Seruni's PoV
Entah kenapa, aku sama sekali tak risih akan gombalan receh penumpang pesawat satu itu. Dari gestur dan ekspresi wajahnya, aku merasa dia bukan seperti lelaki sembarangan. Hingga kata-kata itu keluar dari mulutnya, yang tidak pernah aku sangka akan mendapatkan kalimat motivasi dari seorang penumpang laki-laki muda. Relate sekali dengan apa yang aku jalani. Yang kadang aku pun curhat kepada Tuhan tentang perjalanan hidupku.
Hari-hariku memang tengah berat, tak semudah itu mengikhlaskan orang-orang yang telah lama bersamaku dan sudah ada persiapan menikah pula. Bukan berarti sebelumnya, hari-hari yang aku lalui itu mudah juga. Bebanku itu mulai berkurang ketika Endang mulai bekerja. Sebelumnya, aku membiayai kuliah adikku itu. Awalnya hanya sedikit-sedikit saja saat aku masih kuliah sambil bekerja, tak enak mengandalkan tanteku sepenuhnya. Aku tahu, peninggalan orang tuaku lama-kelamaan menipis dan tanteku yang membantu memenuhi segalanya. Saat lulus menjadi pramugari, baru lah aku mengambil alih secara keseluruhan dan syukurnya tanteku menemukan jodoh yang tepat walau usianya tak muda lagi. Tante menikah pada usia 31 tahun saat itu. Jasanya tanteku terhadap kami, tak akan pernah aku lupakan. Menunda menikah demi kami para keponakannya, yang syukurnya beliau mendapatkan lelaki yang sangat baik.
Aku melemparkan senyum pada lelaki muda itu, lalu setelahnya bertanya mengenai tujuannya ke Jepang. Berada di penerbangan kelas bisnis, bisa jadi lelaki itu berasal dari keluarga yang cukup berada untuk menikmati liburan di negeri sakura itu. Atau, ada perjalanan bisnis. Banyak anak muda sekarang sudah menempati posisi penting di perusahaan atau memiliki bisnis sendiri, walau usia mereka masih di bawah 30 tahun.
Lelaki itu menjawab jika dia itu liburan, sekitar semingguan. Dan kembali menggodaku dengan bertanya jadwal terbangku selanjutnya, apa ada ke Jepang lagi atau tidak. Aku jawab saja, jadwalku balik lagi ke sini sekitar 7 harian lagi setelah. Paling juga sama seperti lusa, kembali ke Indonesia dengan penerbangan pagi dan sampai Indonesia pada sore hari waktu setempat.
"Ooh. Semoga nanti kita bisa berjumpa lagi di penerbangan selanjutnya. Katanya nih, kalau bertemu lebih dari tiga kali, bisa jadi berjodoh."
Aku menahan tawa sembar geleng-geleng kepala kecil.
"Saya permisi dulu, Mas."
Aku melanjutkan kembali tugasku. Tak bisa benar-benar tidur panjang seperti penumpang pada umumnya. Sesekali, aku duduk sambil mengobrol dengan pramugari lainnya. Ada satu orang yang usianya di bawahku, tapi aku yang tergolong senior karena setahun lebih dulu berada di maskapai ini dan juga usianya 2 tahun lebih muda dariku.
"Mbak, udah dengar gosip baru belum?" tanya perempuan bernama Lalita itu.
"Apa itu?" tanyaku mengernyit. Belakangan ini, aku jarang memegang ponsel. Dan aku juga jarang mengintip grup sesama pramugari, atau pun membuka media sosial. Baru pagi ini saja aku baru membuka media sosial lagi setelah semingguan tidak membukanya. Tadi, aku upload fotoku menggunakan seragam pramugari dan menuliskan caption semangat untuk diriku sendiri atas perjalanan baru dalam hidupku hari ini yang akan aku tempuh. Secara tak langsung, aku ingin membuktikan kepada orang-orang yang telah menyakitiku bahwa aku tetap bisa berdiri tegak dan terus melanjutkan hidup meski mendapatkan kesakitan yang begitu hebat.
"Mbak Seruni kenal sama pramugari domestik yang namanya Sita, 'kan? Gue ada lihat foto ramean di akun Mbaknya yang ada dia soalnya."
