“Perhatian dan aturan orang tua bukanlah sebuah kebencian atau penyiksaan. Semua itu adalah bentuk dari sebuah kekhawatiran dan kasih sayang. Jika kau membencinya, maka suatu saat nanti kau akan merasakan bagaimana perasaan mereka, setelah kau menjadi orang tua bagi anak-anakmu.”
*****
Melihat teman sekaligus atasannya itu pergi. Faiz hanya menghela napasnya kemudian membagikan kotak makanan yang sengaja dia beli banyak untuk rekan-rekannya di sana.
Zand naik mobil dinas jeep hummer polisinya yang tanpa atap berwarna putih dan sudah pasti bertulisan serta berlambang kepolisian. Melajukan mobilnya menuju ke sebuah perkantoran pengacara 35 menit dari kantor polisi tempatnya bekerja.
Sepanjang jalan dia memikirkan dompetnya sebab di dalamnya ada kartu serta ID pentingnya. Dia takut jika gadis tadi sampai menghilangkan atau tak sengaja jatuh dari jaketnya.
Kembali ke rumah Nazarel di mana gadis itu sudah selesai berdandan minimalis. Memakai celana sobek-sobek lututnya dan juga sweater bertudung berwarna cokelat rangkapan kaos bergambar tengkorak di dalamnya. Rambutnya selalu dikuncir kuda dan juga tak lupa anting-anting lucunya serta kalung bergantungan kepala tengkorak di lehernya.
“Ma! Aku pergi dulu!” teriak Nazarel menuruni tangga dengan tergesa.
“Ehh, tunggu dulu. Mama hampir lupa. Apa kau menemukan dompet Pak polisi yang di dalam jaket? Sekarang mana jaketnya? Kenapa nggak ngomong kalau jaket itu milik Pak polisi?” tanya Lorra beruntun.
“Iihh Mama. Baru aja aku mau ngomong kalau mau pergi untuk mengembalikan dompet Pak polisi itu dan juga jaketnya,” jawab Nazarel mengeluarkan dompet di dalam tas selendangnya serta jaket di dalam paper bag, “tapi jaketnya harus dicuci dulu di laundry Ma. Sebab kotor,” ucapnya setengah meringis memperlihatkan lengan jaket yang kotor dan harus dibawa ke laundry.
“Jangan dianterin. Katanya dia mau datang ke sini mengambilnya. Kalau jaketnya nanti biar bi Ipih aja yang sekalian pergi ke laundry nganterin pakaian ayahmu juga.”
Nazarel menatap ibunya. “Dia mau datang ke sini? Beneran? Mau ngambil barangnya?” tanyanya tampak tak percaya.
Lorra mengangguk sambil mengulurkan tangannya meminta dompet. “Nanti jaketnya kalau sudah bersih, biar sopir yang mengantarkan ke kantor polisinya.”
“Dari mana Mama tau kalau dia mau datang ke sini?” tanya Nazarel dengan tatapan curiga.
“Barusan dia menelepon,” jawab Nyonya Lorra tahu tatapan anaknya itu.
“Dari mana dia tau nomor Mama dan juga alamat ini?” tanya Nazarel belum memberikan dompetnya itu.
Lorra menghela napasnya jengah. “Kalau kau tak masuk ke kantor polisi. Mama nggak terpaksa memberikan nomor ponsel dan juga menulis alamat ini serta menunjukkan ID pribadi Mama, hah.”
Nazarel jadi nyengir tanpa rasa bersalah. Benar juga kata ibunya itu. Kini dia sudah menjadi salah satu orang yang pernah masuk ke dalam kantor polisi. Dan untung saja dia tak masuk ke dalam penjara. “Kalau begitu thanks, Ma.”
“Awas kalau sekali lagi kamu bertarung lagi sama pria atau siapa pun di jalan. Mama bakalan laporin ke Papamu biar kena hukuman,” ancam Lorra.
Namun, ancaman itu hanya membuat Nazarel nyengir lalu mengecup pipi Lorra sekilas. “Aku berangkat dulu, Ma.”
