“Pertemuan dan perpisahan adalah bagian dari takdir. Tetapi apa yang kita jalani, itu adalah bagian dari nasib. Pertemuan setelah perpisahan adalah hal yang indah. Namun, ada kalanya perpisahan setelah pertemuan akan terasa menyakitkan.”
*****
Kini Nazarel dan pemuda bernama Irwan itu digiring ke kantor polisi. Keduanya disuruh turun dari mobil lalu masuk ke dalam kantor polisi. Sementara mobil Nazarel juga sampai di sana dan diparkirkan di tempat parkir tempat mobil dan motor rampasan atau kendaraan curian.
Nazarel dan Irwan duduk saling berjauhan untuk ditanyai.
Muncul seorang pria tampan, berseragam polisi dan tampaknya pria itu ketua kepolisian di sana. Atau lebih tepatnya, Ajun Komisaris Polisi (AKP) muda. Terlihat jelas di pangkat seragamnya, yaitu tiga balok emas.
Nazarel tampak biasa saja melihat kedatangan pria itu. Dia melirik sekilas tag nama di d**a pria tersebut.
Zand Navindra. Nama yang dibaca sekilas oleh Nazarel.
“Ada kasus apa ini?” tanya pria itu melirik sekilas pada Nazarel dan juga Irwan, kemudian membuka map laporan baru itu.
“Keduanya berkelahi di pinggiran jalan, gadis ini juga melanggar peraturan lalu lintas dengan memarkirkan mobilnya sembarangan,” ujar polisi yang ditanya atasannya itu.
Pria bernama Zand itu membaca sekilas laporan tersebut.
Irwan mencoba membela dirinya. “Dia yang menyerang saya duluan, Pak.”
“Lo yang duluan!” bentak Nazarel tetap tak terima.
“Kenapa lo turun dari mobil? Kenapa nggak berpura-pura saja nggak kenal dengan gue? Mungkin kita nggak akan masuk ke kantor polisi?” ngotot Irwan tetap tidak terima.
“LO-”
“DIAM! KALIAN BERDUA DIAM!” sergah Zand jengah dengan perdebatan keduanya.
Nazarel menjadi diam kembali. Hari ini dia mendapat beberapa kali bentakan seperti itu membuat nyalinya menciut.
Irwan pun ikut diam tak bisa berkata lagi.
“Nama lengkap?” tanya Zand duduk di depan keduanya.
“Nazarel,” jawab Nazarel jutek. Meski tampan, dia tak suka dengan polisi sebab selain kasar, tukang pukul dan juga para polisi itu bukanlah salah satu tipe pria idamannya atau lebih tepatnya bukanlah tipe yang ada di daftar calon suaminya.
“Nama lengkap?” tanya Zand lagi melirik tak suka dengan gadis itu.
“Nazarel Meilla Adhitama,” jawab Nazarel menyebutkan nama lengkapnya.
Zand menulis nama itu. Nama Adhitama tampaknya sudah tak asing baginya. Atau mungkin nama itu memang banyak dipakai beberapa keluarga.
“Kau?” tanya Zand pada Irwan.
Irwan pun menyebutkan namanya.
“Coba jelaskan bagaimana kejadian sebenarnya? Jawab dengan jujur atau kalian berdua akan dimasukkan ke dalam penjara,” ancam Zand serius.
Awalnya Nazarel yang menjelaskan, Irwan tak terima kemudian terjadilah pertengkaran itu lagi membuat Zand memijit pelipisnya pusing. Kejadian itu sudah sering terjadi.
“Toni, tolong kau urus keduanya,” kata Zand tak punya waktu menghadapi keduanya. Bahkan gadis di hadapannya itu sudah seperti anak SD sedang rebutan permen. Dengan pakaian merah putih, benar-benar dia membayangkan anak SD. Namun, kasihan juga melihat kemeja putih Nazarel ada beberapa robekan tanpa dipedulikan oleh gadis itu.
Zand pergi meninggalkan Nazarel dengan Irwan. Lalu keduanya disuruh menelepon wali atau orang terdekat yang ingin dihubungi untuk menebus keduanya di sana.
Nazarel terpaksa harus memakai telepon kantor polisi. Sebab ponselnya hancur dan tak sempat dia punguti di jalan tadi.
