Hari kedua MOS dimulai. Aku berangkat tepat waktu dan kali ini berada di ruang OSIS karena sekarang giliranku untuk menjaga ruangan ini. Erna sedang sibuk mengetik, dia memang sekretaris yang sibuk. “Angga, kamu belum sarapan, kan? Makan dulu aja,” kata Erna memanggilku.
Aku pun mengambil nasi bungkus di dalam kardus yang sudah disediakan oleh bagian konsumsi. Aku duduk dan menyantap nasi bungkus itu. Kebanyakan dari kami memang tidak sarapan dulu sebelum berangkat ke sini.
“Ngga, Hana itu anak kelompok bimbinganmu yang rada-rada itu, kan?” tanya Erna.
Jahat sekali Erna mengatakan bidadariku rada-rada. “Iya, memangnya kenapa?” tanyaku yang sudah selesai makan dan membuang bungkusnya ke tempat sampah.
“Umurnya sudah delapan belas,” kata Erna, membuatku kaget.
“Lah, kok bisa? Salah kali datanya. Dia seharusnya lima atau enam belas, kan?” tanyaku mendekati Erna.
“Tidak, dia benar-benar delapan belas,” kata Erna, menunjukkan data tahun lahir Hana.
“Dia tidak naik kelas tiga kali, ya?” tanyaku.
“Ya, mungkin saja begitu,” jawab Erna sembari mengangguk. “Pantas saja, sih.”
Pertama kali bertemu dengan Hana di stasiun aku sudah menduga bahwa umurnya sama denganku sehingga aku tidak pernah berpikiran dia akan menjadi adik kelasku. Sekarang aku tahu bahwa dia ternyata satu tahun lebih tua dariku. Mau tidak mau aku akan menyuruhnya memanggilku nama saja, syukur-syukur nanti dipanggil “sayang”. Astaga, ini masih siang, Angga! Tidak usah mimpi! Setidaknya aku akan berusaha agar itu terjadi. Mimpi akan menjadi nyata.
***
Ini adalah waktunya para peserta MOS meminta tanda tangan pada para panitia. Aku bersama Gio berada di wifi corner, menunggu anak-anak itu mendekati kami dan meminta tanda tangan.
“Gue capek bikin tanda tangan mulu,” kata Gio, memijat tangan kanannya dengan tangan kiri.
“Payah, katanya mau jadi bintang, vokalis ternama, kayak begitu aja capek,” sahutku.
“Daripada lu, dua bulan belum ketemu cewek yang kasih tanda hati ke lu lagi,” sindir Gio.
Sebenarnya aku ingin menceritakan tentang Hana padanya. Akan tetapi, aku yakin dia pasti bakal berusaha mati-matian mendekatkan aku dan Hana. Aku sama sekali tidak butuh bantuan Gio, aku bisa menaklukkan Hana sendiri.
“Bangga! Minta tanda tangannya!” kata anak yang tiba-tiba datang dan berdiri di depan kami.
Gio menyikutku. “Cantik banget,” kata Gio.
“Ih, Kak Gio jangan goda-goda aye, ya! Aye cuma suka sama Bangga seorang,” sahut Sella mengibaskan rambutnya yang kayak Dora itu.
“Memang cantik pakai banget,” jawabku.
“Ah, Bangga, aye jadi malu, jangan gitu, ah,” kata Sella dengan centil.
“Bukan lu! Belakang lu, tuh!” ujar Gio menyadarkan Sella dari kepercayaan dirinya.
Siapa lagi kalau bukan Hana. Dia berlari ke arah kami membawa buku yang fungsinya untuk meminta tanda tangan. Aku sama sekali tak berkedip memperhatikannya datang. Apa dia datang untukku? Apa dia ingin meminta tanda tanganku? Debaran di d**a kini sungguh terasa.
“Sella, buku kita tertukar,” kata Hana menunjukkan buku bersampul kuning itu.
“Astaga, untung bukan keimutan kita yang tertukar, ya,” jawab Sella yang segera menukar bukunya.
“Kalau menukar rupiah ke dolar, kita tidak untung, Sella,” jawab Hana dengan cemberut.
Aku tidak mendengarkan percakapan Sella dan Hana, aku lebih fokus pada ekspresi wajahnya. Kenapa dia bisa sangat menggemaskan seperti itu? Aku benar-benar heran. Rasanya aku ingin mengantonginya, lalu aku bawa pulang. Kalau lihat dia terus aku bisa komplikasi; diabetes karena dia terlalu manis, gagal jantung karena auranya memukul detakanku, kanker otak karena pikiranku sepenuhnya terisi olehnya.