"Iya, kenal. Kenapa emangnya, Ta?" Aku menarik napas pelan, memendam amarah mengingat mantan sahabatku itu. Tapi, tak ada energi rasanya untuk meluapkan kemarahan itu.
Foto bersama Sita yang ramean bersama teman lainnya memang masih ada di akun media sosialku. Foto kami zaman masih training dulu dan juga waktu mendapatkan jadwal terbang bersama. Sebelumnya ada foto berdua juga, tapi telah aku hapus sejak hari itu. Dan dia pun tak ada berkata apa pun padaku hingga saat ini. Aku yakin, Mas Malik pasti telah bercerita kepadanya jika aku telah tahu dan hubungan kami berakhir.
"Dia itu... pacaran sama Captain Malik, ya? Gue dulu kenal dia karena pernah terbang bareng juga sebelum rute internasional ini. Kemarin itu, gue ada lihat dia share foto mesra gitu di medsosnya. Dia share khusus close friend, sih. Gue kaget aja lihatnya, gue enggak menduga masuk di bagian close friend-nya itu."
Ooh... jadi Sita sekarang sudah berani go public dengan berbagi foto kepada orang-orang tertentu? Aku telah berusaha mengikhlaskan kedua orang itu, tapi ternyata masih nyeri terasa ketika nama mereka disebut di hadapanku. Tadi pagi, Mas Malik bahkan masih berkirim pesan padaku menggunakan nomor barunya yang belakangan ini beberapa kali menanyakan kabarku—yang tentunya tak aku balas satu pun. Entah apa maksud lelaki itu masih menghubungiku, ingin berubah dan kembali suatu saat nanti, nyatanya masih bersama perempuan itu. Bukannya aku masih berharap, hanya tidak habis pikir saja.
"Iya kah?" Aku pura-pura terkejut. "Gue kurang tahu kalau itu, karena enggak masuk close friend-nya dia. Enggak begitu dekat soalnya. Cuma pernah training bareng, terus beberapa kali terbang bareng juga. Tapi jarang sih, dapat jadwal bareng." Memang jarang aku mendapatkan jadwal terbang yang sama dengan Sita sejak dulu. Dan sejak ada Vania, aku malah hampir selalu dapat jawdal yang sama dengan perempuan tegas berhati lembut itu.
Lalita mengangguk. "Kok Captain Malik mau sama dia, ya?" lanjutnya lagi dengan suara yang semakin memelan.
"Emangnya kenapa?" tanyaku mengernyit. "Dia kan cantik."
"Dia itu kan... gatal." Lalita berbicara pelan sambil melirik kanan-kiri. "Suka kayak flirting gitu ke pilot-pilot. Gue nyaksiin sendiri, karena tergolong sering juga terbang sama dia di domestik sebelum ini."
Aku tersenyum saja. Selama ini memang terlihat Sita agak genit, tapi aku tak pernah mempermasalahkannya selagi dia baik padaku. Tak ada menyenggolku. Namun, aku tak menyangka jika Mas Malik juga masuk ke dalam perangkapnya. Eh, tapi tak bisa disalahkan dia saja. Bisa jadi, Mas Malik juga sama sifatnya dengan perempuan itu. Obrolan kami terhenti karena ada tiga orang lainnya pramugari senior mendekat ke arah kami. Pembicaraan kami beralih pada hal lainnya lagi.
Pagi pun tiba, pesawat sebentar lagi akan mendarat di Bandara Internasional Haneda (HND). Kami—para pramugari hanya tidur pada waktu tertentu dan tak bisa lama itu juga. Bergantian dengan yang lainnya. Aku berdiri di bagian depan dengan tiga orang pramugari lainnya memberikan sapaan kepada para penumpang yang hendak keluar dari pesawat.
Beberapa orang lewat, hingga muncul lelaki muda semalam yuang menggodaku. Masih aku ingat persis tentunya, karena kata-kata dari lelaki itu yang cukup berkesan selain gombalan recehnya. Dari jarak yang tak begitu dekat, lelaki itu sudah senyum-senyum saja. Kemudian, berhenti di depanku yang menyapa—mengucapkan terima kasih.
