Aku memasang giok merah ke mahkota merak cantik. Batu Giok itu menambah kecantikan mahkota dan tentu saja sang pemakai mahkota.
Sebenarnya, aku ingin menggunakan giok merah untuk membebaskan warga desa boneka hidup. Namun, jika aku mengambil giok merah itu, sama saja dengan mengambil hak orang lain. Merak cantik telah menjaga giok merah itu dan ruang di mahkotanya menunjukan kalau giok merah itu adalah miliknya.
Aku merelakan giok merah itu, semoga ada cara lain untuk membebaskan warga desa boneka hidup.
"Terima kasih, Nona cantik. Aku merasa sangat cantik sekarang," ucap merak cantik seraya mengembangkan bulu ekornya yang indah.
"Karena kau telah membuatku cantik. Akan ada hadiah yang aku berikan. Lanjutkan perjalanan kalian hadiah akan mengikutimu," lanjut merak cantik seraya berjalan masuk ke hutan dalam.
Setelah merak cantik pergi, aku harus menghadapi tatapan marah dari Frans dan Steven sedangkan Roar duduk dengan tenang di samping kedua temanku itu.
"Hilang giok merah kita! Bagaimana kita akan bicara pada Tuan Tanrakul, Eliza?" tanya Frans yang terdengar sedikit frustrasi.
Steven tidak mengatakan apapun, hanya saja pandangan matanya itu membuatku bingung. Alasan apa yang aku berikan pada Tuan Tanrakul jika tahu giok merah tidak dibawa. Bisa dipastikan dia akan kecewa, dia sangat berharap aku membawa benda itu untuk menyelamatkan warga desa.
"Aku akan jujur pada Tuan Tanrakul. Sangat kejam jika aku mengambil giok itu dari merak, dia yang menjaganya, tetapi aku yang mengambilnya, bukankah tidak adil namanya," jelasku agar Frans dan Steven mengerti.
Roar yang diam juga tidak membelaku atau membela Frans dan Steven. Aku tahu kalau dia mengetahui alasanku memberikan giok itu. Namun, ia seperti tidak peduli. Pemimpin Roughus itu hanya duduk dengan tenang, seolah dia penonton.
"Sudahlah, kita kembali ke desa boneka hidup saja." Suara Steven terdengar lesu. Apa karena keputusanku?
Langkahku terasa tidak punya semangat. Untuk melawan Ratu Samara harusnya aku punya sembilan giok warna, tetapi satu kesempatan yang aku punya sudah hilang. Apa tetap akan sempurna jika hanya terkumpul delapan giok warna?
Tidak terasa aku sudah sampai di depan gerbang desa bonek hidup. Di sana Tuam Tanrakul telah menanti kedatangan aku dan yang lainnya.
Aku belum berani bertemu dengan Tuan Tanrakul. Bagaimana aku menyusun permintaan maaf padanya sekaligus pada warga desa. Aku telah memberi mereka harapan. Namun, aku juga yang menghancurkan harapan mereka.
"Ayo, temui Tuan Tanrakul," ajak Roar yang berjalan lebih dulu disusul Steven dan Frans.
Sikapku ini bukan sikap seorang putri. Harusnya, aku mampu menangani semua resiko yang terjadi karena keputusan yang aku ambil dan kali ini harusnya aku meminta maaf.
Ya, aku harus berani bicara dan mintaa maaf karena tidak bisa memenuhi harapan mereka untuk terbebas dari sihir Ratu Samara.
"Maafkan aku, Tuan Tanrakul," ucapku saaf sampai di hadapannya.
"Untuk apa minta maaf, Putri Youlexa? Harusnya kau segera merendam giok merah untuk membebaskan warga desa."
"Aku memberikan giok merah pada merak cantik penjaga. A-aku tak membawanya ke sini untuk membebaskan mereka," jawabku dengan jujur. Aku harap Tuan Tanrakul tidak marah atau menuduhku sebagi pembohong.
"Jika kau memberikan giok merah pada merak. Lalu ... giok siapa yang ada di batu itu." Tuan Trakul menunjukan sebuah batu besar dekat dengan pohon.
