Suara gemuruh kuda terdengar mendekat. Kerumunan yang tadi ada seketika bubar, orang-orang berlarian tak tentu arah, seperti ketakutan.
Ditengah kekacauan aku melihat beberapa prajurit istana membawa paksa ibu tua yang melakukan protes atas kematian sang putra.
Aku berusaha berlari ke arah ibu tua itu, tetapi lalu lalang orang berlarian membuatku tak bisa berlari cepat.
"Tunggu!"
Aku berusaha berteriak, mencoba menghentikan para prajurit membawa wanita itu, akan tetapi sepertinya usahaku tak membuahkan hasil. Mereka tetap membawa wanita tua itu seolah tahanan yang kabur dari penjara.
Napasku hampir habis, diiringi penyesalan. Jika aku lebih cepat, wanita itu pasti bisa kuselamatkan. Harusnya, aku bisa membawanya pergi.
Aku memang lamban!
Aku tersentak saat tangan seseorang memegang pundak kiriku.
"Nak, ini bukan salahmu," ucap seorang wanita paruh baya yang tadi memegang pundakku.
Wanita itu membantuku berdiri dan langsung memelukku. Siapa dia? Wajahnya tak asing, tetapi siapa dia?
Wanita itu melepaskan pelukannya dan kini tersenyum padaku.
"Pakai ini."
Wanita bergaun biru dengan mahkota berkilau di rambutnya memberikan sebuah sebuah kalung padaku. Kalung dengan liontin batu saphire biru yang cantik. Kalung ini sama persis dengan kalung yang diberikan ibuku.
Wanita itu memakaikan kalung di leherku dan ... tiba-tiba cahaya terang menyelimutiku. Aku menutup mata karena sinarnya.
Saat membuka mata, wanita yang memberikan kalung sudah tidak ada di depanku. Kemana kiranya dia pergi?
Dan, tunggu ....
Apa ini? Apa yang aku kenakan? Apa ini sebuah gaun warna merah? Bukankah yang aku pakai tadi gaun biasa berwarna biru, lalu bagaimana gaun mewah ini sekarang ada di tubuhku?
"Eliza ... Eliza," panggil seseorang, namun aku tak tahu siapa? Tak ada wujud, hanya suara.
"Eliza ... Eliza ...."
"Siapa? Siapa Dirimu? Tunjukkan wajahmu." Aku melihat sekeliling, tapi memang tak ada siapapun.
Tiba-tiba kain hitam jatuh tepat di atas kepala hingga aku tak dapat melihat apapun.
Napasku hampir habis, tapi kain hitam ini tidak bisa lepas dari wajahku.
Saat aku terus berusaha melepaskan diri, tangan seseorang membantuku melepaskan kain hitam ini, dan ....
"Hah, kau pasti mimpi, ya, Za?" Noura meledekku.
Apa iya tadi mimpi? Kalung dan gaun itu juga mimpi?
"Memangnya tadi aku mimpi?" tanyaku pada Noura.
"Iyalah, kau tahu? Tadi kau tidur sambil senyum-senyum sendiri, bahkan kau itu terlihat seperti memeluk seseorang dengan bahagia. Makanya, aku tutupi wajahmu dengan kain hitam, agar kau sesak napas dan akhirnya bangun," jelas Noura panjang seraya tersenyum nakal.
"Huh, dasar! Kau bisa membangunkanku dengan cara lain, kan?
"Aku sudah coba, tapi sepertinya mimpimu makin menjadi, bahkan senyummu makin seperti orang gila padahal sebelum tersenyum, kau itu seperti sedang sedih."
Ah, ya mungkin semua yang terjadi hanya mimpi. Mungkin, aku merasa sangat lelah hingga mimpi seperti itu.
Mimpi tadi terasa sangat nyata, wajah wanita itu juga familier, tetapi siapa dia? Ada sesuatu yang membuat perasaanku seakan terpaut padanya. Ditambah lagi, kalung yang wanita itu berikan sama persis dengan yang ibu berikan padaku.
"Eliza! Kenapa diam? Bukankah hari ini kita akan menonton Savana?" tanya Noura seraya menarik selimut yang aku kenakan.
"Tunggu, dari mana kau tahu aku akan menonton Savana hari ini? Bukankah sudah satu minggu kita tidak bertemu."
"Frans yang memberitahuku. Dia memintaku menjemputmu, sedangkan dia menunggu di tempat peetunjukkan."
