Dengan terpaksa, aku memeberi giok warna yang telah kukumpulkan pada Ratu Samara demi menyelamatkam warga desa yang hampir dibakar olehnya.
Keserakahan terlihat di wajah Ratu Samara. Dia tidak ingin terkalahkan dan juga tidak ingin tahtanya direbut kembali. Rasa iri dengki telah membuatnya menjadi wanita yang jahat, mungkin hanya putrinya yang menganggapnya adalah wanita baik.
"Kau membuat keputusan yang tepat, Putri Youlexa. Ternyata kebijaksanaan Alexa menurun padamu." Ratu Samara mematikan obor dan melepaskan tali yang ia pegang.
Frans dan Steven bergegas membantu para penduduk lepas dari tali yang diikat Ratu Samara, sedangkan ratu jahat itu pergi setelah mendapat giok warna milikku.
"Kalian tidak apa-apa?" Aku memastikan keadaan para penduduk yang terlihat lemah. Salah satu anak bahkan tidak sadarkan diri setelah lepas dari tali Ratu Samara.
Rupanya, anak kecil yang tidak sadarkan diri itu adalah adik dari gadis kecil yang meminta pertolonganku tadi.
Melihat sang adik yang tak kunjung bangun, gadis kecil itu menangis. Kasihan sekali gadis kecil itu, dia tidak punya salah, tapi dijadikan umpan oleh Ratu Samara. Aku menghampirinya dan mencoba membantu, kulihat adik gadis kecil masih bernapas dengan baik, mungkin dia kelaparan dan kehausan.
Kuminta Boma memncarikan air untuk diminum agar semua warga bisa meminumnya dan mengembalikan tenaga mereka yang hilang.
Melihat mereka seperti ini aku merasa sedih. Mereka adalah rakyatku. Namun, aku tidak bisa menjaga mereka dengan baik. Bahkan, sekarang aku kehilangan lima giok warna yang sudah kukumpulkan dengan melewati banyak rintangan. Bagaimana aku bisa memgalahkan ratu jahat itu dan mengembalikan Lootopia seperti dulu?
Semua penduduk sudah kembali ke rumah masing-masing setelah peristiwa yang mungkin tidak akan mereka lupakan. Aku dan yang lain berniat kembali ke tempat istirahat. Belum jauh melangkah, gadis kecil tadi memelukku dari belakang. Aku terkejut dibuatnya.
"Tuan Putri, terima kasih," ucapnya dengan senyum.
"Aku yang berterima kasih padamu. Kau yang membuatku mampu menyelamatkan mereka semua. Sekarang, pergilah beristirahat dan jaga adikmu baik-baik."
Gadis kecil itu pergi meninggalkan aku yang masih menatapnya. Lagi-lagi, aku bertemu gadis kecil pemberani. Para gadis kecil itu bisa menjadi pelindung Lootopia di masa depan.
Saat sampai di tempat istirahat, aku merasa ada yang aneh, tidak ada yang bersedih dengan diambilnya giok warna oleh Ratu Samara. Mereka seolah tidak peduli dengan keadihanku. Apa mereka tidak merasa sedih sama sekali?
"Karena kita kehilangan giok warna, mari kembali ke rumah masing-masing." Aku merasa tidak bertenaga, bahkan untuk bicara saja terasa berat.
"Kenapa tidak meneruskan perjalanan? Kita sudah sampai di tujuan akhir," protes Frans.
"Kita sudah kehilangan giok warna. Lalu, untuk apa di teruskan?"
"Giok warna ada di aini, Eliza." Steven membawa sebuah kotak berwarna merah.
Aku tidak mengerti dengan ucapan pria itu, sudah jelas bahwa aku memberikan sendiri giok warna, tapi kenapa Steven mengatakan kalau giok warna ada dalam kota merah yang dia bawa?
"A-apa maksudmu, Steven?"
"Lihat saja sendiri." Steven membuka kotak merah itu dan ... tidak bisa dipercaya, ada lima giok warna di dalamnya.
"Lalu, giok yang dibawa Ratu Samara?"
"Palsu." Frans tertawa terbahak-bahak bersama dengan Boma.
Baru kali ini aku melihat Frans kompak dengan Boma. Apa ini semua rencana mereka berdua?
"Bagaimana kalian berpikir untuk membuat giok palsu?" tanyaku penasaran.
"Sebenarnya, ini semua adalah ide Glitser. Dia memberitahu Boma tentang rencananya dan Boma memberitahu kami semua. Setelah itu Steven yang mengambil alih untuk membuat giok palsu dengan kemampuan sihirnya." Roar menjelaskan dengan sangat jelas.
Jadi, giok warna tidak jadi hilang. Aku memeluk Glitser dengan erat, dia yang memiliki ide cemerlang untuk melindungi giok-giok warna ini.
