“Luka luar bisa sembuh hanya beberapa hari dan terlupakan. Tetapi luka hati diibaratkan sebuah paku yang menancap di sebuah kayu, meski paku dicabut, tetapi bekasnya tidak akan pernah hilang atau terlupakan.”
*****
Semalam Nazarel berhasil masuk ke dalam kamarnya dengan susah payah.
Pagi-pagi.
“Naza, bangun!” lengkingan suara ibunya membuat Nazarel malah menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
“Sebentar lagi, Ma.” Nazarel semakin menelusupkan kepalanya ke bantal empuknya itu.
“Katanya mau beli kue muffin blueberry di depan sana,” kata Lorra berhasil membangunkan Nazarel. Kue muffin kesukaannya yang seminggu sekali baru ada di toko bakery langganannya depan komplek sana.
“Adduhh aku lupa. Semoga nggak keabisan.” Nazarel bergegas turun dari ranjang meski setengah sadar juga.
Setelah cuci muka, gosok gigi dan malas mandi. Nazarel pergi lari pagi hanya untuk selfie-selfie dan mencari makanan, bukan untuk olahraga. Dia hendak mampir ke toko kue dan roti langganannya di sekitaran perkomplekan itu untuk membeli cup cake, muffin, juga roti isi keju dan cokelat kesukaannya.
Tak sengaja dia melihat suami Ipih tengah merokok dan meminum beer di pinggiran jalan sana sepagi itu bersama dengan satu pria lainnya. Nazarel curiga melihat bagaimana sikap pria tersebut seperti seorang preman saja.
Dia pun berjalan sambil pura-pura memainkan ponselnya. Melewati kedua pria itu dari belakang.
“Bagaimana dengan uang yang kurang untuk nanti malam?” tanya satu pria teman suami Ipih.
“Kau tenang saja. Perjudian nanti malam harus lancar, masalah uang kau tenang saja,” jawab suami Ipih sambil melirik kanan dan kiri.
Sementara Nazarel masih saja berjalan pelan-pelan di belakang keduanya sambil menguping juga.
“Kau hanya sopir, jadi dari mana kau dapatkan uang sebanyak itu?” tanya temannya lagi.
“Istriku nanti sore gajian. Dia juga ternyata punya emas dan anakku juga menyembunyikan tabungannya. Jadi nanti malam, setelah aku meminjam uang pada boss-ku, nanti aku akan mengambil dari istri dan anakku. Sekurangnya kau yang lengkapi.”
“Apa kau yakin kalau istri dan anakmu akan memberikan uang mereka padamu untuk berjudi dan minum?” tanya teman suami Ipih tak percaya.
“Sudah kubilang. Selagi tanganku ini yang bicara, mereka takkan berani melawan atau menentang keinginanku ini,” jawab suami Ipih sembari mengepalkan tangannya di depan.
“Baiklah, nanti jam delapan aku tunggu kau di ujung jalan sana,” kata pria teman suami Ipih.
Keduanya pun berpencar tanpa rasa curiga pada seorang gadis yang diam-diam menguping di dekatnya.
Kecurigaan Nazarel ternyata benar. Bi Ipih asisten rumahnya itu tengah mengalami KDRT dan dia tak berani cerita tentang masalah yang menimpanya. Bahkan banyak luka atau bekas pukulan masih disembunyikan oleh wanita yang sudah bekerja di rumahnya semenjak dia lulus SD.
Nazarel harus melakukan sesuatu untuk membantu bi Ipih. Apalagi tabungan milik anaknya itu setahunya untuk pergi karyawisata di sekolah SMA-nya, tapi nanti akan diambil oleh ayahnya yang b******n itu. Sudah pasti Nazarel takkan tinggal diam begitu saja.
Dengan kesal. Nazarel masuk ke toko kue dan roti membeli makanan kesukaannya.
*****
Sore harinya.
Nazarel seperti biasa makan tetapi kini sendiri. Dia duduk di meja makan dapur tempat bi Ipih biasa makan. Sesekali melihat yang dikerjakan Ipih di sana. Mencuci, mengelap dan juga membereskan makanan di kulkas.
“Non kenapa makan di sini? Nggak makan di ruang makan saja? Bibi lagi beres-beres,” kata bi Ipih tersenyum melihat begitu lahapnya Nazarel menyantap masakannya.
