Cukup lama aku menunggu, tidak ada tanda-tanda Ratu Samara datang atau pergi. Sebenarnya wanita itu sudah datang atau belum? Apa aku harus menunggu di sini terus?
"Roar, apa kita harus di sini terus. Ini sudah lama, bagaimana jika terjadi sesuatu pada Evelyn atau kupu-kupu yang lain?" Aku benar-benar cemas dengan nasib mereka. Semua yang mendapat sihir hitam dari Ratu Samara pasti akan berakhir menderita sama seperti sebelum-sebelumnya.
"Kita tetap harus tunggu, lagi pula hutan kupu-kupu ini adalah salah satu tempat di mana Ratu Samara tidak bisa menggunakan sihir hitamnya." Jawaban Roar membuatku sedikit tenang. Jika hutan ini adalah tempat di mana sihir hitam tidak bisa digunakan, itu artinya ratu jahat itu tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mengancam.
Aku akan mencoba untuk tetap tenang, dan menunggu dengan nyaman di sini. Tanpa kusadari Frans dan Steven memperhatikan dan aku baru sadar saat menoleh ke arah mereka.
Tatapan mereka aneh, seperti ada sesuatu yang ingin mereka katakan. Namun, belum dikatakan padaku.
"Kenapa kalian seperti itu? Jangan menatapku seperti itu! Memang ada yang salah?" Aku tidak suka mereka menatapku seperti itu seolah aku adalah gadis aneh.
"Eliza, berbaliklah." Steven memerintahkan aku untuk berbalik. Namun, aku tidak mengerti apa yang akan dia lakukan.
"Ada apa?"
"Jangan banyak tanya."
Aku menuruti Steven, entah apa yang akan dia lakukan. Aku hanya berusaha menurutinya.
"Lihat ini." Steven menunjukkan sesuatu yang tidak pernah kuduga. Ada seekor serangga aneh di tangan Steven
"A-apa ini? Aku baru melihat ada serangga seperti ini." Serangga itu memiliki sayap, tapi bentuk tubuhnya seperti ulat berwarna biru. Aku geli melihatnya.
"Serangga ini ada di lehermu tadi, apa kau tidak merasa aneh?"
Aku merasa tidak ada hal yang aneh, lalu bagaimana serangga ini bisa ada di leherku. Tiba-tiba serangga itu terbang kembali ke leherku, sontak Steven langsung memukulnya dan akhirnya serangga itu mati.
Saat serangga itu mati, tercium bau harum bunga Loot. Apa hubungan serangga ini dengan bunga Loot?
"Harum bunga Loot. Serangga ini bernama Lootusca, dia adalah serangga yang hidup dengan menumpang pada bunga Loot. Harumnya ini bisa melacak keberadaan seseorang." Roar menciumi serangga yang sudah mati itu.
Aku pernah dengar nama Lootusca, dari yang aku dengar, serangga itu hanya menempel dan sama seperti yang dikatan Roar, harumnya ini bisa digunakan untuk melacak keberadaan seseorang.
"Pertanyaannya, bagaimana bisa serangga itu ada di lehermu? Siapa yang menyuruhnya?" Frans mencoba berpikir. Namun, bukan Frans namanya jika dia langsung menemukan jawaban dari pertanyaan sendiri.
"Aku rasa, ini ulah Ratu Samara. Dia pasti menyuruh Lootusca ini mencari keberadaanmu dan saat sudah menemukannya, serangga ini menempel dan harumnya itu digunakan untuk melacakmu." Roar menyimpulkan dengan tenang.
Aku merasa ngeri saat ini, mungkinkah kedatangan Ratu Samara ke hutan kupu-kupu karena dia tahu keberadaanku di sini?
"Roar, apa mungkin Ratu Samata tahu tentang jati diriku yang sebenarnya?" tanyaku memastikan.
"Tidak, Lootusca itu hanya bisa melacak. Namun, Ratu Samara tetap tidak tahu siapa dirimu sebenarnya."
Penjelasasn Roar membuatku sedikit lega, walau Ratu Samara tahu keberadaanku, tapi dia tidak tahu tentang diriku.
"Tapi, jika Lootusca hidup menumpang di bunga Loot, kenapa aku tak pernah melihat serangga ini di bunga-bunga Loot yang aku tanam."
"Lootusca hanya hidup di bunga Loot yang ditanam di istana."
