“Tok tok—”
Seorang pria muda berjas dokter putih masuk ke dalam kamar. Lingkaran hitam di bawah matanya terlihat sangat jelas, seolah sudah berhari-hari tidak beristrirahat dengan nyenyak.
Julian melemparkan koper medisnya ke arah Axel dengan santai.
“Tengah malam begini juga...”
Kalimatnya belum selesai...
Ketika pandangannya bertemu dengan mata Drake yang sedang menatapnya dingin, Julian langsung menepuk pipinya sendiri beberapa kali untuk memaksa dirinya sadar total.
Beberapa detik kemudian, ia jelas melihat wanita yang berada di depan Drake.
Pipi Serena merah membara karena demam.
Julian langsung melupakan segala formalitas dan bergegas menghampiri ranjang.
Ia mengangkat handuk di dahi Serena lalu berkata cepat namun tetap tenang, “Axel, kotak medis.”
Axel segera meletakkan koper di sampingnya.
“Nih.”
Julian membuka koper itu dengan cekatan. Beberapa ampul obat segera disusun rapi di tepi ranjang.
“Termometer.”
Axel langsung mengambil termometer tembak elektronik dari sisi koper dan menyerahkannya.
“Bip—”
Julian melihat angka yang muncul di layar.
Alisnya langsung berkerut, “39,9 derajat.”
Udara di dalam kamar seketika terasa lebih berat.
Claire yang berdiri di samping sambil membawa segelas air hangat juga ikut mengubah ekspresinya.
Julian membungkuk lalu mengangkat kelopak mata Serena untuk memeriksanya.
Keseriusan muncul di wajahnya, “Kesadarannya mulai kabur.”
Gadis di atas ranajng itu bernapas cepat, keringat dingin terus muncul di dahinya, tubuhnya meringkuk rapat, bibirnya pucat.
Seolah sedang terjebak dalam mimpi buruk yang tidak bisa ia lepaskan.
Drake berdiri di samping ranjang.
Tatapannya tidak pernah meninggalkan wajah Serena, “Apa penyebabnya?”
Tangan Julian tetap bergerak tanpa berhenti.
“Tekanan emosional yang terlalu besar. Ditambah dia tidak makan, masuk angin, dan kondisi mentalnya terus tegang.”
Sambil berbicara, ia memasukkan obat menurunkan panas ke dalam suntikan.
“Sekarang dia mengalami reaksi demam akut.”
Axel berdiri di belakang sambil mendengarkan, ia bahkan nyaris tidak berani bernapas.
Julian menoleh, “Handuk.”
Claire duluan menyerahkan handuk yang baru dibasahinya.
Julian kembali meletakkannya di dahi Serena, lalu dengan cekatan membuka manser di pergelangan tangannya.
Pergelangan tangan gadis itu sangat kurus, seolah bisa patah hanya dengan sedikit tekanan.
Tatapan Drake langsung menggelap.
Julian memasang torniket lalu mencari pembuluh darah dengan terampil, ujung jarim perlahan menembus kulit putih Serena.
“Hng…”
Serena mengerutkan alis karena terasa sakit.
Secara refleks ia mencoba menarik tangannya kembali.
Namun sebelum itu, Drake lebih dulu menggenggam tepalak tangan Serena.
“Jangan bergerak.” Suara Drake rendah.
Tetapi kekuatan di tangannya justru sangat lembut.
Napasan Serena mulai bergetar, sudut matanya memerah, bibirnya terus menggumam pelan, “Ethan…jangan tinggalkan aku…”
Ruangan mendadak sunyi.
Axel menoleh kearah Drake.
Dalam sekejap, ekspresi pria itu berubah drastis.
Namun tangannya yang menggenggam Serena tidak pernah dilepaskan.
Seolah tenggelam dalam mimpi buruk, suara Serena semakin lemah, “Jangan tinggalkan aku…”
Jakun Drake bergerak perlahan. Ia menunduk menatap gadis yang terbaring di atas ranjang.
Emosi di dalam matanya begitu gelap hingga sulit dibaca.
Julian diam-diam mendorong obat penurun panas masuk ke selang infus, “Kondisi emosinya sedang sangat tidak stabil. Sebaiknya ada yang menjaganya mala mini.”
Ia melirik Drake yang berdiri di samping ranjang.
Namun pria itu tidak mengatakan apa pun.
Saat Julian hendak berbicara lagi—
Drake mengulurkan tangan, dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia menyingkirkan helaian rambut Serena yang basah oleh keringat dari dahinya.
Pipi gadis itu masih merah karena panas.
Telapak tangannya menempek di dahi Serena yang membara.
Alisnya semakin lama semakin berkerut.
Di luar jendela, suara hujan terus menghantam kaca.
Sementara di dalam kamar Serena…
Yang tersisa hanyalah suara tetesan infus.
“Dii…”
“Dii…”
Julian mulai membereskan peralatan medisnya.
Suaranya diturunkan.
“Suntikan penurun panas sudah diberikan. Sekaraang tinggal melihat apakah demamnya bisa turun atau tidak.”
“Kalau suhu tubuhnya masih tidak turun, dia harus dibawa ke rumah sakit.”
Drake hanya menjawab singkat, “Mm.”
Julian menatap pria itu beberapa saat. Setelah ragu-ragu beberapa detik, ia akhirnya tetap mengatakan apa yang ada di pikirannya.
“Yang paling berbahaya sekarang Adalah kalua emosinya kembali terguncang.”
“Sebisa mungkin jangan biarkan dia mengingat kejadian hari ini lagi.”
Tatapan Drake jatuh pada wajah Serena yang pucat.
Lama sekali.
Barulah pria itu membuka suara dengan sedikit serak, “Baik, kalian keluar dulu.”
Julian membereskan obat-obatan yang ada di samping ranjang lalu membawa koper medisnya keluar dari kamar.
Begitu pintu tertutup—
Julian bediri di Lorong sambil menatap pintu kamar yang tertutup rapat.
Ia tak bisa menahan rasa penasarannya.
“Wanita di dalam itu…”
Axel yang berjalan santai menuju tanggang langsung menjawab tanpa menoleh.
“Calon kakak iparmu.”
Kedua tangannya berumpu di belakang kepala.
Nada bicaranya terdengar santai seolah sedang membicarakan cuaca.
Julian membeku di tempat, ia menatap pintu kamar.
Lalu menatap Axel yang sudah berjalan menjauh.
Butuh beberapa saat sebelum otaknya akhirnya memproses informasi itu.
“Julian.”
Claire menepuk bahunya pelan dari samping.
“Mau makan sesuatu?”
Baru saat itu Julian sadar.
Sudah beberapa hari dia terlalu sibuk menilite obat baru hingga bahkan lupa makan sesuai waktu.
Setelah berpikir sejenak, ia mengangguk, “Boleh, sudah lama aku nggak mencicipi masakan Bibi Claire.”
Senyum professional khasnya langsung muncul.
“Aku mau lihat apakah kemampuan memasak Bibi Claire sudah meningkat atau belum.”
Claire tertawa pelan, “Baiklah.”
“Kamu tunggu saja di ruang tamu. Sebentar lagi makanannya siap.”