“Kamu yang cantik, sini Kakak kasih tanda tangan,” goda Gio ke Hana.
“Jangan menggodanya,” kataku tidak terima.
“Terserah, dong, kok lu yang marah,” jawab Gio.
“Profesional, dong. Kita kan sedang jadi panitia, jangan kayak begitu,” kataku ke Gio.
“Oke, deh.”
“Hana yang manis, sini Kakak kasih tanda tangan,” kataku ke Hana.
“Lu juga sama aja!” kata Gio langsung mendorong kepalaku.
Aku mendengar Hana tertawa kecil menyaksikan kami berdua. Apa? Demi Nyi Roro Kidul penguasa Laut Selatan, aku berhasil membuatnya tertawa? Ah, Hana, aku makin suka sama kamu!
“Jadi menurut Kak Gio, Hana itu cantik, menurut Bangga, Hana itu manis. Kenapa nggak aye aja yang jelas-jelas cantik, manis, imut, dan menggemaskan. Paket lengkap, kan?” ujar Sella sembari mengibaskan rambutnya lagi dengan centil.
“Sella, aku pergi dulu,” kata Hana yang kemudian beranjak pergi.
“Kita juga pergi, ayo, Ngga!” ajak Gio yang membuatku berdiri walau pandangan masih terus tertuju pada Hana yang berlari pergi.
“Bangga, tunggu, jangan tinggalkan aye sendirian!” teriak Sella mengikuti kami.
Hana, aku bersumpah pada diriku sendiri bahwa suatu saat aku akan membuatmu tertawa lagi. Kamu akan menjadi milikku dan aku juga akan menjadi milikmu, kita akan bersama. Astaga, gadis itu benar-benar membuat pikiranku penuh angan-angan.
***
MOS sudah selesai. Hari ketiga ini diakhiri dengan acara salam-salaman di aula, ini juga menjadi acara perpisahan untukku dan kelompokku. Mereka semua tampak senang dengan berakhirnya MOS. Siapa yang tidak senang dengan berakhirnya acara semacam ini? Wajah-wajah lega mereka membuatku ikut senang pula. Terutama wajah Hana yang selalu cerah dan membuatku tak mampu berpaling jika saja Sella tak mencubitku.
“Kenapa kamu mencubitku?” tanyaku pada Sella.
“Bangga tidak peka! Aye mau foto sama Bangga!” ucap Sella menarik-narik tanganku serta menunjuk-nunjuk ke arah Aldi.
“Semuanya sekalian saja, ya! Jangan kita berdua doang,” jawabku dengan senyum terpaksa pada Sella.
“Jangan sama Hana!” kata Sella cemberut.
Aku terkejut. “Apa maksudmu Hana tidak boleh ikut?” tanyaku.
“Hana itu terlalu cantik, dia tidak boleh terkena jepretan kamera. Nanti yang dapat foto Hana, saat di kamar malah dicium-cium fotonya, kan kasihan Hana ternodai,” ujar Sella dengan kesal.
Ada dua perasaan yang datang saat Sella mengatakan itu. Pertama, lega karena ternyata Sella memuji kecantikan Hana. Kedua, aku merasa tersindir dan merasa hina karena secara tidak langsung aku telah dituduh m*****i Hana, padahal yang kucium itu kan cuma layar ponselku.
“Bang Aldi! Sini, kami pengin difoto!” teriak Sella dengan keras.
Karena Aldi tidak menoleh, dengan cepat Sella melangkah untuk mendekati temanku yang tengah memotret Gio yang dikerumuni para cewek itu. Sementara Sella pergi, aku segera mendekati Hana.
“Hana, kenapa kamu tidak minta tanda tanganku kemarin?” kataku dengan nada bersalah.
“Meminta? Tanda-tanda?” tanya Hana seperti tidak mengerti.
“Bukan tanda-tanda, tetapi tanda tangan. Aku seharusnya mencarimu untuk memberikan tanda tanganku sehingga poinmu bertambah, maaf ya,” kataku lagi.
“Tanda-tanda itu tidak perlu dicari. Sekarang sudah tampak tanda-tanda akhir zaman di mana-mana. Kadang di situ aku sedih karena kita tidak tahu kapan nyawa ini akan terus bersama raga,” kata Hana dengan wajahnya yang menggemaskan.
“Boleh aku mencubit pipimu?” kataku tanpa sadar saking gemasnya. “Maaf, maksudku, boleh aku tahu di mana kamu tinggal, Hana?” tanyaku yang tidak memedulikan jawaban dia sebelumnya.
