Jika dipaksa harus memilih, Alvin lebih suka mengurung diri di kamar tanpa siapapun, tanpa makanan apapun dibanding terkurung dalam kedua lengkah kokoh lelaki ini.
Tatapan mata netra biru nya membuat Alvin terhipnotis dan menyadari bahwa Calon pewaris kerajaan bisnis Achazia memiliki tampang jauh melebihi standar pria Amerika lainnya. Apalagi dengan jarak yang sangat dekat seperti ini membuat ia bisa melihat dengan jelas keindahan warna matanya, hidung mancungnya bahkan bibir tipis yang sedang tersenyum mengejek.
Mengejek. Ah s**t.
"Aku memang tampan bukan?" bisik Darren penuh percaya diri di telinga Alvin. Kesadaran Alvin kini mulai terkumpul sepenuhnya. Dengan gerakan kasar ia mendorong Darren untuk menciptakan jarak hingga sedikit oleng. Tapi dengan cepat lelaki itu menyeimbangkan kembali tubuhnya dan memandang Alvin dengan tatapan yang sulit terbaca.
Alvin terkekeh ringan sebelum balik bertanya dengan nada mengejek yang tak bisa di sembunyikan lagi.
" Anda? Tampan? Yang benar saja. Bukankah biasanya orang yang 'tampan' selalu dikelilingi wanita. Tapi yang terlihat disini. Anda malah dikelilingi oleh para pengasuh. Seperti kotoran dikerubungi lalat". Ia membuat tanda kutip dengan jarinya saat mengatakan kata tampan dan melirik beberapa bodyguard di belakang darren lalu menatap darren dengan tajam.
Sungguh harga diri Alvin sedikit tercubit saat lelaki di hadapannya menyebutnya nona kotor. Alvin tidak bodoh. Maksud perkataan nona kotor dari Darren adalah kata konotasi dari p*****r, b***h atau sejenisnya. Dan balasan seperti inilah yang akan didapat jika seseorang berani mengusik harga dirinya. Alvin terdiam sejenak sebelum melanjutkan kembali ucapannya.
"Dan Anda tuan Darren Achazia yang terhormat, Anda berkata saya kotor, lalu mengapa Anda menyentuh nona kotor ini?". Belum sempat Darren bersuara. Alvin mendekat tatapannya menajam. melangkah dengan anggun. Lalu berhenti menyisakan beberapa senti jarak diantara mereka. Pandangan mereka saling bertemu. Sudut bibirnya tertarik sedikit keatas. Berusaha memanipulasi lawan bicaranya. Terlihat Darren mengepalkan tangannya berusaha mengendalikan emosinya.
Mencondongkan badan ke depan. Bibirnya berada di dekat telinga Darren. Alvin mulai berbisik "Pergilah tidur Tuan Tampan, Club ini tidak cocok untuk bocah sepertimu. Bawa pulang kembali para pengasuhmu. Dasar bayi".
Tangan Darren makin mengepal dengan kuat. Ego nya terluka. Harga dirinya direndahkan oleh wanita kotor yang sialnya sangat cantik itu. Jarak yang diciptakan oleh wanita itu. Membuat ia berpikir dengan keras. Suara merdunya seakan tidak asing di telinga Darren. Seolah-olah ini bukan pertemuan pertama kali mereka. Ego nya boleh terluka. Tapi hati dan pikirannya terlihat sejalan. Berusaha mengingat wanita bermulut manis itu.
Kini wanita itu terlihat melangkah melewatinya. Mata Darren tak bbisa lepas untuk terus memperhatikan apa saja yang dilakukannya. Termasuk ketika ia membuka salah satu bilik toilet dan memunculkan wajah yang sangat familier bagi Darren.
"Kikan" panggil Darren. Kikan yang sedari tadi mendengar pembicaraan mereka lalu berjalan keluar dari bilik toilet setelah pintunya dibukakan oleh Alvin. Mendongakkan kepala setelah merasa ada yang memanggil namanya.
"Darren" balas Kikan.
Darren mendekati kedua wanita tersebut. Kikan tersenyum manis sementara Alvin mengalihkan perhatiannya ke tempat lain. Alvin masih merasa kesal dengan lelaki itu. Jadi untuk apa dia membiarkan mata indahnya melirik lelaki yang tampan itu. Mulut dan otak sialan rutuk Alvin dalam hati.
Sangat wajar bukan jika Darren langsung menyapa Kikan. Siapa yang tidak tahu Kikan?. Kikan yang terlahir dari keluarga sangat kaya. Perusahaan kedua orang tuanya yang bergerak di bidang telekomunikasi itu. Pasti bekerja sama dengan Achazia Grup.