"Ya... Mbak, senang bisa terbang bersama Daruga karena ada Mbaknya dalam perjalanan kali ini." Lelaki itu mengulurkan tangannya padaku. "Tak kenal, maka tak menyapa nanti suatu saat ketemu di jalan. Kenalin, nama saya Lucky. Mbak tahu kan apa arti nama itu? Yaa... beruntung. Semoga hidup Mbaknya penuh keberuntungan setelah bertemu dengan saya. See you when I see you... Mbak Seruni."
Lita menyenggol lenganku dan aku hanya tersenyum kecil. Setelah semua penumpang turun, baru lah perempuan itu bersuara kembali.
"Ganteng banget penumpang yang tadi modus sama lo ya, Mbak? Lo lagi jomblo nggak, sih? Gas semisal one day ketemu lagi sama dia."
"Ngaco ah!"
***
Menggunakan shuttle bus, kami para crew pesawat menuju hotel yang telah disediakan. Khusus kami para crew, tentunya bisa memasuki hotel lebih awal meski belum waktu check in pada umumnya. Agar bisa beristirahat, syukur-syukur nanti bisa juga jalan jika tidak lelah. Karena besok pagi, sudah waktunya terbang lagi. Di hotel, aku kebagian kamar dengan Lalita. Dia tak berhenti berbicara dari tadi.
Dia bersih-bersih terlebih dahulu di kamar mandi saat kami memasuki kamar. Cukup lama perempuan itu berada di kamar mandi, dan gantian denganku setelahnya. Aku sekitar 15 menitan saja, dan begitu keluar mendapati perempuan itu sudah tertidur. Aku yang belum begitu mengantuk, duduk bersandar di kasur. Aku meraih ponselku dan ada pesan masuk dari Vania. Aku pun membalas pesannya dan melakukan panggilan telepon karena Vania minta ditelepon. Aku ke arah balkon dan duduk di kursi sana.
"So far so good, Van. Menyenangkan penerbangan pertama gue."
"Syukur lah. Enggak ada senior yang rese', 'kan?"
"Begitu doang, sih. Masih aman lah."
"Good. Gue ikut senang dengarnya."
"Tapi, di penerbangan kali ini gue ketemu penumpang yang gombalin gue receh banget."
"Ganteng nggak? First class?"
"Iya. Anak orang kaya kayaknya, atau ada bisnis gitu." Aku terbayang wajah lelaki itu, namun bukan berarti tertarik kepadanya. "Ganteng, sih."
"Wah, kenapa enggak sikat aja? Siapa tahu jodoh dan lo auto jadi sultan." Terdengar tawa renyah Vania dari seberang sana.
"Ngaco. Mana ada tiba-tiba suka gue? Gombal doang itu. Eh, tadi pas turun, dia ulurin tangannya nyebutin nama ke gue. Kenalan."
"Oh, ya? Siapa namanya?"
"Lucky. Katanya nih, semoga hidup gue penuh keberuntungan setelah ketemu dia." Aku geleng-geleng kepala ingat ucapan lelaki itu. "Ada-ada aja."
Kembali terdengar gelak tawa Vania. Namun, kali ini lebih kencang.
"Kalau semisal ketemu lagi, gimana?"
"Ya... enggak gimana-gimana." Aku mengedikkan bahuku. "Emang mau gimana?"
"What if gue orang random begitu, tiba-tiba naksir elo?"
"Enggak usah what if, what if. Enggak bakalan! Semisal juga, gue enggak tertarik untuk dekat dengan siapa pun dulu."
"Hmmm."
Setelah teleponan dengan Vania, aku tak kunjung mengantuk juga. Aku pun memutuskan untuk keluar kamar dan mengirimkan pesan kepada Lalita. Sekitar 1 atau 2 jam'an di luar, sepertinya nanti Lita sudah terbangun. Semoga. Jika tidak, maka aku akan menunggu beberapa saat sampai dia terbangun.
Baru saja keluar dari lift di lobi, hendak jalan-jalan sekitaran hotel, mataku menangkap sosok lelaki muda itu. Yang dia juga tengah melihat ke arah sambil tersenyum.
"Wah, Mbak, ketemu lagi kita. Apa ini yang dinamakan jodoh? Mbak nginep di hotel ini juga?"