Boma memberikan satu-persatu ikan bakar yang dia bawa padaku, Steven dan Frans, sedangkan untuk Roar, Boma mengatakan ada yang khusus untuk pemimpin Roughus itu.
"Air rendaman bunga Loot ini dari Tuan Petch. Ini untukmu, Roar."
Roar meminumnya secara perlahan. Aku tidak mengerti kenapa Boma hanya memberi air rendaman bunga Loot. Air itu memang berkhasiat untuk memulihkan tenaga dan menghilangkan beberapa jenis racun. Bonga Loot memang aneh, dia beracun. Namun, saat racunnya telah dihilang dengan cara memetik bunga sari yang berwarna hitam, bunga itu jadi sangat bermafaat selain itu bunga Loot memang indah, karena itu aku suka menanamnya.
"Boma, kau tidak beri makanan pada Roar?" tanyaku sambil makan.
"Roar hanya butuh air rendaman bunga Loot. Dia akan kenyang berhari-hari setelah meminum air itu." Boma memandang Roar seraya terasenyum jail. "Sebentar lagi, kalian akan memasuki hutan kupu-kupu sakti. Di sana ada giok ungu yang harus kalian ambil," lanjut Boma.
Boma selalu muncul tiap perjalanan sudah dekat dengan batu giok. Kali ini batu giok ungu yang harus didapat. Kupu-kupu sakti macam apa yang menjaga batu giok itu. Tantangan apalagi yang harus aku hadapi nanti?
"Sudah siap, Eliza?" tanya Boma seraya meringis.
Aku merasa ada yang aneh, sepertinya Boma akan berbuat jail lagi, perasaanku mengatakan hal itu, tapi apa yang akan dilakukan hingga bertanya apa aku sudah siap.
"Siap untuk apa?" tanyaku seraya memakan ikan bakar.
"Balet, kau harus mengisahkan sebuah cerita dengan tarian balet untuk para kupu-kupu sakti itu."
"Balet? Mana bisa aku menari balet?"
"Kau harus cari cara agar bisa menarinakan sebuah kisah di depan mereka. Jika mereka puas giok ungu akan mudah mereka berikan padamu."
Tantangan macam apa lagi ini. Bagaimana bisa aku menari balet padahal sama sekali aku belum pernah menari balet. Apa bisa aku belajar dalam waktu singkat?
"Boma, aku tidak bisa. Bagaimana caranya?" Aku berusaha membuat Boma membantuku entah bagaimanapun caranya.
"Hanya seperti ini, masa tidak bisa." Boma berdiri dan berusaha untuk memberi contoh tarian balet.
Frans tertawa saat Boma menari tapi pada akhirnya selalu terjatuh. Kurcaci itupun marah karena selalu ditertawakan padahal sangat terlihat kalau dia berusaha keras untuk memberi contoh untukku.
"Aku menyerah, Frans kau saja yang contohkan." Boma menyuruh Frans. Namun, dengan santai Frans menolaknya.
"Sekarang siapa lagi yang akan memberi contoh?" Aku merasa sedikit pusing karena masalah ini. Terasa mudah saat membayangkan tariannya. Namun, akan sulit karena aku tidak pernah melakukannya.
Semuanya tampak bingung seperti aku. Tidak ada lagi yang bisa membantuku belajar. Bagaimana jika aku tidak bisa menari balet? Giok ungu tidak akan bisa akau dapatkan.
"Freylin!" seru Boma tiba-tiba.
"Siapa Freylin, Boma?" tanyaku penasaran.
"Nanti saja aku ceritakan. Aku akan kembali, tunggulah di sini." Boma pergi dwngan terburu-buru.
Boma pergi tanpa menjelaskan apapun. Kurcaci itu selalu saja membuat orang penasaran. Tapi, siapa Freylin itu? Namanya terdengar sangat cantik.
Hari semakin siang. Namun, Boma belum kunjung kembali, kemana perginya kurcaci nakal itu?
"Kita lanjutkan saja perjalanan. Jika menunggu Boma bukankah akan lama. Sekarang saja dia belum kembali," usul Steven.
Aku rasa usulan Steven ada benarnya. Namun, jika terus melanjutkan perjalanan dan aku bertemu kupu-kupu sakti itu bagaimana? Jika dia memintaku untuk menari balet bagaimana? Aku kan belum bisa menarikan tarian balet.
