"Baiklah .... sekarang kalian bisa lanjutkan perjalanan. Aku dan Freylin akan pulang," ucap Boma seraya menatap Freylin.
"Aku ingin bersama Tuan Putri. Aku ingin ikut bersama mereka." Freylin tidak ingin kembali bersama Frans. Mungkin, dia ingin merasakan petualangan bersamaku mencari giok-giok warna.
"Tuan Putri Eliza, aku boleh ikut, kan?" tanya peri kecil itu dengan nada merayu.
"Tentu, boleh. Boma lebih baik kau ikut juga." Aku menawarkan perjalan ekslusif menyelamatkan Lootopia pada Boma. Harusnya dia menerima, karena tidak semua orang bisa ikut dalam perjalan ekslusif ini.
"Aku tidak mau. Jika aku ikut, yang menyampaikan pesan Tuan Pecth dan Tuan Rodrigo siapa? Dan kau Freylin kau harus kembali, atau ... aku akan hancurkan rumahmu." Boma mengancam dengan sangat kejam pada Freylin, walau sebenarnya kurcaci itu tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Dia adalah kurcaci nakal. Namun, dia tidak jahat.
"Jangan! Kau jahat sekali." Freylin terbang menjauh lebih dulu untuk pulang, sedangkan Boma mengikutinya dari belakang.
Mereka itu lucu, andau mereka ikut perjalanan ini pasti lebih seru. Tapi, jika mereka ikut tidak ada yang membawakan pesan dari Tuan Pecth atau Paman Rodrigo.
"Kita lanjutkan perjalanan?" tanya Roar.
Aku mengangguk dan kembali berjalan agar cepat sampai di Hutan kupu-kupu dengan begitu akan cepat mendapat giok ungu.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di hutan kupu-kupu. Saat masuk ke dalam hutan, banyak kupu-kupu berterbangan, pantas saja hutan ini disebut hutan kupu-kupu. Tapi, aku merasa mereka semua adalah kupu-kupu biasa. Tidak ada keistimewaan, lalu di mana kupu-kupu sakti yang dimaksud Boma?
"Tangkap satu kupu-kupu boleh kan ya?" Frans mencoba menangkap kupu-kupu yang berterbangan di dekatnya. Namun, akan butuh usaha keras karena sepertinya para kupu-kupu itu tidak suka ditangkap.
Frans yang berusaha untuk menangkap kupu-kupu, tapi Steven yang memdapatkannya lebih dulu. Kupu-kupu berwarna putih itu hinggap di pundak Steven. Saat ditangkap, sang kupu-kupujuga terlihat tenang seolah dia rela ditangkap Steven.
"Tidak adil, aku yang susah payah, kau yang dapat," protes Frans seraya mendekati Steven.
Frans mengambil kupu-kupu yang Steven dapat, tapi tiba-tiba kupu-kupu itu mati sebelum Frans menyetuhnya.
"Steven! Apa yang kau lakukan, kupu-kupunya mati, lihat!"
Aku memeriksa kupu-kupu itu, sebuah keajaiban terjadi, saat kupu-kupu itu kupegang. Kupu-kupu tadi berubah menjadi cincin mutiara yang sangat cantik.
"Wah, apa ini yang dinamakan kupu-kupu sakti?" tanya Frans yang terlihat takjub dengan hal yang terjadi.
Luar biasa sekali, apa semua kupu-kupu ini akan jadi cincin cantik seperti ini jika mereka mati? Tapi, rasanya aneh, kenapa kupu-kupu tadi tiba-tiba mati, padahal Steven tidak menyakitinya.
"Selamat datang di hutan kupu-kupu, Tuan Putri Youlexa," sapa seekor kupu-kupu yang menghampiriku. Ukaran tubuhnya besar, mungkinkah dia adalah si kupu-kupu sakti?
"Aku, Evelyn. Akulah penjaga giok ungu yang akan kau ambil. Tapi, sebelum mengambilnya, kau harus menghiburku dulu dengan tarian balet," lanjut si kupu-kupu besar itu.
Apa yang dikatakan Boma benar. Evelyn si kupu-kupu ini memintaku menari balet sebelum dia menyerahkan batu giok ungu yang ia jaga.
Di dalam balet biasanya ada sebuah cerita. Cerita apa yang akan aku tampilkan?