Sekarang aku mengerti, bunga Loot istana memang biasanya lebih istimewa, bahkan bunga Loot istana bisa menghasilkan madu yang tidak pernah bisa dihasilkan oleh bunga Loot yang tumbuh di luar istana.
"Ini sudah terlalu lama, aku rasa Ratu Samara sudah pergi dari sini," ucap Frans memyimpulkan sendiri.
Aku berharap ucapan Frans benar, tapi jika ratu jahat itu masih di kastil kupu-kupu dan tahu siapa aku sebenarnya, maka habislah perjalanan ini.
"Biar aku yang periksa." Steven memberanikan dirinya untuk memeriksa keadaan kastil. Aku berharap semua akan baik-baik saja.
Cukup lama Steven pergi, aku yang menunggu di sini penasaran sekaligus cemas. Aku tidak tahu harus melakukan apa untuk menghilangkan rasa cemas sekaligus penasaran ini.
"Ayo, masuk ke kastil," ajak Steven yang telah kembali.
Melihatnya baik-baik saja rasa cemasku hilang, tapi rasa penasaran ini masih ada. Aku bergegas kembali ke kastil untuk bertemu Evelyn dan menanyakan tentang Ratu Samara.
"Putri Youlexa, kau tidak apa-apa?" tanya Evelyn saat aku sampai di kastil.
"Ya, aku ... baik-baik saja, tapi, kemana Ratu Samara pergi?"
"Dia kembali ke istana Lootopia, tadi ... dia bertanya tentangmu. Aku mengatakan tadi kau ada di sini dan sudah mendapat giok ungu. Maaf aku mengatakan hal itu, karena di hutan kupu-kupu ini tidak boleh ada kebohongan. Tapi, kau tenang saja, aku tidak mengatakan jati dirimu yang sebenarnya."
Untunglah Evelyn tidak mengatakan siapa aku sebenarnya. Namun, aku tetap merasa ada yang aneh. Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja.
"Ambillah giok ungu ini dan segera pergi dari kastil ini. Tak perlu terburu-buru meninggalkan hutan ini, tempat ini aman bagimu, karena Ratu Samara tidak akan bisa menggunakan sihir hitamnya di sini." Giok ungu yang sangat cantik itu berpindah tangan dari Evelyn kepada diriku.
Aku menyimpannya di sebuah kotak ajaib, di kotak ini giok-giok yang telah aku kumpulkan akan aman. Sudah tiga giok yang aku kumpulkan, kurang enam giok lagi untuk mengalahkan Ratu Samara.
Setelah pergi dati kastil, Roar mengusulkan untuk menginap di hutan terlebih dahulu, karena akan berbahaya jika sudah keluar dari hutan kupu-kupu apalagi malam akan segera tiba.
Perjalan ini telah diketahui oleh Ratu Samara, hanya tinggal menunggu waktu dia datang padaku dan akan mencoba untuk melenyapkanku.
Aku harus mempersiapkan diri jika waktu itu datang, demi Lootopia dan kebebasan ayah dan ibu serta rakyat Lootopia, aku harus berani melawan ratu jahat itu. Dia hanya manusia jahat yang diliputi rasa iri dengki dan sihir hitam. Kebenaran pasti akan menang.
"Istirahatlah, Eliza," perintah Roar seraya menunjukan tempat untuk aku tidur. Frans dan Stevenlah yang sudah menyiapkannya untukku.
Aku beruntung dalam perjalanan mengumpulkan giok warna ditemani mereka semua. Steven yang kuat dan cerdas, Frans yang lucu dan perhatian, lalu Roar yang selalu bijaksana setiap kali mengambil keputusan. Mereka semua menjaga dan terus melindungiku.
"Tidurlah dengan nyaman, Tuan Putri," ucap Frans seraya tersenyum.
"Jangan panggil aku seperti itu. Panggil saja seperti biasa, Frans. Kita kan teman."
"Tapi, jangan beri aku hukuman ya, jika aku tidak berbuat sopan padamu."
"Ah, aku tidak akan memberi hukuman, hanya saja mungkin aku akan memberimu hukuman mati!"
Frans menelan ludahnya sendiri seraya memegangi lehernya. Sikapnya itu membuatku tertawa dengan keras. Leluconku dianggapnya serius dan ekspresi wajah Frans juga lucu. Ditambah lagi, Steven terus menakut-nakuti Frans soal hukuman mati.
Malam ini dilewati penuh tawa setelah hari-hari sebelumnya penuh tantangan.