Lucky's PoV
Thanks to Kak Vania, info sedetail apa pun tentang Seruni diberitahu padaku walau kadang mengoceh panjang lebar. Kak Vania memberitahu jika Seruni akan melakukan penerbangan pertama ke Jepang, jadi aku berniat untuk terbang bersamanya. Ingin tahu bagaimana perempuan itu pada penerbangan pertamanya ke luar negeri, yang dia impikan dari dulu. Aku langsung mengajukan cuti, tentunya bilang kepada papaku terlebih dahulu. Aku juga tak boleh langsung dadakan cuti mentang-mentang bekerja di perusahaan keluarga sendiri.
Papa sebenarnya sudah jarang datang ke perusahaan. Ada Kak Leo, kakak angkatku yang merupakan anak dari kakaknya papa yang sangat dekat dengan papa yang dipercaya memimpin perusahaan sampai nanti tiba waktuku pantas. Sedangkan Kak Leo sendiri nantinya akan fokus pada satu anak perusahaan saja. Kak Leo sudah dianggap seperti anak kandung, karena orang tuanya yang sudah meninggal dalam kecelakaan waktu dia masih sangat kecil. Dulu kata papa, Kak Leo sering dibawa ke perusahaan dan dikira anaknya papa (re; First Love).
Aku sedang sarapan sendiri saat ini dengan ponsel di tanganku melihat-lihat akun media sosialnya Seruni, sejak bangun tidur beberapa saat lalu. Aku cuti per hari ini dan akan terbang nanti malam ke Jepang. Sekalian refreshing juga sebenarnya, karena cukup mumet juga banyak kerjaan akhir-akhir ini.
"Stalking terosssssss!" Tepukan pada bahuku membuatku menoleh sekilas, ada Kak Vania yang menarik kursi duduk di dekatku. "Baru bangun banget lo?"
"Hmmm."
"Udah packing buat nanti malam?"
"Jelas udah dong!" Aku meletakkan ponselku di atas meja, lalu meneguk segelas air putih. "Semangat banget gue."
"Lo mau gue kasih tahu Seruninya?"
"Enggak usah!" Aku mengibaskan tanganku. "Kalian teman dekat, dia pasti merasa enggak enak sama lo mau nolak gue. Bingung dia cara nolaknya nanti. Biar gue aja usaha sendiri, enggak apa-apa. Lagi juga dia belum lama habis patah hati, pastinya akan berat buat menerima kehadiran orang baru. Cukup support gue aja, oke? Kasih tahu info apa pun tentang dia yang enggak gue tahu. Waktu itu gue minta dicomblangin, kan belum tahu kalau dia punya cowok."
"Oke lah. Emm... lo berapa lama di sana deh? Oh ya, gue lupa belum tanya dia lagi kapan penerbangan ke Jepang lagi. Lo enggak ngikutin jadwal dia langsung pulang besoknya, 'kan?"
"Mau refreshing gue. Tapi, yaa... kalau dia balik Jepang lagi dalam seminggu itu, ya gue naik penerbangan yang ada dianya aja. Gue belum ambil tiket pulang. Cuti gue 10 seharian, emang gue pengen refreshing juga sekalian."
Sejak akhir masa kuliah, aku sudah bekerja di perusahaan keluarga tersebut. Akan tetapi, aku belum mengambil cuti panjang. Belum ada sesuatu penting yang membuatku ingin cuti. Liburan sesekali, aku paling hanya cuti sehari atau dua hari saja.
"Nanti gue tanyain, tapi ada imbalannya nggak, sih?"
"Ya elah, Kak, lo udah banyak uang juga. Calon suami juga seorang Rayyan, salah satu pewaris Tama Corp pula."
"Justru gue senang dapat uang atau sesuatu hasil malakin saudara sendiri."
Aku mendengkus. "Lo mau apa? Entar gue beliin di Jepang deh!"
"Nah, gitu dong!" Kak Vania menyengir. Dasar, padahal dia memiliki banyak uang walau telah resign juga. Dia pasti punya tabungan yang banyak, ditambah dengan pendapatan dari cafenya.
"Info tambahan lagi, Kak! Gue kayaknya belum lo kasih tahu hotel tempat dia menginap. Gue belum pesan hotel nih!"
"Lo mau ngapain, gue tanya???"
"Ya elah, enggak akan aneh-aneh gue, Kak. Sumpah." Cuma pengen lihat dia aja, di bawah atap yang sama."
"Ya udah bentar, gue tanya dulu. Gue cari alasan apa coba tanya-tanya."
"Bilang aja pengen tahu hotel yang dia tempatin. Lo mau lihat-lihat gitu, kali nanti ke Jepang lagi mau menginap di sana."