"Aku datang," seru Boma yang tiba-tiba muncul di belakang Frans.
Kurcaci itu datang bersama seorang peri kecil. Boma memperkenalkan peri kecil itu sebagai Freylin.
Oh, jadi Freylin itu adalah peri kecil yang terlihat lucu itu. Penampilan peri kecil itu sungguh sangat imut. Ia terlihat seperti daun berwarna hijau karena pakain dan cahaya yang menyelimutinya berwarna hijau.
"Hai, Tuan Putri Eliza. Aku Freylin. Aku bisa membantumu menari balet," sapa peri kecil itu padaku.
Aku merasa sangat senang bertemu dengan peri kecil ini. Selain dia lucu, dia juga akan membantuku melewati tantangan yang sebenarnya belum kuhadapi, hanya saja aku harus mempersiapkan diri.
"Caranya bagaimana, Freylin?"
Bukannnya menjawab pertanyaanku, Freylin malah terbang mengelilingku. Entah apa tujuannya. Namun, peri kecil itu terus mengelilingiku hingga perlahan cahaya hijau menyelimuti seluruh tubuhku.
Aku tak bisa melihat apapun, aku hanya bisa mendengat suara Steven dan yang lain.
Perlahan, cahaya hijau itu menghilang. Penampilanku berubah, sekarang aku memakai gaun balet berwarna putih. Tubuhku juga terasa ringan dari biasanya. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Menarilah, Tuan Putri," perintah Freylin padaku.
"Aku bilang, aku tidak bisa menari balet. Kenapa kau menyuruhku menari balet, Freylin?"
"Cobalah." Freylin terua memaksa dan aku akhirnya menuruti perintahnya.
Entah kekuatan dari mana, tapi perlahan aku bisa menari balet seolah aku adalah ahli tarian balet, aneh bukan? Bahkan Steven dan Frans terlihat terkejut saat aku menari, sedangkan Roar sepertinya sudah tahu tentang tujuan Freylin mengelilingku tadi.
Anehnya, kakiku ini sudah terbiasa menari. Namun, kenyataannya aku bahkan belum pernah menari sekalipun sebelum ini.
"Freylin, apa yang kau lakukan tadi? Aku merasa sudah terbiasa menari balet."
"Itulah keajaiban yang aku punya, Tuan Putri. Sihirku bisa membuat orang dengan mudah menari. Karena itulah julukanku adalah Freylin si peri dansa."
Pantas saja Boma meminta bantuan Freylin, rupanya dia adalah peri dansa. Jika Freylin adalah peri dansa, apa dia juga bisa membuat Frans dan Steven saling berdansa? Aku ingin coba membuktikannya.
"Freylin, bisakah kau juga membuat teman-temanku itu menari bersama?" tanyaku seraya menunjuk kedua temanku itu.
"Tentu." Freylin terbang mengelilingi Frans dan Steven.
Seperti yang terjadi padaku tadi, cahaya hijau mengelilingi Steven dan Frans. Aku jadi penasaran, bahaimana jika mereka menari bersama.
"Jentikan tanganmu, Tuan Putri," perintah Fryelin padaku.
Aku menjetikan tangan sesuai perintah Freylin walau sebenarnya tidak tahu tujuannya. Tiba-tiba musik terdengar saat aku seleaai menjentikan tangan. Musik dari mana ini? Apa dari tanganku?
Cahaya hijau yang menyelimuti Frans Steven perlahan hilang sesuai iringan musik yang terdengar..
Musik mengalun dengan indah dan Frans dengan lihai menari bersama Steven. Mereka terlihat ingin berhenti. Namun, tetap saja mereka tidak berhenti. Hal itu menjadi bahan tertawaan untuk Boma. Kurcaci itu terlihat sangat puas melihat Frans dan Steven menari.
Bukan hanya Boma yang tertawa, Roar pun ikut tertawa dengan ekspresi malang Frans dan Steven. Bayangkan saja, mereka pasti malu, tapi tarian mereka tidak akan bisa berhenti semau mereka.
"Sudah, Freylin, aku mohon hentikan." Steven memohon agar tariannya bisa berhenti.
Senada dengan Steven, Frans juga memohon. Melihat kedua temanku seperti itu, aku jadi tidak tega padahal mereka hanya menari.