"Roar, kau tidak apa-apa?" tanyaku memastikan keadaan Roar.
Dari yang kulihat, dia baik-baik saja. Namum, aku belum yakin sebelum mendengar jawaban dari Roar langsung.
"Aku baik-baik saja," ucap Roar. "Kita semua harus berbicara di tempat lain sekarang," lanjutnya.
Aku, Frans dan Steven berpamitan pada wanita dan bayi tadi. Jika Roar meminta untuk bicara di tempat lain, itu artinya hal yang akan dibicarakan adalah sebuah rahasia.
Sebuah kedai kosong yang mungkin telah ditinggalkan pemiliknya menjadi tempat yang cocok untuk membicarakan hal yang akan disampaikan Roar.
"Dia ... dia adalah Eldorado. Dia bukan serigala biasa. Dia adalah manusia jahat yang dikutuk menjadi serigala oleh nenekmu, Ratu Annika," jelas Roar panjang.
"Dikutuk? Apa kejahatan Eldorado hingga nenekku mengutuknya menjadi serigala?"
"Eldorado pernah hampir membunuh Ratu Annika atas perintah Ratu Samara yang saat itu sangat iri pada nenekmu. Rencana itu diketahui oleh Ratu Annika dan saat itulah Eldorado dikutuk menjadi serigala."
Lagi dan lagi ini ulah Ratu Samara. Wanita jahat itu adalah dalang di balik penderitaan banyak orang. Sungguh, dia wanita yang tidak punya hati dan hanya bisa memanfaatkan orang lain demi kepentingan dirinya sendiri.
"Lalu, kenapa dia memangsa rakyat Lootopia? Dia telah dikutuk, bukankah seharusnya dia bisa memperbaiki diri agar bisa kembali menjadi manusia lagi." Sebuah kutukan harusnya bisa membuat Eldorado menjadi baik. Namun, ini malah sebaliknya, dia menjadi lebih gila daripada sebelumnya.
"Dia pernah bersumpah, dia akan memangsa manusia dan mangsa terakhirnya adalah keturunan suci Lootopia."
"Itu artinya, Eldorado bisa saja mengincar Eliza?" Pertanyaan Steven mewakiliku.
Jika benar aku adalah mangsa terakhirnya ada baiknya aku menyerahkan diri padanya agar tidaj ada rakyat Lootpia yang harus kehilangan nyawa lagi.
"Jika dengan memangsaku, Eldorado akan menghentikan perilaku jahatnya memangsa rakyat Lootopia, maka aku bersedia menjadi mangsa terakhirnya." Aku harus berani, ini demi rakyat Lootopia.
"Kau gila, Eliza!" protes Frans. Dia terlihat tidak menerima keputusanku.
Aku tahu, keputusan ini gila. Namun, jika hal itu bisa menghentikan Eldorado, maka aku akan mengorbankan diriku. Setidaknya, sebagai keturunan suci, aku sedikit berguna walau tidak bisa mengalahkan Ratu Samara.
"Eliza, kita harus bicara berdua," ucap Roar. Secara tidak langsung, Frans dan Steven diminta keluar dari kedai agar aku dan Roar bisa berbicara berdua.
"Roar, aku tidak mau kehilangan sahabat. Aku tidak peduli jika aku harus kehilangan putri Lootopia. Namun, aku tidak akan membiarkan temanku mati dengan sia-sia," ucap Frans memperingatkan sebelum ia dan Steven keluar.
Perasaan sedih akan menyelimuti Frans jika aku benar-benar dimangsa oleh Eldorado. Namun, tidak ada cara lain selain ini. Dengan memangsaku, Eldorado akan menghentikan sifat buasnya.
"Aku tahu, Eliza. Kau memikirkan rakyatmu. Namun, kau tidak b8aa melindungi mereka dengan cara mati sia-sia. Kau harus pikirkan baik-baik tindakanmu. Apa yang kau pilih, itulah masa depan Lootopia." Roar sangat bijaksana. Ia memintaku untuk berpikir kembali sebelum mengambil tindakan.
