Aku memaksa untuk mencari Roar di hutan kupu-kupu. Aku masih berharap pemimpin Roughus itu masih hidup, dia harus terus bernapas untuk melindungi Lootopia.
"Eliza, jurangnya dalam. Kita tidak bisa melihat ke sana, kecuali dengan terbang," ucap Steven seraya melihat ke arah jurang.
"Aku akan terbang."
"Eliza! Kau tidak bisa terbang dengan keadaan seperti ini. Sihirmu tidak akan berguna karena kau belum pulih dari efek jarum kematian." Tuan Pecth berusaha menghalangiku dengan penjelasannya.
Jika sudah seperti ini, aku harus bagaimana? Apa aku harus membiarkan dia mati di sana?
"Putri Youlexa," panggil seseorang dari belakangku. Rupanya Evelyn si kupu-kupu sakti yang memanggilku.
Dia menghampiriku dan mengatakan kalau jasad Roar sudah ada di kastil miliknya. Aku sungguh tidak ingin percaya dengan ucapan Evelyn. Namun, ini adalah hutan kupu-kupu dan tidak ada yang bisa berbohong di hutan ini.
Aku dan yang lain mengikuti Evelyn pergi ke kastil. Sampai di sana, aku melihat Roar terbaring tidak bernyawa di sebuah batu besar yang datar dan panjang. Dia diam tak begerak dan hal itu membuat hatiku hancur.
"Roar ... kenapa kau terbaring diam di sini. Ayo temani aku mencari giok warna agar Lootopia selamat." Aku mengoyang-goyangkan tubuh Roar, tapi tetap tidak ada respon. Jadi, pemimpin Roughus ini benar-benar tiada. Dia benar-benar meninggalkan aku?
Mulutku terasa kaku, tak ada kata lagi yang bisa dikatakan. Aku hanya bisa menangisi kepergiannya.
Sebagai penghormatan terakhir, aku melepas kalung Lootopia dan memakaikannya di kaki Roar. Gelang itu adalah bukti bahwa Roar adalah pelindung Lootopia dan semua harus menghormatinya walau dia telah pergi untuk selama-lamanya.
Evelyn menghampiriku dan memberikan sebuah buket bunga. Aku meletakan buket bunga itu di samping jasad Roar. Aku berharap dia tenang untuk selama-lamanya. Aku mengelus pelan tubuh serigala mistis ini untuk terakhir kali.
"Se-selamat jalan, Roar." Air mata tidak bisa ditahan dan terus mengalir bersamaan dengan kesedihan yang dalam.
Tunggu!
Ada sesuatu yang aneh, aku merasa Roar bernapas kembali. Ini nyata atau mimpi?
"Roar, kau dengar aku?" Aku berusaha menyadarkan pemimpin Roughus itu.
"Eliza, Roar sudah pergi. Kau harus menerimanya." Steven mematahkan semuanya, dia terus mengatakan kalau Roar telah meninggal, tapi nyatanya aku melihatnya bernapas tadi.
"Tidak, dia masih bernapas tadi." Aku terus mencoba meyakinkan semuanya bahwa Roar masih bernapas.
Berulang kali aku memeriksanya. Namun, tidak ada tanda Roar bernapas. Apa ini hanya karena aku tidak merelakan dia pergi untuk selamanya?
"Eliza, sekarang ... biarkan para kupu-kupu yang menyiapkan pemakaman untuk Roar. Dia tetap bahagia walau telah tiada karena dia mengorbankan nyawa untuk menyelamatkan keturunan suci Lootopia." Steven membantuku berjalan menjauh dari jasad Roar agar para kupu-kupu itu bisa melakukan tugasnya.
"Eliza ...."
Aku mendengar suara Roar memanggil, kuhampiri lagi pemimpin Roughus itu dan ... dia kembali bernapas. Keajaiban terjadi, Roar sang pemimpin Roughus kembali. Dia bernapas lagi.
"Lihatlah, Roar kembali."
Semuanya tampak bahagia saat aku memastikan keadaan Roar yang bernapas lagi. Sorak kegembiraan memenuhi ruangan kastil ini.
"Eliza ... kau, sudah pulih?" tanya Roar yang kesadarannya mulai kembali. Ia mencoba untuk duduk dengan gagah seperti biasa. Namun, sepertinya masih tidak kuat.
Saat sadar yang dia tanyakan keadaanku, sedangkan dia sendiripun masih lemah. Aku memeluknya erat, tak ingin berpisah, itu arti pelukanku.
