“DITA… WHAT THE HELL, BERAPA NAMA PANGGILAN LAGI YANG AKAN KAU BUAT VIN?”.
Teriakan histeris Kikan kini menjadi latar suasana dalam mobil taksi yang akan membawa mereka kembali ke hotel. Alvin yang menjadi objek kehisterisan Kikan hanya bisa terdiam. Sungguh ia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya hari ini. Semua begitu membingungkan. Sampai-sampai otaknya tidak mau bekerja untuk mencari jawaban dari pertanyaan Kikan barusan.
“Vin” posisi duduk Kikan kini berubah menyamping, agar bisa saling berhadapan dengan Alvin. Ia harus mencari jawaban dari semua pertanyaan yang singgah diotaknya. Bertahun-tahun menjadi sahabat Alvin tidak membuatnya menjadi ‘serba tau’ akan semua isi otak Alvin. Karena yang terjadi justru sebaliknya ia tak tau menahu akan maksud dari sikap dan perilaku Alvin yang menurutnya terlalu misterius.
Bagaimana tidak? Dalam kejadian tadi saja, Jika ia diposisi Alvin yang sedang dicari oleh puluhan bodyguard yang membuat semua nyali orang yang melihat. akan menciut. Termasuk dirinya. Tentu saja, pilihan yang akan dibuat Kikan adalah menyerahkan diri. Toh, hanya untuk memenuhi ngidam ibu hamil.
Tapi pilihan yang diambil oleh Alvin. Sungguh diluar dugaan. Selain merubah namanya didepan Darren. Dia juga menyembunyikan identitas aslinya. Dan semuanya didukung oleh ketidaktahuan Darren akan orang yang dicarinya. Benar-benar membuat sakit kepala. Dan lagi apa guna nya ia berbohong? Jika esok, Darren akan datang ke kantor majalahnya. Bisakah Alvin berkelit lagi?. Tentu tidak bukan?.
Pandangan Kikan kini menatap intens Alvin. Tapi yang ditatap justru diam seribu Bahasa. Posisi duduknya pun tidak berubah sejak pertama kali mereka masuk ke dalam mobil.
“Vin, please .. apa yang sebenarnya kamu rencanakan?”. Alvin masih diam.
Mau tidak mau Kikan berusaha memutar kembali memori yang terjadi di club.
Sebelum mereka memanggil taksi, Alvin sempat memberi tanda tangan ekslusif pada pria ditoilet tadi. Lalu……
Bukan itu, ayo mundur lagi, batin Kikan mengajak otaknya berpikir keras. Dan mulai menggigit kuku ibu jarinya seperti bayi mengedot tanda ia benar-benar sedang berpikir.
Alvin mengenalkan dirinya sebagai dita…
“Siapa wanita disebelahmu Kikan, sepertinya aku pernah bertemu dengannya.”.
Kalimat pertanyaan itu tiba-tiba saja hinggap di memorinya. Membuat Kikan membeku seketika.
“Kamu pernah bertemu dengannya Vin?” cicit Kikan. Jantungnya berdegub kencang hanya untuk menunggu jawaban Alvin.
“Ya” jawab Alvin pelan. Kepala nya kian tertunduk dalam. Jawaban Alvin tidak memberikan sedikitpun kepuasan pada Kikan. Masih banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan. Seperti kapan dan dimana mereka bertemu? Apa yang terjadi pada mereka berdua?. Sayangnya, reaksi keterdiaman Alvin. Seperti tanda bahwa Alvin masih enggan untuk bercerita.
“Lalu, apa yang akan kamu lakukan esok, jika Darren benar-benar datang berkunjung ke kantormu?”Tanya Kikan. ingin tahu rencana Alvin selanjutnya. Siapa tahu Kikan bisa membantu sekaligus memecahkan misteri kehidupan sahabatnya itu.
Suasana berubah menjadi hening, Kikan menunggu jawaban Alvin.
Sementara Alvin masih saja bungkam. Lalu tiba-tiba Hp Kikan berbunyi. Memecah suasana hening yang sedang terjadi. Kikan merogoh isi tasnya mencari sumber suara ringtonenya. Setelah menemukannya lalu menatap id caller yang terpampang. Memperlihatkannya sebentar pada Alvin sebelum mengangkat telepon itu.
