Perjamuan makan telah selesai. Semua orang bergembira sambil menikmati malam. Mereka semua berniat untuk menghabiskan malam ini tanpa tidur.
Nyanyian, tarian dan tepuk tangan terus terdengar di desa boneka hidup. Aku pun senang melihat kegembiraan mereka semua.
Tiba-tiba aku mendengar suara burung gagak, walau samar-samar tapi aku yakin itu suara burung gagak. Semoga saja tidak ada hal buruk terjadi.
"Gagak merah! Gagak merah!" seru salah satu warga desa yang sedang merapikan kayu bakar.
Mendengar gagak merah, semua orang terlihat panik. Mereka berlarian kesana- kemari seperti sedang mencoba untuk menghindar. Mereka terlihat ketakutan. Ada apa sebenarnya ini?
"Masuk ke rumah masing-masing. Cepat!" perintah Tuan Tanrakul.
"Tuan Tanrakul, ada apa ini?" tanyaku pada pemimpin desa boneka hidup.
"Gagak merah besar datang. Dia akan memangsa kami," jelas Tuan Tanrakul.
Apa yang dikatakan Tuan Tanrakul benar. Seekor gagak merah yang besar datang. Dari wujudnya saja sudah menakutkan. Gagak itu melihat ke sekeliling, mungkin mencari penduduk desa yang sama sekali tidak terlihay batang hidungnya.
"Auh, di mana seluruh penduduk, Tanrakul?" tanya sang gagak. "Ayo, berikan beberapa orang padaku. Aku lapar. Kau tahu, Tanrakul? Aku harua mencari makan di tempat lain karena kalian telah disihir. Beruntungnya aku saat mendengar ada pesta di sini, jadi aku datang untuk bergabung," lanjut gagak yang menakutkan itu.
Tuan Tanrakul terlihat berani saat gagak merah besar itu mendekat padanya. Namun, ketakutan juga terlihat dari tangannya yang gemetar.
"Oh, ya. Jika kalian semua bebas daru sihir Ratu Samara, itu artinya keturunan suci yang telah menyelamatkan kalian. Di mana dia? Aku akan sangat kenyang saat bisa memangsa pewaris sejati Lootopia itu." Ucapan gagak merah itu membuatku emosi.
Hampir saja aku membuka jati diri. Namun, tangan Steven menghalangiku, seakan dia tahu kalau aku akan mengaku sebagai keturunan suci Lootopia.
"Akulah keturunan suci Lootopia," ucap Steven seraya melangkah lebih dekat dengan gagak merah itu.
Entah apa yang direncanakan pria itu dengan mengaku sebagai keturunan dan seolah menantang gagak merah itu.
"Mendekatlah, bukankah kau ingin memangsaku?" Steven seperti berusaha memancing gagak itu. Entah apa yang dia rencanakan tanpa memberitahuku dulu.
Saat gagak merah itu mulai mendekat, tiba-tiba Steven membuat tali sihir dengan mantra yang dia ucapkan, lalu membelitkan tali ke paruh burung gagak itu.
"Eliza, ambil pedangku dan patahkan paruhnya sekarang!" perintah Steven yang berusaha menahan sang gagak yang memberontak.
Tanpa bertanya, aku menuruti perintah Steven. Kuambil sebuah pedang yang ada di atas meja makan untuk menghancurkan paruhnya. Entah kekuatan dari mana. Namun dengan kuat aku mengarahkan pedang dan menghancurkan paruh gagak itu. Seketika gagak merah itu hancur lebur menjadi abu, tidak tersisa dan yang ada hanya serbuk berwarna hitam itu.
Napasku tidak beraturan sekarang, bahkan tanganku gemetar. Pedang yang tadi dengan mudah kuayunkan kini terasa sangat berat hingga untuk mengangkatnya saja aku tidak sanggup.
Semua orang tiba-tiba keluar dan bersorak gembira atas kematian gagak merah yang besar itu. Berkali-kali mereka memujiku bahkan para anak-anak langsung memelukku erat.
"Terima kasih, Eliza," ucap Tuan Tanrakul seraya menghampiriku.
"Tuan Tanrakul, jangan berterima kasih padaku. Stevenlah yang berjasa." Aku menatap Steven dan pria itu membalas tatapanku dengan senyuman.
