Keesokan harinya......
Terlihat seorang gadis cantik yang tengah memandang lurus ke depan. Dengan pandangan yang sulit terbaca dari dalam taksi. matanya seolah sedang mengawasi rumah yang berada di sisi kanannya. Tepat setengah jam yang lalu, gadis itu memberhentikan taksi tak jauh dari rumah yang akan menjadi tujuannya.
Berbekal dari alamat yang diberikan oleh Kikan, Alvina akhirnya menepati ucapannya untuk datang menemuinya. Ia duduk tenang dengan sorot mata yang tak pernas lepas dari rumah tersebut. Sang sopir taksi terlihat curi-curi pandang dari kaca spion bagian atas. Bukan untuk memprotes penumpangnya, yang sedari tadi belum berniat untuk beranjak keluar. Tetapi lebih kepada pandangan seorang fans terhadap idolanya.
Walaupun sekarang penampilan Alvin cukup sederhana. Pakaian berupa sweater panjang model V neck berwarna Hitam dan rok motif hitam putih diatas lutut. Yang dilengkapi dengan topi tim baseball favoritnya dan kacamata hitam untuk menutupi sedikit identitasnya. Dengan hanya outfit seperti itu saja, masih bisa mengundang decak kagum orang yang melihatnya termasuk supir taksi itu.
Tak berselang lama, terlihat gerbang rumah itu pun terbuka, mobil sport berwarna hitam mengkilap. terlihat perlahan beranjak menjauh dari rumah yang mewah namun tetap asri itu. Alvin bersiap untuk keluar dari dalam taksi.
Namun tiba-tiba saja rasa ragu itu kembali muncul ke permukaan. Ia tak tahu pasti keputusan yang ia ambil untuk bertamu ke rumah itu adalah hal yang benar. Menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan. Hanya itu yang bisa Alvin lakukan untuk bisa menormalkan emosinya.
Di menit yang samapun, Ia mulai mengatur ekspresinya. berusaha menyembunyikan seluruh keraguan, ketakutan dan keputusasaannya. Tangannya dengan mantap membuka pintu taksi. Berjalan mendekati gerbang rumah yang terlihat dijaga oleh beberapa bodyguard.
Tentu saja Alvin tak heran lagi dengan suasana yang terpampang didepannya. Karena Achazia Group adalah perusahaan yang bergerak di bidang keamanan dan teknologi komunikasi. Jadi secara otomatis sang pemilik rumah pasti akan menggunakan seluruh fasilitas keamanan dan kecanggihan teknologi yang mereka buat sendiri.
Langkahnya kini terhenti oleh seorang pria yang menghadangnya. Pria itu memakai pakaian resmi hitam putih dengan pin logo Achazia di bagian dalam jasnya.
"siapa kau?" Tanya pria itu dengan suara penuh penekanan. Matanya menelisik dari atas ke bawah. Alvin yang dilihat seperti itu tidak merasa rishi sedikitpun. Malah membalas tatapannya dengan datar.
"beritahukan saja padanya Alvina Dayita telah tiba" jawab Alvin dengan tatapan dinginnya. Pria itu menekan bagian earphone yang berada di telinga kanannya. Dan memberitahukan kedatangan gadis yang berada di hadapannya.
Gerbang pun terbuka dengan lebar, para bodyguard mulai berbaris rapi di sisi kanan kiri dengan sikap menunduk hormat. Dari kejauhan Terlihat wanita paruh baya yang masih sangat cantik berjalan mendekati Alvin.
"Aku telah menunggumu sedari tadi..............." jeda wanita itu sejenak mengamati penampilan Alvin dengan seksama. "Nada" lanjut wanita yang tak lain dan tak bukan sang nyonya Achazia itu.
Alvin mengalihkan pandangannya. Tertunduk. Tangannya memegang erat tali tas selempangnya. Gugup itu lah yang ia rasakan sekarang. Nama panggilan itu sudah lama tidak terdengar olehnya. Dan hatinya menyuruh ia segera pergi meninggalkan tempat itu.
