Alarm berbunyi membuatku segera bangun. Di hari pertama MOS ini, aku mendapat tugas untuk menjaga gerbang. Itu kenapa aku harus berangkat lebih awal. Jam setengah enam aku sudah berada di depan gerbang bersama Reno dan Kina. Reno Erlangga Muda adalah saudara kembar Rani Erlangga Mudi. Mereka sama-sama kelas sebelas sekarang. Berbeda dengan Rani yang cerewet, Reno tidak banyak bicara. Dengan postur tinggi dan tegap, dia tampak berwibawa.
Sementara itu, Kina adalah gadis yang menggebu-gebu dan terkenal galak, pas dengan wajahnya yang garang dan tegas. “Adek itu jalan apa ngesot? Cepat! Waktu adalah uang!” teriaknya pada gerombolan peserta MOS yang memakai topi kerucut berwarna-warni.
“Awas tasnya jatuh,” ucapku saat melihat mereka lari tergopoh-gopoh.
“Kasih salam! Punya sopan santun, kan?” kata Kina saat mereka sudah sampai di depan gerbang.
“Selamat pagi, Kak!” sapa mereka dengan terpaksa.
“Senyum! Pelit amat kasih senyum!” teriak Kina lagi dengan geram.
“Pagi!” jawabku yang juga tersenyum ke arah mereka.
“Pagi,” jawab Reno agak datar.
Melihat anak-anak itu, aku jadi teringat dua tahun yang lalu saat aku berada di posisi mereka. Aku benar-benar geram dengan panitia MOS yang serasa ingin sekali dihormati. Kami dituntut mengeluarkan senyum palsu kepada mereka dan berucap salam sampai pada akhirnya kami dimarah-marahi hanya karena kesalahan kecil. Aku masih ingat Kak Tari yang memarahiku sampai cipratan-cipratan ludah keluar dari mulutnya, benar-benar ingin kugampar waktu itu.
Positifnya dari MOS ini sebenarnya tentang kekompakan satu kelompok, pembelajaran disiplin, dan pelatihan kesabaran, tetapi tidak semua sadar. Terlalu banyak kemarahan yang dipendam oleh peserta MOS dengan sistem yang seperti ini, nantinya itu bisa menjadi dendam. Awalnya aku ingin masuk menjadi pengurus OSIS pun salah satu alasannya karena dendam. Walau di samping itu, aku memang ingin berorganisasi. Dendam itu luntur saat aku mulai diterima menjadi pengurus OSIS saat semester dua kelas sepuluh. Ternyata kami masih tetap dididik dengan suara keras oleh OSIS kelas sebelas. Aku rasa semua tidak ada akhirnya, siklus ini tidak akan terhenti jika sistemnya tetap sama.
“Kak Angga, Kak Reno, kenapa kalian diam? Coba panggil anak-anak yang di sebelah kanan itu, aku akan meneriaki yang sebelah kiri,” kata Kina yang segera berpindah tempat.
Kami—semua panitia—memang diharuskan memanggil masing-masing dengan sebutan “kakak”. Entah siapa yang memulai aturan ini, tetapi alasannya memang agar adik-adik kelas juga memanggil kami dengan panggilan itu.
“Adek cepat, ya, sudah hampir jam enam!” teriakku tanpa nada marah seperti Kina.
“Kalian mau sekolah apa jadi model! Jalan aja kayak lagi catwalk! Buruan, Kakak serak tahu teriak terus!” teriak Kina yang aslinya ingin aku tanggapi: Serak gara-gara kamu sendiri, kan? Siapa suruh teriak-teriak terus.
“Segera berbaris di depan aula, ya, Dek,” ucap Reno dengan tegas.
Sementara itu, aku mencari-cari kelompok HPP, mereka seharusnya sudah datang. Terlebih aku sudah kangen dengan Hana. Aku tidak sabar ingin bertemu lagi dengannya.
“Bangga!” teriak Sella yang datang bersama yang lain dengan topi berumbai-rumbai.
Aku tidak memperhatikan Sella, tetapi mencari-cari Hana. Tidak ada. Dia tidak bersama kelompoknya. Di mana dia gerangan?
“Bangga, bagaimana penampilan kami? Sangat membahana, bukan?” ucap Sella dengan senyum dan mata berkedip-kedip serasa ingin menunjukkan alis tebalnya yang sepertinya baru dia lukis.
