“Duk—”
Gelas dihantamkan ke atas meja. Pria itu melotot ke arah Serena dan Ethan, suaranya dingin, “Kalian masih mau bacot sampai kapan?”
Ethan berburu-buru melepaskan tangan Serena, lalu mendorongnya ke depan pria itu, menunjukkan senyum paksa, “Tuan Drake, inilah Serena Vale.”
Pandangan Drake akhirnya tertahan pada mata Serena, pandangan tajamnya jatuh tepat di muka Serena.
Serena mundur setengah langkah ke belakang, menyingkap dirinya ke belakang Ethan, menggenggam kemeja Ethan sampai tangannya perlahan menjadi putih.
Suaranya sedikit bergetar, “Ethan, maksud kamu apa? Siapa dia?”
Drake meoleh ke asistennya yang berdiri di sampingnya, asistennya itu meletakkan sebuah kotak di atas meja. Suaranya tenang, “Ini bagian transaksi yang bos kami sudah janjikan kepadamu, sebidang surat tanah yang belum dikembangkan di pusat kota.”
Ethan melepaskan tangan Serena lalu berlari di ke meja, senyum di wajahnya melebar sampai tak karuan melihat kontrak di tangannya. Ia menunjuk Serena, berterial, “Tuan Drake, sesuai transaksi yang dijanjikan kemarin hari, wanita ini sudah kuberikan kepadamu.”
Suara Ethan makin menurun, nadanya penuh makna, “Tuan Drake, kamu tenang saja, wanita ini sudah ikuti aku dalam 3 tahun. Tapi selama 3 tahun ini, aku tidak pernah menyentuhnya. Jadi...”
Ethan menyisakan senyum yang aneh, melangkah kembali ke sisi Serena, “Silakan dinikmati dengan bersih.”
Serena tidak percata, mendengar pengkhianatan dari pria yang dicintainya, kata demi kata menusuk pas-pasan ke jantungnya. Ia membalas dengan tamparan keras, matanya merah, “Ethan! Kamu dasar b******n! Teganya kamu untuk mengkhianatiku!”
Ethan menutupi wajah yang di tampar Serena, matanya menatap Serena dengan penuh kebencian, “Serena Vale! Kamu!”
Tangan Ethan terangkat ke udara, seakan ingin menghantam wajah Serena.
“Duar—” gelas jatuh di samping tangan Ethan.
Ethan kaget, mundur beberapa langkah ke belakang, dengan panik menatap mata Drake, “Tuan Drake, maaf...aku tidak mengajarinya dengan baik.”
“Kamu sudah boleh pergi.”
Drake mengetukkan jarinya di atas meha, mata dingin menatap tangan Ethan yang menggantung di udara.
Ethan mengumpalkan tangannya, mata yang semulanya merah menjati lembut sedikit. Ia mendekat, suara rendah di samping telingan Serena, “Serena, jangan nyalahkan aku...aku juga tidak ada cara lain lagi.”
Serena melihat Ethan yang melangkah pergi dari ruangan, tanpa ragu dia menjauhi tempat masalah ini, tanpa melihatnya dalam satu pandangan terakhir lagi.
Di sekelilingnya, barisan penjaga dengan jas hitam menutupi jalan keluarnya. Serena menoleh ke pria di tengah ruangan.
Suaranya rendah, tatapan tajam menancap pada Drake, “Yang melakukan transaksi denganmu itu Ethan, bukan aku. Kamu seharusnya mencari Ethan dan menangkapnya, bukan aku! Jadi, lepasin aku, aku mau pergi dari ruangan ini!”
Baru saja siap berbicara, Serena melangkah hendak pergi keluar.
Penjaga cepat bergerak memblokir jalannya. Mereka menghalangi pintu bersamaan, memandang gadis kecil di depan mereka dengan tatapan dingin.
Serena langsung menubruk ke meja, memukul mejanya untuk menunjukkan kemarahannya, “Aku sudah bilang, dia tidak ada hubungan denganku!”
Drake mengangkat alis tipis, mengeluarkan sebuah kartu dari laci, lalu memainkan kartu itu di telapak tangannya.
Serena melihat kartu identitasnya, kelopak matanya pelahan melebar, tangannya ingin meraih.
Drake mundur dengan kursi ke belakang, memandang wanita yang menunduk di meja, suaranya lembut dan bermain, “Kau adalah barang yang saya tukar kembali. Kau tak punya hak menolakku.”
Drake berdiri pelan, mencubit dagu Serena dengan halus, senyum tipis di bibirnya, “Angkat pulang.”
Penjaga mendekat cepat, mengangkat Serena dengan kasar. Drake menoleh sejenak, raut kecewa lalu berkata pada penjaga, “Lepaskan dia, aku saja.”
“Brak—”
Serena jatuh cepat ke lantai. Ia mengusap pakaiannya, menatapa Drake dengan sinis.
Drake tersenyum melihat gayanya yang lucu.
Tanpa aba-aba, Drake dengan satu lengannya memeluk pinggang Serena lalu mengangkatkan ke pundak.
Serena menendang histeris, berusaha membebaskan dirinya.
Drake memandang sudut kosong di dinding, aliskan terangkat. Ia melangkah mundur cepat ke dinding. Serena menjerit ketakutan dengan keras, “Woi!Ampun,ampun!”
Saat dahinya hampir menyentuh dinding, Drake berhenti.
Serena menahan napasnya, dinding nyaris hanya berjarak beberpa centimeter dari wajahnya, napasnya berat memburu.
“Sudah cukup?” Suara magnetis masuk pelan ke telinga Serena.
Serena dengan cepat mengangguk kepalanya, “Iya-iya.”