Cepat selesaikan urusannmu sekarang batin Alvin dalam hati. Seolah kata-kata tadi adalah mantra penyemangat Alvin. Wajahnya kembali ditegakkan. Beradu pandang. Tapi hanya senyum palsu yang mampu ia suguhkan untuk wanita di hadapannya.
"Hai tante" sapa Alvin dengan nada yang sangat kaku akibat dari kegugupannya yang tak berhasil ia tutupi. Karena kenyataannya ia lebih suka menjadi model catwalk fashion week yang ditonton oleh ratusan orang. Dibandingkan harus berhadapan sosok wanita ini.
"Mari kita sarapan bersama" ucap wanita itu dengan memberi kode pada Alvin untuk mengikutinya. Alvin pun mengekori di belakangnya. Mereka melangkah menyusuri taman yang berada tepat di samping kanan rumah itu. Disana sudah terdapat dua kursi dan meja yang sudah berisi dua cangkir teh beserta cemilan ringan.
Taman ini dipenuhi berbagai jenis tanaman hias dan bunga-bunga beraneka ragam yang makin mempercantik keindahannya.
Wanita itu pun mempersilahkan Alvin untuk duduk. Alvin mengucapkan terima kasih sebelum duduk lalu melepaskan kacamata hitamya. Wanita itu menyesap teh nya perlahan. Sementara Alvin hanya terdiam. Bingung untuk memulai obrolan.
"Tante tidak menyangka, kau akan mampu mengelabui anakku" ucap wanita itu untuk membuka obrolan. Alvin menatap sekilas wanita yang biasa ia panggil dengan sebutan Tante Angel itu. Bibirnya masih enggan untuk mengucapkan sepatah kata pun. Mata nya hanya mampu memandang lurus kedepan.
"Tante bahkan harus berbohong dengan mengatakan hamil dan sedang ngidam. Agar Darren mau mencarimu" lanjut Angel dengan kekehan ringan. Matanya kini menatap Alvin sendu. Sementara Alvin sendiri terlihat masih bungkam.
Alvin sudah ia anggap seperti anaknya sendiri. Semua berubah begitu saja. Dan ia sendiri tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada gadis yang kehilangan gairah hidup ini. Sampai beberapa tahun lalu, ia mendapatkan kabar dari orang kepercayaannya bahwa Alvin berada di korea. Tapi ia sudah terlambat, hingga akhirnya ia hanya mampu mengawasi dari jauh lewat majalah yang menaunginya.
"Kalau begitu, berarti saya sudah tidak memiliki urusan lagi dengan Anda" ucap Alvin dengan tatapan datarnya. Angel tersenyum menenangkan. Kedua tangannya menggenggam salah satu tangan Alvin.
"Apakah Darren sangat menyakitimu?" tanya Angel dengan nada yang sangat halus.. Alvin menggeleng pelan. Sebelum balik bertanya "Apakah dia masih mengejarnya?". Dia yang dimaksud Alvin, tentu saja Darren.
"Ya" jawab Angel singkat. Tak terjadi perubahan raut wajah yang sedari tadi ditakutkan oleh Angel. Tapi Angel tau, Cinta pertama itu sulit untuk dilupakan.
"Aku tidak sanggup menemuinya" ucap Alvin dengan nada pelan. Angel berusaha memberi kekuatan dengan memperkuat genggamannya. Sungguh hatinya ikut terluka melihat kondisi Alvin yang seperti ini. Walaupun itu terjadi saat mereka masih anak-anak. Tapi untuk anak secerdas Alvin tentu perkataan Darren sangat menyakitinya. Dan yang ia lakukan kini hanya mengikuti kemauan Darren saat itu.
"Bagaimana acara wisudamu?" tanya Angel berusaha mengalihkan pembicaraan mereka. Tapi justru itu malah semakin membuat Alvin menundukkan kepalanya. Memorinya kembali memaksa mengingat peristiwa yang ingin ia kubur dalam memori terdalamnya.
"mom dan dad tak datang, padahal mereka sudah sampai di korea" terang Alvin. Dengan kepala yang masih menunduk. Angel terkesiap mendengar jawaban Alvin. Keningnya berkerut tanda ia tak mengerti. Angel tak mengerti dengan kalimat mom dan dad tidak datang bukan pada kata-kata terusannya.