Setelah berpikir beberapa saat, aku tetap pada keputusanku. Ini adalah hal yang paling baik yang bisa kulakukan untuk rakyat Lootopia.
"Aku tetap pada keputusan awalku, Roar. Itu yang terbaik."
"Kalau begitu, cabut satu buluku sekarang," perintah Roar.
Aku tidak tahu kenapa dia memerintahkan aku untuk mencabut satu bulunya. Roar langsung memejamkan matanya tanpa memberitahu alasan dia memerintahkanku. Jadi, aku langsung mencabut satu bulu seperti perintahnya.
Satu bulu hitam pemimpin Roughus itu sudah ada di tanganku. Kini, aku hanya bisa menunggu penjelasan Roar karena pemimpin Roughus itu belum juga membuka matanya.
Cukup lama aku menunggunya membuka mata. Ada perasaan cemas yang menyelimutiku. Aku takut dia tidak akan membuka matanya lagi. Namun, tidak mungkinkan Roar mati hanya karena aku mencabut satu bulunya.
"Teteskan darahmu di atas buluku itu, Eliza," ujar Roar mengagetkanku.
Syukurlah, dia masih bisa membuka matanya. Ketakutanku tidak menjadi kenyataan.
"Untuk apa, Roar?" tanyaku penasaran.
"Saat buluku bercampur dengan darahmu, bulu itu akan berubah menjadi pisau yang dapat membunuh Eldorado, jelas Roar panjang.
Aku diminta untuk membunuhnya? Apa aku sanggup melalukukannya. Walau bagaimanapun, Eldorado adalah makhluk hidup, aku tidak tahu apa aku bisa melakukannya.
"Kau memintaku untuk membunuhnya? Aku tidak bisa, Roar," ucapku menolak perintah Roar.
"Itu terserah padamu, Eliza. Kau ingin mati sia-sia atau ingin menyelamatkan rakyat Lootopia yang lain?"
Pilihan yang berat, aku ingin menyelamatkan Lootopia tanpa mati sia-sia. Namun, apa aku bisa membunuh Eldorado?
"Baiklah, aku akan membunuh Eldorado." Aku mengambil keputusan ini demi Lootopia.
Aku melukai pergelangan telapak tangan kiriku dengan batu tajam untuk mendapatkan darah yang akan merubah buku Roar menjadi sebuah pisau.
Ada rasa perih saat aku memggoreskan batu tajam di telaoak tanganku. Ingin rasanya menangis, tetapi tidak lucu jika aku menangis hanya karena masalah ini. Perlahan, aku meneteskan darah di atas bulu Raoar.
Keajaiban terjadi, bulu hitam tadi berubah menjadu pisau, seperti yang dikatakan Roar.
"Hanya kau dan pisau itu yang bisa membunuh Eldotado," ujar Roar saat aku memegang pisau.
Aku meyakinkan diri untuk bisa melakukannya. Ini cara terbaik agar aku tetap bisa menyelamatkan Lootopia tanpa harus mati sia-sia.
"Kau mau melakukan apa dengan pisau itu, Eliza!" Frans tampak terkejut saat aku keluar dengan membawa pisau
"Mari kita temui Eldorado," ajakku pada yang lain.
"Kau benar-benar rela untuk dimangsa olehnya, Eliza?" tanya Steven.
"Aku tetap akan berusaha hidup. Tapi, jika takdir mengharuskan aku untuk mati hari ini, maka tidak ada yang bisa dilakukan," jawabku.
Roar berjalan lebih dulu untuk menunjukan keberadaan Eldorado. Aku, Frans dan Steven mengikutinya dari belakang.