“Mama lagi nggak ada, Papa juga belum pulang. Jadi nggak enak makan sendiri di sana,” jawab Nazarel kembali melahap nasi putih dengan goreng cumi hitam kesukaannya.
Bi Ipih hanya tersenyum melihat Nazarel lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Nazarel menyipitkan kedua matanya melihat pergelangan tangan Ipih sedikit membiru. Belum lagi ada seperti bekas kuku di punggung lengannya itu. “Bi, boleh aku bertanya?”
“Tanya apa, Non?” tanya bi Ipih sembari membereskan serta memasukkan kopi mocca bungkus dan semua makanan kesukaan Nazarel ke dalam lemari makanan dekat kulkas.
“Suami bibi kerja apa?” tanya Nazarel pura-pura tak tahu.
“Sopir Non,” jawab bi Ipih singkat.
“Oh sopir ya. Kerja di mana?” tanya Nazarel lagi dengan nada tak mencurigakan atau lebih tepatnya dianggap hanya pertanyaan dan obrolan biasa.
“Di perumahan, perkomplekan Utara.”
Perkomplekan Utara? Batin Nazarel tahu daerah itu sebab banyak juga temannya di sana termasuk ada juga rumah adik ayahnya, sekaligus ayah salah satu saudara sepupu pria yang sama gila dengannya.
“Oh, aku tahu daerah itu. Villa nomor berapa bi?” tanya Nazarel lagi. Tetapi kali ini Ipih malah heran dengan pertanyaan Nazarel.
“Memangnya kenapa Non? Sampai bertanya villa tempat suami bibi bekerja?” tanya bi Ipih tersenyum menatap aneh pada Nazarel.
“Soalnya aku sering main ke sana, bibi lupa kalau di daerah itu kan ada rumah Om Danang. Dan juga ada toko kue langgananku. Kalau aku bertemu dengan suami bibi saat aku lagi main ke sana. Aku bakalan nitip kue yang enak untuk Desi dan bibi,” ujar Nazarel sembari nyengir. Desi adalah putrinya Ipih.
Bi Ipih malah tersenyum senang mendengarnya. Selama ini kebaikan Nazarel pada anak gadisnya memang sudah banyak. Selain dibiayai untuk sekolah SMA oleh kedua majikannya itu. Nazarel juga sering memberi uang, barang, makanan dan juga hadiah lainnya untuk Desi, bahkan pakaiannya yang masih baru-baru dan tak pernah dipakainya, selalu diberikan pada mereka.
“Walahh, bibi kira ada apa Non sampai menanyakan villa tempat suami bibi bekerja,” jawab Ipih tertawa kecil, “dia bekerja di villa no 287 A.”
Nazarel mengerjap dengan senyuman penuh misteri. Berarti suaminya bi Ipih itu bekerja tak jauh dengan villa pamannya di sana. Keluarga pamannya tinggal di villa nomor 295 A. Terhalang beberapa villa pastinya.
“Ngomong-ngomong, mobil apa dan nomor platnya berapa yang dibawa oleh suami bibi?” tanya Nazarel menghabiskan makanannya.
“Bibi nggak tau Non. Kalau nggak salah sedan hitam deh, bibi mana tau nomor platnya Non,” jawab bi Ipih memang tak tahu nomor plat mobil yang dibawa suaminya itu. Setahunya waktu itu dia tak sengaja di jalanan melihat suaminya membawa mobil sedan hitam dengan bossnya.
Nazarel ternyata telah merencanakan sesuatu yang besar tanpa ada yang tahu. Dia tersenyum seraya menyipitkan kedua matanya.
Tetapi rencana itu harus diurungkannya terdahulu, sebab malam ini dia harus datang ke acara yang diadakan di gedung aula sekolah. Yaitu acara pesta kelulusannya.
Hari baru saja berubah gelap.
Nazarel pergi tanpa menunggu ayah dan ibunya pulang. Hanya pamit pada Lorra saja lewat telepon.
Lorra juga sudah mengizinkan, asal jangan pulang terlalu malam. Selesai pesta kelulusan, harus segera pulang. Dia tidak khawatir sebab Nazarel juga pergi bersama ponakannya yang tak lain adalah anak dari adik suaminya.
Nazarel senyum-senyum sendiri sebab malam ini akan menjadi malam bersejarah baginya. Sebuah surat sudah disiapkannya dari jauh-jauh hari. Surat pernyataan cintanya pada seorang pemuda di tim basket sekolahnya.