"Lo seserius itu ngejar teman gue?"
"Masih pakai nanya lagi. Ya kali gue habisin uang enggak jelas, Kak? Gue itu pengen lihat dia itu gimana di penerbangan pertama rute luar negeri. Gue ingin menikmati penerbangan bersama dia, kali suatu saat nanti bisa diceritain kembali gimana awal momen pertemuan kami.”
"Mimpi lo kejauhan."
Aku tertawa. "Ngayal aja lah dulu. Siapa tahu jadi kenyataan."
***
Seruni itu terlihat selalu menawan di mataku, mau dia sedang memakai seragam pramugari atau pun casual. Sejak pertama kali mengenalnya walau tak secara langsung, ada satu hal yang selalu membuatku kagum pada Seruni. Bukan hanya parasnya yang cantik atau senyumnya yang mampu menghangatkan suasana, tetapi cara perempuan itu menjalani hidup. Semakin lama mengenal sosoknya—mencari tahu sendiri atau pun melalui Kak Vania, semakin aku sadar kalau pesonanya bukan sekadar sesuatu yang terlihat oleh mata. Ada sesuatu yang membuatku kagum, tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Kini, di usianya yang menginjak 27 tahun, Seruni berhasil berdiri di titik yang selama ini dia impikan. Setelah melewati berbagai seleksi, pelatihan yang tidak mudah, hingga akhirnya naik ke jenjang penerbangan internasional, sekarang dia resmi menjadi pramugari untuk rute luar negeri.
Aku masih ingat bagaimana Kak Vania pernah bercerita tentang perjalanan hidup sahabatnya itu. Seruni bukan berasal dari keluarga berada. Sejak kedua orang tuanya meninggal dunia, Seruni menjadi satu-satunya tempat bergantung bagi kedua adiknya. Di usia ketika banyak orang masih bebas memikirkan diri sendiri, perempuan itu justru belajar menjadi kepala keluarga. Memastikan kedua adiknya hidup dengan layak, mengurus kebutuhan rumah, sambil mengejar cita-cita yang sudah dia impikan sejak dulu. Tidak ada yang benar-benar tahu berapa banyak air mata yang pernah dia sembunyikan. Aku yakin, dia pasti sering menangis dalam diam.
Dilihat-lihat, Seruni memang bukan tipe perempuan yang suka mengeluh. Ketika merasa sedih, lelah dan terluka, dia menyimpan semuanya sendiri tanpa bercerita. Mungkin karena itulah orang-orang selalu melihatnya sebagai perempuan yang kuat. Padahal, di balik senyum tenangnya, ada banyak cerita yang tak pernah dia ceritakan kepada siapa pun. Bahkan patah hati sekali pun, dia tetap berdiri tegar. Entah mengapa, setiap kali melihat foto Seruni mengenakan seragam pramugarinya pada aku media sosialnya, ada rasa bangga yang sulit kujelaskan. Seragam itu memang membuatnya terlihat sangat elegant. Rambutnya tersanggul rapi, rias wajahnya sederhana, tetapi justru membuat kecantikannya semakin menonjol.
Tak pernah ada yang berlebihan dari penampilannya ketika tak menggunakan seragam pun. Semuanya terlihat sederhana, tetapi selalu berhasil membuatku sulit mengalihkan pandangan. Mungkin memang benar bahwa pesona seseorang tidak hanya berasal dari wajahnya. Ada perempuan yang cantik karena penampilannya. Dan ada pula perempuan yang terlihat semakin cantik karena caranya menjalani hidup. Dan Seruni termasuk yang kedua. Aura perempuan mandiri begitu melekat padanya, tidak bergantung pada siapa pun. Bisa mengambil keputusan sendiri dan tahu apa yang menjadi prioritas hidupnya. Dan yang paling membuatku kagum tak hanya keberhasilannya menjadi pramugari internasional, melainkan kenyataan bahwa di balik semua pencapaian itu, Seruni tetap menjadi kakak yang bertanggung jawab.
Padahal, kalau dipikir-pikir, perempuan seusianya mungkin sudah sibuk mempersiapkan pernikahan atau membangun keluarga kecilnya sendiri. Sedangkan Seruni… dia lebih dulu membangun masa depan adik-adiknya. Barangkali itulah yang membuatku semakin sulit mengabaikan perasaan ini. Awalnya aku mengira rasa kagum ini hanya sesaat. Namun, Semakin mengenalnya—mencari tahu banyak tentangnya, semakin aku menyadari bahwa aku tidak hanya mengagumi kecantikannya. Aku mengagumi segala sesuatu tentangnya, terutama bagaimana dia menjalani kerasnya hidup sebagai anak yatim piatu dan seorang kakak.
