Taehyung benar-benar menggendongku.
Sesering apapun aku protes dan minta diturunkan, dia tetap melangkahkan kakinya dengan mantap hingga kami tiba di salah satu money changer. Akhirnya setelah puluhan “turunin gue, Bang” yang keluar dari mulutku, kali ini Taehyung menurunkanku dan membiarkanku duduk di kursi tunggu.
Dia kemudian melepas tasnya dan meletakknya di kursi yang ada di sampingku. “Tunggu di sini ya, biar gue tukar dulu uangnya.”
“Mau ditukar semua?” tanyaku, dan Taehyung langsung menggeleng.
“Nggak sih. Paling cuman buat cari makan hari ini sama besok sekalian buat tiket pesawat sama malam ini kita cari penginapan. Pakai uang yang gue aja, setengah uang dari kampus disimpan aja.”
“Kalau gitu pakai duit gue juga. Gue tambah....”
“Duit lo simpan aja kalau nanti ada apa-apa, nggak usah.” Taehyung langsung memotong dengan cepat, membuatku diam.
“Tapi, Bang, nggak enak.”
“Begini aja lo nggak enak. Kemarin-kemarin lo nggak ngebukain pintu rumah biasa aja.”
Dia menyindir?
“Udah ah, gue ke sana dulu. Antriannya panjang. Tunggu aja, nggak usah kemana-mana.”
Aku hanya bisa mengangguk sementara Taehyung sudah melangkah pergi.
Kini aku merenung. Lucu rasanya memikirkan kejadian yang terjadi saat ini—dan menyebalkan juga. Beruntung Taehyung masih mau mengurusi keperluan seperti ini. Kukira dia akan tetap diam.
Kalau dipikir-pikir, Taehyung tipikal yang... oke, dia cukup baik. Tidak banyak laki-laki yang mau menggendong perempuan sementara bawaannya sendiri sudah cukup berat.
Ya, Taehyung memang baik. Tapi aku tidak menyukainya, dan aku tidak akan menyukainya. There is a reason for not doing it.
Kupejamkan mataku sembari menunggu Taehyung. Perlahan kantuk mulai menyerang. Rasanya aku sudah hampir masuk ke gerbang mimpi ketika sebuah tepukan terasa di pundakku.
“Tidurnya nanti aja. Jangan di sini.”
Meski sulit, aku mencoba membuka mata, menatap Taehyung yang berdiri di depanku.
“Yuk cari penginapan. Katanya di dekat sini ada.”
Dan aku hanya mengangguk, membiarkan Taehyung menarik tanganku pelan.
“Ngantuk ya? Tas lo biar gue aja yang bawa sini.”
Kalau saja aku sedang tidak mengantuk dan aku sama seperti kebanyakan mahasiswi di kampus, mungkin aku sudah jatuh cinta dengan perlakuannya padaku.
*
Mama pernah bilang, sebagus-bagus sesuatu, pasti ada keburukannya.
Dulu aku berpikir kalau yang namanya bagus, pasti bagus. The perfection that it has makes people call it “good”, right?
Tapi kenyataannya, aku salah. Mama—yang sekaligus perempuan, tentu saja—tidak pernah salah.
Pahitnya aku baru menyadari fakta itu ketika aku ada di sini. Kota romantis yang sering aku garis bawahi dengan stabilo di tiap novel yang kubeli nyatana tidak selalu indah seperti yang tertulis.
Mau minta contoh? Biar kuberikan. Contohnya seperti sekarang ini.
Aku tidak mengerti, entah memang karena ini sudah akhir tahun dan Venesia sedang ramai atau bagaimana, tapi hotel, motel, semuanya penuh. Ada beberapa lagi sebenarnya, tapi itu sangat jauh dari sini. And thank you very much for this feet, aku bahkan tidak yakin bisa berjalan lagi karena kakinya benar-benar pegal bukan main.
Oh, kesialannya bukan terletak pada kakinya atau rasa lelah yang aku rasakan. Bukan itu masalahnya. Tapi ini.
Ada satu penginapan yang tersisa, tepat hanya dengan satu kamar. Tapi sialnya, kamarnya hanya punya satu kasur.
Ini gila! Aku bukanlah wanita yang dengan seenaknya tidur dengan orang, baik pria maupun wanita. Meskipun itu hanya sekadar tidur.
Tidak. Tentu saja tidak. Aku bahkan berpikir dua kali untuk tidur dengan sepupuku. Posisi tidurnya terlalu sering berubah dan aku nyasir jatuh di tempat tidur.
