Para gagak merah terbang mengantarkan aku dan yang lain pulang ke rumah Paman Rodrigo. Aku merindukan Pamanku yang satu itu. Sudah lama setelah kejadian aku terkena jarum kematian, aku belum pernah bertemu dengannya lagi.
Tak seperti harapanku, saat sampai di desa, sebuah wabah sedang terjadi. Semua orang terus muntah dan badan mereka dipenuhi bintik merah. Aku belum pernah melihat hal semacam ini. Penyakit apa yang dialami mereka?
“Eliza, kau telah kembali?” tanya Paman Rodrigo.
“Paman apa yang sedang terjadi di Lootopia sekarang?”
“Wabah melanda, entah penyakit apa ini. Namun bukan hanya penduduk desa kita melainkan seluruh rakyat Lootopia mengalaminya. Aku sudah memastikannya.”
Keadaan sangat kacau di sini, Steven dan Frans berusaha membatu beberapa warga yang terus muntah. Aku mencoba memeriksa seorang ibu yang sedang menggendong sang bayi, dia terlihat lemas dan lengannya banyak bintik merah. Bayi yang dia gendong juga mengalami keadaan yang sama.
Dari tubuh keduanya, aku mencium bau busuk yang membuatku pusing. Kira-kira bau apa ini? Aku memastikan satu persatu orang yang berada di dekatku, rupanya semua orang memiliki bau yang sama. Bagaimana bisa semua orang berbau busuk seperti bangkai.
“Paman, apa tidak ada yang aneh sebelum wabah ini terjadi?” Aku mencoba mencari penyebab wabah ini.
“Aku rasa tidak ada yang aneh, Eliza.”
Tidak mungkin jika tidak ada yang aneh, pasti ada sesuatu yang menyebabkan mereka semua terkena wabah ini. Melihat penduduk yang terlihat lemas, aku berinisiatif untuk mengambil air di sungai, kebetulan sungai yang biasa digunakan warga dekat dengan desa, jadi tidak perlu menempuh jauh untuk mengambil air. Aku ditemani Boma dan Glitser, Freylin juga ikut.
Saat sampai di sungai, aku melihat ada yang aneh dengan air sungai. Biasanya air di sungai ini bening dan tidak berbau busuk, tapi kenapa kali ini baunya menyengat sekali dan airnya juga sangat kotor bahkan cenderung berwarna hitam.
‘Tuan Putri aku rasa air ini penyebabnya, bukankah kau mengatakan kalau air ini biasa digunakan waraga untuk kehidupan sehari-hari mereka?” tanya Glitser
Ada benarnya pertanyaan Glitser, bisa jadi air sungai ini adalah penyebab wabah ini. Tapi … bagaimana air sungai yang bening dan bersih serta tidak berbau berubah menjadi air kotor seperti ini? Apa para penduduk itu terus memakai air jika tahu bahwa air ini sudah menjadi air yang kotor, aneh bukan?
“jika benar ini adalah penyebab wabah, kita harus cari tahu bagaimana air ini menjadi kotor dan berbau busuk seperti bangkai. Bagaimana kalau kita telusuri dari aliran sungai ini.” Boma memberi usulan bagus.
Aku dan yang lain menelusuri aliran sungai dan … ada sesuatu yang membuatku sedikit tidak percaya dengan apa yang kulihat, ada empat bangkai gagak merah di aliran sungai ini. Boma memeriksa bangkai itu, tapi dia tak sanggup berlama-lama didekat bangkai itu karena bau busuknya yang sangat menyengat.
“Oh bau sekali, aku tak sanggup. Bau busuk di tubuh penduduk tidak sebau ini, jika kau berlama-lama di dekatnya kau bisa mati, Putri Youlexa.” Ucapan Boma sudah memperjelas keadaan bangkai-bangkai itu, sangat buruk dan sangat bau. Aku meminta Freylin memberitahu Paman Rodrigo tentang hal ini. Paman pasti tahu penyebab kematian para gagak merah ini.
