Malam sudah larut, para penduduk desa pun suduh tidur di rumah masing-masing. Aku masih belum bisa memejamkan mata, jadi aku keluar tenda dan berjalan-jalan sebentar.
Rupanya, Roar ada di luar dan sedang memandangi langit. Entah kenapa pemimpin Roughus itu suka sekali dengan langit. Tiap aku keluar malam, pasti mendapati Roar sedang memandangi langit.
"Boleh aku duduk bersamamu, Roar?"
"Tentu."
Suasana malam ini suci karena pesta malam hari sudah tidak diadakan lagi. Aku sendiri sangat salut pada warga desa boneka hidup ini, mereka saling tolong menolong, kebersaamaan pasti membuat orang lain iri.
Besok, perjalanan kembali dilajutkan. Semua warga desa sudah mempersiapkan diri mereka jika gagak merah yang lain datang dan menyerang mereka.
Aku jadi penasaran, gagak merah itu berasal dari mana? Biasanya bulu gagak berwarna hitam tapi kenaoa gagak itu berwarna merah dan ukuran tubuhnya juga besar, itu menandakan kalau gagak itu bukan gagak biasa. Sama seperti Revua atau Rubik yang ukurannya tidak biasa, mereka adalah hewan mistia yang melundungi Lootopia.
Gagak merah itu bukan pelindung, kan? Mana mungkin ada seorang pelindung yang menyakiti rakyat seperti itu. Mereka lebih tepat disebut monster.
"Roar, sebenarnya siapa gagak merah itu? Dari ukuran tubuh dan warnanya yang tidak wajar mengartikan bahwa dia bukan hewan biasa." Aku mencoba mencari informasi dari Roar.
"Kau benar, Eliza. Gagak merah adalah hewan mistis yang tinggal di Gunung Manhwa. Mereka adalah penjaga empat giok utama," jelas Roar panjang.
"Jika mereka adalah penjaga giok utama, kenapa mereka memangsa manusia?"
"Ada dua kelompok gagak merah. Satu kelompok adalah penjaga empat giok utama dan yang lain, mereka hanya gagak merah biasa yang tidak terpaut pada giok-giok itu. Hal itulah yang membuat Ratu Samara memperbudak mereka yang tidak terpaut pada batu giok."
Lagi-lagi, Ratu Samara adalah akar permasalahan. Dia wanita yang sangat jahat. Aku merasa sangat malu memiliki keluarga seperti dia. Jahat dan selalu bertindak tidak adil adalah sifat buruk yang selalu ditunjukan olehnya.
Walau belum pernah bertemu langsung dengannya, aku sudah bisa menebak wajahnya seperti apa. Pasti wajahnya penuh keriput dan dan jelek.
"Roar, seperti apa wajah Ratu Samara?" tanyaku penasaran sekaligus untuk memastikan tebakanku.
"Dia wanita yang cantik, Eliza."
"Apa? Cantik, bukannya dia sudah keriput? Mana ada wanita cantik yang berkeriput?"
"Dia memang cantik. Tidak ada satupun keriput di wajahnya," ucap Roar yang terdengar berusaha metakinkan aku.
Dia adalah kakak dari nenekku, itu artinya dia juga nenekku dan artinya lagi dia tetap nenek-nenek. Lalu, bagaimana seorang nenek-nenek bisa tetap cantik tanpa keriput?
"Kau ingin tahu bagaimana bisa dia tetap cantik tanpa keriput satupun?"
Aku mengangguk sebagai jawaban. Kira-kira, rahasianya apa? Mungkinkah anak-anak yang dibawa Nyonya Alberth waktu itu juga digunakan untuk membuat Ratu Samara awet muda?
"Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Steven yang datang bersama Frans.
Pria-pria ini mengganggu saja. Mereka membuat Roar menunda cerita rahasia awet muda Ratu Samara. Aku harus menunggu lama lagi karena Frans datang untuk meminta bantuan Roar. Dia ingin Roar menceritakan kisah-kisah lagi seperti siang tadi.
Frans memang seperti anak kecil. Namun, ia adalah pria pemberani yang selalu setia pada temannya. Dia juga sekali mendengar kisah-kisah petualangan. Karena hal itulah aku mengajaknya untuk mencari giok warna dan menyelamatkan Lootopia dari Ratu Samara yang jahat.
