Beberapa pelayan yang berdiri di belakang wanita tua itu saling berbisik pelan, diam-diam menebak-nebak siapa sebenarnya wanita yang di hadapan mereka ini.
Serena melepaskan sepatunya lalu doganti dengan sandal rumah yang sudah disiapkan terlebih dahulu.
Wanita tua di depannya berbicara lembut, “Nona, saya pengurus manor ini. Anda bisa memanggil saya Claire.”
Serena mengangguk kecil lalu memanggil pelan, “Bibi Claire.”
Senyum hangat langsung muncul di wajah Claire.
“Nona, mari ikut saya.”
Serena melangkah beberapa langkah ke depan, tetapi matanya diam-diam terus mengikuti punggung Drake.
Dia...membiarkannya berjalan bebas di dalam manor sebesar ini?
Pria itu memang sulit ditebak.
Melihat Serena masih berdiri linglung di tempat, Claire tidak banyak bertanya. Ia hanya memanggilnya lembut beberapa kali.
“Nona?”
Serena langsung tersadar, “Ah...iya, aku datang.”
Claire menunduk sambil tersenyum, “Nona tidak perlu khawatir. Tuan hanya pergi membahas urusan pekerjaan. Nanti bentar lagi bakalan balek kok.”
Serena buru-buru menggeleng kepala sambil melambaikan kedua tangannya, “Bu—bukan begitu, aku nggak...”
“Saya mengerti kok.”
Claire tersenyum penuh arti lalu kembali mengantar Serena sampai ke depan kamar.
“Kamarnya yang ini.”
Serena menatap pintu kamar di depannya, lalu melirik kamar di sebelahnya. Setelah ragu beberapa detik, ia akhirnya bertanya pelan.
“Bibi Claire, kamar sebelah itu...”
Mata Claire menyipit samar, “Itu kamar Tuan Drake.”
“Hah?”
Serena spontan mundur beberapa langkah. Tubuhnya tak sengaja membentur pagar lorong hingga tubuhnya oleng ke belakang.
Suara langkah kaki rendah terdengar di koridor.
Sebuah tangan besar dengan cepat meraih pinggang Serena lalu menariknya masuk ke dalam pelukan hangat.
Serena refleks mencengkeram ujung bahu pria itu. Tanpa sengaja, kakinya juga menginjak punggunng kaki Drake.
Tubuhnya nyaris sepenuhnya ditutupi bayangan pria itu.
Saat dahinya menempel di d**a Drake, ia bahkan bisa mendengar detak jantung pria itu yang tenang dan stabil.
Serena pelan-pelan membuka mata.
Saat itu barulah dia sadar tangannya masih mencengkeram pakaian Drake erat-erat.
Sementara pria itu hanya menatapnya diam.
Serena langsung mundur beberapa langkah dengan wajah malu. Tangannya terus merapikan rambut dengan gugup.
Namun tepat saat tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan lagi—
Drake akhirnya membuka suara, “Mau coba sensasi jatuh bebas?”
Suaranya sangat rendah.
Tatapannya terkunci penuh tekanan pada Serena, sementera tangannya masih menggenggam erat pergelengan tangan gadis itu.
Baru saat itu Serena sadar dirinya tinggal beberapa langkah dari pagar lorong.
Ia cepat maju menjauh sambil berkata pelan, “Maaf.”
Drake tidak menanggapinya lagi. Ia langsung berbalik dan masuk ke kamarnya sendiri.
Serena diam menatap punggung Drake sampai pria itu benar-benar menghilang dari pandangannya.
Barulah ia menoleh ke Claire yang masih berdiri dengan wajah ramah di sampingnya.
“Nona, kamu boleh istrirahat dulu di kamar.”
Claire membuka pintu kamar lebar-lebar.
Interior kamar itu dipenuhi warna hitam dan putih yang elegan.
Serena melihat sekeliling, memperhatikan seluruh fasilitas di dalam kamar.
Kamar itu tidak terlalu besar, tapi jauh lebih luas dibanding apartemennya sendiri.
Melihat Claire pergi meninggalkan kamar, Serena perlahan duduk di tepi ranjang. Jemarinya mengusap lembut seprai kain sutra, sementara tatapannya mulai berubah dalam.
Ia diam memandangi semua perubahan yang terjadi.
Meski baru saja hampir dijual dalam sebuah rencana perdagangan manusia...
Anehnya, ia sama sekali tidak merasa panik.
Setelah siap memikir, Serena langsung buru-buru meraba sakunya.
Ponselnya yang sebelumnya ada di kantong sudah hilang entah ke mana.
Serena terdiam beberapa saat, lalu perlahan mengangkat kepala menatap dinding di depannya.
Semakin dipikirkannya, semakin sesak rasanya di d**a.
Akhirnya ia langsung bangkit dan berjalan menuju pintu kamar.
Serena berdiri di depan kamar Drake lalu menarik napas dalam beberapa kali.
“Tok tok—”
Pintu segera terbuka.
Serena mengangkat kepala menatap mata pria di depannya.
Sepasang mata phoenix milik Drake terasa seolah mampu menembus isi hatinya.
Suara Serena tanpa sadar mulai bergetar, “Ka-kamu ada nampak hpku?”
Pria itu mengangkat alis sambil menunduk menatapnya. Tanpa mengatakan apa pun, ia langsung berbalik masuk ke dalam kamar.
Kedua tangan Serena menggenggam erat sambil diam-diam mengintip ke dalam.
Drake tidak membuatnya menunggu terlalu lama.
Tak lama kemudian, pria itu kembali sambil membawa sebuah kotak ponsel baru.
Tatapannya menyapu Serena dari atas ke bawah sebelum menyerahkan benda itu ke tangannya.
“Jam enam malam, datang ke ruang malam.”
Serena menunduk menatap kotak di tangannya lalu mengangguk pelan, “Baik.”