Dia pergi dijemput oleh adik sepupunya yang bernama Alter Brawijaya Adhitama, yang berbeda satu tahun dengannya. Tetapi satu sekolahan dan satu kelas juga.
Malam ini Nazarel memakai celana jeans hitam sobek-sobek, kaos oblong hitam kesukaannya dan juga jaket kulit berwarna ungu baru miliknya. Rambut yang biasanya dikuncir kuda, kali ini diikat bagian atasnya dan bagian bawahnya dibiarkan tergerai. Selama ini dia memang tomboy dan tidak suka memakai pakaian feminin. Dia juga ikut ekskul basket bersama murid laki-laki lainnya.
Hanya kebetulan waktu itu dia memakai rok mini dan kemeja sebab itu permintaan temannya sekaligus tantangan untuknya sesudah hari kelulusan mereka.
Sialnya, rok mini satu-satunya itu harus sobek juga karena perkelahiannya dengan Irwan yang entah masih pacaran atau sudah putus dengan Andini sahabatnya. Jika belum, maka malam ini dia akan membongkar kebusukan pemuda itu.
Tidddd!
Sebuah mobil Corolla biru berhenti tepat di depan Nazarel.
Seorang pemuda menurunkan kaca jendela mobil depan. “Mau ke mana neng?” tanyanya sok genit.
Nazarel mendekati mobil lalu hendak membuka pintunya. Tetapi ternyata masih terkunci. “Buka nggak? Kalau nggak dibuka, gue lemparin batu.”
“Galak amat sih neng,” jawab pemuda itu yang tak lain adalah Alter, adik sepupunya, “jangan galak-galak, nanti cepet tau-”
“Tua,” koreksi Nazarel gereget sama pemuda yang sama gila dengannya itu.
Alter terkekeh.
“Malah ketawa, buruan. Udah telat nih,” kata Nazarel sembari memutar kaca spion tengah untuk berkaca dan merapikan rambutnya.
“Ngapain dandan? Meski dandan juga tetep jelek lo,” ledek Alter bukan memuji malah meledek, hal itu sudah pasti membuat kepedean Nazarel yang dibangun selama bertahun-tahun ambruk seketika.
“Lo mah suka bikin gue nggak PD di depan orang-orang, kalau gitu gue turun dulu ganti baju,” kata Nazarel cemberut dan hendak turun. Berniat akan berganti pakaian dengan yang lebih baik lagi. Kalau perlu mencuri-eh ralat, meminjam gaun-gaun milik ibunya untuk malam ini saja.
“Ehhh becanda-becanda,” Alter menghentikan pergerakan Nazarel yang hendak membuka pintu mobil, “udah cantik kok, suwerrrr!”
“Serius?” tanya Nazarel kurang percaya dengan ucapan sepupu sengkleknya itu.
“Ciuzz, Pak Dadang aja pasti klepek-klepek liat lo,” ujar Alter menyebut guru olahraga mereka yang mau-maunya saja mengajari Nazarel bermain basket. Meski kalau tanding basket, dia tidak ikut. Tetapi permainan Nazarel malah lebih bagus dari pemain pria lainnya. Sebab itu Pak Dadang memasukannya ke ekskul sekolah, berharap jika di kampus akan ada basket untuk wanita dan Nazarel bisa masuk ke tim tersebut, “udah ah, katanya telat.”
“Yee, yang bawa mobil siapa?” dengkus Nazarel sebal dengan kelakuan gesrek sepupunya itu.
Alter mulai menghidupkan kembali mobilnya lalu melaju menuju ke sekolah lama mereka untuk acara pesta kelulusan.
Nazarel membangun lagi kepercayaan dirinya untuk menembak pemuda incarannya.
Sepanjang jalan. Keduanya menyetel lagu dan bernyanyi riang layaknya orang gila dengan penuh ketawa ketiwi.
Sesampainya di depan gerbang sekolah.
“Turun duluan, gue mau cari parkiran dulu. Bukannya lo takut kalau ke tempat parkir sekolahan yang gelap,” kata Alter menunggu Nazarel turun.
“Iya-iya bawel, ngalahin emak gue aja bawel lu,” canda Nazarel segera turun dengan cengiran tak jelasnya.
