Tapi yang terjadi selanjutnya, sungguh diluar dugaan. Terdengar bunyi isakan pelan yang keluar dari bibir mungil anak tadi. "mom" suaranya pelan dan bergetar.
Ibu Kikan menatap lembut anak itu, tangannya mulai mengusap pelan surai rambut hitam yang basah akibat terkena hujan tadi. "kamu merindukan ibumu? Aunty bisa mengantarkanmu pulang" dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya. Alvin mendongakkan kepala, menatap lekat kedua mata wanita paruh baya yang berada di hadapannya. Jarak yang sangat dekat diantara mereka, membuatnya bisa merasakan kesungguhan, ketulusan hanya dengan menatap netra hitam milik sosok dihadapannya.
Seketika itu juga tangis anak itu pecah, ia menangis dengan tersedu-sedu. Menunduk membiarkan air matanya keluar. Ibu Kikan refleks langsung memeluknya. Berusaha memberikan ketenangan, kehangatan. Ia tidak mempedulikan bajunya yang akan ikut basah akibat pelukan ini. Karena yang ia rasakan kini bukan kedinginan akibat bajunya basah. Tapi hatinya tercubit dan tergerak untuk memberikan perlindungan. Memberikan rangkulan kehangatan penuh kasih sayang. Ia seorang ibu, ia bisa merasakan bahwa sosok anak kecil dihadapannya telah rapuh. Sorot matanya terlihat sangat menyiratkan kerinduan sekaligus keputusasaan.
Tapi bagi anak itu...ketika mendapatkan pertanyaan tadi, otaknya berpikir keras. Ibu, apa yang harus ia rindukan dari ibu nya. Rindu untuk dimarahi kah?, rindu akan makiannya atau rindu untuk semua perlakuannya. Jawabannya tidak. Ia tidak merindukan semua itu. Tetapi ketika melihat sosok wanita di hadapannya dengan mata teduhnya, usapan lembutnya. Membuatnya luluh. Air matanya menetes kembali tanpa bisa di cegah. Hatinya bergejolak. Tubuhnya mendamba akan sentuhannya. Ia ingin selalu merasakan ini. Rasa tangan yang mendekapnya, rasa ketika jari-jari itu membelai lembut puncak kepalanya, semua sentuhan itu. Ia sungguh sangat merindukan sosok seperti ini.
Tangisnya semakin menjadi di tengah hujan yang turun kian derasnya. Seperti berusaha mengeluarkan beban yang sangat berat. Beban yang tak pernah ia bagi pada siapapun. Beban yang sangat menyesakkan dada.dan berharap tangisannya bisa sedikit mengurangi beban yang dirasakannya.
Ibu Kikan terus berusaha menenangkannya. Ia merasa iba hingga ikut menangis. Walaupun ia sendiri tak tahu penyebab tangisan ini. Tapi ibu Kikan tidak pernah melihat seorang anak menangis dengan jenis tangisan seperti ini. Tangis yang telah berubah jadi isakan menyayat hati.
Tangisan itu membuatnya seperti tak berguna sebagai seorang ibu. Karena sampai saat ini ia masih belum bisa menenangkannya. Bertanya lebih dulu pun, hanya akan menjadi hal yang sia-sia. ibu Kikan hanya bisa terus mengusap lembut punggung kecilnya. Menepuk-menepuk perlahan. Hingga...
"Mom membenciku" ucapnya ditengah isakannya. Ibu kikan melepas pelukanya agar bisa lebih jelas mendengarkan ucapannya. Tidak ada sanggahan apapun, ataupun jawaban untuk membalasnya. Ibu Kikan hanya menyingkirkan poni depannya yang basah. Menunggu kata-kata selanjutnya. Ia hanya ingin mendengarkan ucapan keluh kesah anak kecil di hadapannya. Karena ibu Kikan percaya, bahwa ucapan anak kecil selalu berkata jujur. Polos berbalut ketulusan.
"Aku selalu melakukan hal yang membuatnya semakin membenciku"
"mom benci ketika aku menjuarai lomba"
"Mom benci ketika aku tidak membantu mengerjakan PR Nadia"
"Mom juga benci ketika aku selalu mendapatkan hadiah"
"Intinya Mom benci padaku" ucap anak itu mengeluarkan keluh kesahnya.mata nya yang berkaca-kaca menatap Ibu Kikan.