“Jangan malem-malem pulangnya,” kata Lorra menatap punggung anaknya itu.
Nazarel hanya mengacungkan jempolnya tanpa menoleh lagi ke belakang. Ia mengeluarkan ponsel cadangannya berisi nomor lain tadi sebab nomor utama hilang bersama ponselnya yang dibanting oleh Irwan. Menghubungi salah satu temannya.
Tetapi langkahnya terhenti kala melihat asisten rumah tangga ibunya sedang berbicara dengan seorang pria yang diketahuinya pria itu adalah suaminya, keduanya berdiri di pinggir gerbang sana.
Kedua matanya mengerjap melihat bagaimana gerak-gerik pria itu yang seolah-olah ingin memukul istrinya itu.
Tak lama asisten rumahnya itu masuk kembali ke dalam dengan kepala menunduk, sementara suaminya pergi naik motor.
“Bi Ipih?” sapa Nazarel melihat asistennya itu berjalan dengan kepala menunduk dan tak menyadari kehadirannya di halaman rumah dekat mobilnya itu.
“Eh Non. Mau pergi lagi?” tanya wanita bernama Ipih itu selalu dengan senyuman.
“Iya bi,” jawab Nazarel memperhatikan ada bekas lebam biru di bawah mata dan sudut bibir wanita itu. “Bi, itu …?”
“Ahh, ini kemarin kejedot pintu di rumah Non. Dasar bibi kan suka teledor,” jawab Ipih tampak menyembunyikan sesuatu.
Nazarel tahu kalau itu bukan bekas kejedot, mirip dengan bekas pukulan. Tetapi dia tak berani bertanya lagi. “Bibi ini ada-ada aja. Pasti sakit ya. Udah diobatin belum?”
“Sudah Non makasih. Tadi Nyonya ngasih obat lebam dan oh ya. Nanti buat makan malam mau bibi masakin apa, Non?” tanya Ipih basa-basi dan mengalihkan pembicaraan.
“Hmmm, bikinin sushi irisan ayam aja bi.” Nazarel kangen dengan masakan sushi buatan wanita itu. Meski bentuknya sushi Jepang. Tetapi rasanya tetap masakan Indo asli yang membuat dia menyukainya.
“Baiklah. Nanti Non pulang, makanan sudah siap.” Bi Ipih tersenyum karena Nazarel sangat baik padanya dan juga anak gadisnya.
Nazarel tersenyum kemudian pamit pergi. Ia naik mobilnya lalu melaju menuju ke mall baru.
Di lain tempat.
Zand sudah sampai di gedung para pengacara. Dari kejauhan dilihatnya seorang wanita anggun tengah berdiri di dekat tangga gedung itu.
Wanita itu tersenyum kala melihat kedatangan mobil Zand.
Zand berhenti tepat di depan wanita itu. “Naik, kak Zicko nggak bisa jemput. Ada pekerjaan mendadak,” ujarnya sembari membukakan pintu dari dalam.
Wanita itu mengangguk kemudian segera naik. “Aku tahu, tadi mas Zicko menelepon kalau kau yang akan menjemput. Maaf selalu merepotkanmu.”
“Nggak apa. Selama kalian belum dapat sopir pengganti. Aku nggak keberatan untuk menjemputmu jika kak Zicko sibuk,” jawab Zand dengan raut wajah biasanya. Lalu melaju menuju ke rumah kedua orang tuanya sebab Zicko dan istrinya tinggal bersama mereka dan terkadang dia juga menginap di sana sesekali sebab selama ini dia tinggal di apartemen pribadi di kawasan khusus para perwira lainnya.
Sepanjang perjalanan. Keduanya diam tanpa kata, tak ada pembicaraan sama sekali seolah canggung dan baru kenal.
“Gimana pekerjaanmu?” tanya wanita itu yang tak lain bernama Qeira, mengawali pembicaraan.
“Biasa saja. Sedang sibuk karena akhir-akhir ini banyak kasus baru yang belum terpecahkan,” jawab Zand datar.
Qeira hanya tersenyum tipis. “Lalu, bagaimana hubunganmu dengan dokter cantik itu?” tanyanya dengan nada terdengar sedikit getir di telinga Zand.
