Lucky's PoV
Baru kali ini aku liburan ke luar negeri tanpa planning, karena tujuan utamaku adalah melihat pujaan hatiku pada penerbangan rute internasional pertamanya. Jadi, aku sama sekali belum memikirkan akan pergi ke mana saja, walau tujuan lainku ke sini sekalian refreshing. Hotel saja, aku baru booking kemarin saat mengobrol-ngobrol dengan Kak Vania. Dan ya... aku memesan hotel yang sama dengan tempatnya Seruni menginap semalam ini. Hanya semalam saja, esok hari dia sudah kembali untuk terbang kembali ke Jakarta.
Belum waktunya check in saat aku tiba di hotel, walau tadi juga sempat duduk-duduk di salah satu resto di bandara. Ada sekitar setengah jam'an aku berada di Honolu Premier Air Haneda di Lantai 4 Terminal 3 yang menyajikan ramen halal, gyoza, dan kari. Gyoza-nya enak di sana. Setelahnya, aku langsung menuju hotel menggunakan taksi. Niat menitipkan koper, dan setelahnya aku restoran hotel atau jalan-jalan di sekitaran hotel.
Ada telepon dari Kak Vania saat aku baru saja tiba di lobi hotel dan duduk sejenak sebelum menitipkan koperku.
"Ya. Kenapa? Gue baru sampe hotel."
"Lo ngobrol sama Seruni di pesawat, ya? Dia benar-benar enggak ngenalin elo."
"Kok tempe?"
"Barusan gue habis teleponan sama dia. Katanya ada penumpang yang gombalin dia receh banget. Eh, bukannya dia ge-er, ya! Cuma emang baru kali ini kayaknya dia digodain penumpang macam elo yang modus banget."
"Dia cerita apa aja emangnya?" tanyaku penasarann sambil membenarkan posisi dudukku.
"Ya... gitu. Terus, bilang kalau lo ngenalin diri. Gue langsung ngakak di situ."
"Namanya juga usaha, Kak. Kejar terus dengan berbagai macam cara. Makanya, kenalan dulu lah! Tak kenal, maka tak sayang. Duhh, makin sayang gue jadinya setelah ikut dia terbang."
"Segitu sukanya sama orang yang bahkan enggak kenal elo?"
"Tapi kan gue kenal dia. Gue tahu apa pun tentang dia. Ya... walau banyak yang gue tahu dari elo juga, sih. Emm dia bilang apa lagi, Kak?"
"Enggak ada, itu aja. Gue cuma nanya gimana penerbangan pertamanya. Eh, tapi gue coba pancing-pancing dia, bilang, "gimana kalau ketemu sama laki-laki itu lagi dan ternyata naksir sama elo?", dia jawabnya masih sama kayak biasa. Memang kayaknya belum pengen dekat sama siapa pun kata gue, apa lagi setelah putus cinta. Pasti dia patah hati banget dan bakalan susah lagi buat dekat sama orang baru. Dia juga kan kayaknya emang tipe orang yang susah jatuh cinta gitu."
"Iya, gue paham. Gue akan berusaha buat sembuhin hatinya yang terluka itu."
"Gue tanya sekali lagi, lo yakin? Dia itu keras banget loh! Enggak mempan kayaknya meski lo enggak kekurangan secara materi dan kelihatan sedikit good looking juga."
"Ck... sedikit good looking? Lo gengsi amat kayaknya mengakui ketempanan gue ini. Di kantor atau di kampus juga, gue ini banyak yang naksir loh!"
"Gantengan juga Kak Rayyan."
"Halah! Mentang-mentang calon suami. Waktu itu aja, belum balikan, lo ogah banget kayaknya sama dia. Gue ingetin lagi nih, sampe gue tonjok itu orang karena ngeselin banget."
"Gimana pun, Kak Rayyan paling ganteng pokoknya."
Aku tak lagi menyahuti Kak Vania saat sudut mataku menangkap sosok yang tengah berjalan dari arah lift. Aku langsung menyengir. Duh, memanjakan mata sekali. Seruni yang menggunakan pakaian casual saja, sudah membuatku tergoda. Tanpa seragam pramugari itu, daya pikatnya masih begitu kuat.
