Orang bilang jadi orang kaya itu enak. Bisa menghabiskan uang seenaknya. Tapi kali ini aku akan menyanggah pernyataan itu. Punya uang banak itu nggak enak. Sama sekali jauh dari enak, malah.
Dan rasanya aku makin tertampar dengan fakta kalau aku bau saja menghabiskan banyak sekali uang tiket pesawat di tengah high season dan fakta lain kalau aku bukanlah orang kaya banyak uang.
Hanya dalam waktu kurang lebih 3 jam aku sudah menghabiskan ratusan dollar hanya untuk tiket pesawat. Gila.
Satu tiket harganya sama dengan uang jajan dan ongkosku dari apartemen ke kampus sebulan. Kalau Mama tahu, mungkin aku sudah diomelin panjang kali lebar kali volume. Jadi luas balok.
Oh, astaga. Di saat seperti ini aku masih sempat ngereceh ya?
Tapi itu akan lebih baik ketimbang diam termenung dan membiarkan bagian otakku yang lain mengendalikan diriku dan malah membayangkan bagaimana sedapnya melakukan adegan romantis dengan pacar orang.
You know who I mean, don’t you?
Hari ini Taehyung lebih banyak diam. Dari kemarin, wajah pucatnya belum hilang. Mungkin kali ini dia kelihatan lebih tenang. Tangannya bersilang di depan d**a sementara kepalanya bersandar di punggung kursi, matanya terpejam.
Sejak melihat keadaan Taehyung yang begini aku jadi tahu kalau yang menyebalkan dan ajaib seperti dia pun punya titik lemah. Everyone do, right?
Sementara Taehyung tertidur, aku hanya bisa diam, pura-pura tertidur meski sebenarnya alam sadarku masih menyala 100%. Ingin sekali aku tidur dan beristirahat, tapi tidak bisa. Yang ada otakku justru berputar cepat, mereplay semua kelakuan Taehyung kemarin.
Bagaimana dia tertidur dengan pulas sesudah aku menyuapinya, bagaimana dia menggenggam tanganku dan memintaku untuk pergi sesudah dia tidur. Memangnya tetangga melakukan hal yang seperti itu, ya?
“Lo kan tetangga gue. Temenin gue dulu ya, baru pergi.”
Aku jadi memikirkan sebuah istilah konyol. Entah ini hanya pikiranku saja atau bagaimana, atau memang neighborzoned itu ada?
Haha! Lihat betapa konyolnya pikiranku sekarang. Aku benar-benar sudah tidak waras.
Aku menghela napas panjang, mengepalkan tangan yang ada di atas pahaku selagi menggumamkan kalimat peringatan dalam hati.
Ingat ya, Taehyung itu sudah punya pacar. You can’t and you should not fall in love with him.
Aku tahu. Aku tahu betul faktanya. Bahkan aku berani berkata akulah orang pertama yang tahu Taehyung berpacaran karena laki-laki itu menyatakan perasaannya di taman dekat rumah. Tepat ketika aku baru kembali dari kampus.
Tolong jangan bilang aku cemburu atau iri. Aku benar-benar tidak ingin memikirkan hal itu dan aku tidak ingin merasakannya.
Sometimes it hurts when you know the truth. Jadi untuk sekarang, biarkan ketidaktahuan yang aku sengaja ini. Ini pilihanku.
Mataku yang terpejam terbuka perlahan ketika aku merasakan sesuatu menggenggam tanganku. Tangan Taehyung.
“Bang, ngapain?” Aku berusaha untuk tetap bersikap biasa. Tahu kan, cara paling ampuh untuk tidak jatuh cinta adalah tidak tengah jatuh cinta. Chill. Chill.
Awalnya, itu keinginanku. Tapi sumpah, aku rasanya ingin menjerit ketika Taehyung menarik sedikit tubuhku kemudian menjatuhkan kepalanya pada bahuku.
Aku benci bibirku yang justru diam. Dan aku lebih benci lagi untuk mengakui kalau aku sama sekali tidak melakukan apapun untuk membuat Taehyung memindahkan kepalanya. Aku membiarkan kepala itu jatuh di sana. Di pundakku.
“Jadi bantal gue ya? Pegal banget.”
Kalimat yang sama sekali belum cukup untuk dijadikan alasan atas dadaku yang berdetak cepat. Sialan lo, Bang!
Kalau bisa aku ingin berteriak. Tapi logikaku mati. Sungguh.
Tangan Taehyung masih menggenggam tanganku, tidak peduli meskipun kita tengah ada di pesawat dengan pramugari yang mondar-mandir, yang sudah pasti melihat aku dan Taehyung.
Tidak ada percakapan yang terjadi di antara kami. Aku hanya diam, berusaha meredam jantungku yang mungkin saja sudah berdetak cukup kuat sampai ada kemungkinan Taehyung mendengarnya. Tapi dia tidak melakukan apapun.
Matanya sudah terpejam dan dia tertidur. Tertidur di bahu tetangganya. Bahuku.
Akan kuakui sebuah hal yang konyol. Aku berbohong.
Aku bohong pada diriku sendiri kalau aku tidak menyukai Taehyung. Namun setidaknya aku berusaha untuk tidak membiarkan siapapun tahu akan hal itu.
Cinta bertepuk sebelah tangan itu menyakitkan. Tapi jatuh cinta dalam diam dengan seseorang yang sudah menambatkan hatinya pada orang lain jauh lebih sakit.
Jadi, sudah sampai mana ya kira-kira aku menyakiti hatiku sendiri?
Aku ingin berhenti. Ingin rasanya aku berteriak pada Taehyung dan mengatakan kalau aku lelah. Aku mau berhenti.
Aku... menyerah.
Rasanya dadaku terasa begitu sesak, dan aku memutuskan untuk melenyapkan rasa sesak itu dengan mengembuskan napas kasar.
Aku menyerah.
Kalimat itu terdengar seperti bisikan dari logika di dalam kepalaku, kemudian semua terasa kosong.
Aku menyerah.
Sudahlah, aku menyerah.
Aku menyandar kepalaku, membiarkan kepalaku menempel pada kepala Taehyung. Persetan sudah. Semuanya juga akan berakhir sebentar lagi.
Ini akan jadi hari terakhir di mana acara tersesat bersama Kim Taehyung.
Ini akan jadi hari terakhir aku membohongi diri sendiri.
Ini akan jadi hari terakhir bagiku untuk tidak jatuh cinta pada kakak tingkat aneh bin ajaib ini.
Bang Taehyung, kalau lo bisa baca pikiran gue, bacalah.
Aku menyesal karena kita tersesat di sini. Aku menyesal karena akhirnya logika ini kalah telak sama emosi karena Taehyung selalu di dekat aku.
I hate to admit this, but I hate that I got lost with you.
Acara nyasarnya kita di Venesia sudah tamat, Taehyung.
Tapi rasanya perasaanku ini masih belum menemukan titik tamatnya. []
[fin.]