Tak ada yang menyangka, jika Zand datang dari ruangannya membawa jaketnya kemudian diberikan pada Nazarel.
Semua bawahannya mengerjap tak percaya. Itu adalah pertama kalinya atasan mereka memberikan jaket biasanya untuk seorang gadis. Kasihan? Tetapi jika kasihan, Zand selalu menyuruh anak buahnya mengambil selimut cadangan di sana untuk menutupi tubuh seseorang.
“Untuk apa ini, Pak?” tanya Nazarel malah takut.
“Kau pakai untuk menutupi sementara tubuhmu itu sampai orang tuamu datang, lihatlah bajumu banyak sobekannya,” ujar Zand membuat semua bawahannya semakin heran. Bagaimana tidak heran? Sebab pertama kalinya Zand memperhatikan penampilan seseorang dan kini berbagai pertanyaan bersarang di benak masing-masing.
Apa karena gadis itu cantik dan imut? Atau karena dia memakai rok mini dan kemeja robek sehingga mengundang pikiran m***m bagi setiap pria yang melihatnya? Entahlah. Hanya Zand yang tahu.
Nazarel menerima dengan ragu lalu memakai jaket kebesaran itu. Kenapa jaket itu harum sekali? Padahal dia membayangkan jika para polisi itu pasti bau keringat karena setiap hari bekerja dan patroli di jalanan dengan debu dan juga kepanasan. Atau karena pria itu seorang atasan, jadi kerjaannya hanya di dalam kantor dan duduk-duduk saja?
Setelah memberikan jaketnya. Zand kembali masuk ke dalam ruangannya lalu duduk membuka map-map kasus yang harus dipecahkannya.
Nazarel dan Irwan kembali menjelaskan asal usul kejadian tadi dan cerita Nazarel membuat polisi yang sedang menangani keduanya sesekali tersenyum dan tertawa. Kasus sepele itu menyeret keduanya ke dalam kantor polisi.
Nazarel lah yang paling bersalah karena melanggar lalu lintas juga.
Kini, Nazarel terpaksa menelepon ibunya dan sudah pasti ibunya membawa pengacara ke sana dengan hati marah. Bagaimana tak marah? Seumur hidupnya. Pertama kalinya ada salah satu keluarga mereka masuk ke kantor polisi dan itu adalah anaknya. Kalau suaminya sampai tahu, bisa habis Nazarel dan sudah pasti akan dikuliahkan di Luar Negeri dengan penjagaan ketat.
Setelah lama menunggu.
Lorra datang bersama pengacara lalu masuk ke dalam kantor polisi.
“Ma!” Nazarel berlari memeluk ibunya yang baru saja masuk ke dalam.
“Kamu …,” amarah Lorra hampir saja meledak tetapi berhasil ditahannya. Apalagi melihat keadaan anaknya itu yang berantakan.
“Ma, apa aku akan dipenjara?” tanya Nazarel takut.
Lorra menggelengkan kepalanya lalu mendekati Pak polisi yang sedang mengetik menangani Nazarel. Mendengarkan asal muasal kejadian dan ternyata anaknya lah yang bersalah.
Beberapa lama kemudian.
Kasus itu pun ditutup dengan kedua belah pihak saling meminta maaf dan Lorra bersama pengacaranya menyelesaikan semuanya dengan baik-baik. Menebus mobil Nazarel juga.
Kemudian mereka diperbolehkan pergi dari kantor polisi.
Nazarel tanpa sadar membawa jaket Zand pulang bersama dengannya. Mobil milik Nazarel pun dibawakan oleh sopir yang mengantar Lorra ke sana.
“Pak Heri. Tolong jangan beritahu kejadian ini sama suami saya di kantor,” pinta Lorra pada pengacara mereka bernama Heri.
“Tentu saja tidak akan Nyonya. Anda jangan khawatir,” jawab Heri mengangguk mengerti.
“Terima kasih,” ucap Lorra merasa sedikit tenang.
“Terima kasih, Pak Heri.” Nazarel juga mengucapkan terima kasih pada Heri.
Heri tersenyum seraya mengangguk kemudian pergi duluan menuju mobilnya.
