Drake tidak menjawab.
Namun pada akhirnya, ia tetap berbalik dan berjalan menuju balkon kecil di lantai dua.
Balkon.
Langit malam dipenuhi hamparan bintang.
Awan tipis perlahan menutupi bulan yang menggantung tinggi di langit.
Drake mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya.
Ia mengambil sebatang keluar lalu tanpa menoleh mengulurkannya ke belakang.
Julian mendorong Kembali kotak rokok itu.
“Aku nggak rokok.”
Drake terdiam sejenak.
Rokok yang sudah hampir menyentuh bibirnya kembali ia masukkan ke dalam bungkus.
Melihat Drake masih tidak berniat bicara, Julian akhirnya berjalan mendekat dan berdiri di sampingnya.
“Tuan.”
Ia memiringkan tubuh menghadap Drake.
“Dia orang yang kamu cari ya?”
Drake menatap kota yang dipenuhi cahaya di kejauhan.
Tetap diam.
Julian menundukkan kepala dengan pelan.
Baginya, Drake yang diam sudah cukup sebagai jawaban.
“Kalau begitu rencana selanjutnya…”
“Kita percepat.” Suara Drake terdengar dingin.
Julian mengangguk, “Baik.”
Keesokan harinya.
Serena perlahan membuka mata.
Cahaya lampu di langit membuat kesadarannya kembali sepenuhnya.
Refleks, ia langsung menyingkap selimut dan memeriksa pakaian yang dikenakannya.
Setelah memastikan semuanya masih utuh, ia menghela napas panjang lega.
“Kamu sudah bangun.”
Mata Serena langsung membesar.
Ia menoleh ke arah pria yang berdiri di dekat dinding sambil memejamkan mata.
Serena menarik selimut lebih tinggi, nada suaranya dipenuhi kebingungan.
“Siapa kamu?”
Ia emmang belum pernah melihat wajah pria itu sebelumnya, tapi ia yakin.
Aura pria itu terlalu mirip dengan Drake.
Pasti salah satu anak buahnya.
“Julian Knight.”
Julian berjalan santai mendekat ke sisi ranjang.
Ia membuka laci dan mengeluarkan termometer tembak.
“Dokter pribadi...manor ini.”
Termometer diarahkan ke dahi Serena.
“Bip—”
Julian melihat hasilnya, “36.5 derajat.”
Ia menyimpan kembali alat itu lalu menatap Serena, “Masih pusing?”
Serena menggenggam sudut selimut dengan erat, lalu menggeleng kepala.
Julian mengamatinya beberapa detik sebelum berkata, “Masih bisa berdiri?”
Serena perlahan menyingkap selimut.
Kakinya baru saja menyentuh lantai ketika tubuhnya tiba-tiba kehilangan tenaga.
Bruk!
Tubuhnya langsung jatuh terduduk, lututnya membentur lantai cukup keras.
“Hng...”
Wajah Serena langsung memucat.
Ia menopang tubuhnya dengan tepi ranjang dan mencoba berdiri kembali.
Namun tubuh yang baru pulih dari demam tinggi sama sekali tidak memiliki tenaga yang banyak.
Bahkan pandangannya mulai menggelap.
Julian mengernyit. Ia membungkuk dan membantu menopang lengannya untuk membawanya kembali ke ranjang.
Tepat saat itu—
Pintu kamar terbuka.
Drake berjalan masuk perlahan.
Tatapannya langsung jatuh pada tangan Julian yang sedang memegang Serena.
Sorot matanya sedikit menggelap.
Namun ia tidak mengatakan apa pun.
Julian tetap tenang, ia melepaskan tangannya lalu mundur setengah langkah.
Suasana kamar mendadak menjadi hening, Serena menatap pria yang berjalan mendekat selangkah demi selangkah. Tanpa sadar ia bergerak mundur ke tengah ranjang.
“K-kamu mau apa?”
Satu tangan Drake masih berada di dalam saku celananya.
Ia menatap Serena dari atas, lalu membungkuk. Telapak tangannya yang sedikit dingin menyentuh dahi Serena.
“36.5”
Julian berbicara datar dari belakang.
Barulah Drake menarik kembali tangannya.
Namun sesaat kemudian—
Tatapannya jatuh pada lutut Serena yang memerah.
Alisnya langsung berkerut, “Kenapa bisa begini?”
Ia memegang pergelangan kaki Serena yang ramping.
Jempolnya menyapu pelan bagian lutut yang memerah.
“Hiss—”
Rasa sakit membuat Serena refleks menarik kakinya.
Namun Drake tidak melepaskannya, Julian mengambil salep dari kotak medis lalu melemparkannya begitu saja.
Drake menangkapnya, kemudian tanpa banyak bicara, ia mulai mengoleskan salep ke lutut Serena.
Sensasi dingin menyelimuti kulitnya. Gerakan pria itu jauh lebih lembut daripada yang ia bayangkan.
Serena menunduk menatapnya, cahaya matahari pagi jatuh di sepanjang hidung mancung Drake.
Pupil cokelat gelap itu tampak tenang...
Namun juga berbahaya.
Anehnya—
Saat merawat lukanya, pria itu begitu sabar.
“Jangan bergerak.”
Suara rendah itu terdengar pelan.
Serena menggigit bibir bawahnya, tatapannya tertuju pada tangan Drake yang sedang mengoleskan obat.
Padahal baru saja kemarin pria ini memaksanya datang ke manor ini.
Tapi entah kenapa...
Rasa takutnya terhadap Drake sudah tidak sebesar sebelumnya.
“Sudah selesai.”
Suara Drake membuyarkan lamunannya.
Serena langsung tersadar dan buru-buru menarik kembali kakinya.
Ia memalingkan wajah dan menatap keluar jendela.
Seluruh ibu kota masih diselimuti kabut pagi. Dari ketinggian Blackwood Manor, kota itu terlihat kecil. Seperti miniatur indah yang dingin dan tak bernyawa.
Untuk beberapa saat, yang terdengar di kamar hanyalah sisa suara angin dari luar jendela.
Tok tok—
Pintu kamar kembali diketuk.
Axel masuk mengenakan setelan jas hitam yang rapi.
Rambutnya tetap tertata sempurna seperti biasa.
“Tuan, waktu rapat hampir dimulai.”
Drake hanya menjawab singkat, “Mm.”
Ia berdiri perlahan lalu merapikan manser kemejanya.
Setelah hitam itu kembali membungkus dirinya dengan aura dominan yang menekan.
Seolah pria yang tadi dengan sabar mengoleskan obat untuk Serena hanyalah ilusi.
Tanpa sadar Serena mengangkat kepala dan menatapnya.
Namun Drake seakan merasakan tatapannya. Ia menoleh, “Kalau ada apa-apa, cari saja Claire.”
Drake berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara rendah, “Atau hubungi aku.”
Saat mencapai pintu, langkahnya tiba-tiba berhenti.
Ia melirik Julian, “Selama tubuhnya belum pulih, jangan biarkan dia berkeliaran.”
Julian : “.....”
Serena langsung mendongak.
“Apa maksudmu? Takut aku lari?!”
Drake meliriknya datar.
“Kuharap memang begitu.”
Serena sedikit tertegun.
Dan ketika ia kembali mengangkat kepala –
Pria itu sudah berbalik meninggalkan kamar.
Yang tersisa hanyalah aroma dingin samar miliknya yang masih menggantung di udara.