"Aku hanya membantu, Eliza. Kaulah yang berjasa, kau mampu mengangkat pedang itu dengan keberanianmu dan hal itu juga yang menghancurkan gagak merah itu," balas Steven.
Roar menghentikan sorak gembira para penduduk. Ia mengatakan kalau gagak merah yang lain mungkin akan datang untuk membalas dendan sekaligus membunuh mereka semua.
Peringatan Roar, tidak hanya membuat para penduduk cemas tidak terkecuali aku. Bagaimana jika gagak merah yang lain datang di saat aku dan teman-teman melanjutkan perjalanan. Kejadian mengerikan mungkin akan terjadi di sini.
"Kami takut pada gagak itu. Jika kalian pergi bagaimana nasib kami semua?" tanya seorang anak laki-laki yang berdiri di belakangku.
Aku memeluk anak itu erat. Ia pasti merasa sangat takut, bahkan sesaat tadi aku juga merasakan ketakutan. Aku takut mungkin ini adalah akhir hidupku.
"Kami akan tinggal di sini beberapa hari untuk membantu kalian belajar menghadapi gagak merah lain yang mungkin akan datang ke tempat ini. Boleh, kan Roar?" Aku berusah membujuk Roar agar tinggal benerapa hari lagi di sini sampai rada cemas tentang penduduk boneka hidup hilang.
Dengan santai, Roar mengiyakan permintaanku. Dia tahu saja apa yang aku inginkan.
"Kau lihat, Tuan serigala baik itu telah menginjiknkan kami untuk tinggal beberapa hari lagi si sini."
"Janji padaku." Anak laki-laki itu memintaku untuk bernjaji.
"Aku janji." Janji adalah hal yang harus ditepati, karena itu aku takkan pergi sampai semua bisa mengalahkan gagak merah yang lain.
***
Semua pria tengah berlatih untuk membuat tali sihir seperti yang Steven lakukan semalam, sedangkan anak-anak asyik mendengarkan Roar dan Frans bercerita. Jika diibaratkan Roar itu sudah seperti seorang kakek yang suka bercerita hanya saja wujud adalah seekor serigala.
Beberapa wanita sedang menyiapkan makanan untuk makan besar lagi hari ini. Aku hanya bisa duduk dan melihat mereka semua beraktifitas karena aku sama sekali tidak diperbolehkan membantu para wanita memasak. Para wanita desa boneka hidup mengatakan aku harus jadi ratu di desa mereka, artinya aku tidak boleh melakukan hal apapun kecuali duduk dan memperhatikan.
Jika terus seperti ini, aku akan bosan. Seakan waktu tidak berjalan sama sekali. Semua orang berlatih dan tertawa sedangkan aku hanya duduk di sini.
Aku memutuskan untuk ikut bergabung dengan romobongan dongeng Roar. Saat aku akan duduk, anak-anak meneriaki aku dan tidak memperbolehkan aku untuk duduk.
Oh ... mereka sudah kejam sejak dini. Apa mereka tidak tahu kalau aku sangat bosan?
"Biarkan sang putri ikut bergabung, ya." Roar membelaku dengan suara yang lembut. Serigala itu mampu membuat anak-anak nyaman dengan padahal beberapa kali aku melihat bahwa dia adalah serigala yang mengerikan salah satunya adalah saat dia menyerang Nyonya Alberth.
Tunggu!
Kenapa aku tiba-tiba mengingat Nyonya Alberth? Kira-kira apa yang terjadi dengannya saat tali sihir hanya bisa dibuka oleh Steven karena dia yang membuat talinya.
"Tuan Putri Eliza!" Seru anak-anak bersamaan.
"Hei anak-anak aku tidak tuli. Kenapa memanggilku keras sekali?"
"Jika kami tidak memanggil Tuan Putri dengan keras maka Tuan Putri tidak akan mendengarkan kami. Sedari tadi Tuan Putri melamun," ucap anak perempuan berbaju biru yang duduk di sampingku.
Jadi, dari tadi aku melamun? Ini karena Nyonya Alberth, walau dia tidak di sini, tetap saja dia selalu menjadi sumber masalah.