Kembali ke lobby hotel
"Aku sengaja mengajakmu bertemu denganmu pagi ini" memberi jeda singkat. Lalu berkata dengan amarah yang tertahan "Aku bertemu denganmu. Dan Alvin bertemu dengan ibumu".
Darren makin mengencangkan cekalan tangannya pada Kikan. Kali ini ia merasa dipermainkan oleh Kikan. Hatinya memanas. Lagi-lagi waktu berharganya terbuang kembali. Untuk apa ia sibuk sana-sini mencari info tentang gadis itu sampai ia harus meninggalkan sarapan favoritnya tadi pagi. Hanya untuk mendengar omong kosong yang keluar dari gadis di depannya itu.
Beruntunglah Kikan, karena ia masih memiliki hubungan pekerjaan dengan keluarganya tapi jika itu orang lain. Darren tak bisa memastikan bahwa orang itu akan baik-baik saja. Setidaknya orang itu harus merasakan terbaring di ranjang rumah sakit dengan satu pukulan telak darinya.
Sekarang ia harus segera pergi dari tempat ini. Ia harus bertanya langsung pada model kurang ajar itu. Ia disini repot mencarinya. Tapi model sialan itu malah datang dengan sendirinya. Langsung ke rumahnya. Benar-benar gadis yang hebat.
Darren melepaskan cekalannya pada Kikan. Lalu menatap nyalang Kikan dengan penuh kemarahan. Jari telunjuknya menunjuk wajah Kikan sembari berkata "Urusan kita belum selesai". Tanpa menunggu jawaban Kikan. Darren melangkah dengan terburu-buru menuju pelataran hotel. Lalu menunjuk salah satu bodyguard untuk mencari tau keadaan rumahnya.
Sebelum memasuki mobil. Bodyguard tadi datang menghampiri Darren lalu melapor. "Maaf Tuan Muda. Sudah terkonfirmasi bahwa Alvina Dayita memang benar datang ke mansion dan langsung bertemu dengan Nyonya. Tapi ia telah meninggalkan rumah sekitar 10 menit yang lalu. Menggunakan taksi". Tangan Darren pun mengepal. Mulutnya terus mengeluarkan umpatan-umpatan yang akan menyakiti telinga. Frustasi itulah yang ia rasakan sekarang. Darren langsung masuk ke mobil dan menyuruh sang sopir untuk segera menuju rumahnya.
Setelah Darren pergi dengan penuh emosi. Kikan memutuskan untuk kembali duduk. Tangannya masih memegang foto itu. Yang sepertinya tidak sengaja Darren tinggalkan. Ingatannya kini berkelana jauh. Mengingat pertemuan pertama kalinya dengan Alvin.
Waktu itu dirinya masih berumur 10 tahun. Ia dan keluarganya memutuskan untuk pergi liburan ke Korea. Ditengah persiapan untuk kepergiannya. Kikan malah ijin untuk pergi bermain ke luar . Ia ingin pergi ke taman yang letaknya tak jauh dari rumahnya. Kedua orang tuanya pun langsung mengijinkan dan berpesan agar Kikan berhati-hati dan tidak terlalu lama bermain diluar karena mereka harus pergi berbelanja untuk keperluan lainnya. Tapi dijawab Kikan hanya dengan gelengan kepala. Yang membuat sang ibu menghela nafas. Ia tau anak satu-satunya itu sangat suka bermain di taman. Dan ia tidak suka dengan kegiatan berbelanja. Akhirnya sang ibu mengelus halus rambut Kikan seraya berkata bahwa mereka akan menjemput Kikan di taman setelah mereka selesai berbelanja.
Kikan langsung mengeluarkan cengiran lebarnya. Menjadi anak satu-satunya merupakan kebahagiaan tersendiri untuk Kikan. Kedua orang tuanya selalu memanjakan dan memenuhi keinginannya. Terutama ibunya.
Setelah memberikan kecupan di pipi sang ibu. Kikan pun langsung berlari keluar. Sang ibu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan putri satu-satunya itu.
Ketika Kikan sampai di taman itu, ia melihat sekeliling taman. Taman bermain yang selalu ia datangi ini merupakan tempat favorit kedua setelah rumahnya. Rumahnya menjadi tempat nomor satu Karena di rumahnya dipenuhi dengan mainan kecuali ayunan. Ayunan memang tidak ada di rumahnya dan hanya ada di taman ini. Tapi ayunan favoritnya itu kini tengah di duduki oleh anak perempuan yang sangat cantik. Kikan harus akui itu, wajahnya terlihat sangat cantik, belum lagi rambut panjangnya berwarna hitam sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih.
