Semua telah bersiap untuk kembali melanjutkan perjalanan. Sudah tiga hari aku dan yang lain beristirahat di kasti Evelyn. Keadaanku dan Roar juga sudah membaik. Karena itulah perjalanan harus segera dilanjutkan. Kepergian aku dan yang lain diiringi para kupu-kupu cantik hinga sampailah di luar hitan kupu-kupu.
Tujuan selanjutnya adalah sungai fantasi. Semoga saja perjalan ini tidak sia-sia dan tidak ada yang kehilangan nyawa lagi.
Aku dan yang lain melewati pasar tempat kemarin aku bertemu Ratu Samara yang berpura-pura menjadi nenek tua tidak berdaya. Jika diingat kembali, aku merasa dadaku sakit lagi.
Tubuhku memang sudah pulih. Namun, ingatan soal kejadian kemarin tidak akan hilang dan akan terus membekas dan mencatat Ratu Samara sebagai nenek yang jahat bagiku.
"Aku datang," ucap Boma yang muncul di balik pohon.
Setelah melewati pasar, hutan kembali menyambutku dan yang lain. Boma juga datang bersama Freylin. Jika mereka berdua datang itu artinya giok berikutnya sudah dekat.
"Putri Youlexa. Bagaimana keadaanmu?" tanya Freylin.
Boma tidak mebiarkam aku menjawab, melainkan dia yang menjawab semua pertanyaan Freylin dengan alasan aku tidak boleh banyak bicara.
"Boma, apa ini hutan yang memiliki sungai fantasi dimana Angsa hitam itu tinggal. " Aku mencoba mencaritahu letak sungai fantasi di mana ada dua batu giok yang tersembunyi dalam telur emas angsa hitam.
"Ya, Putri Youlexa, hutan ini adalah pelindung sungai fantasi. Kalian bisa mencarinya di sini. Tapi kalian harus hatu-hati pada rubah nakal. Dia suka menjaili orang. Dia juga tidak terlihat."
"Sama sepertimu," celetuk Frans.
Mulai lagi perdebatan Frans dan Boma. Mereka sudah seperti tikus dan kucing tiap bertemu. Namun,seburuk apapun perdebatan mereka, tak ada dendam atau rasa marah yang mereka tunjukan
Mungkin, bagi Frans dan Boma itu adalah salah satu cara agar tetap waras selama dalam perjalanan yang panjang ini.
"Aaa ...." teriak Frans kesakitan. Temanku itu menatap Steven dengan sedikit emosi. Entah kenapa dia berteriak.
"Steven! Kau mencubitku ya?" tanya Frans dengan keras
"Tidak, untuk apa mencubitmu memang aku tidak ada kerjaan apa."
"Lihat, rubah nakal sudah beraksi," ucap Boma menyela pertengkaran Frans dan Steven."
Jika rubah nakal tidak terlihat. Bagaimana melihatnya? Sama sekali tak ada wujud rubah itu di sekitar sini .
"Kalian punya sesuatu yang berharga tidak? Rubah itu suka dengan barang berharga kalian," ucap Boma memberi solusi agar rubah nakal itu tidak menghalangi jalan.
Barang berharga apa yang bisa aku berikan pada si rubah nakal agar dia tidak mengganggu lagi.
"Aku punya ini." Frans menunjukan sekatung makanan yang ia bawa dari kastil Evelyn. Ya, makanan adalah barang berharga bagi Frans, semoga saja rubah nakal itu mau menerimanya dan tidak akan mengganggu lagi.
"Rubah nakal, kemarilah tunjukan wujudmu, aku punya barang berharga yang kau mau." Aku berusaha memancing rubah nakal itu agar mau keluar dan menampakan wujud aslinya.
Pancinganku berhasil, rubah nakal itu memperlihatkan wujud aslinya. Rupanya rubah nakal itu sangat cantik. Ekornya sembilan dan bulunya putih seputih salju.
"Kau rubah nakal?" Aku menghampiri rubah cantik itu dan memberikan makanan yang Frans tawarkan untuk dirinya tadi.
"Ini untukmu," lanjutku.
Rubah nakal itu dengan cepat mengambil makanan yang aku tawarkan. Dia terlihat begitu senang mendapat makanan.
