Serena berdiam manis di pundak Drake sambil menatap deretan mobil mewah yang terparkir di depan matanya.
Di isi hatinya, ia diam-diam menggerutu, “Dasar orang kaya...nggak ada yang baik.”
“Kamu lagi ngomelin aku?”
Suara Drake yang rendah dan menyeramkan langsung membuat Serena balik ke suasana panik. Ia buru-buru menggeleng cepat sambil memasang senyum manis.
“Mana mungkin? Kamu kan ganteng, sudah itu kaya kali. Nggak mungkin ada yang berani ngomelin kamu di belakang.”
Senyum di wajah Serena sama sekali tidak menunjukkan cela bencinya. Matanya melengkung seperti bulan sabit saat menatap Drake.
“Tuan, biarkan wanita ini naik mobil kita saja.”
Di samping mobil McLaren hitam, berdiri seorang pira bertubuh besar,
Drake hanya meliriknya sekilas tanpa menjawab permintaannya. Ia langsung membawa Serena menuju mobil Rolls-Royce Phantom hitam yang berada di depan mobil tersebut.
Drake buka pintu belakang mobil lalu menurunkan Serena dengan hati-hati ke kursi belakang. Setelah itu, ia segera masuk dan langsung menahan pintu di sisi lain dengan kuat.
Tangan Serena sudah menyentuh gangang pintu.
Tinggal sedikit lagi...dia bisa kabur.
Serena menoleh dengan canggung ke arah Drake.
“Aku...”
“Axel, kunci pintunya.”
Serena menoleh ke kursi pengemudi. Pria yang dipanggil Axel itu langsung mengunci pintu mobil dengan rapat.
Drake duduk santai sambil memiringkan kepala menatap si “anak kucing” yang mulai menunjukkan cakarnya.
Pipi Serena menggembung kesal. Kedua tangannya bersedekap di d**a. Saat menyadari tatapan Drake, ia langsung mendengus.
“Apa? Belum pernah lihat cewek cantik?”
“Baru kali ini saja.”
Axel menggenggam erat setir mobil sambil diam-diam melirik ke arah kaca spion.
Satu di kiri, satu di kanan.
Mereka berdua seolah kembali ke beberapa jam yang lalu, saat baru saja bertatapan mata.
Biasanya Serena gampang mabuk dalam perjalanan, tapi hari ini, pikirannya justru sangat sadar.
Ia menatap pemandangan di sepanjang jalan.
Mulai dari hutan tandus, jalanan kota, hingga daerah pinggiran yang semakin sepi.
Saar mobil keluar dari jalan tol, rasa panik dalam diri Serena perlahan membesar.
Tadinya ia berpikir, selama masih di kota, Drake tak akan berani macam-macam. Tapi begitu mereka meninggalkan keramaian kota...kesempatannya untuk kabur akan semakin kecil.
“Ini mau kemana?” Serena berusaha keras untuk menahan emosinya.
Di sampingnya, Drake sudah memejamkan matanya dengan pelan, sama sekali tidak ada niat untuk menjawab.
Serena bangkit dari kursi, mendekati kursi depan.
“Tuan Axel...”
Axel dengan cepat mengangkat tangan, menghalangi wajah Serena yang makin mendekat, suaranya dingin tanpa emosi.
“Nona Serena, kalau ada yang ingin ditanyakan, bicara langsung saja.”
Serena mendecakkan lidah kesal, “Ini mau kemana?”
“Blackwood Manor.”
Suara itu datang dari belakang badannya.
Serena memandang balek ke arah pria yang tadi memejamkan mata.
“Bukannya kamu udah tidur?”
Drake menggeleng pelan mencari posisi kepala yang nyaman, “Aku dibangunin seseorang.”
“Aku....”
Serena langsung kehabisan kata, ia kembali duduk di tempat semula, lalu memandangi pepohonan yang kembali lebat di luar jendela.
Perlahan, matanya mulai terpenjam.
Blackwood Manor.
“Tok tok—”
Kepala Serena sempat terantuk jendela mobil. Dengan mata merah dan kering karena lelah, ia menatap pria yang berdiri di luar mobil.
Di belakang pria itu berdiri sebuah manor megah dan besar.
Area sekitar manor sangat sepi. Bahkan dari gerbang besi hitam menuju bangunan utama saja juga terasa begitu jauh.
Serena mengangkat kepala perlahan menatap pria di depannya. Jemarinya mencengkeram erat pintu mobil.
“Klik—”
Lengan panjang Drake bertumpu di pintu mobil. Ia menunduk menatap Serena yang justru makin menyusut ke dalam mobil.
“Turun.”
Serena tak menggubrisnya. Tubuhnya malah mundur beberapa langkah hingga punggungnya menempel ke pintu sebelah.
“Tok tok—”
Tatapan Axel sedingin es saat melihat Serena dari luar. Satu tangannya sudah memegang gagang pintu.
“Nona Serena, Anda mau turun sendiri atau...”
Sebelum Drake selesai bicara, Serena langsung buru-buru berlari ke arahnya.
Ia ikut di belakang Drake dengan diam.
Interior manor tersebut sangat mirip dengan aura Drake sendiri.
Dingin, tua, dan penuh tekanan...
Namun anehnya, tetao memberikan rasa hangat yang sulit dijelaskan.
“Tuan muda.”
Seorang wanita tua berwajah ramah menyapa dengan suara lembut.
Drake mengangguk kecil, lalu menoleh pada Serena yang tampak gelisah dan canggung.
“Malam ini dia tinggal di kamar sebelah kamarku.”