"Udah dulu, Kak. Ada calonnya gue nih." Aku langsung menutup telepon dengan Kak Vania.
Aku berdiri, mendekat ke arah Seruni yang terlihat menghentikan langkahnya. Dengan senyum yang tak luntur dari bibirku, aku pun menyapanya. Seperti semalam, menyapa dengan sedikit gombalan.
Bertemu lagi? Ck... itu kan memang yang aku inginkan. Bukannya tanpa disengaja, tapi sangat disengaja karena aku tahu dari Kak Vania jika temannya itu menginap di hotel ini. Awalnya, aku pikir hanya akan melihat pada malam hari saat dia mencari makan keluar hotel atau ke resto hotel ini, dan aku berniat stay di lobi menunggu. Tak menyangka jika pada jam segini sudah bertemu kembali saja. Memang sudah jodoh sepertinya.
Seruni sama sekali tak tersenyum, tak merespon sapaanku. Hanya memasang raut wajah datar. Berbeda sekali, tak seperti waktu mode pramugari, yang mana langsung terpancar senyuman ramah di wajahnya.
Dia kembali melangkah, melewatiku begitu. Asem.
Aku terkekeh kecil. Dipikir aku langsung akan menyerah diabaikan begitu? Tidak. Tidak ada kata menyerah dalam kamus hidupnya seorang Lucky. Apa yang aku inginkan, harus aku usahakan—dapatkan bagaimana pun caranya.
Dengan cepat, aku menitipkan koper terlebih dahulu. Akan tetapi, mataku terus memantau perempuan itu yang perlahan keluar area lobi hotel. Semoga saja aku tak kehilangan jejak. Tapi, sepertinya dia melangkah pelan santai saja. Dan benar, saat keluar beberapa saat kemudian, aku masih melihat punggungnya yang menyusuri kawasan hotel. Aku pun mempercepat langkah kaki panjangku menyusulnya. Tak lama hingga tiba di dekatnya.
“Mau ke mana, Mbak?”
Dia menoleh sejenak, lalu kembali lagi melihat ke arah depan. “Kamu nggak perlu tahu.”
Beuhhh. Sangat-sangat berbeda mode pramugari dengan di luar itu. Dia terlihat membentengi diri sekali. Seolah tak ingin diganggu. Benar kata Kak Vania, Seruni ini tipe perempuan yang tak mudah didekati. Dia tak memberikan celah kepada lelaki yang ingin mendekat.
Tapi, sekali lagi aku tekankan, seorang Lucky ini pantang menyerah. Diabaikan dan diketusi? Tak apa, akan aku lanjut terus mendekatinya. Perempuan keras kepala dan hati itu, memang harus mengeluarkan banyak effort untuk meluluhkannya.
“Saya ikut, ya?”
Perempuan itu tak menyahut, terus saja melangkah.
“Ini penerbangan pertama kamu ke Jepang, ‘kan? Jangan sendirian ke mana-mana, nanti hilang.”
Perempuan itu sontak menghentikan langkahnya. “Tahu dari mana saya pertama kali ke Jepang? Kamu siapa sebenarnya?” Tatapan matanya, tajam sekali menatapku.
“Ya… tahu. Semalam saya iseng nanya sama salah satu cabin crew, katanya ini penerbangan pertama kamu rute internasional,” sahutku berkilah. Padahal, tentua saja semuanya aku tahu dari Kak Vania.
Thanks to Kak Vania. Akan aku belikan titipannya nanti, karena telah memberikan info apa pun tentang teman dekatnya itu. Seruni memang belum pernah ke luar negeri sebelumnya kata Kak Vania. Menjadi pramugari dan memiliki gaji yang lumayan, bukan berarti Seruni bisa ke sana-sini ketika cuti. Dia tentunya memikirkan adik-adiknya, kebutuhan di rumah. Dia bukan tipe orang yang memikirkan diri sendiri.