"Kita istirahat di sini sejenak ya." Frans mulai terlihat lelah. Ya, perjalanan dari hutan kupu-kupu menuju ke sini sudah jauh, jadi wajar jika lelah.
Rubah nakal itu menghabiskan makanannya lalu menghampiri aku dan memberikan sebuat kerikil kecil berbentuk bulat sempurna.
"Apa ini rubah cantik?" tanyaku pada rubah cantik itu
"Kau Tuan Putri Youlexa, kan? Batu itu adalah batu berharga milikku, jadi bawa dan simpan. Itu sebagai bukti kebaikanmu."
"Rubah cantik. Makanan tadi milik temanku. Aku hanya memberikannya padamu."
"Teman-temanmu ini akan mendapatkan hadiah dariku setelah kalian bisa mengalahkan Ratu Samara."
Mendengar hal itu, wajah Steven dan Frans terlihat senang. Siapa yang tidak senang saat mendapat hadiah?
"Dan untukmu, Tuan Roar. Aku memberikan ini," rubah cantik memberi sebuah pil berwarna hitam. Entah untuk apa pil itu hingga diberikan kepada Roar.
"Terima kasih."
"Pil itu akan membantumu cepat pulih. Kau harus melindungi Putri Youlexa dalam perjalanan jadi kau tidak boleh sakit atau terluka lagi," ucap rubah cantik seolah dia tahu kalau Roar hampir kehilangan nyawa.
Roar memakan pil yang diberikan rubah cantik. Aku jadi penasaran apa yang dirasakan pemimpin Roughus itu saat memakan pilnya.
"Bagaimana Roar?" tanyaku penasaran.
"Aku merasa jauh lebih baik lagi sekarang."
Aku bersyukur Roar mengatakan hal itu. Setidaknya dia sudah kembali sehat dan bisa bersamaku lagi mencari giok warna.
"Kau iuga harus beristirahat, Eliza. Kau belum benar-benar pulih, kan? Terkadang masih ada rasa sakit di d**a bukan?"
Aku menggaguk menjawab pertanyaan Steven. Memang terkadang masih ada rasa sakit, tapi bagiku itu wajar, setidaknya aku mulai membaik walau perlahan.
"Ada sungai di arah kanan," ucap Freylin yang terbang menghampiriku. Rupanya, Boma menyuruh peri dansa itu untuk mencari letak sungai fantasi.
Untuk memastikan ucapan Freylin, Steven memeriksa tempat itu dan saat kembali, pria itu mengatakan memang benar ada sungai di arah kanan tempat aku dan yang lain beristirahat. Mendengar hal itu, aku berjalan untuk melihat sungai fantasi.
Eh tunggu.
Sungai ini benar-benar sungai fantasi, kan? Atau jangan-jangan ada sungai lain di hutan ini.
Saat melihat sekeliling, aku mendapati seekor angsa hitam besar di seberang sungai dan sedang berdiri melihat ke arah sungai. Ya, dua angsa hitam yang besar. Itu artinya tempat ini memang sungai fantasi yang dibicarakan Paman Rodrigo.
"Angsa hitam!" panggilku pada angsa hitam itu.
Sang angsa hitam melihat ke arahku, tapi dengan cepat dia berjalan seolah tak ingin melihatku. Kenapa?
"Roar, kenapa angsa hitam itu pergi?"
"Dia takut telurnya diambil. Dia pasti kembali ke tempat telurnya disimpan."
"Sekarang, bagaimana kita menyusul dia. Tidak ada perahu di sini untuk kita menyeberang."
"Aku bisa buat perahu," ucap Steven menawarkan diri.
Ide Steven memang bagus. Dengan sihir dia bisa membuat oerahu yang akan membawa aku dan yang lain menyeberangi sungai. Namun, untuk membuat kapal bukannya butuh sebatang kayu untuk disihir?
"Tapi Steven, kita tidak punya kayu untuk disihir menjadi perahu."
Steven dan yang lain mencari ke sekeliling untuk mencari sebatang kayu. Namun, pencarian itu sia-sia. Hutan ini sangat bersih hingga ranting pohon yang jatuh saja tidak ada.
"Aku bawakan kayu," ucapnRubah cantik menghampiri. Dia sangat baik hingga mau memberikan kayu.
"Terima kasih, rubah cantik."
"Kalian harus ingat, hati angsa hitam itu sangat lembut," ucap rubah cantik memperingatkan.