"Siapa yang kau panggil mom?" tanya Angel dengan nada keheranan yang cukup tinggi. Alvin menengadahkan kepala mengernyit bingung.
"Tentu saja, mom and dad ku siapalagi yang kupunya selain mereka" terang Alvin. Penjelasan Alvin tidak sedikitpun mengurangi rasa bingung yang ada. Angel menggelengkan kepala, apa yang sudah terjadi sebenarnya. Benarkah waktu bisa mengikis ingatan Alvin tentang orang tuanya.
"Ibumu telah meninggal bertahun-tahun yang lalu" ucap Angel menatap kedua mata Alvin dengan intens. Tanda ia serius dengan apa yang diucapkannya. Alvin terkesiap melihat tatapan itu. Tak ada tanda kebohongan disana. Yang justru membuat Jantungnya berdegub kencang. Keringat dingin mulai menyerangnya. Kalimat itu terus terngiang-ngiang di kepalanya. Bagai kaset yang sudah rusak.
Apa yang sebenarnya terjadi batin Alvin menjeritkan kalimat itu.
Mom dad, siapa mereka berdua?
Apa yang terjadi dengan ibuku?
Mengapa ibuku meninggal?
Dimana aku bisa bertemu ibuku?.pertanyaan demi pertanyaan itu kini menyerbu hati dan pikirannya. Ada rasa sesak yang timbul ketika pertanyaan yang muncul Mengapa aku bisa melupakan itu?.
Hatinya berusaha menolak fakta yang ada. Dengan menyuarakan kalimat Tidak mungkin, Alvin. Tante pasti berbohong padamu.
Namun otaknya seolah membeberkan bukti-bukti yang ada. Bisa jadi bukan ketidakpedulian mom and dad nya selama ini karena ia bukan anak kandungnya.
Tapi kenapa ia meragukan mom and dad nya, hanya karena satu kalimat tadi. kepalanya mulai berdenyut ringan. Mungkin dengan mempercepat kepergiannya menuju Arizona dapat sedikit mengurangi rasa penasarannya atau bahkan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi yang muncul.
Tanpa Alvin sadari, tubuhnya refleks beranjak dari kursi. Pikirannya kini hanya tertuju pada grandma Eva yang ia harap bisa membantunya. Angel juga juga ikut beranjak dari kursi. "Kau sedang terburu-buru?" tanya Angel. Yang dijawab Alvin hanya dengan senyuman.
"Diminum dulu tehnya, Kau pasti belum sarapankan?" ucap Angel sembari menunjuk teh di sebelah Alvin yang mulai dingin.
"Aku harus pergi sekarang" ucap Alvin sembari sedikit membungkuk hormat untuk berpamitan. Ia mulai melangkah menjauhi Angel. Sampai Langkahnya terpaksa ia hentikan ketika
"Diona, ibumu sangat cantik ketika terakhir kali aku melihatnya mengantarkanmu bermain dengan Darren" ucap Angel dengan pikiran yang menerawang ke masa lalu. Alvin mematung sejenak sebelum membalas ucapan Angel.
"Dan Darren, tak lebih dari masa lalu yang tak pernah kuijinkan untuk berada di kehidupanku. Saat ini ataupun masa depan". Dan Alvin mulai berlari menjauh dari Angel yang kini menatapnya dengan perasaan bersalah yang masih bergumul.
Sementara itu, di lobby hotel tempat Kikan bertemu dengan Darren. Tampak seorang wanita yang duduk dengan cemas. Tangannya saling meremas satu sama lain. Sembari dalam hati berdoa semoga Alvin baik-baik saja dan segera menyelesaikan urusannya. Karena Kikan tidak yakin dapat menahan Darren untuk berlama-lama mengobrol dengannya. Harus Kikan akui, bahwa ia bukan tipe orang yang asyik untuk di ajak mengobrol panjang.
Kikan yang duduk di samping jendela, akhirnya melihat mobil sport mewah berwarna hitam mengkilap memasuki area pelataran hotel diiringi dengan 2 mobil van dibelakangnya.