“Kalian baris dulu sana!” ucapku menunjuk ke arah depan aula.
“Ya udah Bangga, Sella and friends duluan, ya,” ucapnya yang segera berjalan masuk diikuti yang lain di belakangnya.
“Kak Angga! Tadi itu kelompok yang kamu bimbing?” tanya Kina yang berjalan ke arahku.
“Iya,” jawabku seraya mengangguk.
“Cewek tembam itu pakai make-up! Dia harus dihukum,” kata Kina dengan nada kesal.
“Sudah jam enam, semua yang datang setelah ini kita anggap telat,” jelas Reno yang memperhatikan arloji di tangannya.
Aku benar-benar khawatir, bukan karena Sella akan dihukum karena memakai dandanan khas ibu-ibu, tetapi karena Hana belum juga datang. Aku takut dia disuruh lari memutari lapangan. Bagaimana mungkin aku tega melihatnya berlari di lapangan yang panas? Ini semua salahku karena tidak menasihatinya untuk bangun lebih pagi. Sebenarnya aku sudah mengatakan pada Sella agar semua anggota kelompoknya berangkat bersama, tetapi mereka pasti memilih meninggalkan Hana daripada telat bersama, kurang kompak!
Tidak lama kemudian, kami para panitia berbaris dari depan aula menuju lapangan upacara yang ada di belakang. Semua peserta MOS berlari dan mengucapkan salam kepada setiap panitia yang berdiri. Aku menyadari panitia lain berteriak dengan tampang congkak, sedangkan aku hanya menjawab salam mereka dengan nada biasa.
“Lari, Dek!” teriak beberapa panitia dengan keras.
Pada barisan terakhir ada sekelompok peserta yang terlambat, mereka sengaja dipisah. Aku melihat Hana di sana, dia berlari bersama yang lain dan mengucapkan salam pada setiap panitia. Aku terdiam memandangi senyumnya sampai dia tiba di depanku.
“Selamat pagi, Kak!” ucapnya dengan manis.
Detak jantungku serasa terhenti, waktu serasa melambat saat dia ada di depanku. Aku ingin sekali melangkah dan menjangkau tangannya yang lembut, membuang topi anehnya, melempar tas busuknya, dan memutuskan kalung kerangnya. Aku ingin memandangnya lebih dekat dan mengatakan, “Aku suka kamu, Hana!” Kemudian dia akan membalas, “Aku juga suka Kakak.”
“Angga! Ayo ikut upacara!” Tepukan Gio di pundakku membuatku sadar akan lamunanku.
Saat upacara berlangsung, aku hanya memperhatikan Hana yang berbaris dengan anak-anak yang telat lainnya. Aku memandangnya, dia seperti tak kenal panas. Dia tetap tersenyum walau pidato membosankan Kepala Sekolah menggema cukup lama. Wajahnya tampak tetap bersinar, bersih, dan enak sekali dipandang. Entah kenapa rasa panasku jadi hilang melihatnya yang menyejukkan hati.
Upacara selesai, semua panitia mulai memunculkan seringainya. Ini waktunya menghukum para peserta yang melanggar aturan, sedangkan siswa-siswi selain panitia MOS yang juga masuk hari ini menonton dari berbagai tempat. Setidaknya mereka juga ingin melihat dendam-dendam mereka tersampaikan oleh kami sebagai wakilnya. Tentu saja aku ingin melihat Hana. Aku sengaja berada di belakang Kina yang tengah menginterogasi para peserta yang telat.
“Kenapa kamu telat?” ucap Kina dengan nada tajam sembari melotot.
“Kesiangan, Kak,” jawab cowok jangkung yang wajahnya dipenuhi jerawat itu.
“Alasan klasik! Tidak bermutu! Kamu mau jadi apa kalau kerjaan kamu cuma kesiangan? Kenapa tidak sekalian kesorean atau kemalaman, begitu?” teriak Kina yang tidak dijawab oleh cowok yang wajahnya sudah memucat itu.
Hana tampak tenang dibanding semua peserta yang lain. Dia tetap tersenyum walau sudah mendengar teriakan Kina dan ocehannya yang pedas itu. Sekarang giliran dia yang ditanyai, pujaan hatiku tidak akan goyah dengan omelan Kina. Aku jamin!