Zand melirik sekilas melihat raut wajah kecewa dari kakak iparnya itu. “Kami nggak punya hubungan apa-apa. Dia hanya mengobati lukaku yang dulu karena menghentikan tawuran itu,” jawabnya sembari kembali fokus menyetir.
Angin menerpa wajah keduanya membuat Qeira memejamkan kedua matanya sejenak. Seakan-akan meredam rasa nyeri di dadanya dan juga terlihat lega mendengar jika Zand tak ada hubungan apa-apa dengan seorang dokter yang akhir-akhir ini digosipkan dekat dengan pemuda itu.
Zand hanya menghela napasnya berat.
“Bagaimana kabar kau dan kak Zicko?” tanya Zand memberanikan bertanya tentang keadaan keduanya.
“Aku dan kakakmu sebenarnya-”
“Sudahlah. Aku nggak mau mendengarnya dan juga maaf jika aku sudah bertanya. Aku berharap kalian baik-baik saja,” potong Zand. Entah kenapa dia tak mau mendengar cerita kehidupan rumah tangga kakak dan kakak iparnya itu. Dan memang semua itu masalah pribadi mereka. Buat apa dia banyak tanya dan ingin tahu.
Mobil memasuki area pekarangan sebuah rumah besar daerah perkomplekan.
Di taman pinggiran rumah, duduk seorang wanita paruh baya tengah meminum tehnya dan beberapa camilan di atas meja. Bibirnya tersenyum melihat kedatangan anak serta menantunya itu.
Zand dan Qeira turun bersamaan kemudian menghampiri Nyonya Dhalia.
“Loh, Zicko pasti sibuk lagi ya sampai kau dijemput sama Zand, sayang,” sambut Dhalia tersenyum kepada keduanya.
“Iya Bun. Tadi mas Zicko menelepon ada pekerjaan mendadak. Jadi nggak bisa jemput,” jawab Qeira tersenyum kepada ibu mertuanya itu.
Zand mengecup puncak kepala ibunya. “Tadi kata kak Zicko. Bunda lagi pergi keluar bersama sopir?”
“Iya, baru saja pulang. Tahu gitu Bunda mampir ke gedung perkantoran Qeira untuk menjemputnya sekalian. Kamu menunggu lama kan, sayang?” Dhalia menatap menantu kesayangannya itu dengan rasa bersalah.
“Nggak lama kok Bun. Cuma beberapa menit karena Zand keburu datang,” jawab Qeira menoleh menatap Zand yang diam saja.
“Baguslah,” Dhalia menatap Zand yang gagah memakai seragam dinasnya itu. “Kamu makan di sini kan atau menginap? Kenapa jarang sekali kau menemui ibumu ini, hah?” tanyanya pura-pura sebal.
“Maaf Bun. Sibuk banget, jadi nggak sempat mampir. Beberapa minggu ini pulang malam terus. Jadi kalau nginap hanya akan menggangu orang rumah ini,” ujar Zand menjelaskan kenapa dia jarang mengunjungi orang tuanya itu.
“Hmm gitu ya. Kalau gitu, Bunda akan nyuruh bi Nane untuk memasak makanan kesukaanmu lalu diantarkan ke apartemenmu. Kamu terlihat sedikit kurus karena banyak kerjaan dan pasti makannya terbengkalai,” kata Dhalia menatap anaknya itu dari atas sampai bawah yang terlihat sedikit kurus.
“Baguslah kalau begitu. Soalnya bosan beli di luar terus,” jawab Zand nyengir.
“Tuh kan. Bunda bilang juga apa. Kalau lapar datang ke sini. Memangnya berapa jam sih kalau datang ke sini, sudah seperti pergi ke luar kota saja,” gerutu Dhalia mengomeli anaknya itu.
“Iya-iya. Nanti aku akan rajin datang ke sini. Sekarang aku pulang dulu Bun. Masih banyak yang harus aku kerjakan hari ini,” pamit Zand sembari memeluk ibunya sekilas dari samping lalu bergegas pergi dari sana.