Darren dan bodyguard seperti dua hal yang tidak bisa dipisahkan batin Kikan menggerutu. Gerutuannya semakin menjadi-jadi melihat Darren melemparkan kunci mobil yang hampir mengenai wajah petugas vallet.
Orang kaya memang selalu seenaknya
Saat Darren memasuki lobby hotel, matanya mencari-cari keberadaan Kikan. Dan langsung menemukannya saat wanita itu melambaikan tangan untuk menujukkan posisinya. Darren berjalan kearah Kikan lalu menarik kursi untuk duduk di hadapan Kikan, dan menyuruh pelayan untuk membawakannya secangkir kopi hitam panas. Dilihatnya dimeja juga sudah terdapat segelas s**u dan roti selai yang tentu saja milik Kikan.
Tanpa ingin berbasa-basi Darren langsung mengajukan pertanyaan untuk Kikan. "Kau mengenal model itu?". Kikan berusaha memberi jeda singkat untuk sekedar mencari kata-kata yang tepat agar ia tidak membocorkan rahasia Alvin seperti yang diinginkannya.
"siapa yang tidak mengenalnya, wajahnya selalu menghiasi halaman majalah fashion itu" jawab Kikan sekenanya sembari meminum s**u untuk menyembunyikan rasa gugupnya. Yang ditanggapi Darren dengan anggukan singkat.
"Siapa namanya?" tanya Darren kembali
"Jawabannya seperti apa yang pria di toilet itu katakan, ia bernama Alvina Dayita D" Jawab Kikan.
"D" Darren tampak berpikir mencari tahu nama keluarga model itu. Kikan menghembuskan nafas perlahan sebelum menjelaskan. "Tak ada yang tahu, nama belakang Alvina. Kehidupan pribadinya tidak pernah ia umbar ke media" ucap Kikan menjelaskan.
"please Darren, Aku tau kamu punya banyak informan diluar sana yang akan segera membantumu menjawab rasa ketidak tahuan mu".
"Tapi aku mohon, tolong jangan pernah usik kehidupannya" ucap Kikan dengan tulus dan sarat akan permohonan. Ia merendahkan dirinya, memohon kepada partner bisnis orang tuanya itu hanya demi Alvin Karena ia sangat menyayangi sahabatnya. Ia tak ingin kehidupannya terus diusik oleh orang-orang yang tidak bertangggung jawab yang mencari tahu hanya untuk sekedar memenuhi rasa penasaran mereka saja.
"Memang apa yang akan aku lakukan selain membawanya untuk menemui ibuku" tantang Darren dengan disertai smirk andalannya. Tetapi hanya sementara saja, selanjutnya ia terkekeh ringan.
"Apakah ia sangat cantik, sampai kau takut aku akan memacarinya, hemmm" ucap Darren. Tetapi kepala nya kini malah membayangkan sosok gadis yang ia temui di club kemarin. Satu kata "misterius" itulah kata yang cocok untuk menggambarkan sosok wanita itu. Mulutnya boleh berkata sinis tapi jauh di kedalaman mata nya. Ia hanya berusaha menutupi kerapuhan, kesendirian dan kesepiannya. Darren memutar kembali memorinya saat ia tak sengaja memeluk gadis itu. Melihat kedua tangannya. Bahkan tangannya berapa pas saat memeluknya.
Shit kenapa ia malah membayangkan wanita sinis itu. Ingat Darren kau hanya mencintai wanita itu dan hatiku akan selalu untuknya batin Darren kesal. Darren buru-buru mengusir bayangan itu sebelum makin makin memenuhi isi otaknya.
Obrolan mereka terhenti sejenak ketika seorang pelayan menghantarkan Kopi pesanan Darren. Pelayan itu pun sedikit membungkukkan badannya untuk meletakkan kopi dan bill tepat di hadapan Darren.
Saat Darren akan membayar. Ia mengambil dompet lalu sesuatu terjatuh dari dompetnya yang refleks diambil oleh Kikan
Sebuah foto usang yang kertasnya mulai menguning. Foto yang memperlihatkan 3 anak kecil yang sangat imut. Anak lelaki itu berada di tengah diapit oleh 2 anak perempuan. Pose anak lelaki itu terlihat mencium pipi anak perempuan yang berada di sisi kirinya. Dan anak perempuan satu lagi hanya menatap datar keduanya.