“Kenapa kamu telat?” tanya Kina pada Hana.
“Saya memang telat, Kak,” jawabnya santai.
“Maksud Kakak, alasan kamu telat itu apa?” tanya Kina lagi.
“Kadang kita membutuhkan alasan untuk mengambil keputusan, jadi menurut saya, Kakak harus bisa mengambil keputusan dengan alasan yang baik,” jawab Hana tersenyum manis pada Kina.
“Kamu lagi ceramah? Kakak sedang tanya! Jawab yang benar!” teriak Kina mulai kesal.
“Jawaban yang benar adalah jawaban yang sesuai dengan hati, jangan bohongi perasaan, Kak,” ujar Hana lagi semakin melantur.
Beberapa peserta lain terlihat menahan tawa karena jawaban Hana yang tidak sesuai dengan yang Kina inginkan.
“Kamu tidak punya sopan santun! Kalau ditanya jangan congkak begitu!” teriak Kina yang sepertinya sudah kehilangan kesabaran.
“Sopan dan congkak adalah hal yang berbanding terbalik, seharusnya Kakak pilih salah satu saja,” jawab Hana lagi.
Akhirnya semua peserta lain tidak bisa menahan tawa mereka lagi, beberapa dari mereka mengeluarkan tawa yang langsung membuat Kina geram.
“Jangan tertawa! Siapa yang menyuruh kalian tertawa?” tanya Kina memandang ke arah yang lain. “Yang tadi merasa tertawa sekarang push-up dua puluh kali!” suruh Kina sembari menunjuk anak-anak yang tertawa.
Sementara Kina menghitung push-up anak-anak yang menertawainya, aku mendekati Hana. “Kamu jangan telat lagi besok, ya,” ucapku sembari menyentuh lengan atasnya.
“Besok Selasa,” ujar Hana.
“Iya, Selasa dan Rabu jangan telat lagi,” kataku seraya tersenyum padanya.
“Setelah Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu,” jawabnya. “Tidak perlu mengajariku, anak TK juga pasti bisa.”
Aku menelan ludah karena merasa bingung sendiri dengan jawaban dia. Sebenarnya aku ingin sekali menanyai di mana rumahnya dan maukah dia dijemput olehku setiap hari, tetapi aku salah tempat mengatakan itu jika di sini. “Baiklah, jangan diulangi lagi besok!” kataku.
Hana mengangguk dan tersenyum padaku. “Kadang kesalahan butuh diulangi agar paham, jadi aku akan mengulanginya besok.”
Aku tidak fokus mendengarkan jawabannya karena aku terlalu fokus pada bibirnya yang tersenyum. Seakan jantungku berhenti berdetak saat matanya menatapku dan senyumnya ditujukan padaku. Sungguh aku tidak menyangka bahwa aku seberuntung ini bisa bertatapan dengannya. Ah, Hana, kamu kok imut sekali?
“Aku memakai make-up agar dilihat Bangga!” teriak seseorang dari belakang.
Aku menoleh dan melihat Sella tengah berdiri di tengah lapangan dengan kumpulan panitia mengerubunginya. Gadis berpipi tembam itu menangis ketika para panitia bertubi-tubi melontarkan kalimat tajam kepadanya.
“Sella begitu mengagumi bendera merah putih, dia sampai mau berdiri di depan tiang bendera dan kakak-kakak mujinya,” kata Hana dengan nada takjub.
“Kak Angga, sini!” teriak salah seorang dari panitia yang mengerumuni Sella.
“Hana, kamu ikuti perintah Kak Kina, ya! Kak Angga percaya padamu,” kataku pada Hana dan segera berlari ke arah depan tiang bendera.
Aku melihat Sella yang menangis sehingga eyeliner-nya luntur dan bedak-bedaknya juga luntur. Dia melihatku dan tetap menangis.
“Ini Kak Angga yang buat kamu jadi melanggar aturan?” tanya Erna.
Seketika Sella langsung memelukku dan menangis, make-up-nya mengotori jas almamaterku.
“Bangga! Maafkan Sella! Ini semua salah Sella! Bangga jadi disalahkan sama kakak-kakak jahat ini,” ujar Sella sembari menangis.