Saat aku memeriksa, ternyata giok merah itu ada di sana. Aku mengambilnya dan coba memerikaa benda itu. Apa ini giok yang sama dengan yang aku berikan pada merak?
"Selamat, kau telah lulus dari ujian ketulusan hati, Eliza. Itulah hadiah yang merak berikan." Ujar Roar.
Merak itu memberikan giok merah sebagai hadiah, itu artinya aku bisa menyelamatkan warga desa boneka hidup. Mereka bisa kembali menjadi manusia. Aku berlari ke arah Tuan Tanrakul untuk bertanya cara membebaskan warga desa dari sihir Ratu Samara.
"Tuan Tanrakul, apa yang harus dilakukan untuk membebaskan warga desa?"
"Ada sungai di jalur kiri desa ini. Rendam tanganmu yang memegang giok merah itu sebentar. Lalu, rendam semua boneka dan setelah itu mereka akan terbebas dari sihir jahat Ratu Samara," jelas Tuan Tanrakul.
Aku dan Roar pergi ke sungai sedangkan Steven dan Frans membantu Tuan Tanrakul mengumpulkan semua boneka yang ada di desa.
Suasana sejuk di sungai membuatku sedikit tenang setelah merasakan rasa stres karena merak cantik dan giok merah.
Sesaat, aku merasa tidak berguna menjadi keturunan suci karena tidak bisa menolong warga desa. Namun, setelah kejadian ini, aku belajar untuk tidak menyerah karena tujuan apapun yang ingin diraih pasti jalan akan terbuka.
"Kami datang," seru Frans dari kejauhan.
Frans, Steven dan Tuan Tanrakul membawa banyak boneka. Mereka terlihat sangat senang dengan banyaknya boneka yang dibawa.
Satu-persatu boneka di rendam ke sungai oleh Tuan Tanrakul. Aku berharap semua boneka itu benar-benar bisa kembali menjadi manusia.
Perlahan, keajaiban muncul. Satu-persatu boneka berubah menjadi manusia. Sorak kegembiraan mendadak memenuhi tempat ini. Kegembiraan terpancar dari senyum mereka.
Semuanya saling berpelukan walau air sungai terasa dingin. Senyum Tuan Tanrakul menjadi pertanda keberhasilanku membantu warga desa boneka hidup.
"Kau bahagia, Eliza?" tanga Steven yang mendekatiku.
"Ya, aku bahagia melihat mereka bahagia. Selain itu, sejauh ini banyak makna dari setiap peristiwa yang kita lalui."
***
Malam terlihat terang saat ini. Api unggung menyala sebagai tanda pesta kecil desa boneka hidup. Mereka mengatakan pesta ini adalah rasa terima kasih sebelum aku dan teman-temanku melanjutkan perjalanan.
Sudah dua malam aku menginap di desa ini. Jika terlalu lama, waktu yang dihabiskan untuk mencari giok warna semakin panjang. Jadi, aku memutuskan untuk melanjutkan perjalan besok pagi. Roar, Stevem dan Frans juga setuju untuk kembali melanjutkan perjalanan.
Anak-anak desa boneka hidup menari sambil bernyanyi mengitari api unggun. Para ibu sedang asyik membuat hidangan sedangkan para pria sedang duduk di depan Tuan Tanrakul. Para pria itu seperti sedang mendengarkan araha dari Tuan Tanrakul, tapi aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
"Makanan siap!" seru seorang wanita yang mengangkat sebuah sendok dan garpu.
Aku dijamu seperti seorang ratu di sini. Mereka tidak kunjung berhenti mengucapkan terima kasih sebelum acara makan besar dimulai. Bahkan, para anak kecil berharap suatu hari nanti bisa menjadi seperti diriku.
"Lihatlah, Eliza. Mereka semua bisa melihat sosok ratu dalam dirimu. Kelak, saat kau berhasil mengambil alih Lootopia dari Ratu Samara, kau harus menjadi Ratu yang baik dan adil," nasihat Roar padaku.
Aku akan mengingat pesan Roar. Aku juga tidak akan mengecewakan rakyat Lootopia yang sudah berharao banyak padaku.