Aku tidak tahu kapan kebahagiaan akan kembali pulang kepadaku. Aku tidak tahu kapan aku akan menemukan penutupan.Aku tidak tahu kapan aku merasa baik-baik saja dengan semua ini dan diriku sendiri. Aku tidak tahu kapan aku akan merasa bahagia lebih sering daripada aku merasa hancur.
-kinand_18
Setelah meninggalkan kediaman sang nyonya Achazia. Kini Alvin berjalan tak tentu arah. Pikirannya terlalu semerawut bagai benang kusut. Terlalu banyak potongan puzzle masa lalunya yang harus ia susun dengan petunjuk yang belum pasti. Sampai langkahnya terhenti di depan sebuah bangunan yang tak asing lagi bagi nya. Sebuah perpustakaan. Ini adalah tempat favoritnya untuk menenangkan diri.
Alvin mendorong pintu kayu yang kokoh itu dan menutupnya kembali. Ia pun langsung disambut dengan senyuman penjaga perpustakaan yang duduk di balik pintu itu. Alvin pun membalas senyumannya. Lalu berjalan menelusuri rak-rak buku yang berjejer rapi di depannya. Tangannya menelusuri rak per rak, satu per satu buku. Tanpa ada minat untuk membaca.
Tangannya berhenti menelusuri dan tatapannya kini terfokus kepada satu majalah. Majalah in style itulah nama majalah yang menarik perhatian Alvin. Cover majalah itu semakin menarik perhatiannya.
Itu adalah foto Alvin saat berusia 8 tahun. Usia saat ia, mulai debut pertama kalinya sebagai seorang model majalah fashion anak. Ia tak pernah menyangka sebelumnya, bahwa wajahnya banyak diminati oleh para fotographer-fotograpaher dari majalah online sampai majalah sebesar in style.
Tak banyak juga yang ia ingat tentang awal debutnya itu. Selain tekanan dan tuntutan pekerjaan yang membuatnya kehilangan masa kanak-kanak akibat jadwalnya yang padat.
Ia tak pernah tau rasanya memiliki teman, rasanya berjalan kesana kesini diselingi tawa bahagia. Bercanda, Bermain, Bahagia. Tiga hal yang tak pernah ada lagi untuk Alvin.
Ia hanya memiliki Kikan yang selalu berusaha berada di sampingnya. Kikan layaknya seorang kakak yang sedang menjaga adiknya. Bahkan beberapa kali Kikan pernah menemaninya saat ia sedang melakukan sesi photo Shoot. Itu pun jika Kikan datang ke Korea untuk mengunjunginya. Yang terbilang hanya 2 kali dalam setahun. Tak lupa juga dengan orang tua Kikan yang selalu melakukan video Call untuk hanya sekadar bertanya bagaimana keadaannya dan memastikan pendidikannya tak terlalu terganggu dengan kegiatan Modellingnya.
Ia juga memutuskan untuk tinggal di asrama dibandingkan tinggal di sebuah Apartemen yang sengaja dibeli kedua orang tua Kikan untuknya. Alvin menolak halus pemberian itu, ia tak ingin berhutang uang ataupun berhutang budi terlalu banyak. Semua pemberian mereka, selalu Alvin hitung termasuk saat mereka pergi makan bersama. Ia selalu menghitung berapa total harga makanan dan minuman nya. Tentu saja Kikan menolak keras dengan apa yang Alvin lakukan. Tapi Alvin lebih keras kepala lagi. Ia selalu menegaskan bahwa ini adalah bentuk terima kasihnya kepada apa yang mereka lakukan sekaligus tidak ingin merepotkan dan menjadi beban untuk mereka. Maka dari itu, Alvin lebih memilih hidup mandiri, dengan uang hasil jerih payahnya sendiri.
Dan saat itu pemikiran Alvin kecil , ia hanya ingin mencicil semua uang yang dikeluarkan keluarga Kikan untuknya sedikit demi sedikit tapi di masa depan, ia pastikan akan membalas semua hutang budi kebaikan mereka semua.
