For those who wondering kenapa aku bisa kesasar bareng Kim Taehyung yang ajaib ini, begini ceritanya.
Beberapa minggu yang lalu kampusku menerima beberapa proyek besar untuk anak arsitek. Sebagai salah satu anak arsitek, dosen menunjukku untuk mengurus salah satu dari beberapa proyek itu.
Setelah menghubungi Mama dan dapat restu--haha, kenapa rasanya kayak sedang dilamar ya?--aku mengiyakan tawaran dari dosenku itu. Selain alasan karena sayang melewatkan pengalaman kerja, siapa juga yang mau menolak perjalanan gratis ke Paris?
Come on. We are talking about Paris here.
Tahu rasanya sambil menyelam minum air? Secara harfiah aku belum pernah merasakan sih, hanya orang bodoh yang mau menyelam sambil minum air. Yang ada malah tersedak lalu tenggelam.
Tapi kurang lebih peribahasa itu menggambarkan perasaanku sekarang. Sehabis proyek nanti mungkin aku harus buat syukuran di rumah. Kata Mama, semua yang baik itu harus disyukuri, kan? Apalagi yang seperti ini.
Hanya saja, persepsi "baik" yang aku pikirkan tidak seindah kenyataannya. Terutama ketika malamnya seseorang mengirim pesan di LINE ku.
Kalau bisa mulai packing malam ini. Besok siang kita ke Incheon.
Siapa?
Kalau dosen, jelas tidak mungkin. Ayolah, dosen lebih sering bergaul dengan w******p ketimbang LINE bukan? Mereka terlalu tua untuk menggunakan LINE dan t***k bengeknya.
Orang iseng? Sepertinya bukan juga.
Penasaran, kucoba membuka display picture pada akun tersebut. Aku nyaris tersedak karena yang muncul justru foto laki-laki jangkung yang kemarin sempat adu mulut denganku di bus hanya karena membahas siapa yang turun duluan. Konyol, ya?
Terlebih lagi, dia itu tetanggaku.
Kim Taehyung. Anak arsitektur semester 7. Tampan, humoris, icon berjalannya jurusan arsitektur dengan fans yang hadir dari berbagai jurusan, mulai dari anak teknik sampai manajemen.
Heran. Mungkin dia sudah kaya duluan kalau jadi anak boyband dengan kulit mulus yang muncul di televisi.
Dia ganti LINE?
Aku baru saja mau mengetik pesan, tapi yang ada jendelaku tiba-tiba terbuka.
"Gue numpang ya?"
Aku hampir menoleh. Mungkin orang lain akan menjerit, tapi aku sudah cukup terbiasa dengan kejadian begini. Pelakunya pasti selama sama.
"Bang, lo nggak tahu yang namanya pintu?" kataku, bermaksud untuk menyindir. Tapi yang ada dia justru menjatuhkan diri di kasurku.
Oke, salahku. Mau berapa kali disindir pun laki-laki ini tidak akan mengerti.
"Bang Suho pulang?" tanyaku, kali ini Taehyung mengangguk.
"Seenak jidatnya aja pulang-pulang langsung tiduran di kamar gue."
"Pakai kamar yang lain bisa."
"Gerah ah, AC yang awet cuman di kamar gue. Yang lain lagi pada diservice semua," jaba Taehyung lagi. Kali ini dia mengubah posisinya dan duduk si pinggir kasur. "Lo udah packing belum?"
"Baru," aku menyeletuk santai, membuka lemari untuk mengambil tas di sana.
"Coba kalau gue nggak chat. Lo packing besok kali, kayak kesetanan."
"Ngapain juga harus nge-chat sih kalau lo juga ke sini, Bang."
"Ngekode nih biar gue nggak usah nge-chat, langsung datang aja?" Kini dia tersenyum. "Biar lebih sweet ya?"
Setan. Aku langsung menolehkan kepalaku, menatapnya dengan tajam. "Jangan sampai ini tas hiking gue melayang ke muka lo, Bang."
Tak perlu pikir panjang soal kalimat Taehyung barusan. Hanya angin kosong. Kalimat yang selalu dia pakai ke semua mahasiswi di kampus. Lucky me, aku cukup pintar untuk tidak jatuh dengan bullshit seperti itu. Sudah kenyang.
Taehyung sudah cekikikan di tempat. Dia kemudian berdiri, berjalan ke arahku lalu menepuk kepalaku. "This trip is going to be fun. Akhirnya gue dipasangin sama lo juga buat ngerjain proyek baru."
Oh, fun my ass ya, Bapak Kim Taehyung yang terhormat. Apanya yang fun kalau justru tersesat begini?
Bukannya di Paris, kita malah tersesat di Venesia.
Well, I know Venesia itu tempat yang bagus dengan tiap sudut kota yang bisa menjadikan adegan romantis dalam film menjadi kenyataan. Tapi tersesat itu jauh dari romantis. Dan terkutuklah aku kalau membayangkan adegan romantis bersama dengan kakak tingkat busuk seperti Taehyung.
Oh, tidak perlu. Aku memang sudah dikutuk.
Aku berusaha untuk menenangkan diri. Langit sudah berubah jingga dan kami tidak mungkin melanjutkan perjalanan. Parik dan Venesia itu cukup jauh. Nggak mungkin jalan kaki juga, kan?
Dan lagi, kami harus mencari money changer terdekat. Banyak yang harus dipikirkan dan aku sudah benar-benar lelah.
"Kalau gitu ayo cari money changer dulu. Kita makan atau apa dulu kek." Taehyung yang baru saja kembali dari toilet langsung mengeluarkan suaranya.
"Bang, gue tunggu sini aja deh."
Aku mendesah gusar. Sialnya, lututku benar-benar bergetar sekarang. Kenyataannya, berjalan berpuluh-puluh kilometer sambil membawa tas yang beratnya sepertiga berat badan itu bukan hal yang mudah. Aku juga bukan Hulk atau Thor dengan kekuatan super.
"Gue nggak kuat."
Taehyung diam sejenak. Matanya seakan memerhatikanku, tapi aku berusaha bersikap tak acuh.
"Kalau uangnya sudah ketukar, makan duluan aja. Gue belakangan aja," kataku lagi. Kuputuskan untuk duduk di pinggiran kolam air pancuran kemudian mendesah. "Duluan aja, Bang."
Setidaknya, dia tidak boleh membuatku makin pusing karena dia yang ikut-ikutan tidak terurus. Kalau memang aku harus pulang, aku akan pulang. Paling tidak aku harap Taehyung bisa tetap ke Paris dan mengurus proyek itu.
Tinggal 3 hari dan 8 jam lagi waktu yang tersisa untuk kami harus sudah sampai di Paris.
"Nggak bisa."
"Eh?"
Aku mengangkat kepala, melihat Taehyung heran. "Tapi, Bang, paling nggak harus ada yang udah..."
"Kita berangkat bareng. Jadi kita harus ke sana bareng," Taehyung langsung memotong ucapanku, "kita ngurus proyeknya bareng dan pulang bareng juga. Pokoknya lo harus bareng gue."
Andai dia ini pacarku atau orang yang kusukai, mungkin aku sudah lemas di tempat karena kalimatnya. Tapi, Taehyung bukan keduanya. Hanya saja kuakui kalau kalimatnya itu sedikit membuatku tersentuh.
Namun ada hal lain lagi yang membuatku tersentuh-sekaligus terkejut.
Taehyung memindahkan tasnya di depan d**a, kemudian dia berjongkok di depanku.
"Kita ke money changer bareng. Cepetan, gue gendong." []