"Kau ingin aku cerita soal apa?" tanya Roar dengan ramah.
"Apapun, yang penting cerita?"
"Nah, bagaimana kalau cerita tentang rahasia awet muda Ratu Samara. Aku sangat penasaran, Roar." Aku memaksa pemimpin Roughus itu untuk melanjutkan ceritanya.
"Setuju, ayo lanjutkan." Frans juga setuju.
"Baiklah. Tapi ... bagaimana kalu besok saja ceritanya, aku mengantuk." Roar beranjak meninggalkan aku, Frans dan Steven.
Gagal sudah untuk mendengar rahasia itu darinya. Harusnya aku sudah mendengar cerita dari Roar. Namun, karena Steven dan Frans datang semuanya akhirnya gagal.
Daripada aku merasa tambah kesal pada Steven dan Frans, aku memutuskan untuk pergi tidur. Semoga perjalanan besok berjalan lancar dan semoga saja sudah tidak ada hewan-hewan aneh lagi yang akan aku temui.
***
Semua tampak baik-baik saja pagi ini. Aku dan yang lain bersiap untuk kembali melanjutkan perjalanan mencari giok-giok warna.
Aku pun sudah tidak merasa cemas jika harus meninggalkan penduduk desa boneka hidup. Jika gagak merah datang, mereka sudah bisa menangani sendiri tanpa harus mengorbankan nyawa siapapun.
"Tuan Putri, saat kau menjadi Ratu nanti, kami akan datang menemuimu," ucap seorang anak perempuan yang menghampiriku.
"Baiklah, tapi siapa namamu?"
"Aim. Namaku Aim, Tuan Putri."
Aku memeluk anak perempuan itu erat. Sebenarnya aku ingin tetap di sini, aku suka penduduk desa ini. Namun perjalanan harus segera diteruskan.
Suasana baru akan aku alami setelah ini, semoga mereka baik-baik saja saat aku dan teman-teman pergi.
"Apa yang kalian dapatkan setelah bertemu dengan penduduk desa boneka hidup?" tanya Roar sambik terus berjalan.
"Aku suka mereka. Mereka selalu tampil apa adanya dan mereka suka berkata jujur," jawab Frans.
"Aku suka keberanian mereka. Mempelajari tali sihir adalah hal mudah. Namun, tidam semudah yang dibayangkan dan mereka mampu melakukannya demgan berani," ucap Steven menjawab pertanyaan Roar.
"Bagaimana denganmu, Eliza?"
Aku mencoba menjawab hanya dengan satu kata agar singkat. Namun, kira-kira kata apa yang menggambarkan mereka semua.
Ah, ya. Keluarga.
"Keluarga, Roar. Mereka adalah keluarga."
"Kenapa keluarga?"
"Semua kasih sayang yang dicurahkan keluarga, mereka mencurahkannya padaku."
Mereka bukan keluarga kandungku, hanya saja kasih sayang yang mereka berikan lebih dari keluarga biasanya.
Ditengah perjalanan, aku menicium bau sesuatu yang dibakar. Baunya sangat enak, aku rasa ini bau ikan bakar. Tapi, dari mana asal bau ini?
"Kalian tidak mencium bau enak ini. Perutku jadi lapar." Ternyata Frans juga mencium bau yang sama.
Siapa yang membakar ikan? Aku memperhatikan sekeliling. Namun, sama sekali tidak melihat orang yang sedang membakar ikan, bahkan sama sekali tidak ada asap yang muncul.
"Ikan bakar! Ada yang mau ikan bakar?"
Aku melihat Boma membawa sebuah nampan berisi ikan bakar. Oh, jadi bau ikan bakar berasal dari ikan yang Boma bawa.
"Kau ini kurcaci yang merangkap jadi pelayan, ya?" tanya Frans yang terdengar meledek.
"Aku memang pelayan. Pelayan Tuan Putri Youlexa, benarkan, Tuan Putri?" Boma memintaku duduk dan menyatap ikan yang dia bawa.
Aku tidak mau masuk dalam perdebatan antara Boma dan Frans. Akan jadi masalah panjang jika aku membela salah satu dari mereka. Jadi, aku membiarkan mereka sambil menikmati ikan bakar yang dibawa Boma.