"Glitser, terima kasih, ya." Aku memeluknya lagi dengan erat.
"Tuan Putri, ini semua berkat kerjasama kami semua, jadi tak perlu berterima kasih padaku." Perkataan Glitser ada benarnya, mereka semualah yang berjasa melundungi giok warna.
"Kalian semua, aku berterima kasih." Senyumku menunjukan kalau aku sangat beruntung karena ditemani mereka semua. Mereka berani, cerdas, bijaksana, dan peduli satu sama lain.
"Kami akan selalu menjagamu dan Lootopia kami yang tercinta ini, Eliza," ucap Frans yang diikuti anggukan semuanya.
Aku tidak tahu harus mengatakan apalagi, yang bisa aku janjikan adalah kalian mendapat kebahagiaan yang utuh setelah ini.
Sepanjang malam aku memikirkan Ratu Samara, dia paati sangat marah saat tahu giok yang dia bawa adalah palsu. Entah siapa yang akan jadi sasaran kemarahannya, tapi yang pasti aku sangat senang hari ini.
Aku harus tidur agar esok pagi bisa melanjutkan perjalanan. Aku berharap Ratu Samara tidur dengan nyenyak malam ini. Ya, semoga saja.
***
Kicauan burung Luck mengiringi perjalanan hari ini. Aku sudah tidak sabar untuk bisa sampai ke gunung Manhwa. Aku ingin segera mengalahkan Ratu yang tidak punya hati itu. Aku juga sudah sangat rindu pada kedua orang tuaku.
"Ini jalur merah, kita sudah dekat dengan gunung manhwa. Kita akan segera dapatkan empat giok terakhir di sana." Ucapan Boma terdengar kalau dia sangat antusias.
"Oh ya, ada lumpur penyerap di sini, jadinhati-hati saat berjalan," lanjut Boma memperingatkan.
Jalur merah terlihat sangat panjang, mungkin di ujung jalur ini gunung manhwa berada.
Perjalan terus berlanjut menyusuri jalur merah menuju gunung manhwa. Hampir saja aku menginjak lumpur penyerap, untung tidak jadi.
Di ujung jalur merah, terpaampang jelas jalan masuk ke are gunung manhwa. Gunung itu sangat besar dan pemandangan di sekelilingnya sangat cantik.
"Apa kita perlu mendaki gunung, Boma?" tanyaku.
"Tidak, kita hanya perlu masuk ke gua yang ada di depan sana." Boma menunjukan sebuah gunung yang letaknya tidak jauh dari kaki gunung manhwa.
Keadaan gua sangat gelap dan dingin saat aku dan yang lain masuk. Steven menjetikan jari untuk membuat cahaya dan menerangi jalan.
Ternyata tidak perlu berlama-lama menyusuri gua ini, empat giok warna ada di sebuah batu besar yang kini berada di depanku.
Kuambil empat giok itu dan menyimpannya di kotak merah. Dengan terkumpulnya semua giok, aku bisa menghentikan kejahatan Ratu Samara. Dia harus bisa dikalahkan agar Lootopia kembali aman.
"Jadi, perjalan di gunungg manhwa hanya seperti ini? Tudak ada rintangan apapun lagi?" tanya Frans seraya memperhatikan sekeliling, mungkin dia merasa gunung manhwa terlalu mudah di banding saat mengabil giok warna lainnya.
"Iya, mungkin hanya ini," jawabku yang sebenarnya ragu.
Saat akan keluar tiba-tiba terjadi gempa bumi. Aku dan yang lain bergegas berlari keluar dari gua untuk menyelamatkan diri.
"Untung saja cepat," ucap Boma yang mensyukuri keadaan.
Untunglah semuanya selamat sebelum gunung itu tertutup batuan yang jatuh.
"Ayo pulang, dan kalahkan Ratu Samara." Frans terdengar antusias.
Perjalanan mencari batu giok warna telah selesai, kini tinggal mengalahkan Ratu Samara yang jahat. Aku akan melakukan apapun untuk membuatnya turun dari takhta yang tidak seharusnya dia miliki.
Saat akan melangkah pulang, tiga gagak merah datang menghampiri. Mereka terlihat menakutkan. Apa mereka bagian dari gagak merah yang mati di desa boneka hidup?
"Selamat atas keberhasilannya, Tuan Putri Youlexa. Kini tiba saatnya kau meraih tahta Lootopia kembali," ucap Gagak merah yang berdiri di tengah.
Dari kata-kata mereka, gagak-gagak merah ini pasti kelompok gagak yang menjaga empat giok warna di gunung manhwa ini.
"Naiklah ke punggung kami. Akan kami antar kalian sampai rumah," lanjut gagak merah.
Aku dan yang lain menerima tawaran gagak itu dan akhirnya terbang pulang.