Seruni tak menyahut, kembali melanjutkan langkahnya. Dan aku… aku pun tetap menyamai langkahnya dengan muka tembok.
“Makanya, biar saya temanin. Bingung juga saya ngapain di hotel, belum bisa masuk kamar euy! Tadinya mau jalan-jalan sebentar ke mana gitu, eh mager. Setelah lihat kamu, eh jadi auto semangat saya. Hilang deh, jiwa magernya.”
Kacang… kacang…
Perempuan itu sama sekali tak bersuara.
“Mau tahu tempat santai yang enak nggak? Di resto gitu atau sekedar jalan aja? Kebetulan saya udah beberapa kali ke sini.”
“Nggak… makasih.”
Jutek sekali. Ck…
“Mode pramugari dan di luar, beda banget sih, Mbak? Ramah dan murah senyum banget kalau lagi di pesawat.”
“Suka-suka saya.”
Aku terkekeh pelan. “Enggak apa-apa. Saya tetap suka mode apa pun Mbaknya. Emm… Mbak Seruni. Langsung hapal saya sama nama Mbaknya, beda dari yang lain soalnya.”
Lagi dan lagi, tak ada sahutan dari perempuan itu. Dia terus saja melangkah.
***
Seruni memasuki salah satu resto Jepang yang tak jauh dari hotel. Aku pun tetap mengikutinya walau dia seolah tak menganggap keberadaanku.
“Duduk depan sini, boleh?” tanyaku menarik kursi kayu di depannya. “Tuh lihat di pojok sana, ada orang-orang asing kelihatan nyeremin banget. Takut nantinya mereka ke arah sini ganggu kamu.” Aku menunjuk ke arah empat orang asing yang berkulit gelap, mata besar, rambut keriting dan tinggi besar. Kebetulan sekali.
“Terserah. Bukan kursi saya.”
Aku menyengir.
Menunggu pesanan, dia tampak memperhatikan sekitar dan setelah menunduk dengan ponsel di tangannya. Sedangkan aku, sudah pasti aku fokus memperhatikan wajahnya. Tampak dingin dan ketegasan di sana, tapi justru hal itu membuatku semakin ingin mendekatinya.
“Gimana penerbangan pertamanya, Mbak? Seru?”
“Lumayan.” Dia menyahut singkat, tapi sama sekali tak menoleh padaku. Masih menunduk dengan ponsel di tangannya.
“Syukur lah. Emmm… Mbak, nanti sore atau malam, mau jalan bareng nggak? Ke Shibuya yuk!"
"Nggak. Mau jalan sama teman," jawab perempuan itu, lagi, dengan nada dingin.
"Saya ikut juga dong bareng! Lumayan ada teman hari pertama di sini. Besok-besok, baru deh traveling sendirian."
“Enggak.”
“Saya ngikut aja deh, dari belakang. Hitung-hitung jadi bodyguard kalian.”
Perempuan itu mengangkat wajahnya, lalu menatap lurus tajam padaku. Tanpa mengeluarkan suara sama sekali, seolah tatapannya adalah jawaban itu adalah sebuah penolakan.
Tak apa. Baru permulaan. Aku akan terbiasa mendapati hal seperti ini ke depannya.
“Saya di belakang aja ngikutin kalian. Syukur-syukur diajak ngobrol juga. Tapi, kalau enggak juga enggak apa-apa. Yang penting kita masih ada di jalan yang sama, dan semoga… akan berakhir pada tujuan yang sama juga nantinya.”
“Nggak punya planning sendiri?” tanyanya dengan raut wajah yang amat sangat datar.
“Enggak ada.” Aku menyengir. “Makanya, hari ini saya mau bareng Mbaknya aja. Boleh, ya ya ya? Ada teman sesama orang Indonesia nih, jadi enak ada teman ngobrol.”
“Saya nggak mau ngobrol sama kamu.”
“Lah, ini kan kita ngobrol, Mbak cantik. Kalau nanti sore atau malam, enggak apa nggak ngobrol juga. Asal berada di dekatmu aja, saya udah senang, Mbak. Auto segar mata saya.”