Lorra berjalan menuju tempat parkir lalu masuk dan duduk di kursi kemudi, sementara Nazarel duduk di sampingnya.
Nazarel duduk di depan dengan menyandarkan punggung serta kepalanya di sandaran kursi sembari pura-pura tidur.
“Nazarel, bagaimana bisa kau bersikap seperti berandalan, hah?” tanya Lorra tahu jika anaknya tidak tidur dan mendengarnya.
“Aku ngantuk Ma,” jawab Nazarel malas mendengar omelan ibunya itu.
“Ngantuk? Ini masih siang dan kau bilang ngantuk?” Kesabaran Lorra tampaknya benar-benar sudah menipis.
“Mama udah dengar semua ceritanya di kantor polisi. Jadi untuk apa aku menjelaskannya lagi?” kata Nazarel membuka kedua matanya seraya menyilangkan kedua tangannya di d**a, sebal.
“Apa kau akan terus seperti ini?” tanya Lorra kesal.
“Seperti ini gimana? Aku hanya ingin sedikit saja kebebasan Ma. Otakku hampir pecah karena selama ini Papa nggak memberiku waktu untuk bersenang-senang. Sepulang sekolah les private. Di waktu libur juga les ini dan les itu. Jadi biarkan aku menikmati kebebasanku setahun aja Ma. Tahun depan aku akan mendaftar kuliah, aku janji,” ujar Nazarel semakin sebal. Kenapa kedua orang tuanya itu tidak mengerti perasaannya.
Lorra mengembuskan napasnya panjang. Ia pun membawa anaknya itu pulang ke rumah.
Sesampainya di halaman rumah. Nazarel langsung turun lalu berlari masuk ke dalam tanpa sepatunya. Sebab semenjak dari kantor polisi pun, gadis itu sudah tak memakai sepatu hak tingginya.
Lorra hanya menghela napasnya berat. Sampai kapan anaknya akan bersikap urakan seperti itu? Apa dia salah mendidik? Atau perlakuan sedikit keras ayahnya yang membuat sifat Nazarel menjadi seperti itu? Entahlah, dia merasa tak terlalu memanjakan anaknya tersebut.
Sesampainya di dalam kamar.
Nazarel mengeluarkan ponsel barunya di dalam laci nakas, memasang kartu cadangannya lalu menghubungi para sahabatnya kalau dia akan telat datang karena sebuah halangan tadi di jalan.
Kembali ke kantor polisi.
Zand sedang membaca sebuah berkas kasus narkoba.
Datang bawahannya sekaligus sahabat dari kecilnya yaitu Faizal Hardan. Keduanya sama-sama sekolah kepolisian. Tetapi karena kepintaran serta banyak kasus yang dipecahkan Zand dan juga banyak prestasinya di kepolisian. Dia yang cepat naik pangkat.
“Kapten, saya datang melapor,” kata Faiz memberi hormat pada Zand.
“Melapor apa?” tanya Zand serius tanpa memandang sahabatnya itu.
“Saya lapar Kapten,” canda Faiz mendapat lirikan tajam dari Zand. “Haha, serius sekali kau. Akh, lelah sekali.” Ia duduk di kursi depan meja Zand.
“Gimana perkembangan kasus pembunuhan di dekat jembatan itu? Apa sudah ada bukti-bukti yang mengarah ke siapa pelakunya?” tanya Zand selalu serius jika dalam pekerjaan.
“Kasus kali ini susah sekali. Tetapi kami sedang menelusuri dari akun-akun sosmednya. Tampaknya wanita itu mati karena bertemu dengan seorang pria yang baru di kenal di sosmednya,” ujar Faiz masih kurang yakin. Sebab wanita korban itu punya musuh-musuh juga di kampung tempat tinggalnya.
Zand menoleh menatap Faiz. “Lalu bagaimana dengan kasus tentang laporan anak hilang itu?”
“Kami juga sedang menelusuri dan menghubungi berbagai kantor polisi di seluruh pelosok untuk mencarinya.” Faiz menatap wajah Zand seolah ada yang aneh dengan temannya itu.
Zand mengerjap aneh melihat tatapan sahabatnya itu. “Kenapa? Ada yang aneh di wajahku?” tanyanya sembari mengusap wajahnya, takut ada debu atau sesuatu di wajahnya itu.