“Anak itu. Karena tugas, sering melupakan makannya. Memangnya tugas lebih penting dari pada mengisi perutnya?” Dhalia masih saja mengomel melihat Zand sudah naik ke mobilnya kemudian pergi lagi.
Qeira memeluk Dhalia dari samping juga. “Bunda jangan khawatir. Zand pria kuat dan bertanggung jawab dengan kewajibannya. Jadi, kita bikinin makanan kesukaannya. Aku akan membantunya.”
Dhalia mengangguk. Menantu kesayangannya itu selalu saja mengerti tentangnya dan juga semuanya.
Entah apa yang berputar di benak Zand sepanjang jalan menuju apartemennya. Sampai dia melupakan tentang dompetnya.
Zand sampai di basement. Lalu parkir di dekat mobil pribadinya yang berjejer dengan mobil rekan-rekan kepolisiannya yang lain. Ia memasuki lift lalu memencet lantai 15.
Seperti biasa dia masuk ke dalam kamar kemudian mandi. Setelah itu dia melihat map-map kasus yang dibawanya ke apartemennya itu.
Karena sibuk dan hampir terlupakan.
Sampai malam, Zand baru mengingat dompetnya di rumah Nazarel. Akhirnya dia berniat untuk mengambilnya sebab takut besok pagi tak sempat untuk mengambilnya.
Dia pun menghubungi dahulu Lorra untuk meminta izin mengambilnya. Takut keluarga itu sudah tidur karena hari sudah hampir larut malam.
Dan Lorra mengatakan tak apa, kapan saja dia mengambilnya karena dompet akan dititipkan di pos satpam di depan, takut dia ketiduran.
Zand pun bergegas pergi dari apartemennya. Memakai jaket parasit, kaos oblong hitam serta celana pendek army untuk sehari-hari. Sepatunya pun sepatu Aldo biasanya.
Di basement. Dia memakai mobil pribadi jeep wrangler abu-abu metalik. Melaju menuju ke alamat rumah Nazarel.
Hari ini entah kenapa ayah Nazarel pulang cepat. Sementara Lorra berulang kali mencoba menghubungi anaknya itu supaya cepat pulang.
Nazarel yang baru selesai nonton cinema bersama teman-temannya. Kaget melihat beberapa panggilan tak terjawab dari ibunya serta beberapa SMS sebab ponselnya di silent. Kedua matanya membelalak kala membaca kalau ayahnya sudah pulang karena tak enak badan dan ibunya itu mengatakan kalau dia sudah tidur. Jadi, jika dia pulang. Harus membiarkan mobil di luar dulu dan nanti malam, satpam yang akan memasukkannya ke dalam garasi. Dan dia boleh masuk setelah ayahnya tidur. Ia tentu saja langsung pamit pulang kepada teman-temannya.
Harusnya tiga jam lagi ayahnya pulang dan yah, ternyata hari ini ayahnya pulang cepat sebab sedikit tak enak badan.
Dua puluh menit kemudian. Nazarel sampai di samping rumahnya dan memberitahu kepada ibunya kalau dia sudah di pinggiran rumah. Jika ayahnya sudah tidur, maka dia akan segera masuk.
Ibunya membalas kalau ayahnya malah sedang duduk di ruang depan. Jika dia masuk lewat gerbang, ayahnya pasti tahu.
Nazarel jadi kebingungan. Apa yang harus dia lakukan? Duduk sejenak di dalam mobil dan akh, akhirnya dia punya ide.
Lorra duduk di dekat suaminya. “Mas, katanya nggak enak badan. Kenapa nggak istirahat saja?”
“Belum ngantuk honey. Nanti saja ingin melihat berita malam dulu, cuma masuk angin sedikit,” jawab Rama lalu menoleh menatap istrinya. “Tumben sekali Nazarel tidur cepat? Dia nggak keluyuran malam, kan?”
“Enggak sayang. Dia sudah tidur,” jawab Lorra menelan salivanya berat. Merasa bersalah karena sudah bohong pada suaminya itu.
