Matahari sudah terbit, aku dan yang lain bersiap untuk kembali melanjutkan perjalanan. Samar-samar aku mendengar keramaian. Apa di dekat sini ada pasar?
"Roar, apa kau dengar ada suara keramaian?" tanyaku pada Roar yang sedang dusuk dengan tenang.
"Benar, kita sudah dekat dengan pasar. Di sana banyak orang yang yang menjual makanan dan pakaian, kita bisa membeli makanan di sana."
Ucapan Roar tentang makanan sepertinya membuat Frans tertarik. Dia bersiap lebih cepat dari yang lain, mungkin karena dia sudah lapar. Sebenarnya, aku juga sudah lapar tapi masih bisa kutahan.
Saat memasuki pasar, suasananya sangat ramai. Lalu lalang orang, pembeli yang sedang melihat barang-barang penjual, bahkan ada beberapa yang sedang menampilkan tarian di sudut pasar untuk mendapat keping emas.
Sudah berapa lama aku tidak melihat keramaian seperti ini, terakhir saat memasuki pasar, ada masalah dengan Tuan Eldorado, semoga kali ini tidak ada masalah apapun yang akan terjadi.
Frans terlihat sudah tidak sabar untuk menyantap makanan, aku rasa dia sangat lapar. Aku memberi ide agar berhenti di sebuah kedai yang ada di sebelah kedai yang menjual pakaian dan buah-buahan.
Sementara aku, Steven dan Frans makan di kedai, Roar berjalan-jalan mengelilingi pasar, entah apa tujuannya, aku belum sempat bertanya. Mungkin, dia ingin melihat keadaan sekitar saja.
Saat sedang makan, ada seorang nenek yang meminta air untuk minum pada pemilik kedai buah-buahan. Namun, dengan kasar pria pemilik kedai mengusir sang nenek.
Aku tidak tega melihatnya, jadi aku hampiri dia dengam segelas air untuk dia minum.
"Tuan, tolong jangan bersikap kasar padanya. Apa kau tidak lihat dia sudah tua rentan. Harusnya kau bersikap lebih baik." Pemilik kedai tidak menghiraukan aku, ia memilih untuk pergi menjauh.
Buruk sekali perlakuan pria pemilik kedai. Jika ibunya yang diperlakukan seperti ini apa dia akan baik-baik saja?
"Nek, Nenek sudah makan?" tanyaku pada sang nenek.
Wajah nenek ini terluhat pucat, aku rasa dia lapar. Namun, tidak berani mengatakannnya, mungkin dia takut aku akan bersikap seperti pria pemilik kedai buah.
"Nenek habiskan air ini. Setelah itu kita makan, ya."
Nenek itu hanya mengangguk seraya menghabiskan air yang kubawa tadi. Nenek ini sudah sangat tua, jalannya saja sudah membungkuk, aku jadi merasa kasihan padanya. Apa dia sama sekali tidak punya keluarga?
Setelah makan, wajah nenek menjadi tidak terlalu pucat. Sudah bisa dipastikan kalau tadi dia sangat lapar.
"Nenek mau lagi?" tanyaku saat menawarkan makan lainnya untuk si nenek.
Nenek itu menolak dan malah memberiku sebuah apel yang terlihat sangat cantik, bahkan aku merasa sayang jika apel itu dimakan.
"Nek, tidak perlu. Untuk Nenek saja apel ini."
"Tidak, Nak. Aku ingin kau yang memakannya. Apel ini sangat cantik sepertimu. Makanlah." Sang nenek terus menyodorkan apel itu agar aku memakannya.
Karena dia terus memaksa, akhirnya aku menerima buah itu dan memakannya satu gigitan. Rasanya sangat manis dan segar. Namun ....
A-apa yang terjadi denganku? Kenapa rasanya dadaku sesak sekarang. Tenggorokanku juga terasa sakit. Ada apa ini?
Tiba-tiba, ditengah rasa sakit yang aku rasakan sekarang, nenek tadi perlahan bisa berdiri dengan tegak padahal sebelumnya dua berjalan membungkuk.
Ini itu tersenyum padaku yang sedang merasakan merasa sesak di d**a. Perlahan ... nenek itu berubah wujud menjadi wanita cantik dengan tongkat emas di tangannya.
"Eliza!" Samar-samar aku mendengar panggilan Frans dan Steven. Sekarang, tenggorakanku rasanya seperti ditusuk jarum. Sakit! Roar, dimana dirimu. Aku merasa sangat sakit.
Aku mendengar tawa bahagia sang nenek yang telah berubah menjadi wanita cantik. Ia terdengar sangat menikmati rasa sakitku.