"Kau harus mengkhawatirkan dirimu sendiri. Aku tidak apa-apa."
"Ratu Samara telah mengetahui jati dirimu yang sebenarnya. Perjalanan kita akan lebih berat dari sebelumnya, karena ratu jahat itu akan terus berusaha mencelakakan kita semua yang berniat untuk mengalahkannya," ucap Roar seraya menghampiri Paman Rodrigo.
Paman Rodrigo melepaskan kalung yang aku pakaikan di kaki Roar tadi dan memakaikannya kembali ke leherku.
"Kalian harus bergegas pergi untuk mengumpulkan giok warna yang tersisa. Kalian sudah mendapat giok biru, giok merah dan ungu. Masih ada enam giok lagi. Giok merah muda dan oranye ada dalam telur emas angsa hitam yang berada di danau fantasy sedangkan giok hitam, hijau, putih dan kuning ada di tujuan terakhir kalian yaitu gunung Manhwa," jelas Paman Rodrigo panjang seraya memakaikan kalung Lootopia di leherku.
Mendengar semua itu mendadak dadaku sakit lagi. Masih berapa kesulitan lagi yang harus kuhadapi. Bagaimana jika ada nyawa yang terancam lagi?
"Kalian boleh melanjutkan perjalanan lagi, tapi aku rasa sebaiknya tinggal dulu di sini hingga keadaan Putri Youlexa dan Roar membaik," usul Evelyn.
Aku merasa usul kupu-kupu sakti itu ada benarnya. Keadaanku atau Roar hanya akan membuat Frans dan Steven kerepotan jika harus melanjutkan perjalan hari ini juga.
Akhirnya, semua setuju untuk tetap berada di kastil Evelyn. Selagi beristirahat, aku juga ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi saat tidak sadarkan diri.
Malam telah larut, bintang pun seakan tersenyum di tengah malam yang sunyi di kastil Evelyn. Aku tidak bisa tidur, entah mengapa tidak ada rasa kantuk sama sekali.
"Kau tidak tidur, Eliza?" tanya Steven yang menghampiriku.
"Aku tidak mengantuk."
"Kau harus beristirahat agar cepat pulih dan kita bisa melanjutkan perjalanan mencari giok warna."
"Iya aku tahu, tapi ... Steven, bisa kau ceritakan apa saja yang terjadi saat aku tidak sadarkan diri?"
Steven terdiam seraya memandangi Roar yang sudah terlelap tidur. Lalu, ia tersenyum dan kembali fokus dengan pembicaraan.
"Aku belajar tentang keberanian dan kesetiaan dari pemimpin Roughus itu. Sungguh, dia luar biasa," puji Steven.
Tentu saja dia pemberani, dia adalah pemimpin para serigala mistis. Dia adalah pemimpin pelindung negeri sihir yang hebat.
"Saat memakan apel pemberian Ratu Samara, kau tidak sadarkan diri. Ratu jahat itu mengatakan kalau apel yang dia berikan mengandung jarum kematian yang sengaja dibuat untuk melenyapkanmu. Jika dalam dua hari jarum itu tidak keluar dari tubuhmu, maka kau akan mati," lanjut Steven menjelaskan
Ratu Samara sungguh wanita jahat. Dia berpura-pura tak berdaya sebagai seorang nenek tua dan menjebakku.
"Lalu, apa lagi yang terjadi hingga Roar jatuh ke jurang. Kau mengatakan kalian mencari bunga Nerzeuz. Dari mana kalian tahu bunga itu?"
"Saat kau tidak sadarkan diri. Boma dan Freylin datang untuk memeriksa keadaan kita semua, saat itu aku meminta mereka untuk memberitahu Paman Pecth dan Paman Rodrigo soal keadaanmu. Dari sanalah aku tahu kalau madu bunga Nerzeuzlah yang bisa mengeluarkan jarum kematian dari tubuhmu."
Karena kecerobohanku memercayai orang lain begitu saja, semua orang menjadi repot. Harusnya aku tidak sembarangan seperti itu.
"Eliza, Ratu Samara sudah tahu jati dirimu sebagai keturunan suci Lootopia. Mulai saat ini, jangan percaya pada siapapun kecuali aku, Frans dan Roar. Kau mengerti?"
Aku mengangguk menuruti ucapan Steven. Ya, aku takkan percaya orang lain dengan sembarangan.