"Baiklah, aku siap-siap dulu."
Aku bersiap untuk menonton Savana. Ini kali pertama aku menonton grup itu. Biasanya aku hanya mendengar kehebatan grup itu dari orang-orang.
Hari ini mungkin rasa penasaranku sudah mencapai puncak hingga tak sabar untuk menonton mereka. Aku harap penampilan mereka sehebat yang dikatakan orang-orang.
Belum selesai bersiap teriakan Noura sudah menggema di luar. Sahabatku itu memang sangat cerewet dan tak sabaran. Ya, walau begitu aku tetap sayang padanya.
"Huh! Kau lama sekali, nanti kita terlambat, aku tak mau tertinggal satupun pertunjukkan Savana," protes Noura.
"Iya, iya. Kau cerewet sekali."
***
Penonton pertunjukkan ini sangat banyak. Aku tak menyangka akan seramai ini, apa karena gratis?
"Bukan," celetuk Noura tiba-tiba.
"Bukan apanya?"
"Dari raut wajahmu aku tahu, kau merasa heran kenapa bisa seramai ini, jadi pasti kau bertanya dalam hati "apa karena gratis?" Ya, kan?"
"Da-dari mana kau tahu?"
"Pertanyaan itu tertulis di ekspresi wajahmu."
Benarkah? Apa terlihat perasaan heran di wajahku? Oh, aku jadi malu.
"Sudah, ayo masuk. Frans juga pasti sudah di dalam."
Aku dan Noura masuk ke dalam ruang teater, semua bangku penonton hampir terisi penuh. Namun, aku sama sekali tidak melihat batang hidung Frans. Di mana dia?
Tepuk tangan riuh dari penonton saat seorang pria tua naik ke atas panggung. Pria tua itu mengenakan rompi hitam dipadu dengan kemeja putih. Pantas saja jika para penonton bertepuk tangan saat pria itu naik ke atas panggung, dia terlihat begitu berwibawa. Aku saja terpukau dibuatnya.
"Sstt, Eliza!" panggil seseorang padaku. Namun, aku tidak tahu dari mana asal suara itu.
Di mana?
Aku mencari-cari asal suara itu, tetapi tidak ada yang terlihat sedang memanggilku.
"Eliza ...."
Aku berpaling ke arah belakang karena seseorang menepuk pundakku. Rupanya Frans yang memanggil dari tadi.
"Kalian berdua tuli, ya? Aku pangil-panggil, tapi tidak ada yang menghampiri," ucap Frans kesal.
"Bukan tuli, kami tidak melihat dirimu, jadi kami bingung." Noura mencoba menjelaskan agar Frans tidak marah lagi.
"Ya sudah. Ayo, kita bisa duduk di bangku sana," ajak Frans seraya menunjuk-nunjuk tiga bangku kosong yang dekat dengan panggung.
Aku duduk dengan nyaman sambil terus mendengarkan pria tua itu berbicara. Pria tua itu mengenalkan dirinya sebagai Pecth, ia adalah pemimpin dari grup Savana.
Tuan Pecth menjelaskan bahwa kali ini Savana akan menampilkan kisah baru yang belum pernah dimainkan sebelumnya. Penonton sangat antusias dengan hal itu, itu terlihat dari tepuk tangan penonton yang tidak ada hentinya.
"Baiklah, mari kita jelajahi dunia baru bersama Savana," ucap Tuan Pecth yang diiringi tepuk tangan penonton.
Pertunjukkan diawali dengan kehadiran empat serigala hitam. Di belakang para serigala itu seorang wanita cantik bergaun putih dengan mahkota indah menghiasi kepalanya. Aku rasa wanita itu adalah seorang ratu.
"Itu serigala asli?" tanya Frans padaku. Sontak aku tertawa karena pertanyaannya itu.
"Itu boneka yang ditaburi serbuk nyawa. Apa kau tidak tahu, Frans?" tanyaku dengan nada sedikit meledek.
"Ohhh," ucap Frans panjang.
Pertunjukan sesungguhnya dimulai. Wanita yang berpenampilan seperti ratu duduk di singgasana. Semua serigala tunduk di hadapan sang ratu.
Seorang pria yang penampilannya seperti seorang raja, muncul dan duduk di samping sang ratu. Beberapa wanita membawa buket bunga dan diberikan kepada raja dan ratu itu.