“Tunggu! Gagak-gagak merah ini bukan gagak yang mengantar kita pulang, kan?" Tanyaku pada Boma dan Glitser. Kedua temanku itu hanya menggelengkan kepala tanda bahwa mereka tidak tahu.
Cukup lama aku menunggu, tapi akhirnya Paman Rodrigo datang bersama Tuan Pecth, dan dibelakang mereka Frans dan Steven mengikuti.
“Di mana bangkai gagak-gagak merah itu, Eliza?” tanya Paman Rodrigo.
“Di sini, Paman.” Aku menunjukan bangkai gagak-gagak merah yang sudah sangat bau itu.
Paman Rodrigo memeriksa semuanya, bersama Tuan Pecth , dua pria itu memeriksa keadaan bangkai-bangkai yang sudah sangat bau itu tanpa terlihat jijik atau ingin muntah. Berbeda dengan Boma tadi yang langsung muntah padahal baru sebentar berada di dekat bangkai para gagak merah
“Ini racun buatan,” ucap Tuan Pecth memberi kesimpulan.
“Ya, ini racun buatan, bukan racun alami yang ada di bunga Loot atau tumbuhan lain. “ Paman Rodrigo memperjelas kesimpulan Tuan Pecth.
Siapa kiranya yang meracuni para gagak ini? Apa mungkin Ratu Samara yang meracuni mereka semua? Dengan matinya para gagak racun yang ada di tubuh gagak-gagak itu mungkin telah bercampur dengan air sungai dan dikonsumsi oleh warga desa ini.
“Paman, mereka bukan gagak yang mengantar kami pulang tadi, kan?’ Tanyaku memastikan.
“Bukan, para gagak merah penjaga giok di gunung manhwa tidak bisa mati, mereka hidup abadi. Mereka yang mati ini adalah para b***k Ratu Samara.”
Jadi, apa yang aku pikirkan tadi mungkin benar, Ratu Samaralah yang menyebabkan gagak-gagak ini mati seperti ini. kasihan sekali mereka, diperbudak dan mati dengan cara yang menyedihkan seperti ini. Jika mereka tak ikut kemauan Ratu Samara, pati mereka hidup dengan tenang di gunung manhwa.
“Aku akan bantu menyembuhkan mereka dengan bulu gagak merah penjaga giok warna.” Steven sangat optimis dengan ucapannya.
“Tapi, bagaiamana bisa kita mendapat bulu gagak merah? Mereka kan sudah kembali ke gunung manhwa.” Frans melirik Boma seolah dia menyuruh kurcaci itu secara tersirat.
“Baiklah.” Boma langsung pergi tanpa perintah, dan melihat hal itu Frans tertawa kecil. Mereka sudah seperti punya ikatan padahal selalu bertengkar dan berdebat sesuatu yang tidak penting.
Sekarang, aku dan yang lain kembali ke desa untuk melihat keadaan warga desa. Aku berharap para penyembuh di desa lain bias membantu meringankan penderitaan warga karena wabah ini. Aku dan yang lain di sini akan berusaha membuat penawar untuk racun yang membuat wabah ini menyebar.
Keadaan penduduk semakin memburuk, mereka terlihat sangat lemas dan sepertinya beberapa orang sudah pingsan. Frans membantu beberapa orang begitu juga Steven, sedangkan aku mencoba mencari serbuk penyembuh luka, siapa tahu ada yang membutuhkannya jadi tak perlu mencarinya lagi.
Hari sudah semakin sore. Namun Boma belum juga kembali. Apa dia belum berhasil mengambil bulu gagak merah yang dibutuhkan?
Selagi membantu warga dengan meminumkan air bersih yang Tuan Pecth dan Paman Rodrigo bawa, aku berusaha untuk tetap tenang menunggu Boma kembali dengan bulu gagak yang dibutuhkan untuk membuat penawar.
“Apa Boma belum kembali?” tanya Steven yang terlihat lelah.
“Tunggulah, mungkin sebentar lagi dia kembali,” ucapku berusaha menenangkan.
Sebenarnya aku juga cemas takut Boma tidak kembali dan takut mungkin terjadi Sesuatu pada kurcaci itu.