Nazarel turun dari mobil lalu menguncinya. Dia mengerudungkan tudung sweater juga melepaskan sepatu hak tingginya kemudian berjalan menuju ke benteng samping rumah. Kebetulan Zand juga sudah datang ke sana dan melihat seseorang mencurigakan mengendap-endap menuju gang samping rumah. Dia melihat kalau Villa itu adalah alamat yang ditujunya.
Zand memarkirkan mobil tak jauh dari mobil Nazarel. Ia pun segera mengikuti wanita bertudung itu yang dicurigai akan mencuri di rumah incarannya itu.
Nazarel menemukan jalan yang dirasanya mudah. Yaitu menaiki benteng dengan cara naik ke atas pohon yang tingginya setengah benteng kemudian melompat dari sana ke halaman belakang. Dari situ dia akan masuk lewat pintu dapur yang akan dibukakan oleh bi Ipih kemudian langsung ke kamarnya tanpa sepengetahuan ayahnya. Pintar bukan rencananya.
Tetapi, tanpa Nazarel sadari jika kini di belakangnya ada seorang pria yang siap untuk menyergapnya di remang-remang.
Karena penerangan di sana minim. Nazarel berhati-hati naik cabang pohon pendek lalu melemparkan sepatu hak tinggi serta tasnya ke atas benteng yang terjun langsung ke atas rumput halaman belakang.
Setelah itu, ia pun segera mencoba menaiki benteng dengan susah payah. Tetapi, tiba-tiba saja belakang sweaternya ada yang menarik ke belakang sehingga dengan secepat kilat, tubuh Nazarel melayang ke belakang dan mendarat tepat di kedua tangan kekar seorang pria yang tak jelas wajahnya itu lalu diturunkan dengan cepat dan Nazarel pun memojokkan diri ke benteng.
“Aaa-?” Nazarel hendak berteriak. Tetapi keburu dibekap pria itu.
Maling? Pasti dia maling atau rampok berbahaya. Batin Nazarel ketakutan. Dia ingin sekali berlari meminta tolong pada dua satpam penjaga rumahnya di depan sana. Tetapi bekapan pria itu terlalu kuat dan seakan dipenjarakan oleh tangan kekar serta tubuh pria yang tinggi itu.
“Jangan berteriak,” pinta pria itu yang tidak lain adalah Zand.
Nazarel akhirnya bisa melihat wajah Zand yang tersorot lampu minim di sana. Dengan kasar dia menepis lengan Zand dari bibirnya.
“Kau Pak polisi? Sedang apa kau di sini?” tanya Nazarel pelan tanpa dosa dan lupa jika jaket dan dompet pria itu terbawa olehnya.
Zand mengusap wajahnya kasar. “Saya ke sini mau mengambil dompet dan jaket saya.”
Mulut Nazarel menganga sedikit. “Ma-maaf Pak. Aku lupa.”
“Kalau begitu, cepat ambilkan. Saya tidak punya banyak waktu,” perintah Zand dingin. Dia melihat ke bawah di mana gadis itu tidak memakai sepatu ataupun sandal. Pasti sudah dilemparkan ke atas benteng tadi.
“Baiklah, Bapak tunggu dulu di sini sebentar. Aku akan mengambilnya. Pasti Mama nitipin dompet Bapak di pos satpam,” jawab Nazarel teringat perkataan ibunya tadi yang berkata akan menitipkannya ke pos jaga.
Zand hanya menghela napasnya panjang.
Nazarel mengendap-endap menuju ke pos sebab tidak mau jika ayahnya tahu kalau dia saat ini masih keluyuran di luar seperti itu. Setibanya di pos satpam tepat di jendela yang terbuka mengarah ke jalanan. Ia hanya menyembulkan kepalanya saja ke dalam.
“Pak … Pak Omi!” panggil Nazarel ke salah satu satpamnya yang sedang duduk menonton TV. Sementara yang satunya keliling rumah untuk melihat situasi sekitaran.
Pria bernama Omi itu menoleh ke belakang dan langsung terkejut. “Astagfirulloh, kuntilanak!” ucapnya hampir berteriak.