Saat sampai di tempat tujuan, aku melihat Eldorado sedang duduk, seolah dia tahu aku akan datang sebagai mangsa terakhirnya. Perlahan aku mendekat sendirian pada serigala pemangsa itu. Namun, Steven dan Frans mencegahku.:
"Eliza, aku mohon jangan lakukan itu. Aku tidak mau kehilangan dirimu," ucap Frans yang memegangi tanganku.
"Eliza, aku juga tidak ingin kehilangan dirimu." Ucapan Steven membuatku senang. Dia juga tidak ingin kehilangan diriku, itu artinya aku juga berharga baginya.
Ada perasaan ingin mundur. Namun, jika aku mundur, maka Eldorado akan semakin buas. Dia akan semakin membahayakan rakyat Lootopia yang lain.
Aku mendekat pada Eldorado tanpa menghiraukan ucapan teman-temanku. Jika harus mati kali ini, aku tidak akan pernah menyesal.
"Aku Youlexa, Eldorado. Keturunan suci yang kau cari selama ini," ucapku memperkenalkan diri.
Eldorado beranjak dan mulai mendekat lebih dekat padaku. Dia berjalan memutariku seakaan memeriksa sesuatu padaku.
"Kau sangat berani, Tuan Putri Youlexa," kata Eldorado saat kembali duduk.
"Kau siap menjadi mangsaku?" lanjutnya.
"Aku akan memberikan diriku, tapi ... aku tidak akan menjadi mangsamu tanpa perlawanan. Jika aku sudah sudah tidak berdaya, kau boleh memangsaku."
Aku mengeluarkan pisau yang ajaib dari bulu Roar. Eldorado tampak tidak takut, dia malah mundur dan terlihat seperti akan menyerangku. Aku pun bersiap melawan dengan pisau di tanganku.
Aku berusah terua mengindar dari serangan Eldorado hingga saat yang tepat tiba untuk menancapkan pisau di tubuh serigal pemangsa itu.
Setelah cukuo lama tampaknya Eldorado belum menyerah. Namun, tenaganya terlihat sudah mulai berkurang. Mungkin, inilah saatnya aku menancapkan pisau ajaib ini di tubuhnya.
Eldorado kembali menyerang, saat itulah aku menancapkan pisau tepat di punggungnya. Teriakan rasa sakit Eldorado memenuhi tempat ini, bahkan teriakannya membuat telingaku sakit.
Tanganku bergetar sekarang, aku masih tidak menyangka, tanganku melukai mahkluk hidup.
Serigala pemangsa itu sudah tidak berdaya. Ia tergeletak di tanah. Anehnya, tidak ada satu tetes pun darah keluar dari luka karena pisau yang tertancap di punggung Eldorado.
"Eliza!" Panggil Frans keras padaku. Dia langsung memelukku seolah dia sangat merindukanku.
Steven meraih tanganku dan menggenggamnya saat Frans masih memelukku. Steven tersenyum padaku, hal itu sedikit membuatku merasa tenang.
"Kisah Eldorado sudah berakhir. Mari kita lanjutkan perjalanan ini," ajak Roar.
Aku dan yang lain kembali mengikuti Roar dari belakang. Namun, belum sempat berjalan jauh, seseorang memanggilku dari arah belakang. Betapa terkejutnya aku saat mendapati seorang pria yang mengenakan pakaian pengawal istana berdiri di tempat Eldorado tergeletak tadi.
"Putri Youlexa, aku Eldorado berterima kasih atas keberanianmu. Kau membebaskanku dari kutukan Ratu Annika dengan keberanianmu. Aku berjanji, akan menjadi pelindung Lootopia," ucap pria itu panjang.
Sungguh luar biasa, aku mengira telah membunuh Eldorado. Namun, takdir menjadikan pisau itu adalah kunci untuk menghilangkan kutukan Eldorado.
"Ini semua karena pisau itu. Benda itulah yang membebaskanmu."
"Bukan, bukan pisau itu alasan kutukanku hilang. Keberanianmulah yang membuatnya hilang."