"Selamat menikmati perjalanan kematianmu, Youlexa," ucap wanita itu seraya pergi.
Aku mulai merasa sulit bernapas, apa aku akan mati hari ini.
"Ratu Samara!" ucap seaeoranv yang entah siapa, akuoun mendengar suara itu samar-samar.
***
"Eliza ...."
Aku mulai membuka mata perlahan, saat mendengar panggilan yang terdengar samar-samar.
Steven, Frans, Tuan Pecth dan Paman Rodrigo tengah berdiri menatapku yang masih terbaring.
Ada apa sebenarnya ini?
"Akhirnya, kau sadar, Eliza." Paman Rodrigo membantuku untuk duduk.
Aku masih merasa lemas, tubuhku juga terasa sakit. Sebenarnya apa yang terjadi? Yang aku ingat terakhir kali, aku memakan buah apel pemberian nenek tua.
"Apa masih terasa sakit? Atau dadamu masih sesak?" tanya Paman Rodrigo lagi. Sepertinya keadaanku tadi sangat buruk hingga Paman Rodrigo menanyakan banyak hal saat aku sadar.
"Aku baik-baik saja, Paman." Aku mencoba menghilangkan rasa cemas orang-orang yang menyayangiku.
Dari semua orang, kenapa aku tidak melihat Roar. Di mana dia? Saat aku sadar, dia tidak ada.
"Paman, Di mana Roar?" tanyaku untuk memastikan keberadan pemimpin Roughus itu.
Semua orang tampak aneh, seolah mereka tidak ingin menjawab pertanyaanku. Kenapa mereka seperti ini?
"Steven ...." Aku mencoba mencari penjelasan tebtang Roar pada Steven.
"Roar ... dia ... hilang di hutan kupu-kupu," ucap Steven dengan wajah sedih.
"Hilang? Apa makaudmu, Steven?"
"Tenang dulu. Aku akan jelaskan, tapi kau harus tenang dulu." Steven menenangkan aku dengan menggenggam tanganku.
Bagaimana bisa aku tenang, saat Roar hilang. Apa yang sebenarnya terjadi hingga pemimpin Roughus yang bijaksana itu hilang di hutan yang sudah dilalui sebelumnya.
"Kau hampir mati, Eliza. Apa kau ingat?"
Aku mengingatnya, apel itu membuat dadaku sesak dan tenggorokanku terasa sangatsakit. Lalu, apa hubungannya dengan Roar yang hilang?
"Ratu Samara yang sudah berusaha melenyapkan dirimu. Dia tahu jati dirimu yang sebenarnya," lanjut Steven.
Jadi, nenek tua yang berubah menjadi wanita camtik itu adalah Ratu Samara--sang ratu sihir hitam yang jahat. Dari mana dia tahu jati diriku, sedangkan Evelyn tidak mengatakan apapun tentang aku yang sebenarnya pada Ratu Samara.
"Lalu, bagaiman Roar bisa hilang?"
"Kau hampir mati karena jarum kematian yang dimasukan ke dalam buah apel cantik yang diberikan Ratu Samara. Dalam dua hari, jika jarum itu tidak dikeluarkan dari tenggorokanmu, kau bisa mati. Dan ... hanya madu bunga Nerzeuz yang bisa mengeluarkan jarum itu."
Steven terdiam sebentar, mungkin dia masih merangkai kata untuk menjelaskan yang terjadi padaku.
"Nerzeuz hanya tumbuh di tanah hijau yang ada di hutan kupu-kupu. Aku menemukan Nerzeuz itu di tepi jurang yang dalam. Saat akan mengambil, Roar berusaha membantuku. Namun, dia malah terjatuh di jurang itu."
Dadaku terasa sakit lagi sekarang, bukan karena jarum kematian. Namun, kabar tentang Roar yang jatuh ke juranglah yang membuatku sakit. Dia adalah pemimpin Roughus yang sangat baik dan bijaksana. Aku merasakan kasih sayang orang tua dari Roughus, dia begitu perhatian dan selalu melindungiku.
Tidak!
Aku tidak boleh berdiam diri membiarkan Roar hilang dan mati begitu saja. Aku harus mencarinya sekarang juga.
"Eliza, kau mau kemana? Kau masih lemah. Lihatlah, wajahmu saja masih pucat." Tuan Pecth berusaha menghalangiku.
"Tidak, Tuan Pecth. Aku harus menemukan Roar. Dia tidak boleh mati. Dia pelindung Lootopia yang harus hiduo selamanya."
Kakiku masih gemetar, tapi aku tak ingin menyerah walau jatuh berkali-kali. Aku harus mencari Roar dan memastikan dia hidup dan baik-baik saja.