Setelah Nazarel turun. Alter segera melajukan lagi mobilnya menuju ke tempat parkir sekolahan yang minim penerangan alias remang-remang itu.
Nazarel berjalan ke arah pintu gedung aula yang berada tepat di samping gedung sekolahannya sembari sesekali mengedarkan pandangan mencari para sahabatnya yaitu Andini, Vita dan Alitha.
Kedua matanya membulat dengan jantung berdebar kencang kala melihat kedatangan pemuda yang dipujanya semenjak SMP. Pemuda itu turun dari mobil bersama dua sahabatnya yang sesama pemain basket.
“Woyy, matanya lipet dulu napa?” kata Andini seraya menahan tawa melihat Nazarel terpaku terpesona pada Fino. Pemuda yang ditaksirnya.
“Astagfirulloh, ngagetin aja lo ah kunyuk. Kalo dilipet merem dong,” canda Nazarel malu terciduk tengah menatap Fino.
“Hehe, makanya buruan gaskeun,” kata Andini memberi semangat.
“Sabar, gue udah mutusin bakalan nyatain perasaan gue sebentar lagi.” Nazarel penuh keyakinan dan sudah membulatkan niatnya.
“Apaan yang sebentar lagi?” Datang Vita dari arah tempat parkir.
“Ini nih, kang halu udah mulai ingin memasuki lembaran baru,” kode-kode Andini sambil melihat Fino berjalan masuk melewati mereka dengan sekali lirikan matanya dan juga senyumannya pada Nazarel.
Nazarel serasa meleleh kala mendapat senyuman dari pemuda itu. Apa itu isyarat kalau dia juga menyukainya? Hal itu semakin menambah semangat Nazarel.
“Ya udah buruan. Kalau nggak malam ini, kapan lagi?” Alitha juga tak kalah menyemangati Nazarel.
“Masuk yuk, bentar lagi acara dimulai.” Vita mengajak ketiga sahabatnya masuk ke dalam.
Di dalam sudah banyak yang datang. Para guru juga sudah pada datang dan beberapa murid yang sudah lulus menjadi panitia juga.
Nazarel sesekali melirik Fino yang sedang bercanda bersama teman-temannya. Dia sengaja mengulur waktu mendaftar kuliah hanya untuk mengetahui, masuk kampus mana pemuda itu. Dan sebenarnya, dulu dia juga masuk ke SMA tersebut hanya karena Fino masuk ke SMA itu.
Acara dimulai.
Banyak murid yang membawa kakak, adik dan juga pasangannya ke sana.
Nazarel selalu saja bersama dengan ketiga sahabatnya. Sementara Alter juga bersama teman-temannya. Minum jus dan makanan ringan yang dihidangkan pihak sekolah.
“Buruan attuh. Nanti keburu acaranya selesai,” kata Andini mendorong pelan punggung Nazarel.
“Ehhh, mana pacar lo, si Irwan?” tanya Nazarel baru teringat kejadian dia tarung bersama pemuda itu sampai masuk kantor polisi. Sayangnya dia belum bisa menceritakan hal itu kepada ketiga sahabatnya.
“Gue udah putus sama dia,” jawab Andini sebal membahas pemuda yang sudah menjadi mantannya itu.
“Ehh! Kok?” Kaget Nazarel, Vita dan juga Alitha.
“Gue liat dia gandengan di mall kemarin sama cewek lain. Jadi, ya udah gue putusin aja,” jawab Andini enteng.
“Terus kok lo tenang banget tau pacar lo selingkuh dan kini putus?” tanya Vita heran. Tak ada raut sedih di wajah Andini sedikitpun.
“Sebab gue udah punya gandengan baru,” jawab Andini terkekeh geli.
“Sialan lo. Gue semalaman nggak bisa tidur karena memikirkan masalah itu,” kata Nazarel menghela napasnya lega. Padahal dia bingung harus bagaimana menceritakan kalau sahabatnya itu tengah diselingkuhi oleh pacarnya.
“Jadi lo tau juga?” Alitha yang malah kaget mendengar penuturan Nazarel.
Nazarel pun menceritakan kejadian di jalanan sampai masuk ke kantor polisi.
“Eh, kenapa lo nggak cerita ke gue?” Andini terlihat emosi. Bukan emosi pada Nazarel tetapi pada Irwan.
Nazarel memeluk manja Andini. “Sebab gue takut nyakitin lo An, kalau lo sakit. Gue juga jadi ikut sakit.”