Tiba-tiba seorang wanita berpakaian serba hitam dan membawa sebuah tongkat emas datang dan mengacaukan acara. Dia menaburkan serbuk dengan bantuan para peri kecil dan membuat para serigala mengamuk.
Aku merinding melihatnya. Para serigala yang tadinya penurut, sekarang berubah menjadi ganas. Hanya sebuah serbuk bisa membuat para serigala itu menjadi ganas. Bukankah itu mengerikan?
Dengan jahatnya, wanita yang membawa tongkat emas menyeret sang ratu dari singgasananya. Sang raja juga tidak bisa berbuat apa-apa karena telah diikat dengan tali sihir.
Entah kenapa aku merasakan kesedihan, seperti kisah ini benar-benar nyata. Aku tidak sanggup melihat pemeran sang ratu yang diseret dengan kejam.
"Ada apa, Eliza?" tanya Frans.
"Tidak apa-apa. Aku hanya merasa tidak tega melihat adegan ini."
Frans tertawa dengan keras dan membuat penonton lain terganggu. Akibatnya temanku itu dimarahi ramai-ramai.
"Enak dimarahi?" tanya Noura meledek.
Frans memanyunkan bibir tanda kesal. Dia berniat meledekku, akan tetapi dia yang kena marah. Aku ingin menertawakannya tapi takut kena marah juga.
Aku kembali fokus menonton pertunjukkan Savana. Adegan berlanjut dengan set di sebuah penjara. Sang raja dan ratu tertunduk sedih di dalam penjara itu. Raut wajah mereka membuatku merasakan kesedihan lagi.
Seorang wanita muda datang mengunjugi raja dan ratu itu dengan membawa sebuah keranjang besar. Mereka saling berbicara walau jeruji penjara menghalangi.
"Maafkan aku, Yang Mulia. Aku tidak bisa berlama-lama di sini, karena jika para pengawal tahu aku di sini, mereka akan membunuh kita semua," ucap wanita itu pada sang ratu.
"Aku tahu, tolong jaga putri kami. Dia ada pada Tuan Paul. Tolong bersembunyi, jangan sampai bibiku mengetahui keberadaan kalian."
"Baik, Yang Mulia. Aku pergi sekarang." Wanita muda itu pergi meninggalkan sang raja dan ratu yang terpenjara.
Pasti sangat menyakitkan, harus berpisah dengan sang anak. Orang tua mana yang tidak sedih jika ada dalam situasi seperti itu. Walau mereka adalah raja dan ratu. Namun, mereka tetap orang tua.
Oh, apa ini? Aku meneteskan air mata?
Tiba-tiba lampu ruang teater mati. Sontak semua orang menjentikan jari mereka untuk membuat sebuah cahaya yang akan muncul di tiap jari mereka. Termasuk aku, Frans dan Noura.
Saat semua cahaya menyala dan membuat ruang teater begitu terang, Tuan Pecth sudah ada di atas panggung seraya tersenyum.
"Apa yang kalian rasakan setelah menonton kisah ini?" tanya Tuan Pecth pada seluruh penonton.
Dengan kompak, semua penonton menjawab "menyedihkan". Aku baru tahu kalau rakyat Lootopia bisa sekompak ini. Aku harus berikan tepuk tangan atas kekompakannya.
"Savana belum bisa menampilkan adegan selanjutnya dari kisah yang belum diberi judul ini. Tapi ... aku ingin kalian menuliskan apa yang harus dilakukan bayi sang raja dan ratu saat dia dewasa nanti. Di pangkuan kalian akan ada selembar kertas dan pena, tulis pendapat kalian," jelas Tuan Pecth panjang.
Benar saja yang dikatakan pria tua itu, aku juga mendapat selembar kertas dan pena yang muncul di pangkuannku.
Belum sempat menuliskan pendapat, kertas dan penaku tiba-tiba hilang entah kemana. Aku melihat ke kanan dan ke kiri, penonton lain masih memegang kertas dan pena mereka masing-masing termasuk Noura dan Frans.
Lalu, kemana pena dan kertasku? Apa aku tidak boleh menyalurkan pendapatku? Ini diskriminasi namanya!
"Ada apa, Eliza?" tanya Noura.
"Kertas dan penaku hilang, padahal aku belum sempat menuliskan apapun."
"Anda belum beruntung," ledek Noura padaku. Hal itu membuatku tambah kesal.
