Eldorado mendekat padaku. Dia memakaikan sebuah gelang, dan tersenyum ramah padaku. Berbeda sekali dengan saat dia masih menjadi serigala pemangsa.
"Eliza, gelang ini milik nenekmu, Ratu Annika. Dia mengikatkan gelang ini di tanganku setelah dia mengutukku menjadi serigal. Saat itu aku sangat marah padanya, dan bersumpah untuk membunuh rakyat Lootopia satu-persatu. Aku akan berhenti membunuh, jika orang terakhir yang aku bunuh adalah keturunan suci Lootopia," jelas Eldorado saat menceritakan asal-usul gelang Ratu Annika yang tidak lain adalah nenekku.
"Anggaplah gelang ini adalah perlindungan dari nenekmu yang telah tiada," lanjut Eldorado.
Aku belum pernah melihat wajah nenekku, ini adalah benda pertama miliknya yang aku pegang. Setidaknya, gelang ini membuatku merasa nenekku ada di sampingku.
"Terima kasih, Tuan Eldorado. Aku akan menjaga gelang ini sebaik mungkin."
Roar mengajakku untuk melanjutkan perjalanan. Masih ada delapan batu giok yang harus dicari, hal itu masih membutuhkan waktu yang lama, jadi aku tidak boleh menunda perjalanan lebih lama lagi.
"Daerah selanjutnya yang akan kalian lewati adalah desa boneka hidup. Di sana sama sekali tidak ada manusia, penghuni desa itu adalah manusia yang disihir menjadi boneka oleh Ratu Samara. Hanya ada seekor kera hitam yang menjaga desa itu. Kalian harus berhati-hati pada kera itu, dia memiliki serbuk perubah emosi," ujar Eldorado mengingatkan.
Desa itu terdengar menakutkan karena seekor kera nakal. Aku berharap tidak perlu bertemu dengannya.
Matahari segera terbit, setelah berpamitan pada Eldorado, aku dan yang lain kembali melanjutkan perjalanan.
Perjalanan disaat matahari muncul terasa menyenangkan, karena semua pemandangan indah bisa terlihat jelas.
"Hallo, Putri Youlexa," sapa seseorang yang tidak kulihat wujudnya.
"Siapa?" tanyaku.
"Aku!" seru Boma yang tiba-tiba muncul dari pohon yang ada di sampingku. Dia makhluk kecil yang suka mengejutkan orang lain, menyebalkan sekaligus lucu.
"Jika Boma muncul, itu artinya batu giok berikutnya sudah dekat, benarkan teman kecil?" simpul Roar.
Boma mengangguk seraya tersenyum. Tiba-tiba, aku mendengar suara perut keroncongan. Entah dari mana suara itu. Namun, aku melihat Frans meringis, secara tidak langsung, dia mengaku kalau suara iti berasal dari perutnya.
"Aha, ada yang lapar. Mau aku carikan makanan?" Dengan ramah Boma menawarkan.
"Tidak! Terakhir kali kau membuat kami semua gendut tanpa terlihat. Aku tidak mau makanan darimu," tolak Frans dengan keras.
Bukannya marah, Boma malah tertawa terbahak-bahak. Berbanding terbalik dengan Frans yang terus memanyunkan bibir.
"Kali ini aku tidak akan membuat kalian gendut, tenang saja. Aku akan cari buah-buahan dan kau Roar, kau mau makan apa?" Boma berbicara seolah dia pelayan. Kurcaci kecil ini baik hati. Namun, sifat nakalnya terkadang membuat kesal.
"Aku tidak perlu makanan lain, Boma. Aku sudah punya makanan sendiri di sini. Jika aku memakannya, aku akan kenyang selama dua hari tanpa makan apa-apa lagi," jawab Roar dengan santai.
Boma mengerutkan dahi seolah ia tidak mengerti ucapan Roar. Tangan kanan kurcaci itu memegangi dagunya seolah sedang berpikir keras.
"Memang apa makananmu, Roar?" tanya Boma.
Seraya menunjukkan taringnya yang tajam, Roar juga menghembuskan napasnya di samping Boma.
"Dirimu," celetuk Roar.
Seketika kurcaci nakal itu menghindad dari Roar dan bersembunyi di belakangku. Ia terlihat ketakutan dan terus memegangi pakaiannku.
"Hei, Roar! Jangan pernah mencoba memangsaku atau kau akan dikutuk oleh Tuan Putri Youlexa," ancam Boma yang masih bersembunyi di belakangku.