Matanya itu terbuka lebar dan menatapku dengan fokus. Detak jantungku masih terus terpacu setiap menyadari bahwa dia melihatku. Bahwa dia menganggapku ada di depannya. Walau sesungguhnya dia tak pernah menyebut namaku, itu tidaklah penting. Intinya, aku benar-benar menyukainya. Sangat! Banget! Paling suka!
“Pipiku berminyak, kalau dicubit tanganmu bisa kotor,” katanya dengan wajah cemberut.
Jangan itu yang dijawab! Pertanyaan yang kedua, Hana! Ah, mana ada aku memarah-marahinya. Berdiri di depannya begini saja sudah membuatku senang. Jangan sekali-kali menegurnya! Dia sempurna di jalannya sendiri!
“Hana, aku tanya di ma—” ucapanku segera terpotong olehnya.
“Ini dia! Antiseptik bebas kuman. Aku selalu membawanya. Jadi, kamu tidak perlu khawatir lagi. Sekarang kamu boleh cubit pipiku. Pelan-pelan, ya,” kata Hana, mengarahkan salah satu pipinya ke depanku.
Aku hanya terdiam. Tanganku serasa gemetar saat dia menawarkan pipinya untuk dicubit olehku. Akan tetapi, aku tidak melakukannya karena Aldi dan Sella datang untuk memotretku dan kelompok yang aku bimbing. Ah, hilang sudah kesempatan emas itu.
***
Di ruang OSIS, setelah rapat, aku sudah bersiap untuk pulang. Namun, saat melihat ada yang membuka gulungan surat, aku jadi ingat tadi pagi kami berbaris dan para peserta memberikan surat untuk kami dari belakang. Aku mendapatkan cukup banyak, sembilan belas berwarna merah muda dan dua berwarna hitam. Akan tetapi, Gio mendapat lebih banyak dan semua berwarna merah muda, sedangkan punya Kina semua berwarna hitam.
“Dibuka di sini aja, biar lucu,” kata Rani menyarankan.
Aku sebenarnya berencana membuka surat-surat itu di rumah, tetapi melihat yang lain membukanya di sini, membuatku ikut penasaran dengan milikku.
“Kak Gio, kenapa Kak Gio melihatku? Walau cuma sedetik saja, tetapi detik itu adalah detik terindah dalam hidupku,” ucap Gio saat membaca suratnya. “Sungguh mengada-ada ini anak,” katanya seakan menjawab isi surat itu.
“Aku baca punya Kak Kina!” ucap Rani mengambil salah satu surat Kina dan membukanya. “Kak Kina, sampai bertemu di neraka!” kata Rani membaca surat itu dan langsung tertawa.
“Itu tidak lucu!” sahut Kina seraya merebut suratnya.
Saatnya aku untuk membuka punyaku sendiri. Pertama yang aku buka adalah dari Sella. Aku lewati karena terlalu panjang. Kemudian aku baca yang hitam, kenapa aku bisa-bisanya tidak disukai?
Kak Angga! Tidak usah sok kegantengan! Sella milik gue!
Silakan ambil, Dek!
Buat Kak Angga, kenapa Kak Angga tidak ikut marah-marah saat kakak-kakak yang lain memarahiku? Aku sadar bahwa Kak Angga pemalas! Aku benci pemalas!
Ini maksudnya aku disuruh memarahi dia, begitu? Susahnya jadi orang baik.
“Lihat, ini bagus suratnya, Ngga!” kata Gio tiba-tiba memperlihatkanku suratnya.
Aku lihat Kak Gio ngupil di belakang Kak Kina yang lagi marah-marah. Saat itu aku sadar bahwa Kakak itu apa adanya, tidak dibuat-buat. Manusiawi dan tidak sok untuk menjaga imej. Aku suka Kakak!
“Biasa aja,” jawabku.
“Nggak, lah, ini luar biasa. Aku tersentuh,” sanggahnya.
Lupakan Gio yang tengah terharu itu! Aku kemudian membaca semua sisa suratku. Beberapa membuatku tersenyum-senyum sendiri, tetapi belum ada yang dari Hana. Aku kini hanya berharap pada surat terakhir.
Aku berdoa dan kemudian membuka surat itu.
Maaf, Anda belum beruntung!
“s****n!” sontakku.
Ternyata Hana tidak memberikan surat padaku. Kenapa aku begitu naif mengharapkan suratnya? Aku benar-benar sedih sekarang, tetapi aku juga tahu ini belum berakhir. Masih banyak kesempatan untuk bisa mendapatkannya. Menyerah sekarang sama dengan menyesal selamanya.