“Ihhh Bapak kok nyebut aku kuntilanak sih Pak. Tega amat,” dengkus Nazarel sebal.
“Loh Non, kenapa Non malah di sana? Atau nunggu Tuan tidur dulu ya?” tanyanya sudah tahu jika anak majikannya itu keluyuran tanpa sepengetahuan ayahnya. Dan keduanya seperti biasa disogok oleh Lorra bahkan sama Nazarel juga supaya tutup mulut. Dan jika ditanya mobil Nazarel ada di garasi. Keduanya selalu terpaksa berbohong.
“Iya Pak. Nanti kalau Papa sudah tidur, tolong Bapak masukin mobil aku ke dalam ya,” pinta Nazarel seraya memberikan kunci mobilnya.
“Siap Non,” jawab satpam itu cengengesan.
“Oh ya Pak. Apa Mama menitipkan sebuah dompet dan juga jaket pria?” tanya Nazarel selalu saja lupa jika dia saat ini sedang ditunggu oleh Pak polisi itu.
“Oh iya Non. Ini dompetnya, kalau jaketnya paling besok pagi. Karena tadi laundry-nya sudah mau tutup kata bi Ipih,” ujar Pak Omi memberikan dompet milik Zand.
“Terima kasih Pak,” ucap Nazarel senang sebab dompet akan kembali ke sang pemiliknya. Dengan berjalan pelan bercampur ringisan sebab menginjak batu kerikil jalanan. Ia mendekati mobil Zand di mana pria itu dari tadi memperhatikan gerak-gerik anehnya.
“Nih Pak. Dompet Anda,” kata Nazarel sengaja menyebut Anda hanya sebagai ledekan saja. “Coba periksa, takutnya ada yang hilang.”
Zand tanpa disuruhpun sudah pasti akan memeriksanya. Dan ternyata semuanya utuh. “Kamu nggak buka-buka dompet saya, kan?”
“Idiihh, GR banget Pak. Mana tertarik aku ngintip isi dompet Bapak. Selain uang dan kartu ATM. Memangnya ada yang lebih menarik isinya?” sanggah Nazarel menyangkalnya dan memang benar tadi dia tidak melihat apa saja isi dompet tersebut.
“Baguslah kalau begitu,” kata Zand seraya memasukkan dompet ke saku belakang celananya, “jaketnya mana?”
“Jaketnya masih di laundry, besok aku akan antarkan ke kantor Bapak,” jawab Nazarel takut ditanya kenapa sampai dicuci di laundry.
Namun, belum sempat Zand bertanya. Ponselnya berdering dan itu dari Faiz.
“Ya, aku akan segera ke sana,” jawab Zand menutup teleponnya lalu menatap Nazarel yang tampak acuh padanya. “Jaketnya nanti saya ambil lagi ke sini, jangan diantarkan ke kantor polisi.”
Nazarel hanya mengangguk mengerti.
“Cepetan masuk. Nanti ada maling beneran,” kata Zand membuat Nazarel mengeryit heran.
Nggak disuruh juga, pasti aku bakalan masuk. Memangnya dia siapa. Nazarel hanya bisa menggerutu dalam hati.
Zand naik ke dalam mobilnya lalu melaju meninggalkan Nazarel yang masih bengong di tempat.
“Huhhh dasar vampire negara,” dengkus Nazarel berani memaki sebab orangnya sudah pergi.
Nazarel pun kembali mengendap-endap menyuruh satpam membukakan pintu gerbang kecil samping pos. Dia akan masuk lewat pintu belakang, jika ayah dan ibunya sedang di ruang keluarga. Lewat pintu belakang pastinya yang paling aman. Karena dia akan langsung naik ke kamarnya. Pasti tidak akan ketahuan.
Bi Ipih sudah membukakan pintu dapur dan juga di tangannya ada tas serta sepatu Nazarel. Dengan nada pelan dia menyuruh Nazarel masuk. “Masuk Non, Tuan lagi di ruang depan.”
“Makasih bi,” ucap Nazarel meminta sepatu dan juga tasnya.