"Mom lebih menyayangi Nadia, adikku"
"Aku hanya seorang kakak yang harus selalu mengalah, mengalah dalam semua hal"
"Apakah tugas seorang kakak seberat ini? Aku pun tidak pernah ingin dilahirkan sebagai seorang kakak"
"Aku tidak pernah bisa memilih keluarga yang melahirkanku"
"Tapi sekarang bisakah aku memilih untuk meninggalkan semua ini? Jika aku tidak bisa memilih keluarga yang melahirkanku, bisakah aku memilih keluarga yang mau menerimaku?" tanya nya dengan penuh permohonan. Hening sesaat. Hanya terdengar suara hujan yang cukup deras. Ibu Kikan mengalihkan pandangannya, mengedip-ngedipkan mata untuk mencegah cairan bening yang memaksa untuk keluar.selanjutnya ia memeluk erat, tubuh mungil anak itu disusul Kikan yang ikut menangis dan memeluk ibunya.
"Kau bagian dari keluarga ini, nak". Akhirnya Ayah Kikan mengeluarkan suaranya. Membuat ketiga nya menoleh. Ayah Kikan menggendong anak itu di tangan kirinya. Menghapus lembut air matanya.
"Besok kita akan menemui keluargamu, sekarang mari kita pulang" ucapnya kembali. Tangan kanannya menggandeng Kikan. Sementara istrinya berada di samping kirinya memegang payung yang cukup besar untuk menaungi semuanya. Tersenyum penuh haru. Sebelum akhirnya mereka semua berjalan menuju ke mobil untuk pulang ke rumah.
Keesokan paginya
Kedua orang tua Kikan kini berada di kamar Kikan yang penuh dengan nuansa teddy bear. Ibu Kikan sedang menata rambut anak itu. Menyanggulnya dengan rapih. Lalu memasangkan jepit berwarna putih agar serasi dengan dress yang dipakainya. Sedangkan ayah Kikan sedang memasangkan sepatu pada Kikan.
"Nah, sekarang kita sudah bersiap, bisakah kamu memberitahu, kemana kami harus pergi? " tanya Ayah Kikan.
"Ngomong-ngomong kami belum tau namamu, nak. Bisakah kamu memberitahu kami siapa nama cantikmu?"kini Ibu Kikan yang bertanya. Kikan hanya mengamati interaksi yang terjadi.
"Namaku Alvina Dayita, keluargaku biasa memanggilku Nada" ucap anak itu pelan.
Mereka mengernyit heran dengan nama panggilannya. Darimana asal panggilan 'Nada'. Bukankah akan lebih cocok jika nama panggilannya 'Al ataun Vina'. Tapi mereka tak ingin mengambil pusing. Sekarang tujuan mereka ingin mengembalikan Alvin pada kedua orang tuanya. Karena mungkin saat ini kedua orang tuanya tengah sibuk untuk mencari keberadaan anak ini.
Setelah Alvin menyebutkan alamat tempat tinggalnya. Orang tua Kikan terkejut bukan main. Karena alamat itu adalah alamat salah satu perumahan ellite di kota New York. Yang artinya Alvin bukanlah anak yang tergolong biasa-biasa aja.
Lalu mereka pun meluncur menuju alamat yang telah disebutkan oleh Alvin. Kini mereka berhenti di depan rumah dengan gaya yunani kuno. Kokoh dan besar. Ayah Kikan tercekat karena rumah di depannya adalah rumah salah satu pengusaha sukses di Amerika. Orang yang paling kaya saat ini yaitu milik pasangan Viona dan Dastan.
'apakah Alvin anak pasangan itu' batin ayah Kikan. Ayah Kikan melirik istrinya. Istrinya mengangguk. Meyakinkan mereka untuk masuk. Mungkin dengan masuk kedalam kesana. Pertanyaan-pertanyaan di dalam benak masing-masing akan terjawab.
Tapi saat ayah Kikan akan mengetuk pintu kayu jati di depannya. Alvin tertunduk diam. Seolah dirinya tidak ingin masuk kedalam. Ibu Kikan yang melihat itu, membisikkan Kikan untuk mengajak Alvin bermain di taman yang berada di belakang mereka. Kikan pun mengangguk mengerti. Sebelum menggenggam tangan Alvin dan menyeretnya menuju taman.
Pintu pun dibuka oleh seorang pelayan dengan muka pucat pasi. Sebelum pelayan itu mempersilahkan mereka masuk. Tiba-tiba terdengar suara yang menggema penuh amarah. Yang membuat mereka shock seketika.
"DIMANA CUCUKU VIONA???!!!! TAK CUKUPKAH KAU DENGAN MEMBUNUH IBUNYA"