Saat kertas dan pena para penonton hilang bersamaan, aku hanya bisa diam karena kertas dan penaku hilang lebih dulu. Menyebalkan!
Semua penonton mulai meninggalkan ruang teater. Namun, aku sendiri masih penasaran karena kertas dan penaku hilang. Aku ingin jawaban yang jelas dari Tuan Pecth soal itu.
"Kau mau duduk terus, Eliza?" tanya Frans seraya berdiri dari tempat duduknya.
"Aku ingin minta penjelasan soal tragedi hilangnya kertas dan penaku. Ini sangat tragis, aku harus minta penjelasan. Ayo, temani aku menemui Tuan Pecth."
"Tidak mau," tolak Frans atas ajakanku.
"Baiklah, kalau begitu pulanglah! Noura ayo temani aku, nanti aku akan memberikan beberapa keping emas untuk membeli gaun yang kau inginkan waktu itu."
Dengan cepat Noura mengiyakan ajakanku. Aku andal dalam membujuk orang untuk menuruti permintaanku.
"Tunggu! Noura ... kau pulang saja biar aku yang temani Eliza menemui Tuan Pecth," ucap Frans tiba-tiba.
Kalimat Frans terdengar mengusir Noura, ini pasti karena keping emas yang aku tawarkan pada gadis itu. Aku benar-benar andal dalam membujuk dengan iming-iming keping emas. Frans yang awalnya menolak kini bersedia menemaniku.
"Eliza, ingat keping emas,ya," ucap Frans mengingatkan.
"Iya."
Mencari Tuan Pecth tidaklah mudah. Tidak ada orang sama sekali dibelakang panggung. Aneh bukan? Ke mana perginya semua orang yang berperan dalam kisah tadi?
Suasana di belakang panggung sangat dingin, seperti bongkahan es yang besar ada di sini.
"Mana Tuan Pecth? Jika tidak ada, ayo pulang saja." Frans menarik-narik bajuku dan terus mengajakku pulang karena tidak kunjung bertemu Tuan Pecth.
"Tunggu dulu, coba cari lagi."
Aku masih belum menyerah untuk bertemu Tuan Pecth. Bagi orang lain mungkin aku sedikit berlebihan. Namun, bagiku ini wajar. Aku harus tahu kenapa kertas dan penaku hilang sebelum menulis apapun.
"Kalian mencariku?" tanya seseorang dari arah belakang.
Saat menoleh ke belakang, aku mendapati Tuan Pecth telah berdiri dengan senyum ramahnya. Hal itu membuatku tiba-tiba merasa gugup.
"Tuan Pecth, aku ... aku ...."
"Ada apa?" tanya pria tua itu lagi.
"Aku ingin bertanya, kenapa pena dan kertasku hilang? Padahal aku belum menulis apapun." Aku memberanikan diri walau sebenarnya sedikit gugup.
"Pena dan kertasmu hilang?"
Aku mengangguk sebagai jawaban pertanyaan itu. Sekarang, apa jawaban Tuan Pecth? Alasan apa yang akan dia katakan?
"Eliza, kau ...."
"Tuan Pecth, kau tahu namaku? Dari mana kau tahu namaku? Katakan?" Pertanyaan beruntunku mungkin membuat pria tua itu sedikit bingung hingga hanya bisa diam.
Tuan Pecth menatapku, entah apa yang sedang dia pikirkan tentang diriku.
"Eliza, Frans, ayo ikut aku," ajak Tuan Pecth pada aku dan Frans.
Aku dan Frans mengikuti Tuan Pecth masuk ke sebuah ruangan dengan dinding cermin. Sangat menakjubkan bisa masuk ke ruangan seperti ini.
"Eliza, berdiri di tengah ruangan ini dan katakan La Pia Rose," perintah Tuan Pecth.
Aku tidak mengerti kenapa Tuan Pecth memintaku untuk mengucapkan kata La Pia Rose. Apa arti kata itu? Lagi pula, aku hanya meminta penjelasan soal kertas dan pena.
"Ayo, katakan!" bentak Tuan Pecth.
"B-baiklah, Tuan Pecth."
Aku melangkah maju ke tengah ruangan kaca ini. Sedikit gugup, itu yang aku rasakan sekarang.
"La Pia Rose."
Seketika ruangan ini penuh cahaya hingga aku tidak bisa melihat siapapun, bahkan aku tidak bisa melihat bayanganku sendiri.
Ada apa ini?
Apa yang terjadi?