"Sedang apa kau disini, Darren?" Kikan berusaha membuka obrolan.
"Ah.. aku mencari seseorang, apakah kau mengenalnya?" tanya Darren.
"Siapa namanya, mungkin saja aku mengenalnya?" tanya Kikan balik.
"Entahlah, namanya mungkin Vin..... Vina... Alvi....". Darren berjeda singkat berusaha mengingat nama yang tidak sengaja ia dengar dari salah satu Bodyguardnya.
"Ia model majalah in style" lanjut Darren. Tatapan Kikan langsung beralih melihat Alvin yang sibuk memainkan kuku-kuku nya. Tanda tak peduli. Ia juga melihat lelaki diujung sana curi-curi pandang pada Alvin. Seolah ingin memberitahu Darren bahwa sosok yang ia cari ada di depan kedua matanya.
"Model majalah In Style itu banyak Darren. Okelah kalau kau tidak tahu namanya. Tapi apa kau ingat wajahnya?" tanya Kikan. Darren hanya bisa menggelengkan kepalanya yang justru memunculkan kembali senyum mengejek pada wajah Alvin.
"So, percuma dong kamu keliling Club ini. Kalaupun kau bertemu dengannya kau tidak akan mengenalinya" seperti sekarang lanjutnya dalam hati.
Darren hanya bisa meluapkan emosinya dengan mengacak-ngacak rambutnya. Ia kembali frustasi. Apa yang dikatakan Kikan memang masuk akal. Ia tidak akan mengenalinya. Bukan tidak mungkin jika wanita yang ia cari sekarang sudah pulang kembali ke rumahnya. Atau berada di salah satu kamar VIP club ini yang tidak akan bisa ia sentuh privasinya. Di saat-saat seperti ini kenapa kebodohannya makin menjadi saja. Kikan merasa kasian melihat keadaan Darren yang kacau seperti ini.
Kikan mendekat lalu mengusap pelan bahu Darren sambil melirik Alvin seolah meminta ijin. Yang langsung mendapat gelengan halus dari Alvin. Kikan menghembuskan nafas kasar. Kenapa jadi rumit seperti ini batin Kikan mengerang frustasi.
Kikan tersenyum lembut sambil bertanya " Untuk apa kau mencarinya, Darren?". Darren tertunduk lelah "Ibuku ngidam ingin bertemu dengan model majalah fashion in style favoritnya" gumam Darren. Kikan berjingkat kaget dan Alvin berusaha menutupi kekagetannya.
"Diaa......" lelaki diujung sana berusaha membuka suara. Yang langsung mendapat senyum manis Alvin yang sarat akan ancaman tersembunyi. Hening sesaat. Darren berusaha tenang untuk mendengarkan kelanjutan dari Pria yang baru ia sadari lebih condong feminimisme.
"Aku mengenalnya. Namanya Alvina, ia model yang paling terkenal dari majalah itu". Lanjut pria tadi yang tidak diketahui namanya itu. Dengan lirikan takut-takut akan pandangan Alvin yang semakin tajam seperti laser.
"Hmmm... tapi dia sudah pulang" jawab pria itu ragu. Nada ragu yang terlihat nyata tidak dihiraukan Darren. Pikirannya terlalu kalut memikirkan kemana lagi ia harus mencarinya. Tapi dengan mengetahui namanya saja itu lebih baik. Setidaknya besok ia bisa melanjutkan kembali pencariannya di kantor majalah tersebut. Ah kenapa ia tidak memikirkan itu sedari tadi. Bukankah akan lebih mudah jika mencari ke kantornya langsung. Lagi-lagi kebodohan mengambil alih kerja otaknya.
Darren menatap Kikan dan wanita di sebelah Kikan yang terlihat tak peduli. "Aku pulang dulu, otak ku semakin malam, semakin bodoh saja" Darren mencoba berkelakar.
Kikan tersenyum manis lalu menjawab " Pulanglah, istirahat yang cukup. Kau terlihat sangat lelah. Sampaikan salamku pada tante, dan selamat mundur dari posisi satu-satunya pewaris hehe".
Darren tersenyum lalu melangkah keluar.semua itu tak luput dari pandangan Alvin yang terus mengawasi. Tiba-tiba Darren berhenti. Lalu berbalik. "Siapa wanita di sebelahmu Kikan , sepertinya Aku pernah bertemu dengannya" tanya Darren pada Kikan.
Alvin melangkah melewati Darren, "Dita, panggil aku Dita" ucap Alvin dengan senyum yang dibuat-buat.