“Sudah, tidak perlu menangis!” kataku yang sebenarnya ingin melepaskan pelukannya. Akan tetapi pelukan Sella semakin erat, membuatku hanya bisa diam dan mendengar curhatan serta suara tangisannya.
Semua orang seakan melihatku, panitia, peserta, dan bahkan siswa-siswi lain yang tidak ada pelajaran hari ini. Aku menjadi pusat perhatian siang ini. Dan pastinya, pulang-pulang aku akan dimarahi ibuku karena dandanan Sella mengotori jasku. Andai yang memelukku adalah Hana, pasti kebahagiaan yang datang, bukan rasa malu seperti ini.
***
Risa memakai rok kali ini. Aku amati dia tidak nyaman dengan roknya itu. Ya, pada acara-acara tertentu dia memang harus pakai rok. Aku jadi ingat saat dia tidak mau masuk sekolah selama seminggu gara-gara ditegur guru untuk memakai rok. Ayah dan ibunya datang ke sekolah untuk menjelaskan semuanya, akhirnya Risa dibolehkan sekolah memakai celana.
“Hari pertama ini kalian sudah bekerja dengan baik, hanya saja tadi ada penundaan jadwal games karena waktu istirahat yang memanjang. Selain itu, banyak panitia kelihatan bingung dengan apa yang harus diperbuat. Jangan sampai kalian tidak bekerja. Fokus pada pekerjaan kalian masing-masing, mengerti?” terang Radit seraya memandang ke arah kami dengan matanya yang sayu.
“Mengerti,” jawab beberapa orang.
“Untuk bagian bimbingan mentalnya tadi kurang, banyak peserta yang masih terlihat menyepelekan kita. Cari-cari kesalahan mereka untuk bisa jadi bahan bimbingan! Jangan sampai ada peserta yang tidak disalahkan, semua harus mendapat hukuman. Khususnya untuk bagian materi. Kalian harus bisa marah dengan baik dan benar,” lanjut Radit.
“Kami pun butuh support dari yang lain. Aku tadi mendapati ada panitia yang menahan-nahan tawa saat kami sedang mulai melakukan ‘itu’. Seharusnya kalian juga ikut andil saat kami melakukan pekerjaan mulia itu! Beberapa juga ada yang melakukan gema. Jadi saat aku bilang, ‘Semua yang tidak pakai sabuk push-up sepuluh kali!’ Tiba-tiba di belakangku ada yang buat gema-gema, ‘Sepuluh kali, sepuluh kali!’ Itu sama sekali tidak lucu!” ungkap Kina yang kemudian menggebrak meja.
“Santai, dong, Kin! Gue kan cuma bercanda, abis lu lucu teriaknya,” sahut Gio tiba-tiba mengakui perbuatannya.
“Hei, Gio! Jangan mentang-mentang kamu ganteng dan aku suka sama kamu, kamu bisa enak-enaknya melakukan itu, ya!” teriak Kina menunjuk ke arah Gio.
“Ciye!” teriak yang lain tiba-tiba disusul tepuk tangan menggema, sedangkan aku hanya melirik ke arah Gio dengan menahan tawa karena wajahnya memerah.
“Oke, diam semua! Intinya sekarang kita harus saling support, jangan saling menyalahkan! Saling mengingatkan juga. MOS ini untuk mendidik adik-adik kita. Untuk kelas sebelas jangan malu-malu mengeluarkan aspirasinya, jeli juga untuk lihat bibit-bibit pengganti generasi kita, mengerti?” sahut Radit menengahi.
Semua mengiyakan kata-kata Radit itu, kemudian rapat dilanjut dengan pembacaan agenda untuk besok oleh bagian acara. Aku tidak begitu memperhatikan karena pikiranku sekarang ada pada Hana. Semoga Hana besok tidak telat lagi! Walau aku tidak khawatir dia dibentak lagi oleh Kina—secara dia punya jawaban tidak terduga jika ditanya—aku tetap kasihan jika dia diperintah untuk berlari memutari lapangan. Dia bisa capek dan berkeringat, kan kasihan.
“MOS Bunga Bangsa Sembilan Belas!” teriak Rani menyuarakan yel-yel tanda rapat selesai.
“Tebarkan senyum gembira! Satu hati, satu jiwa!” teriak kami berdiri sembari tangan melakukan gerakan-gerakan seperti pahlawan bertopeng di kartun Shinchan.
