Perpohonan yang ditanam rapi bergerak cepat di luar jendela.
Mobil Bentley hitam melaju pelan di jalan berlubang, badan mobil sesekali berguncang keras, cipratan lumpur berserakan terbang ke udara.
Mata Serena Vale tertutup oleh sehelai kain hitam tipis, bahan lembut kain menyentuh bulu matanya. Senyum kecil bermain di sudut bibirnya, jari tangannya tanpa sadar memegang gaunnya dengan keras.
Suara hujan yang rintik-rintik masuk ke telinganya. Serena tidak menahan bertanya, “Ethan, kita mau kemana nih? Kok belum sampai?”
Suasana mobil hening seketika, pria di sebelahnya menjawab dengan simple, “Belum sampai, sayang.”
Tapi Serana merasa ada yang aneh dengan dia hari ini.
Tiga tahun, tepat tiga tahun, Serena menunggu momen ini. Sejah tahun kedua mereka pacaran, ia sudah menempatkan Ethan untuk menduduki posisi paling penting di masa depannya.
Beberapa hari ini, Serena mulai merasakan sesuatu. Ethan sering menghindar tatapannya, ponselnya entah kenapa sering berbunyi di tengah malam. Saat terbangun, Serena sering melihat cahaya putih di luar balkon.
Mobil segera berhenti.
Serena mengulurkan tangannya untuk menurunkan kain penutup matanya.
Namun sebuah tangan besar langsung menutup pandangannya, dan mencengkeram pergelangan tangannya.
“Jangan buka dulu!” Suara Ethan tiba-tiba berat.
“Ah?” Serena menoleh bingung ke arahnya.
Ethan sepertinya sudah menyadari bahwa nada suaranya terlalu keras, dia cepat berusaha menyusun kembali nadanya, “Serena, kamu tunggu bentar lagi ya, boleh?”
Sudut mata Serena melengkung, ia melihat telapak tangan itu, akhirnya mengangguk dengan pelan.
Serena menempelkan kepalanya ke bahu Ethan, suaranya lembut, “Kamu siapin kejutan besar untukku ya?”
Badan Ethan mendadak kaku, menelan ludahnya beberapa kali, lalu hanya menjawabnya dengan singkat, “Mm.”
Suasana kembali hening, hanya suara hujan yang mengetuk jendela.
Serena menengadah ke sandaran kusir, napasnya pelan dan teratur.
Ia tak tahu, Ethan tidak pernah sekalipun menatapnya.
Mobil berhenti di sebuah tempat, Ethan membuka sabuk pengaman, matanya menatap ke arah Serena.
Serena menegakkan bibir, menggeggam sabuknya dengan erat, “Sudah sampai?”
“Mm.” Ethan membuka sabuk Serena, lalu turun dari mobil.
“Ck—”
Angin dingin langsung menerpa ke wajah Serena. Ia menoleh ke pintu yang terbuka lebat.
Ethan bersuara dingin, “Turun.”
Serena mengulurkan tangan berharap merasakan telapak tangan hangat di luar, tangannya menggantung di udara, sambutan yang diharapnya tiada.
“Ethan?” Serena mengerutkan keningnya.
Ethan tetap tidak bicara, tapi tangannya direntangkan.
Tak ragu lagi, Serena melangkah keluar, berdiri di samping Ethan.
Ia menggenggam tangan Serena, berjalan maju tanpa berkata-kata.
Gagak beterbangan di atas langit, suara ranting pohon bergesek, semua suara menari-nari di telinga Serena. Ia menggenggam erat pegangan satu-satunya.
Ethan membuka pintu yang rapat tertutup.
Wajah Serena langsung merekah, suasana mendadak terasa hangat, suara percakapan kecil menandakan ada orang yang sudah di dalam balik pintu.
Dengan perilaku misterius Ethan beberapa hari belakangan ini, keyakinan Serena semakin kuat.
“Ck—”
Mereka masuk ke sebuah ruangan. Lampu dinyalakan, cahaya menerpa seluruh ruang.
Mata di balik kain memang tidak bisa melihat apa-apa, tapi tetap saja bisa merasakan begitu banyak pasang mata yang menatapnya dengan langsung.
Serena menggenggam lengan Ethan, suaranya direndahkan, “Ethan, bolehkan aku buka kainnya ini sekarang?”
Ethan ragu sesaat, dia menoleh ke arah pria yang berada di tengah ruangan.
Pria itu memakai topeng setengah wajah, tangannya sedang memangang sebuah gelas, pandangannya menancap ke wanita di samping Ethan.
Ethan menoleh ke Serena, perlahan membuka kain yang menutup matanya.
Serena menutup mata, menoleh ke lantai melihat beberapa pasang sepatu kulit yang sejajar berhenti di samping dinding. Lalu ia mendongak—deretan penjaga berdiri tersusun rapi.
Serena buru-buru mencengkram lengan Ethan, berbisik di telingannya, “Ethan, ini apa?”