Dengan sepupu saja aku enggan, apalagi dengan Kim Taehyung. Selain karena—ayolah, kami berbeda gender dan kami tidak memiliki hubungan apapun, kami tidak bisa seenaknya berbagi tempat tidur, kan? That joke got no jam.
Tapi yah, begitulah kenyataannya.
Aku sudah berganti pakaian sejak 15 menit yang lalu, dan Taehyung baru keluar dari kamar mandi dnegan handuk yang melingkar di lehernya. Aku nyaris melotot karena baru sadar dia seenaknya memamerkan perutnya.
“Bodoh, baju lo pakai, Bang! Gue masih suci!” teriakku sembari membuang tatapanku ke arah lain.
“Berisik!” Taehyung mengomel, tapi dia akhirnya tetap mengenakan kaus putih yang ada di dekat meja.
Aku akhirnya berbalik, menghela napas lega karena penampilan Taehyung sudah normal. Dia memang nggak buncit, honestly. Tapi aku ingin mataku tetap bersih. Bagaimana pun juga aku tetap manusia.
Mataku terus mengikuti langkah Taehyung yang kini sudah berada di dekat kasur. Tangannya bergerak melebarkan sleeping bag yang dia jinjing di tangannya tadi.
“Udah, buruan tidur. Besok kita coba cek tiket pesawat,” kata Taehyung tanpa menoleh ke arahku.
Sebenarnya agak kasihan juga sih. Entah perasaanku saja atau memang Taehyung kelihatan makin pucat sejak keluar dari kamar mandi tadi. Tapi kalau dia tidur di lantai...
“Bang, tempat tidurnya cukup buat berdua kok. Nggak usah tidur di lantai.”
Sebenarnya aku tidak mau mengatakan ini, karena maksudnya bisa menjadi ganda. Tapi percayalah, maksudku baik. Aku hanya tidak ingin ketika aku berada di posisi yang sama dengan Taehyung, aku disuruh tidur di lantai juga.
Kugeser posisiku lebih ke pinggir dan meletakkan guling di tengah kasur. “Ini batas. Jangan lewatin batas pokoknya.”
“Gue bisa tidur di lantai....”
“Jangan kayak orang bodoh, Bang. Lantai bukan tempat buat tidur. Anak bayi juga tahu,” aku memotong cepat. kutarik selimutku menutupi tubuh, menyisakan setengah dari wajahku. “Lagian juga lo nggak bakal apa-apain gue kan?”
Taehyung diam hingga beberapa detik berikutnya sebelah alisnya terangkat. Aku tahu apa yang akan dia ucapkan.
“Apapun yang mau lo bilang, jawabannya nggak, Bang. Nggak usah gangguin gue, udah ngantuk.”
Taehyung mengembuskan napas kasar, membuatku tertawa pelan. Please. Gini-gini gue udah kenal lo lama, Bang.
Dia masih diam, sekitar semenit mungkin, lalu aku merasakan kasur bergoyang. Taehyung sudah berbaring. Tidak ada percakapan apapun yang terjadi di antara kami. Aku memutuskan untuk berbalik ketika merasa mataku dan mata Taehyung bertemu.
“Malam. Makasih udah ngasih tempat supaya gue nggak tidur di lantai.”
Aku hanya bergumam, bingung untuk merespon bagaimana lagi.
Aku berusaha keras untuk memejamkan mataku, tapi nampaknya susah sekali. Ruangan terasa begitu hening, dan aku bisa merasakan Taehyung yang beranjak dari kasur. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan, tapi ketika dia berkata “halo”, aku bisa menebak ada .yang meneleponnya.
Dan, oh. Aku mendengar ketika dia menyebutkan nama “Ayeon” ditelepon.
Everything happens like how it usually does.
Setiap kali aku bersama Taehyung, entah apapun itu, pasti Taehyung akan pergi. Selalu begitu. Ini bukan seperti aku mengharapkan ada sesuatu yang terjadi. Aku bersyukur dan benci di saat bersamaan ketika fakta mengatakan aku wanita yang lebih dikuasai logika ketimbang emosi.
Logikaku berkata ada banyak alasan untuk tidak jatuh cinta pada laki-laki seperti Kim Taehyung, sebaik apapun dia.
Dan, yah, gadis yang tengah berbicara dengan Taehyung itu lah salah satu alasanku untuk tidak jatuh cinta padanya.
*