Bukannya berhenti, Roar malah makin memperlihatkan taring tajamnya pada Boma. Seketika kurcaci itu berteriak ketakutan.
Melihat Boma yang ketakutan, Frans dan Steven tertawa puas. Mereka terlihat sangat menikmati ketakutan Boma. Aku juga ingin tertawa. Namun saat melihat kurcaci itu, aku tidak tega menertawainya.
"Boma, Roar hanya bercanda. Sekarang carilah makanan untuk kami, ya." Aku mencoba membujuk Boma agar dia tidak ketakutan lagi.
"Ba-baiklah," ucapnya terbata-bata. Dengan perlahan, Boma pergi untuk mencari makanan. Dia benar-benar kurcaci baik hati. Melihatnya ketakutan karena ulah Roar, aku jadi merasa bersalah, padahal yang berulah adalah Roar.
"Kalian keterlaluan," ucapku menegur Roar, Frans dan Steven.
Cukup lama aku menunggu Boma kembali. Ia belum muncul juga membawa makanan yang ia tawarkan. Kira-kira kemana dia mencarinya?
"Taraaa ...." Boma tiba-tiba muncul di balik pohon. Kurcaci itu membawa banyak buah seperti sebelumnya.
Aku langsung memakan buah-buahan yang dibawa Boma, sedangkan Frans dan Steven hanya menatap buah-buahan segar itu. Mungkin, mereka takut jika Boma melakukan hal nakal lagi.
"Putri Youlexa, aku ke sini juga membawa pesan dari Tuan Rodrigo. Dia berpesan untuk menggunakan sayapmu. Dan ... ini ada sebuah kantung emas besar dari Tuan Pecth. Aku tidak tahu kenapa dia memberiku benda ini." Boma melanjutkan makan sedangkan aku memeriksa kanting besar berwarna emas yang diberika Tuan Petch.
"Sayap?" Frans tertawa terbahak-bahak. "Memanya Eliza itu burung? " lanjutnya.
Untuk apa benda ini? Lalu, kenapa Paman Rodrigo mengatakan untuk menggunakan sayapku? Ada apa sebenarnya?
Aku mengingat ucapan Eldorado, dia mengatakan bahwa perjalanan selanjutnya akan melewati desa boneka hidup. Mungkinkah aku harus menggunakan sayap dan kantung emas ini di sana?
"Hari sudah siang, kita harus melewati desa boneka hidup sebelum malam," ucap Roar mengingatkan.
Setelah semua buah-buahan habis. Aku dan yang lain melanjutkan perjalanan. Boma juga kembali menghilang tanpa pamit padaku. Kurcaci itu akan muncul jika aku sudah dekat dengan keberadaan batu giok.
Dalam perjalanan, sebuah pintu gerbang harus dilewati. Tidak disangka, saat melewati gerbang, aku dan yang lain tiba di desa boneka hidup. Aku mengetahui tempat ini karena banyak boneka yang digantung bahkan sejak awal masuk.
Jika mereka semua adalah manusia yang disihir, berapa banyak warga desa ini?
Saat aku mencoba memeriksa satu-persatu boneka, terdengar suara monyet. Entah dari mana asal suara itu. Namun, aku mendengarnya dengan sangat jelas.
"Kalian dengar suara monyet? Hati-hati, dia membawa serbuk perubah emosi. Jika terkena sedikit saja serbuk itu, kalian bisa menggila," ujar Roar mengingatkan.
Sekilas, aku melihat seekor kera melompat. Mungkinkah dia kera yang dibicarakan Eldorado? Jika iya, bagaimana cara melewati tempat ini. Kera itu membawa serbuk perubah emosi sedangkan pergerakan kera itu sulit diikuti karena melompat ke sana kemari.
Aku rasa, jika aku bisa melompat pasti bisa mengikuti kera itu. Namun, sayangnya aku tidak bisa melompat kesana-kemari seperti kera.
Tunggu!
Aku tidak bisa melompat, tetapi aku punya sayap pemberian Paman Rodrigo. Kantung emas ini juga bisa digunakan untuk menagkap kera hitam itu.
"La Pia Fly." Muncullah sayap dipunggungku.
Melihat sayap muncul, Frans dan Steven terlihat sangat terkejut. Wajar, sejak awal aku tidak memberitahu mereka soal sayap yang diberikan Paman Rodrigo ini.
"Ka-kau punya sa-sayap, Eliza?" tanya Frans yang masih terlihat terkejut.
Aku tidak menjelaskan apapun dan langsung terbang untuk mencaritahu kemana kera itu pergi.