“Hallo” jawab Kikan
“……..”
“APA??!!!” teriak Kikan Histeris
“……..”
“Bagaimana itu bisa terjadi?”. Kikan memijat halus pelipisnya. Rasa pusing kini melanda nya. Pandangan nya saling bertubrukan dengan sorot mata Alvin yang sendu.
“Nanti ku telpon balik” ucap Kikan sebelum menutup telponnya. Bahu nya kini melorot, bersandar pada punggung tempat duduknya. Hati dan tubuhnya lelah bukan kepalang.
“Vin” panggil Kikan pelan.
Alvin melirik Kikan sekilas, lalu tatapan nya memandang lurus kedepan.
“Demetria corp?” Tanya Alvin tanpa mengalihkan tatapannya. Kikan hanya bisa mengangguk samar. Entah itu terlihat oleh Alvin atau tidak. Kikan sudah tak peduli lagi. Berita buruk yang didapatnya sudah terlalu mengguncang kesadarannya.
Taksi yang mereka tumpangi telah berhenti di pelataran hotel. Mereka berdua beranjak keluar. Lalu masuk ke dalam lift. Keduanya bersandar dalam kotak besi tersebut. Dengan pikiran yang sama-sama berkelana.
Memasuki kamar dengan langkah gontai. Kikan menghempaskan badannya. Tengkurap di Kasur. Sementara Alvin duduk bersandar di kepala ranjang.
“Kembalilah ke new York, perusahaan membutuhkanmu, pertahankan, jangan sampai goyah atau jatuh ketangan mereka.” Ucap Alvin membuka obrolan dengan nada serius. Kikan mendongak menatap Alvin. “Lalu Kamu?” Tanya Kikan. Kikan tidak tega meninggalkan Alvin dengan masalah yang dibuat oleh Alvin sendiri.
“Aku akan pergi menemui Nyonya Achazia pagi ini”. Alvin menatap Kikan. “Buatlah janji dengan Darren. Bilang Kau kenal dengan Alvin. Jangan ceritakan semuanya. Ulur waktu sampai aku selesai dengan urusanku” lanjut Alvin. Kikan mengangguk mengerti. Ternyata keterdiaman Alvin karena otak nya sibuk berpikir bukan melamun tidak jelas seperti apa yang ditakutkannya sedari tadi.
“Kita akan bertemu lagi siang ini dibandara, Kau ke New York, dan Aku akan ke Arizona memenuhi undangan grandma”. Kikan langsung terkesiap dan duduk tepat di depan Alvin.
“Aku akan menemanimu pergi ke Arizona, setelah itu kita akan sama-sama ke New York” ucap Kikan dengan nada sedikit khawatir. Alvin tersenyum menenangkan walaupun senyum itu tidak sampai ke matanya.
“Vin.. kita sama-sama tahu, berapa lama, kamu tidak berkunjung kesana” ucap Kikan menatap Alvin lembut.
“Belasan tahun itu bukan waktu yang sebentar, Berapa banyak kenangan buruk yang tercipta disana, hingga membuatmu angkat kaki darisana. Aku takut kamu gak sanggup melalui itu sendirian”. Kikan mengelus punggung tangan Alvin.
Alvin tersenyum sebelum membalas elusan tangan Kikan. “berapa banyak juga pengorbanan yang sudah kita lakukan untuk membangun perusahaan itu, sanggupkah kita melihat kehancurannya?”.
“Tapi Vin” Kikan berusaha mendebat Alvin. “Kikan, aku hanya pergi sehari saja. setelah itu, aku akan menyusulmu, aku berjanji”. Keputusan Alvin telah bulat dan tidak bisa diganggu gugat lagi. Alvin akan menyelesaikan semua nya secepatnya.
“Buatlah janji dengan Darren” ucap Alvin dengan tangan yang sibuk mengotak-ngatik ponselnya. Entah apa yang dilakukannya. Tanpa ingin membantah perintah Alvin. Kikan juga bergerak mengambil ponselnya lalu mengetik pesan kepada Darren yang isinya mengajak breakfast bersama di lobby hotelnya. Lalu mereka berusaha untuk tidur. Hari yang cukup panjang sekaligus melelahkan.
Keesokan harinya……