" Frans menghentikan perdebatan antara aku dan Steven.
"Bisakah kalian tidak berdebat. Aku ini masih kecil. Tidak boleh melihat perdebatan orang dewasa," lanjutnya.
Aku tertegun mendengar ucapan Frans. Dia menganggap dirinya adalah anak kecil? Sepertinya sahabatku ini ingin mendapatkan pelajaran dari orang dewasa. Baiklah, aku akan memberi pelajaran untuknya.
"Frans, kemari," pintaku pada Frans. Sahabatku ini berdiri dari duduknya dan mulai mendekat padaku.
Belum sempat aku memberi pelajaran, Frans berlari kabur ke luar ruangan. Sepertinya dia tahu kalau aku akan memberinya pelajaran.
Sekarang, hanya tinggal aku dan Steven di ruangan ini. Aku harap perdebatan tadi tidak berlanjut.
"Maaf, Eliza," ucap Steven seraya menggenggam tanganku.
Oh, perasaan apa ini? Kenapa jantungku berdebar keras. Kakiku mulai gemetar sekarang.