Memang terdengar aneh untuk anak usia 8 tahun dengan pemikiran seperti itu, tapi Alvin berbeda dengan anak-anak lainnya. Ia diberikan kelebihan dalam menganalisis sesuatu di hadapannya. Dengan IQ yang bisa dikatakan genius, membuatnya mampu memahami dengan cepat apa yang menimpanya, lalu otaknya bekerja cepat dengan memberikan rencana-rencana untuk masalah itu sekaligus apa yang ia harus wujudkan di masa depan.
Alvin tak punya lagi tujuan dalam hidupnya. Ia 'berusaha hidup' untuk membalas budi kebaikan orang tua Kikan. Karena Orang Tua Kikanlah yang menjadi orang dibalik Kesuksesannya. Jika bukan karena orang tua Kikan ia mungkin tak bisa keluar dari rumah itu. Dan mungkin saja sekarang Alvin masih belum menjadi apa-apa. Selain sebutan kakak bagi Nadia.
Alvin tak henti-hentinya bersyukur bisa keluar dari rumah itu saja. Rumah yang kata-kata orang ialah tempat berteduh dan tempat kasih sayang. Tapi bagi Alvin itu adalah neraka-nya yang ditutupi dengan tittle 'keluarga'.
Ia masih ingat dengan jelas. Ketika ia menginjakkan kaki setelah pulang dari rumah sakit. Semua mulai berbeda baginya. Seperti ada memori yang ia lupakan. Dan semuanya menjadi 'tidak benar' di mata nya. Semua terlihat aneh dan asing baginya.
Orang yang memperkenalkan dirinya sebagai mom and dad nya pun terasa janggal baginya. Tak ada desiran hangat maupun ikatan batin yang ia rasakan. Tapi grandma Eva selalu berpesan untuk tidak terlalu memikirkannya.
Hari demi hari Alvin lalui dengan penuh kebingungan dan ketakutan yang ia tak mengerti apa alasannya. Ia berusaha untuk bersikap biasa saja. Melakukan aktivitas seperti anak kecil pada umumnya. Tapi perlakuan mom and dad membuat Alvin tak nyaman.
Alvin tak pernah suka dengan perlakuan pilih kasih keduanya. Ia merasa terasing dengan semua perlakuan itu. Perlakuan yang menurutnya seperti ia bukan bagian dari keluarga ini. Seolah sebutan kakak-adik hanya sebuah isapan jempol belaka. Semua kasih sayang, perhatian dan kepedulian hanya milik Nadia semata.
Tak ada pujian, malah cacian yang ia dapat. Ketika ia mendapat penghargaan akan suatu perlombaan, telinga nya akan panas dan perih akibat jeweran dari mom. Serta tak lupa dengan petuah yang sangat panjang diselipi dengan pertanyaan 'mengapa kamu tidak mengalah pada adikmu?"
Semakin parah ketika ia melakukan kesalahan. Ia selalu dihukum. Baik itu untuk kesalahannya maupun kesalahan Nadia sekalipun. Ia yang selalu menjadi sasaran hukumannya. Entah itu dihukum tidak makan berhari-hari, terkunci di gudang bersama ratusan tikus, tidak diberi uang jajan berhari-hari dan masih banyak hal gila lagi yang selalu ia alami.
Tidak ada sedetikpun ketentraman, maupun tatapan iba dan prihatin dari pelayan-pelayan di sekelilingnya. Hanya tatapan benci dan sinis dari Nadia padanya. Ia benci tinggal lebih lama di rumah itu. Ia ingin pergi ke rumah grandma Eva. Tetapi ia tidak memiliki keberanian maupun uang untuk bisa keluar dan pergi dari rumah itu.
Ia dulu selalu mencoba mengalah demi posisinya sebagai seorang kakak. Tapi ia sungguh tak tahan. Sampai waktu itu tiba, ia memberanikan pergi dari rumah itu tanpa membawa apapun. Menangis di sebuah taman yang selanjutnya itu menjadi awal pertemuannya dengan Kikan.
Dan entah rayuan apa yang Kikan keluarkan sampai orang tuanya mau mengasihani sekaligus mengasihinya.