Tangan Kikan gemetar hebat, wajah anak kecil di foto itu sangat ia kenali. Itu adalah foto masa kecil Alvin. Tatapan datar yang diperlihatkan persis sekali seperti tatapan Alvin. Rasa syok kini menderanya. Tangan nya berusaha membalik foto itu.
Dan terdapat tulisan I LOVE YOU FOR EVER Nadialyssa Valkor Demestria. Tulisannya persis sekali seperti tulisan tangan Alvin. Alvin menuliskannya untuk Darren. Tapi tatapan Alvin difoto itu sendiri juga menunjukkan bahwa ia memiliki perasaan terhadap Darren.
TUHAN... bagaimana bisa seperti ini?
Nadia?
Demestria?
Alvin keluarga Demestria?
Alvina Dayita D
D for Demestria?
Alvina Dayita Demestria?
Bagaimana mungkin?
Pikiran Kikan sibuk berkelana, hingga ia tidak menyadari Darren yang ikut melihat foto tersebut. Seolah rasa syoknya tak berhenti disitu.
Maaf itu milikku, wanita yang sangat aku cintai,
Yang ini, Darren menunjukkan anak perempuan blasteran yang ia cium di foto itu menggunakan jari telunjuknya. lalu jari telunjuknya beralih ke sebelah kiri, menunjuk anak kecil satu lagi
dan ini Nada kakak perempuannya ucap Darren dengan santai.
Darren malah memberikan penjelasan yang menampar Kikan untuk kembali dari Alam bawah sadarnya. Dan memaksanya untuk menerima fakta yang ada. Bahwa memang benar foto tersebut adalah Alvin. Hatinya sedikit tercubit akan fakta bahwa Darren sangat mencintai Nadia dan melupakan Alvin.
Cinta Segitiga
Dua kata ini yang akhirnya bisa menjawab teka-teki akan sikap Alvin. Tapi harusnya Alvin bisa melupakan Darren. Toh ia sekarang sudah memiliki kekasih. Kekasihnya juga bukan dari orang sembarangan. Tapi....
Apa mungkin Darren cinta pertamanya?
Daripada ia terus bertanya-tanya lebih baik Kikan segera bertemu dengan Alvin. Diliriknya Darren yang kini berada di sebelahnya.
"Sepertinya cukup sampai sini saja obrolan kita, aku mendadak ada urusan" ucap Kikan dengan nada tak enak kepada Darren. Darren mengernyit heran. Karena kedatangannya belum ada sepuluh menit sejak ia masuk ke lobby hotel ini.
"Tapi obrolan kita belum selesai Kikan" ucap Darren penuh penekanan. Ia tak ingin waktunya terbuang begitu saja. Ia harus segera bertemu dengan model yang bernama Alvina itu. Ia tentu juga tak ingin mengecewakan ibunya lagi. Setidaknya hari ini ia harus bisa membawa Alvina untuk pergi menemui ibunya.
Tapi sepertinya Kikan tak ingin berlama-lama lagi untuk meladeni Darren. Kikan tak peduli akan kemarahan Darren. Yang ia pikirkan sekarang adalah bagaimana Alvin, perasaan Alvin
Oh god dia secara tak langsung telah menghantarkan Alvin kepada memori masa lalunya. Alvin i'm sorry batin Kikan meringis.
Kikan mulai akan beranjak pergi dari lobby hotel tersebut. Tapi tangannya di cekal oleh Darren dari belakang. Cekalannya sangat kuat sehingga membuat Kikan sedikit meringis kesakitan. Kikan tak perlu lagi menengok ke belakang.
"Pagi ini, Ibumu telah bertemu dengannya" terang Kikan. Wajahnya menoleh kebelakang. Menatap intens Darren. Lalu melanjutkan perkataannya
"Aku sengaja mengajakmu bertemu denganmu pagi ini" memberi jeda singkat. Lalu berkata dengan nada kesal yang tertahan "Aku bertemu denganmu. Dan Alvin bertemu dengan ibumu".