“Kenapa kau tampan sekali? Tetapi aneh, kenapa sampai sekarang kau belum menikah juga,” canda Faiz kembali tertawa.
“Sialan kau,” kata Zand seraya melemparkan pulpen ke arah Faiz yang ditangkap sigap temannya itu dengan tawanya yang menggema, “kau juga sama saja belum nikah.”
“Lapar nih. Makan dulu Kapten.” Faiz mengusap perutnya yang keroncongan karena sudah siang.
“Ya sudah, beli saja dan makan di sini. Masih banyak kerjaan yang harus aku selesaikan,” jawab Zand sembari tampak mencari-cari sesuatu.
“Nyari apaan?” tanya Faiz mengernyitkan keningnya.
“Dompet di dalam jaketku,” jawab Zand mencari jaketnya. Dan akh, dia sungguh lupa jika jaketnya tadi diberikan pada gadis itu. “Sialan. Aku lupa malah memberikan padanya.”
“Memberikan apa?” tanya Faiz tak mengerti.
“Jaketku.”
“Pada siapa?” tanya Faiz lagi. Sejak kapan Zand jadi dermawan dengan memberikan jaketnya itu pada orang lain.
“Gadis it …” ucapan Zand menggantung dikala melihat raut aneh Faiz menatapnya, “… sudahlah lupakan saja,” ujarnya sembari mengangkat telepon duduk untuk memanggil bawahannya di ruangan lain.
“Ceritakan gadis mana yang kau beri jaketmu itu?” Faiz makin gencar menanyai Zand karena penasaran.
Zand tak menggubris pertanyaan Faiz. “Kau beliin dulu makanan pakai uangmu. Nanti aku ganti,” ucapnya sembari menunggu teleponnya diangkat.
“Ya Kapten. Ada apa?” tanya bawahannya yang ada di ruangan lain.
“Apa kau menulis alamat gadis tadi yang bertengkar dengan seorang pria serta menyalahi peraturan lalu lintas?” tanya Zand kembali serius.
“Iya Sir. Ada alamatnya tercantum di sini dan nama yang menjemputnya serta nomor teleponnya (Lorra) juga.”
“Baiklah. Segera bawa ke sini,” kata Zand seraya menutup teleponnya. Kenapa bisa dia sampai teledor memberikan jaket berisi dompetnya itu pada gadis tak dikenal.
“Hey, kenapa aku kau kacangin sih?” kata Faiz pura-pura kesal.
“Sudah pergilah beli makanan. Nanti aku ceritakan semuanya,” jawab Zand menunggu bawahannya membawa berkas berisi alamat lengkap Nazarel.
Faiz mengangkat bahunya acuh. “Baiklah, kali ini aku biarin. Nanti aku akan tagih bagaimana ceritanya jaketmu bisa diberikan pada seorang gadis.” Ia pun bangkit dari duduknya kemudian pergi dari ruangan Zand.
Zand masih menunggu bawahannya datang ke sana.
Sementara di rumah Tuan Rama.
Nazarel sudah selesai mandi. Setibanya di kamar. Dia langsung membuka jaket dan pakaiannya yang kotor, kemudian pergi mandi. Hancur sudah rencana bertemu dengan teman-temannya. Tetapi dia akan menemui para sahabatnya nanti malam saja.
Nazarel keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk lain. Keningnya mengernyit melihat sebuah dompet di atas karpet di dekat ranjangnya. Tadi dia tak menyadari dikala melemparkan jaket Zand ke sembarang. Dompetnya ikut jatuh dari saku jaket tersebut.
“Dompet siapa?” gumamnya aneh.
Dia memungut lalu membuka dompet itu. Ada foto ID seorang pria dan juga beberapa kartu ATM. Kedua matanya membulat, baru menyadari kalau dia tak mengembalikan jaket polisi itu dan kini dompetnya juga terbawa olehnya.
“Aduh, aku lupa mengembalikannya. Apa bakalan dipenjara?”
Karena ketakutan. Akhirnya dia bergegas bersiap-siap untuk mengembalikannya pada Pak polisi tadi sebelum dituduh kasus pencurian. Dan dia juga tidak berani membuka-buka isi dompet tersebut.