Aku ingat ada sebuah kisah seorang gadis yang merelakan dirinya disihir menjadi es untuk orang yang dicintai. Aku rasa kisah itu bisa menyetuh dan tarian baletku akan luar biasa.
"Steven, nanti bantu, ya. Kau hanya perlu berdiri tanpa melakukan apapun." Aku meminta bantuan Steven, karena kisah ini tidak mungkin satu orang, harus ada seorang pria yang menggambarkan ketidak berdayaan seorang pria yang kekasihnya dikutuk menjadi es.
Aku mengikuti Evelyn yang masuk ke dalam sebuah kastil yang aku rasa letaknya ada di tengah hutan kupu-kupu ini.
"Silakan tarikan tarian balet untukku, Tuan Putri Youlexa."
Steven bersiap berdiri di tempat yang aku tunjukkan sebelumnya. Musik mulai mengalun dan aku mulai melangkahkan kaki menari balet.
Awal kisah ini adalah sebuah pertemuan. Tanpa aku beri aba-aba, Steven tersenyum padaku seolah dia tahu jalan cerita yang dibawakan.
Aku menari mengelilingi Steven dengan penuh kebahagiaan. Namun, kebahagiaan itu tak bertahan lama. Aku mulai menari dengan raut wajah sedih, tarianku lemah dan tak berdaya, itu menandakan si gadis kehilangan cintanya.
Aku menari dengan penuh emosi, rasanya kakiku ini bergerak sendiri tanpa perintah. Sihir Freylin benar-benar luar biasa.
Aku terus menari dan akhirnya terjatuh, bukan tidak sengaja, inilah akhir kisah yang aku bawakan. Perlahan aku mulai mematung, artinya kisah berakhir dengan dengan menyedihkan, sang gadis disihir menjadi es.
Kisah berakhir dan para kupu-kupu bersorak seolah mereka sangat suka dengan penampilanku atau mereka memang suka penampilanku?
"Luar biasa, Putri Youlexa. Aku ikut merasa sedih saat kau harus berakhir dengan mematung. Itu menyakitkan," ucap Evelyn yang rupanya telah berubah menjadi manusia yang memiliki sayap kupu-kupu.
Aku merasa senang saat Evelyn mengatakan suka dengan tarianku, itu artinya peluang besar mendapat giok ungu terbuka lebar.
"Ini giok ungu yang aku janjikan." Evelyn memberikan giok ungu itu padaku. Namun, belum sempat aku menerimanya seekor kupu-kupu berwarna biru datang dam mengatakan kalau Ratu Samara dalama perjalanan kemari.
Mendengar hal itu aku sedikit merasa panik. Bagaimana jika Ratu Samara tahu kalau aku adalah Putri Youlexa, anak dari Ratu Alexa dan Raja Daniel.
Jika kekhawatiranku terjadi, mungkin aku akan kehilangan nyawa dan Lootopia akan terus dipimpin oleh sihir hitam Ratu Samara.
"Ratu Samara tidak boleh tahu jati dirimu. Kau harus bersembunyi, di belakang kastil ini ada sebuah gua, kalian bisa bersembunyi di sana hingga Ratu jahat itu pergi." Evelyn memerintahkan salah satu kupu-kupu yang hadir di kastil untuk memberitahu jalan yang harus ditempuh.
Tidak butuh waktu lama, gua yang dimaksud Evelyn memang terletak tepat di belakang kastil. Tempat ini akan jadi tempat yang aman untuk bersembunyi dari Ratu Samara.
Aku merasa penasaran dengan wajah Ratu Samara. Aku ingin memastikan ucapan Roar tentang kecantikan Ratu Samara yang tidak pernah hilang
"Mau ke mana, Eliza?" tanya Roar saat aku beranjak untuk keluar sebentar melihat Ratu Samara.
"Aku mau keluar sebentar, Roar. Aku penasaran dengan Ratu Samara."
"Jangan, jika jati dirimu terungkap hari ini, perjalanan kita juga akan berakhir di sini. Apa kau mau semua yang kita lalukan sejauh ini sia-sia?"
Apa yang dikatakan Roar benar. Jika aku ketahuan? Maka semuanya akan sia-sia, lebih baik aku menuruti ucapan Roar.
Aku tidak ingin perjalanan ini sia-sia. Banyak orang yang menunggu Lootopia terbebas dari ratu jahat seperti Ratu Samara itu.