Rama bangkit dari duduknya.
“Loh Mas. Mau ke mana?” tanya Lorra kaget.
“Haus, mau minum,” jawab Rama hendak pergi ke dapur.
“Kenapa harus ngambil sendiri? Biiiiii, ambilin air putih!” teriak Lorra membuat Rama heran.
Nazarel dan Ipih tentu saja panik. Sampai-sampai Nazarel berlari lalu sembunyi di bawah meja dapur.
“Kenapa teriak-teriak sih Mah? Aku mau ngambil makanan juga,” jawab Rama hendak melangkah.
“Biar Mamah yang ambilin-”
“Tidak usah. Mamah duduk aja,” kata Rama ingin pergi sendiri dan menyuruh Lorra duduk kembali.
“Bi, siapin piring untuk Mas Rama!” lagi dan lagi Lorra berteriak supaya memberi isyarat kalau Rama pergi ke dapur dan dia yakin anaknya itu ada di sana juga.
Rama sampai menggelengkan kepalanya. Malam-malam Lorra kenapa berteriak-teriak?
Nazarel ketakutan di kolong meja dapur. Merem melek melihat kaki ayahnya berjalan mendekatinya.
Bi Ipih berdiri di depan meja menghalangi Nazarel.
Rama semakin heran melihat kelakuan bi Ipih. “Bi, kenapa berdiri di sana?”
“Siapa tahu Tuan butuh bantuan?” tanya bi Ipih gugup.
Rama mengernyitkan keningnya heran. “Cuma ngambil air minum sama masih ada kue kukus kan bi?”
“Oh ada Tuan,” jawab Ipih menoleh ke arah meja dapur di mana di sana ada kue kukus di tempat kue tertutup, “mau saya ambilkan Tuan?” tanyanya panik.
“Tidak usah,” jawab Rama mendekati meja.
“MAASSS!” Lorra datang ke dapur mengagetkan Rama. Bukan hanya Rama, Nazarel juga sampai lompat kaget di bawah meja.
Buugghhh!
Kepalanya kebentur bawah meja membuatnya ingin sekali berteriak tetapi ditahannya. Akhirnya hanya bisa mengusap-usap puncak kepalanya itu.
Mendengar suara sesuatu terbentur. Rama menoleh menatap Ipih.
Ipih terpaksa menggebrak meja. Brrakkk! “Maaf Tuan. Ada lalat barusan,” ucapnya menutupi suara benturan kepala Nazarel ke meja.
“Kenapa berteriak?” Rama bertanya pada istrinya karena benar-benar kaget.
“Oh, maaf ngagetin,” kata Lorra mendekati Rama. “Di kulkas aku buatin puding pisang kesukaan Mas,” rayunya seraya semakin mendekati suaminya itu.
Rama mengerjap. Kenapa istrinya jadi aneh dan genit begitu. “Beneran bikinin puding pisang? Kenapa nggak ngomong dari tadi?”
Lorra nyengir kemudian menggandeng lengan Rama menuju ke kulkas. Sementara tangan satunya di belakang punggung mengibas-ibas memberi isyarat supaya Nazarel cepat pergi dari sana.
Ketika Rama dan Lorra berdiri di depan kulkas dan membukanya. Nazarel mengendap-endap keluar dari kolong meja lalu pelan-pelan meninggalkan dapur dibantu oleh Ipih.
Tepat di tangga. Akhirnya dia selamat kemudian berlari naik ke kamarnya.
Lorra merasa lega karena anaknya sudah naik.
“Mana pudingnya?” tanya Rama mengagetkan Lorra.
“Oh ini.” Lorra mengeluarkan puding putih di mangkuk kecil kaca kemudian memberikannya pada Rama.
“Wohh, terima kasih sayang.” Rama senang karena saat ini dia ingin makan yang manis-manis. Ternyata istrinya membuatkan puding kesukaannya.
Sementara Nazarel sudah di dalam kamarnya. Melemparkan sepatu dan tas ke sembarang lalu melemparkan tubuhnya ke atas ranjang. “Akhhh lelahnya.”
★BERSAMBUNG★