Andini mengusap punggung Nazarel. “Cup cup, baby gue udah gede ternyata. Meski jomblo terus, udah bisa ngerasain gimana rasanya putus cinta.”
“Sialan lo. Ngeledek atau mengejek?” Nazarel melepaskan pelukannya sambil mengerucutkan bibirnya.
Ketiga sahabatnya jadi tertawa.
Alitha mendadak mencubit pelan pinggir lengan Nazarel.
“Awwwhh. Apaan?” tanya Nazarel mengusap pinggir lengannya karena mendapat cubitan dari Alitha.
Alitha berbicara pelan, “tuh si Fino kayaknya mau ke toilet. Coba lo ikutin, pasti di sana sepi.”
“Ya. Situasinya pas banget. Buruan, mustahil kan setiap jam dia pergi ke toilet terus,” kata Vita buru-buru menyuruh Nazarel pergi mengikuti Fino.
Nazarel juga tidak mau membuang-buang waktu. Dia bergegas membawa tas yang berisi suratnya lalu mengikuti Fino ke arah toilet yang berada di tengah gedung sekolah.
Nazarel mengendap-endap mengikuti Fino seperti pencuri. Jika Fino menoleh ke belakang, dia buru-buru bersembunyi di balik tembok sebuah tikungan. Begitu terus sampai Fino masuk ke toilet pria.
Kebetulan di sana juga sepi karena semuanya berada di aula.
Nazarel segera mengeluarkan surat di dalam tas dan dengan sabar dia menunggu dekat pintu toilet. Jantungnya berdetak tak keruan. Dia sudah pasrah jika akan ditolak, syukur-syukur diterima oleh Fino.
Tak berapa lama. Fino keluar dari toilet, kaget melihat seorang gadis berdiri di depan pintu.
“Hmmm, anu … mmm, Fino. A-aku … aku,” ucap Nazarel gelagapan, “suka sama kamu,” lanjutnya dengan satu tarikan napas dan dengan kedua tangan mengulurkan surat cintanya.
Fino terkejut, tak lama ekspresi wajahnya kembali ramah. “Aku juga suka sama kamu.”
Sebuah jawaban yang tak diduga-duga membuat Nazarel seakan terbang ke langit ke tujuh. Berbunga-bunga sekaligus tampak perutnya seakan ada kupu-kupu yang berterbangan di sana.
“Benarkah?” tanya Nazarel hampir tak percaya.
Fino mengangguk. Lalu menerima surat itu. “Aku baca nanti di rumah ya,” jawabnya dengan senyuman paling manis di mata Nazarel.
“Jadi jawabannya?” Nazarel masih tidak bisa mencerna kata-kata ‘aku juga suka sama kamu’ tetapi akan membaca dulu surat darinya.
“Aku memang suka kamu juga. Tapi jawaban menerimanya, nanti saja setelah aku baca isi surat ini,” ujar Fino menjelaskan.
Tanpa curiga karena saking senangnya. Nazarel mengangguk polos.
“Mau masuk ke aula bareng?” tanya Fino menghenyak kegembiraan Nazarel.
“Duluan aja. Aku pengin ke toilet dulu sebentar,” jawab Nazarel bersemu merah. Untuk pertama kalinya dia merasa beruntung lahir ke dunia dan bertemu pujaan hatinya, Fino.
Setelah kepergian Fino. Nazarel memang pergi ke toilet, sebab entah kenapa perasaan bahagia bercampur aneh itu membuatnya kebelet pengin ke toilet. Tak sabar ingin menceritakan kejadian itu kepada ketiga sahabatnya.
Di toilet wanita sepi. Nazarel pun masuk ke salah satu bilik toilet.
Beberapa saat kemudian, ketika Nazarel hendak keluar. Terdengar masuk beberapa gadis ke sana menyebut-nyebut nama rival dari kelasnya, ‘Tamara’.
“Lo tau nggak, kalau Tamara sama pria populer di sekolah udah jadian dari satu taun yang lalu,” kata wanita pertama.
“Serius? Tapi kenapa nggak ada yang tau?” tanya salah satu temannya.
“Mungkin mereka sengaja ngerahasiainnya dulu supaya jadi kejutan nantinya,” jawab wanita satu lagi.