Aku sengaja memilih kursi kelas bisnis pada penerbangan malam ini. Bukan karena tidak ada pilihan lain, juga bukan karena aku ingin menikmati fasilitasnya. Alasannya mungkin terdengar gila bagi sebagian orang. Aku ingin melihat Seruni—berinteraksi dengannya. Setelah sebelumnya hanya mendengar cerita tentangnya dari Kak Vania, menerima kabar tentang keberhasilannya menyelesaikan training internasional, dan diam-diam mengirimkan makanan atau bunga tanpa pernah mengaku sebagai pengirimnya, akhirnya aku tahu jadwal penerbangan perdana internasionalnya dan membeli tiket untuk ikut terbang bersamanya. Aku tahu apa yang kulakukan ini nekat. Kalau sampai Seruni mengenaliku sebagai adik Kak Vania, rencanaku pasti berantakan. Saat dia mulai berjalan menyusuri kabin dengan seragam pramugari internasionalnya, aku sempat terpaku. Cantik. Tidak... cantik saja rasanya belum cukup menggambarkannya. Rambutnya tersanggul rapi, langkahnya anggun, senyumnya hangat, dan tatapannya memancarkan rasa percaya diri yang selama ini hanya bisa kubayangkan dari cerita Kak Vania. Ada rasa bangga meski dia bukan siapa-siapaku saat ini. Perempuan yang selama ini diam-diam kukagumi benar-benar berhasil mewujudkan mimpinya.
Aku mencari alasan agar Seruni berhenti sedikit lebih lama di dekatku, tiba-tiba bernunculan banyak ide di kepalaku. Awalnya aku modus memesan kopi, padahal aku sebenarnya tidak terlalu ingin minum kopi malam itu. Sama sekali tidak mengantuk, segar malah melihat perempuan yang aku kagumi itu. Aku hanya ingin mendengar suaranya lebih lama. Saat dia pergi menyiapkan pesananku, aku baru sadar kalau sejak tadi bibirku tidak berhenti tersenyum.
"Dasar, Lucky," gumamku pelan. Kapan aku jatuh cinta? Lupa, tapi rasanya tidak seperti ini.
Begitu dia kembali membawa secangkir kopi, aku kembali menggodanya. Bukan karena ingin membuatnya tidak nyaman. Aku hanya ingin melihat reaksinya. Dan seperti yang kuduga... Seruni tetap profesional. Dia hanya membalas seperlunya dengan senyum tipis yang terasa begitu tulus. Aku akhirnya mencari alasan lain agar dia kembali menghampiri. Memesan makanan lebih awal, meski sebenarnya aku belum terlalu lapar. Saat dia datang membawa makanan, aku kembali melontarkan beberapa kalimat ringan. Aku menahan tawa di dalam hatiku. Kalau saja Seruni tahu siapa aku sebenarnya, mungkin dia akan menggeleng heran melihat tingkahku dan mengadukannya kepada Kak Vania. Namun, ada satu hal yang memang sudah kupersiapkan sejak sebelum naik pesawat. Aku tidak ingin pertemuan pertama kami di tempat kerjanya hanya dipenuhi gombalan receh. Aku ingin meninggalkan satu kalimat yang semoga bisa dia ingat. Bukan sebagai rayuan, melainkan sebagai doa. Aku menyampaikan kalimat yang sejak awal ingin kusampaikan. Semoga, jika suatu saat dia melewati hari yang berat, dia tetap percaya bahwa Tuhan selalu menyiapkan kebahagiaan setelah setiap kesulitan.
Perempuan itu terdiam sejenak, kemudian sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. Cantik. Seruni yang cantik karena segala hal yang ada pada dirinya.
Dan aku pun ikut tersenyum, dengan tanganku yang terkepal di sisi tubuhku. Menahan diri yang tak memeluk perempuan itu, ingin mengatakan bahwa dia boleh menangis dan menceritakan segala perih yang dirasa. Namun, tidak mungkin aku melakukan itu karena aku di matanya saat ini tak lebih dari sekedar orang asing.
“Terima kasih banyak ya, Mas. Nice to meet you too. Semoga hari-hari masnya juga indah. Emm… kalau boleh tahu, saat ini Masnya ada agenda liburan atau ada kerjaan ke Jepang?”
Aku sedikit terkejut ketika perempuan itu bertanya, tak langsung pergi begitu saja.
“Saya mau liburan ke sana, semingguan. Oh ya, nanti kapan Mbak ada penerbangan ke Jepang lagi? Kali nanti saya pulangnya naik penerbangan yang ada Mbaknya lagi. Kan jadi enggak bete saya di pesawat, lihat yang indah begini.” Padahal, aku sudah tahu jadwalnya Seruni dari Kak Vania.