Kikan berjalan dengan semangat yang menggebu-gebu, ingin cepat-cepat mengusir anak yang telah merebut kursi ayunan favoritnya. Dan segera duduk di kursi ayunan itu. Tapi ketika jaraknya semakin mendekat. Wajah anak itu terlihat memandang kosong ke depan. Di kedua pipi nya di penuhi dengan jejak airmata. Kikan pun menjadi urung untuk memarahi anak itu dan memilih duduk di kursi ayunan di sebelah anak itu. Kursi ayunan yang menurutnya sangat jelek karena sering berderit ketika berayun. Tentu saja bukan karena badan Kikan yang gemuk tapi karena ayunannya yang sudah tua.
Kikan curi-curi pandang ke samping. Melirik kembali anak itu. Memandang takjub akan kecantikannya. Angin yang berhembus menerbangkan sedikit rambutnya malah tambah mempercantik wajah itu.
"hmmmm... hai" ucap Kikan gugup berusaha berkenalan dengan anak itu. Tetapi tidak mendapatkan jawaban sama sekali. Bahkan menoleh pun tidak.
"Hai, siapa namamu?" Sapa Kikan kembali. Tampaknya Kikan belum ingin menyerah untuk mengetahui siapa anak perempuan itu.
"HALO......." Kikan berdiri di hadapan anak itu lalu mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah anak itu. Dan lagi-lagi yang didapatkan oleh Kikan hanya kebisuan.
Kikan menjadi kian bingung apa yang harus dilakukannya. Kikan tidak membawa coklat atau mainan yang bisa ia bagi dengannya. Kikan pun tertunduk diam dan melanjutkan bermain dengan ayunannya diiringi suara deritan tanpa ada obrolan lagi.
Awan kini berubah menjadi menghitam disertai rintik-rintik hujan. Angin kencang mulai berhembus Kikan bersiap berlari menerjang hujan untuk berteduh di pinggiran taman. Sebelum bersiap berlari Kikan melirik kembali anak di sebelahnya. Anak itu terlihat tidak mempedulikan hujan yang mulai turun. Ada rasa iba yang kembali timbul dihatinya. Dan Tanpa ingin bertanya terlebih dahulu. Kikan menarik paksa tangan mungilnya untuk berlari bersama menerjang hujan. Ada perasaan lega setelah mereka sampai di tempat yang teduh tanpa harus terjatuh. Mengingat mereka tadi berlari sangat kencang.
"Terima kasih" ucap Anak itu sangat pelan. Tetapi Kikan masih bisa mendengarnya. Kikan tersenyum akhirnya anak itu mengeluarkan suaranya.
"Sama-sama" jawab Kikann tersenyum sangat lebar sembari memperlihatkan susunan gigi nya yang rapih. Anak itu melirik Kikan sekilas sebelum kembali menundukkan kepalanya. Suasana hening kembali tercipta, Kikan kembali melirik anak itu. Ternyata anak itu agak pendek darinya. Yang kemungkinan usianya berada di bawahnya. Sekarang entah kenapa mulai timbul perasaan yang cukup aneh bagi Kikan. Rasanya ia ingin memiliki adik seperti anak kecil di sampingnya. Mungkin akan sangat menyenangkan jika ia memiliki seorang teman atau adik yang bisa diajaknya untuk bermain bersama. Dia akan membicarakan hal itu dengan kedua orang tuanya. Orang tuanya pasti tidak akan menolak keinginannya karena selama ini keinginan apapun selalu terwujud. Kikan tersenyum bangga.
Tak berselang lama, kedua orang tua Kikan datang menghampiri sembari membawakan payung untuk Kikan. Kikan melompat-lompat senang karena orang tuanya telah datang. Ia tak sabar untuk mengutarakan niatnya pada orang tua nya.
Ibu Kikan langsung menghampiri putrinya. Ia menggosok lembut rambut Kikan yang basah. Sebelum menyelimuti badannya dengan jaket tebal karena baju Kikan sangat basah. Sedangkan ayah Kikan berdiri di samping anak kecil tadi.
"Temanmu Kikan?" tanya Ayahnya. Yang langsung dijawab dengan anggukan pasti dari Kikan.
"Siapa namanya?" tanya Ayahnya kembali. Tetapi kali ini Kikan hanya menggelengkan kepala dengan sedikit kencang lalu wajahnya berubah murung. Ayahnya mengernyit heran. Bukannya tadi Kikan jawab bahwa mereka berteman tapi kenapa Kikan tidak mengetahui namanya.
Ibu Kikan yang melihat interaksi ayah dan anak itu hanya menggelengkan kepala. Langkahnya kini mendekati anak kecil itu. Ia berjongkok di hadapannya berusaha mensejajarkan tingginya. Tangannya dengan lembut mengelus rambutnya. Lalu dengan telaten melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan pada Kikan tadi.
Tapi yang terjadi selanjutnya, sungguh diluar dugaan. Terdengar bunyi isakan pelan yang keluar dari bibir mungil anak tadi. "mom" suaranya pelan dan bergetar.