“Tapi malam ini, mereka akan mengakuinya di hadapan semua orang. Uhhh so sweet banget,” kata wanita pertama.
Nazarel terdiam sambil berpikir. Siapa pemuda populer di sekolahnya yang jadian sama Tamara alias rivalnya di sekolah. Tukang bully dan juga gadis paling angkuh itu? Sampai dia tidak mendengar kalau tiga gadis barusan sudah keluar dari toilet.
Siapa yang menjadi pacar Tamara?
Hacky? Pria sombong itu bukannya mengejar-ngejarnya selama ini?
Idamz juga populer tapi tidak satu sekolahan.
Thio juga tak sepopuler itu.
Kala Nazarel masih bertanya-tanya.
“Naza, lo di dalam?” terdengar Andini memanggilnya.
Nazarel segera keluar dari bilik toilet sembari nyengir kuda. “Sorry, gue lama ya?” ucapnya tanpa rasa bersalah.
“Iyalah lama. Kirain lo pingsan atau diculik kelong wewe,” jawab Andini misuh-misuh karena khawatir, “acaranya udah dimulai. Buruan, Pak Dikin mau ngumumin sesuatu.”
Nazarel menoyor pinggir kepala Andini. “Bukan pengumuman tapi pidato,” koreksinya sebab merasa memangnya mau mengumumkan apa Bapak kepala sekolah? Sementara mereka sudah lulus.
Keduanya masuk ke dalam aula dan memang benar acara sudah dimulai. Dari pidato ucapan selamat bagi yang sudah lulus, semangat bagi murid lain yang baru naik kelas dan baru masuk, dll.
Setelah semuanya selesai.
Pak guru Dadang sang guru olahraga mempersilakan mereka untuk menyantap hidangan dan menikmati pesta kelulusan yang khas mereka lakukan di sekolah itu setiap tahunnya.
Para guru juga meninggalkan aula untuk berbagi makanan dengan guru lainnya di ruangan kepala sekolah.
Nazarel sudah menceritakan kepada ketiga temannya bahwa Fino juga menyukainya. Tapi, masih meminta waktu untuk berpikir menjawab diterima atau tidaknya.
“Jika suka kenapa nggak langsung jadian? Apa dia cuma ngegosh doang ama lo dan ujungnya cuma buat bully lo?” tanya Vita aneh. Sementara dia saja sudah punya tunangan dan tidak bertele-tele seperti Fino.
“Setiap orang punya karakternya dong, Vit,” bela Nazarel tidak menerima ucapan jelek Vita pada pemuda pujaannya, “dia masih kaget mungkin dan butuh waktu buat nerima gue.”
“Kalau udah diterima. Nanti lo bakalan langsung daftar ke kampus di mana dia kuliah?” kata Alitha sudah bisa menerka otak Nazarel yang sudah bucin selama dari SMP.
Nazarel mengangguk. “Walaupun nggak diterima juga, gue tetep harus kuliah di mana dia kuliah. Sebab, seorang penyuka bintang tahu jika apa yang dia puja tidak akan pernah bisa terjangkau atau pula terjamahnya. Tetapi hanya mengaguminya dari kejauhan saja sudah membuatnya tenang dan senang.”
“Cieee, sejak kapan lo jadi filosofi begitu,” ledek Andini tertawa geli.
Vita dan Alitha jadi ikutan tertawa geli.
Mendadak lampu padam membuat semua orang panik lalu menyalakan lampu senter di ponsel masing-masing.
Pak Dadang yang datang ke sana menenangkan para murid dan berkata jangan ada yang keluar aula. Takut terjatuh atau terjadi hal-hal yang tak diinginkan.
Setelah Pak Dadang pergi mengecek saklar utama listrik.
Dua wanita alias dayangnya Tamara menyalakan senter kecil yang tampaknya sengaja mereka bawa. Dan kini keduanya menyorot Tamara yang berdiri di dekat podium.
Tamara mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dia tampak memastikan kalau semuanya masih di sana, terlihat dari lampu senter ponsel mereka. “Maaf, aku hanya ingin mengumumkan sesuatu.” Ia mengeluarkan sebuah kertas terlipat seperti sebuah surat.
Awalnya Nazarel tidak curiga. Namun, dia tampaknya mengenali surat itu sebab kertas belakangnya ada gambar bunga mawar. Surat itu? Batinnya mulai tidak enak.
★BERSAMBUNG★