Obsidian’s Group.
Lantai paling atas.
Di luar jendela, lautan cahaya kota membentang tanpa ujung.
Lampu-lampu rumah dan jalanan menyala di tengah malam, menyerupai ribuan bintang yang tersebar di bumi.
Drake berdiri di depan jendela menatapi pemandangan itu dalam diam.
Cahaya bulan jatuh di sisi wajahnya.
Garis rahangnya terlihat tajam dan dingin hingga nyaris tak menyisakan kehangatan.
“Tuan.”
Axel masuk sambil membawa setumpuk dokumen, lalu menatanya satu per satu di atas meja.
Drake sedikir memiringkan kepala dan menatapnya.
Axel berdiri tegak.
Saat menerima tatapan pria itu, ia menelan ludah sebelum akhirnya berkata, “Nona Serena belum pernah keluar dari kamarnya, sampai sekarang dia belum makan.”
Tatapan Drake mendingin, ia berjalan menuju kursi kerjanya lalu menopang kepala dengan satu tangan.
Suaranya terdengar sedikit serak, “Suruh Claire masuk dan lihat dia sedang ngapain.”
“Baik, Tuan.”
Axel membungkuk hormat sebelum keluar dari kantor CEO.
Drake memandangi pintu yang baru saja tertutup.
Tubuhnya bersandar di sandaran kursi.
Ujung jarinya mengetuk meja dengan pelan.
Dalam sekejap, ruangan yang luas itu hanya tersisa suara detak jam.
Ia mengambil sebuah dokumen di atas meja dan mulai membacanya.
Namun setelah sekian lama...
Tak satu kata pun masuk ke dalam pikirannya.
Yang terus berulang di benaknya hanyalah wajah Serena dengan mata yang memerah.
Perlahan Drake mengangkat kepala, tatapannya jatuh pada sebuah botol kaca berisi bintang-bintang warna-warni yang tersimpan di bawah monitor komputer.
Jari-jarinya yang panjang menyentuh permukaan kaca itu perlahan.
“Brak—”
Pintu terbuka mendadak.
Axel berlari masuk sambil terengah-engah.
Sauranya bahkan terdengar kehilangan kendali.
“Tuan—”
Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, Drake sudah lebih dulu bertanya.
“Ada apa dengannya?”
Axel langsung menjawab tanpa basa basi, “Nona Serena jatuh demam tinggi dan pingsan di kamar.”
Drake meraih jas yang tergantung di belakang kursi.
Tanpa sepatah kata lagi, ia langsung berjalan keluar.
Garasi.
Drake langsung menuju kursi pengemudi.
Dasi di lehernya sudah miring ke samping.
Tatanan rambut yang biasanya dibagi sempurna kini berantakan.
Ia duduk di balik kemudi dengan gerakan cepat, meninggalkan Axel yang masih terpaku beberapa detik sebelum buru-buru masuk ke kursi penumpang.
Drake tidak menjelaskan apa pun.
Satu tangannya menggenggam setir dengan erat, kakinya langsung menginjak total pedal gas.
Aston Martin hijau gelap melesat membelah malam.
Axel menatap jarum kecepatan yang terus naik.
Tangannya tanpa sadar mencengkeram sabuk pengaman erat-erat.
“Suruh Julian kembali ke manor sekarang juga.”
“Baik.”
Axel mengangguk lalu mengangkat ponselnya ke telinga.
“Halo?”
Suara malas penuh kantuk terdengar di seberang.
“Bang, bangun. Cepat datang ke manor.”
Axel diam-diam melirik Drake yang masih terus menambah kecepatan mobil.
“Ada apa?”
Suara di Seberang mulai terdengar lebih sadar.
Julian turun dari tempat tidur sambil meraih jaket yang ada di sampingnya.
“Pokoknya bawa semua peralatanmu dan datang ke manor. Nanti kamu bakalan tahu sendiri.”
Axel berbicara cepat tanpa memberi kesempatan lawan bicara menyela.
“Cepat datang.”
“Tuut…tuut…tuut…”
Julian menatap layer ponselnya dengan bingung selama beberapa detik.
Meski tidak mengerti apa yang terjadi, tapi dia tetap mengambil koper medisnya lalu segera meninggalkan apartemen.
Blackwood Manor.
Mobil Drake berhenti tepat di depan manor.
Begitu mesin mati, ia langsung keluar dan berjalan cepat masuk ke dalam.
Di dalam kamar.
Claire sedang duduk di samping ranjang sambil menempelkan handuk basah ke dahi Serena.
Pipi Serena memerah karena panas.
Alisnya berkerut erat, bola matanya bergerak gelisah di balik kelopak mata yang tertutup.
Kedua tangannya menggenggam selimut dengan kuat.
Drake membungkuk di samping ranjang, telapak tangannya menyentuh pipi Serena dengan lembut.
Alisnya langsung mengernyit, “Apa yang terjadi?”
Para pelayan yang berdiri di dekat dinding langsung mundur beberapa langkah ke belakang.
Tatapan mereka serempak beralih ke Claire.
“Kalian keluar dulu.”
Claire berbicara pelan.
Setelah para pelayan pergi, ia melanjutkan, “Saat kami masuk ke kamar, Nona Serena sudah meringkuk di samping ranjang. Ponselnya juga berbaring di samping.”
Tatapan Drake tidak pernah meninggalkan wajah Serena.
Namun amarah di suaranya semakin jelas terdengar, “Julian sudah sampai mana?”
Suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari luar kamar.
Axel muncul di depan pintu sambil terengah-engah dan berpengangan pada kusen.
“Dia sudah hampir sampai.”
Tatapan Drake tetap dingin.
Tangannya mengambil handuk basah yang di dahi Serena, “Basahin lagi.”
Claire segera berjalan mendekat, mengambil handuk itu, lalu bergegas menuju kamar mandi.
Drake kembali menatap Serena, jari-jarinya mengusap lembut punggung tangan gadis itu, kelopak matanya sedikit menunduk.
Suaranya begitu pelan hingga hampir tidak ada suara, “Serena…kamu harus baik-baik saja.”