Lantai satu.
Axel bersandar santai di sofa sambil terus menggulir layar ponselnya. Kedua kakinya bergoyang tanpa henti.
Julian yang duduk di sampingnya melirik sekilas ke arah kaki adiknya yang terus bergerak ritmis.
Plak!
Ia menepuk lulut Axel halus.
“Jangan goyang kaki!”
Axel langsung mengangkat kepala dan menatap abangnya dengan kesal.
“Kamu ini...rusuh banger.”
Dengan malas ia duduk lebih tegak lalu kembali fokus pada layar ponselnya.
Julian hanya meliriknya sekilas sebelum mengeluarkan sebuah buku kedokteran dari koper medisnya.
“Dasar kutu buku.”
Axel mendengus pelan.
Angin mlaam dari luar jendela berembus lembut menyapu wajah mereka. Beberapa helai rambut ikut bergoyang tertiup angin.
Julian membetulkan kacamata berbingkai emasnya lalu kembali membca buku di tangannya.
“Axel, Julian, makan malam udah siap.”
Suara Claire terdengar dari arah dapur.
Ia keluar sambil membawa semangkuk besar mi kuah yang masih mengepul panas.
Kuah kaldu tulang ikan yang kental tampak putih bersih dan menggoda.
Sayuran segar, bakso ikan, serta mi yang kenyal berpadu sempurna dengan taburan daun bawang hijau di atasnya.
Aromanya langsung memenuhi seluruh ruangan.
Axel mengendus udara beberapa kali.
Mata pria itu langsung berbinar, “Wah, harum banget!”
Ia segera bangkit dan berjalan cepat menuju ruang makan.
Claire tersenyum sambil meletakkan dua mangkuk mi di atas meja.
“Aku sudah tahu kamu pasti ngiler.”
Axel menggaruk belakang kepalanya sambil tertawa bodoh.
Beberapa detik kemudian, ia sudah duduk di depan mangkuknya.
Julian pun ikut berjalan mendekat.
Ia melepas kacamata dan menyelipkannya di kerah bajunya.
Melihat Axel yang makan seperti orang kelaparan, sudut bibirnya tanpa sadar terangkat.
“Bip! Bip! Bip!”
Jam tangan Julian tiba-tiba berbunyi nyaring.
Ia menunduk lalu mematikan alarma tersebut.
“Nyonya Claire, kalian makan dulu saja. Aku harus menggantikan dulu obat Nona Serena.”
Axel bahkan tidak mengangkat kepala.
Satu tangannya hanya melambai asal sambil terus mengunyah.
“Tok tok –”
Julian berdiri tegak di depan kamar.
Karena tidak mendapat jawaban setelah menunggu beberapa saat, ia perlahan membuka pintu yang tertutup rapat.
“Tuan.” Ia sedikit membungkuk.
Tatapannya langsung jatuh pada Serena yang wajahnya terlihat jauh lebih baik dibanding sebelumnya.
“Sudah waktunya untuk ganti obat.”
Drake menoleh ke arahnya.
Tangannya yang sejak tadi menggenggam selang infus perlahan terlepas.
Pria itu bangkit lalu berdiri di belakang Julian. Wajahnya tampak lelah saat mengawasi setiap gerakan dokter itu.
Julian mengenakan sarung tangan medis baru lalu berjalan ke sisi ranjang. Ia memeriksa laju tetesan infus. Kemudian telapak tangannya menyentuh dahi Serena, suhu tubuhnya serasanya sudah tidak sepanas sebelumnya.
Alisnya sedikit mengendur, Julian kembali mengangkat termometer tembak dan mengarahkannya ke dahi Serena.
“Bip—”
“38.1 derajat.”
Suasana kamar langsung terasa jauh lebih ringan.
Julian membuka kelopak mata Serena untuk memeriksa pupilnya.
Tatapan kosong yang sebelumnya ada kini sudah menghilang, pernapasan Serena juga mulai kembali stabil.
Ia lalu menyentuh pergelangan tangan Serena untuk memeriksa denyut nadinya.
“Detak jantungnya sudah kembali normal.”
Julian mengganti obat pada infus sambil berkata santai seperti biasanya, “Untuk sementara sudah tidak ada masalah serius.”
Drake yang berdiri di belakangnya tetap diam.
Julian melirik mata Drake yang dipenuhi urat merah karena bergadang.
Ia menghela napas pelan, “Tuan, kalua Anda terus menatapnya seperti ini, yang tumbang duluan mungkin justru Anda.”
Namun Drake hanya menatap Serena, “Kapan dia akan sadar?”
“Setelah demamnya benar-benar turun, kesadarannya akan pulih perlahan.”
Julian memperlambat laju infus.
“Tubuh dan mentalnya sama-sama kelelahan berat.”
“Tapi sekarang dia sudah melewati masa kritis.”
Bahu Drake yang tegang sepanjang malam akhirnya sedikit mengendur.
Julian melepas sarung tangannya lalu menambahkan,
“Selama demam tinggi tidak muncul lagi, tidak perlu terlalu khawatir.”
“Setelah infus kedua ini habis, beri dia makanan yang ringan-ringan saja.”
Ia berhenti sejenak sebelum menatap lagi ke arah Drake.
“Tuan, Anda juga sebaiknya istrirahat duluan.”
Ruangan mendadak hening selama dua detik.
Drake meliriknya dengan dingin, Julian langsung mengangkat kedua tangan menutupi wajahnya.
“Aku dokter. Ini saran professional.”
Setelah membereskan semua obat, Julian hendak pergi.
Namun sebelum keluar, ia berhenti dan menoleh.
“Oh ya.”
“Kalau setengah jam lagi suhu tubuhnya turun ke sekitar 37 derajat, tidak perlu lagi kompres dingin.”
“Biarkan Claire saja yang menjaganya malam ini.”
Setelah mengatakan itu, Julian membawa koper medisnya dan keluar dari kamar.
Krek—
Pintu tertutup pelan.
Drake tetap berdiri di samping ranjang.
Tatapannya tertuju pada Serena yang akhirnya terlihat tenang.
Pernapasannya jauh lebih stabil.
Alis yang sebelumnya terus berkerut kini perlahan mengendur.
Krek—
Suara pintu yang tiba-tiba terbuka membuat Drake terkejut sekejap.
Claire berdiri di ambang pintu dengan ekspresi canggung.
“Tuan…”
Nada suaranya mengecil. Seolah tidak menyangka Drake masih berada di kamar itu.
“Julian bilang Anda sudah Kembali ke kamar…”
Ucapnya pelan.
Tatapan Drake Kembali mendingin.
Setelah melihat Serena sekali lagi, ia akhirnya berbalik dan keluar dari kamar.
Koridor lantai dua.
Begitu keluar, Drake langsung melihat Julian bersandar santai di pagar koridor.
Tatapan dokter itu lurus mengarah kepadanya.
Drake hanya melirik dingin sebelum berbalik menuju kamarnya sendiri.
Namun suara Julian menghentikan langkahnya.
“Tuan.”
“Kita perlu bicara.”