Setelah itu, kami mulai bersiap untuk bubar, tetapi aku malah diolok-olok oleh yang lain karena insiden pemelukan paksa oleh Sella itu. Semua tampak senang mengolokku, terutama Gio.
“Ciye, yang udah move on!” teriak Gio mendorong pelan lenganku.
“Kakak Angga, peluk aku juga, dong!” teriak Erna yang kemudian menertawaiku.
“Tadi aku lihat wajahnya Kak Angga, lucu banget,” ujar Rani. “Kak Angga itu kayak serba salah gitu. Mau ikutan meluk juga, tapi banyak orang, mau menyingkir juga kasihan anaknya.”
“Itu baru satu, besok ada lagi yang begitu pasti. Angga kan Kakak Panitia MOS paling ganteng,” kata Gio tertawa.
“Kayaknya kamu lebih ganteng dariku, Gio,” sahutku dengan datar.
“Ciye!” teriak yang lain padaku yang benar-benar merasa serba salah.
“Bilang ganteng ke guenya kalau lagi berdua aja dong, Ngga!” ucap Gio malah meladeni dengan candaan sembari menepuk pundakku.
“Sie Dekdok, tadi difoto kan momen mesranya?” tanya Radit ikut-ikutan.
“Tenang, sudah aman, Pak Ketos!” jawab Aldi yang berbadan gempal dan pendek itu.
Selama yang lain mengolok-olokku, aku memperhatikan Risa yang sama sekali tidak ingin ikut menertawaiku. Biasanya dia selalu ikut menertawakan yang lain kalau ada yang sedang diejek. Kini Risa hanya diam, dia malah sibuk siap-siap untuk pulang. Sepertinya dia memang merasa tidak nyaman dengan roknya itu sehingga ingin cepat-cepat pulang. Risa sama sekali tidak bicara denganku hari ini.
***
Di rumah, aku baru sempat mengecek ponsel dan seusai dugaan, banyak sekali notifikasi dari Sella. Dia mengirim stiker menangis dan penyesalan di aplikasi chatting, juga mengutarakan kesedihannya karena dihukum oleh panitia agar memunguti sampah yang berserakan di lapangan. Aku hanya menjawab dengan satu kata: sabar.
Ayah belum pulang dan Nala sedang belajar di kamarnya, aku pun hanya bisa berbaring di kasur sembari membayangkan hari ini. Hana menyapaku—padahal memang dia harus menyapa semua panitia—dan menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Aku sesungguhnya penasaran, kenapa dia bisa melontarkan jawaban-jawaban yang lucu dan menggemaskan? Apakah dia peserta kompetisi stand-up comedy? Atau sesungguhnya dia adalah bidadari dari kayangan yang masih belajar bahasa manusia? Sebenarnya tidak penting dengan kata-katanya yang mudah dimengerti atau tidak, yang jelas senyumnya telah memalingkan duniaku.
Tiba-tiba terlintas di benakku tentang kata-kata Radit tadi sore. Sie Dekdok, tadi difoto kan momen mesranya? Aku rasa Aldi juga memotret Hana. Kenapa aku tidak menanyakannya saja? Aku kan jadi bisa melihat wajahnya setiap saat. Langsung saja aku kirim pesan pada Aldi.
Aldi, kamu punya foto anak-anak yang tadi pagi telat, kan? Ada satu cewek yang telat, bisa kamu kirim ke aku foto dia? Kalau bisa cepat, ya!
Aku menunggu beberapa menit dan Aldi pun mengirimkan sebuah foto untukku. Mataku membelalak dan senyumku melebar saat melihat foto itu. Aku tengah menyentuh lengan Hana dan dia menatapku dengan senyuman. Astaga manis sekali! So sweet! Tidak terasa aku sudah mencium-cium layar ponselku.
Entah berapa lama aku memperhatikan foto itu sampai baterai ponselku mati. Akhirnya aku mengisi daya ponsel, kemudian berbaring untuk tidur dengan memeluk guling membayangkan guling itu adalah Hana, tetapi entah kenapa tiba-tiba jadi ingat pelukan dengan Sella. Angga, fokus ke Hana! Tidak lama, aku berhasil terlelap karena hari ini memang cukup melelahkan bagiku.