Nazarel tampak kebingungan. Apakah dia harus mengantarkan jaket itu kembali ke kantor polisi? Tampaknya memang harus begitu. Apalagi dompet itu pasti sangat penting bagi polisi tadi.
Tetapi ternyata di jaket itu ada noda bekas cokelat di mana saat dia melemparkannya sembarangan. Ujung lengannya jatuh ke dalam tempat sampah yang terletak di antara ranjang dan meja belajarnya. Terkena bungkus bekas cokelat di dalam tempat sampah itu.
“Oh no, bisa dipenjara aku kalau mengembalikan jaketnya kotor begini,” ucapnya panik. Sebaiknya dia mencuci dulu jaketnya dan mengembalikan dompetnya duluan.
Ia pun bergegas memakai pakaiannya.
Di kantor polisi.
Zand sudah mendapatkan alamat gadis tadi serta nomor teleponnya. Ia segera menghubungi nomor Nyonya Lorra yang tercantum di berkas wali pelaku.
Deringan pertama tak diangkat.
Di deringan kedua. Akhirnya ada yang mengangkatnya.
“Ya Hallo? Dengan siapa ini?” sapa Lorra di seberang.
“Akh, maaf nyonya. Saya inspektur Zand-”
“Apa ada masalah lagi Pak polisi?” tanya Lorra terdengar kaget dan cemas.
“Tidak Nyonya. Tapi saya hanya ingin mengatakan kalau jaket dan dompet saya tak sengaja terbawa oleh putri Anda. Jadi, mungkin saya akan mengambilnya ke sana kalau tidak keberatan,” ujar Zand menjelaskan.
Hening sejenak dan mungkin Lorra tengah berpikir. “Oh ya. Ternyata jaket tadi milik Anda. Maafkan, mungkin anak saya lupa.”
“Ya. Saya pun lupa. Maaf, jika bukan karena dengan dompetnya, mungkin saya takkan mengganggu Anda sekarang, Nyonya.”
“Tak apa, atau sekarang biar sopir saya yang mengantarkan ke sana dompet dan jaketnya,” kata Lorra ikut sopan juga.
“Tak apa Nyonya. Biar saya saja yang ke sana,” kata Zand tak enak sendiri. Tetapi ada panggilan lain masuk ke ponselnya itu. “Maaf Nyonya, ada panggilan penting yang harus saya terima. Jadi, saya akan memberi kabar lagi kapan saya akan ke sana mengambilnya.”
“Baiklah, saya akan meminta pada anak saya barang milik Anda.”
Zand mengangkat telepon yang tak lain dari kakaknya, Zicko. Setelah melihat Nyonya Lorra memutuskan panggilannya. “Ada apa Kak?”
“Zand, jam berapa kau pulang?” tanya Zicko dengan nada terdengar cemas.
Zand melirik jam tangannya. “Sebentar lagi. Tapi aku akan mampir dahulu ke suatu tempat. Memangnya kenapa?”
“Baguslah kalau begitu. Aku ada urusan mendadak di kantor dan kakak iparmu menunggu untuk aku jemput. Kau tahu kan kalau dia tak bisa membawa mobil lagi dan juga kami belum mendapat sopir baru. Sopir ayah juga sedang mengantar Bunda. Jadi bisa kan kau jemput dia di depan kantornya?”
Zand tampak berpikir sejenak. “Baiklah, aku akan menjemputnya sekarang.”
“Oh syukurlah. Maaf selalu merepotkanmu, adikku.”
“Nggak apa kak. Sekarang aku akan menjemputnya,” kata Zand lalu memutuskan panggilan kakaknya yang tampaknya sedang sangat sibuk di kantor.
Datang Faiz membawa kotak makanan. Dia heran melihat Zand bergegas membereskan mejanya serta memakai jaket polisinya. “Mau ke mana woy? Aku udah beliin makanan begini.”
“Sorry. Hari ini kau makan saja dengan yang lain. Uang makanan itu besok saja aku ganti. Aku ada urusan penting,” jawab Zand tampak buru-buru.
“Urusan penting bertemu gadis yang mencopet dompetmu itu?” canda Faiz mendapat senyuman tipis dari Zand.
Zand menepuk sebelah pundak Faiz lalu pergi dari ruangannya.
★BERSAMBUNG★