Saat sedang ke parkiran, aku melihat Risa tengah menuju motornya. Baru aku sadari bahwa motornya baru.
“Risa, motor baru tidak ada makan-makan?” kataku menggodanya.
“Mana bisa motor makan? Minum bisa, bensin, noh!” jawabnya malah bercanda. “Gue duluan, Ngga!” teriaknya yang kemudian tancap gas dan pergi.
Kenapa dia harus membeli motor kalau dia bisa ikut aku sampai kakaknya pulang? Sebenarnya bukan hanya itu pertanyaanku mengenai Risa. Dia sebetulnya bisa bersekolah ke SMA favorit, itu bisa memperlancar rencananya untuk kuliah di luar negeri. Akan tetapi, kenapa dia memilih SMK yang prospek ke depannya untuk bekerja ini? Kadang aku berpikiran dia mengikutiku, tetapi itu tidak mungkin.
***
Masa MOS telah berakhir dan hari baru dimulai. Hari aku harus belajar seperti biasanya. Hari aku akan bertemu dengan guru-guru dan bahkan sering berpapasan dengan Ratna. Sebenarnya aku tidak peduli karena sekarang aku sudah punya incaran. Ratna, maaf, istanamu di hatiku sudah digusur Satpol PP. Sekarang istana baru akan dibangun lagi. Satu-satunya yang bisa mengisinya hanya dia, Hana.
Aku tengah mengendarai motor ke sekolah. Aku begitu semangat pagi ini, bahkan aku sudah membuat jadwal apa yang akan aku lakukan di sekolah. Memikirkan Hana, mencarinya, mengobrol dengannya, mencari tahu banyak hal tentangnya, lalu memikirkannya lagi.
Ternyata aku benar-benar jodoh dengannya, kini aku melihatnya dari kejauhan. Tanpa basa-basi, aku segera tancap gas ke arahnya. “Hana!” teriakku sembari mengurangi kecepatan motor dan mendekati gadis dengan rambut bergelombang yang tengah berjalan sendiri itu.
Dia tidak menyahutiku. Aku mengendarai motorku di sampingnya. “Hana, kamu mendengarku?” tanyaku.
Hana menoleh dan melihatku. “Jadi, ternyata kamu ini tukang ojek?” tanyanya seperti menyindirku. “Maaf, aku jalan kaki aja, hemat dan sehat.”
Aku tertawa kecil. “Kalau kamu mau, aku bisa jadi tukang ojek khususmu,” jawabku sembari memainkan alisku seakan menggodanya.
Dia berhenti. “Apakah semua itu gratis?” tanya dia dengan wajah berharap.
Aku mengangguk. “Tunggu, rumahmu di sekitar sini?” tanyaku.
“Aku tidak bisa menunggu, aku butuh kepastian. Hidup tanpa kepastian bagaikan terombang-ambing di tengah lautan,” kata Hana dengan cemberut.
Aku sadar bahwa dia tidak ingin memberitahukan di mana rumahnya. Seharusnya aku peka. Aku masih belum lama mengenalnya, jadi seharusnya pelan-pelan saja modusnya.
“Silakan naik,” kataku seraya tersenyum.
“Tidak jadi,” jawabnya.
“Kenapa?” tanyaku dengan bingung.
“Aku ingat berita tadi malam. Ada tukang ojek menabrak tiang listrik, diduga karena dia tidak fokus. Aku lebih baik jalan kaki saja. Aku takut kamu tidak fokus juga. Selamat tinggal, Lap,” terangnya yang segera pergi tanpa kata-kata tambahan.
Aku terdiam melihatnya pergi meninggalkanku. Pertama, perkataannya bisa saja benar. Jika dia memboncengku bisa saja aku keterusan senyum-senyum sendiri dan aku jadi tidak fokus. Kedua, dia memanggilku Lap? Alap-alap?
“Tunggu, dia menyingkat namaku,” gumamku. “Lana Anggarda Praja! Dia tahu namaku! Dia tahu namaku!” teriakku begitu senang.
Hari ini adalah hari yang sangat berharga bagiku. Di kelas, di toilet, di kamar, di dapur, di ruang tengah, seharian aku terus mengingat saat dia memanggilku. Pertama kalinya dia memanggil namaku. Dia tidak memanggilku dengan sebutan biasa, tetapi dengan sebutan lain. Sesuai dengan dirinya yang lain daripada yang lain.