Aku baru bisa tidur jam 3 pagi ini.
Gila! Bisa kupastikan kantung mataku sudah lebih hitam dari hitam. Silahkan sebutkan warna apa yang lebih hitam dari hitam.
Don’t blame me, okay? Aku tidak tahu kalau tidur di kasur yang sama dengan seorang laki-laki sebegini tidak nyamannya.
Taehyung ngorok? No. Alien dengan wajah yang jauh dari alien ini tidur dengan pulas dan tenang. Tapi di situlah yang mengangguku.
Mati-matian aku mencoba untuk tetap memungguginya dan tidak berbalik untuk melihat wajahnya. Aku hanya takut ketika aku berbalik, dadaku jadi mengembang dan mengempis seenaknya karena wajah tidurnya. But damn, I did.
Aku hanya bisa diam ketika memandangi matanya yang terpejam. Apa tidak ada legenda di mana seorang putri yang menyelamatkan pangeran tidur? Gambaran itulah yang muncul dalam kepalaku.
Tanpa sadar aku melupakan waktu yang berlalu. Mataku tak kunjung terpejam dan hanya tertuju pada Taehyung. Wajahnya mulus, aku bahkan berani taruhan wajahnya lebih mulus dariku. Mungkin salahku karena tidak begitu peduli dengan wajahku saat SMA. Mata Taehyung terpejam rapat, masih tertidur. Tapi di sisi lain aku seakan bisa membaca kalau dia kecapekan.
Dan aku tertidur tanpa sadar dengan posisi yang masih berbalik, terlelap karena melihat wajah tidur Taehyung.
Tidak. Tidak. Aku bukan wanita m***m, percayalah. Kalau iya, mungkin aku sudah membuang tiap kain yang menempel di tubuh kakak tingkatku ini dan--
Okay, enough. Pikiranku mulai kacau.
Di saat seperti inilah mungkin keunggulan di mana logika lebih kuat dibanding emosi. Logikaku kembali memberiku ribuan alasan untuk tidak melakukan hal-hal yang aneh. Dan alasan aku nggak mungkin menyukai Taehyung. Dan nggak akan pernah.
Aku hanya dapat 3 jam tidur, terbangun karena ada suara rintihan di sampingku.
“Sial.”
Sudah pasti itu Taehyung, tentu saja.
“Bang, lo apaan sih pagi-pagi udah ngaduh-nga...”
Kalimatku terhenti begitu mataku terbuka, menangkap Taehyung yang dengan dahi yang sudah penuh keringat.
“Astaga, Bang. Lo kenapa?” Aku spontan berdiri dari kasur. Tanganku terulur memegang dahinya, dan rasanya kulitku terbakar.
Oke, yang itu terlalu berlebihan. Tapi serius, dahi Taehyung panas banget.
“Lo panas, Bang?” tanyaku. Taehyung hanya menggeleng pelan.
“Jam berapa sekarang?” Suara paraunya kedengaran. Baru kali ini aku mendengar Taehyung selemah ini.
“Jam 6, Bang.”
“Gue harus mandi.”
“Hah?”
Nampaknya untuk berdiri saja dia sudah kesusahan. Begitu meluruskan punggungnya, tangan Taehyung bergerak menyeka keringat, kakinya hendak mengambil langkah.
“Kita harus nyari tiket, kan?”
“Tapi lo sakit.”
“Gini-gini juga gue bisa jalan.”
Bodoh. Aku menepuk dahi ketika Taehyung tiba-tiba terjatuh di lantai, lututnya kini menempel dengan permukaan lantai.
“Itu yang lo bilang bisa jalan?” Aku mendumel. Aku memutar mataku malas ketika Taehyung memandangiku, sebelum akhirnya aku bergerak dan memapah tubuhnya—well, berat memang—dan kembali membaringkannya di kasur.
“Tiket urusan gue aja. Gue mau siap-siap dulu,” kataku. Kutarik selimut agar menutupi tubuhTaehyung. Di detik berikutnya aku mendengar suara ketukan pintu. Seorang laki-laki datang dan mengantarkan makanan. Dia menghilang begitu aku tersenyum simpul seusai dia meletakkan piring makanan di meja.
Kuambil makanan tadi, bermaksud untuk memberinya pada Taehyung. “Bang, lo makan dulu nih. Gue mau mandi....”
Langkahku berhenti seiring dengan kalimatku. Bisa kurasakan tangan yang besar kini menggenggam tangan kananku.
“Suapin gue, nggak kuat.”
Awalnya aku mau protes. Tapi sumpah, sesuatu membuatku tergerak begitu melihat wajah Taehyung yang kesakitan dan lemah itu. Aku akhirnya duduk di pinggiran kasur.
“Berdoa dulu, Bang.”
Taehyung memejamkan matanya, berdoa dalam hati selama beberapa detik sebelum akhirnya mulutnya menganga, minta disuapi.
Mungkin di saat seperti ini aku bisa mengomelinya, tapi aku sama sekali tidak melakukan itu. Aku hanya diam, patuh dengan permintaannya yang minta disuapi. Aku bahkan tidak berniat untuk mengingatkannya kalau sebelah tangannya masih menggenggam tanganku.
Kucoba memejamkan mata sejenak, melayangkan doa disertai permintaan kecil. Saat ini, aku hanya semoga logikaku tidak melemah dan terus mengingatkanku soal siapa aku dan siapa Taehyung.
Meski rasanya, genggaman tangan yang hangat ini sudah membuat logikaku hilang perlahan. []