“Luka hati itu memang tidak nampak, tetapi akan berdampak. Luarnya terlihat sehat, namun dalamnya yang sakit. Luka itu jika di biarkan akan meradang, dan membuat hati menjadi sekeras karang, dan luka itu takkan pernah bisa terlupakan.”
*****
Semua yang ada di sana berbisik-bisik sesama teman dan bertanya-tanya. Apa Tamara akan mengumumkan sesuatu?
Sampai Andini pun berbisik pada Nazarel. “Naza, si Tamara mau pidato apa?”
“Mana gue tau,” jawab Nazarel berbisik juga, “tapi, gue merasa itu surat yang gue kasiin ke si Fino-”
“AAPPAAA? Hmmmm?” Mulut Andini segera dibekapnya.
Alitha dan Vita sampai terkejut.
“Ada apaan sih?” Vita memegang dadanya kaget.
“Iya, lagi gelap gini ngagetin aja,” imbuh Alitha kaget juga.
Andini yang menjawabnya. “Naza bilang, kertas itu seperti suratnya untuk si Fino.”
“Tapi gue nggak yakin,” jawab Nazarel mencoba menyangkal prasangka buruk itu.
“Iya kali, bukan surat si Naza. Kan dia ngasiinnya ke si Fino. Masa iya jatuh ke tangan si lampir itu. Terus, mungkin juga kertasnya sama sebab kan kertas begituan banyak juga di jual di toko buku,” kata Vita mengatakan hal yang masuk di akal.
Nazarel mengangguk, berharap juga bukan suratnya.
“Kalian nggak pa-pa?” Alter langsung menghampiri mereka.
“Nggak pa-pa,” jawab Nazarel tahu gimana reaksi berlebihan Alter.
“Neng Alitha nggak takut gelap, kan? Kalau takut, sini deketan ama abang,” kata Alter memangfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
“Huuhh, lo mah ngambil kesempatan dalam kegelapan, bambang.” Andini memukul pelan pinggir lengan Alter membuat pemuda itu terkekeh.
“Ya udah, gue mau ikut ngecek sama Pak Dadang. Kenapa listriknya mati.” Alter pergi dari sana bersama beberapa temannya untuk memastikan sekolah aman dan juga mengetahui masalah lampu mati itu.
Tamara mulai melancarkan lagi aksinya. “Apa kalian sudah siap untuk mendengar pidatoku?”
“SIAAPPP!” jawab semuanya semangat karena penasaran.
Tak ada yang menyadari jika wajah Fino sudah tegang, ia berdiri tidak jauh di belakang Tamara dan teman-temannya.
Tamara tersenyum penuh kelicikan. “Ok, aku mau jujur nih sama kalian. Kalau surat ini dari seorang cewek.”
Surat dari cewek? Semuanya bertanya-tanya lagi. Apa Tamara lesbi sehingga menerima surat dari cewek? Bukan dari cowok. Sementara Nazarel and the geng mulai menegang juga. Kini mereka semakin yakin kalau itu surat Nazarel.
Andini sudah mulai habis kesabarannya dan ingin naik ke sana untuk merebut surat itu. Namun telat, Tamara sudah membacakan isinya dan Andini dihentikan oleh Nazarel.
“Untuk Fino, dari pemuja rahasiamu selama dari SMP …,” Tamara sengaja menggantung nama Nazarel kala semua yang ada di sana menyorakinya sambil tertawa.
“Huhhhhhh!”
“Ciee Fino, dapat lagi surat cinta,” kata teman Fino tak tahu juga kalau pengirimnya adalah Nazarel.
Untungnya di sana masih gelap sehingga wajah merah padam Nazarel tidak ada yang bisa melihatnya dengan jelas. Kini dia yakin jika Tamara dan Fino memang sudah berpacaran dan sebentar lagi mereka akan mengakuinya, serta yakin jika dia akan dipermalukan. Lalu, kenapa Fino tadi menjawab bahwa dia juga menyukainya? Dan bagaimana bisa surat itu jatuh ke tangan Tamara?
Tak apa lah, nasi sudah menjadi bubur. Toh lagipula dia sudah lulus dan wajar saja jika wanita mengirimkan surat cinta pada pemuda pujaannya. Apa yang salah?
Tamara melanjutkan membaca suratnya. “Fino, aku tau kamu nggak akan pernah melirik atau mengenalku. Tapi, aku sudah menyukaimu selama hampir empat tahun. Di kenaikan kelas 9, dan di akhir tahun ketika kelulusan SMP, aku mulai menyadari jika aku menyukaimu. Jadi, dengan surat singkat ini aku hanya ingin menyatakan kalau aku menyukaimu. Sekarang terserah padamu jika kau mau membalas perasaanku ataupun tidak. Yang pasti, aku menyukaimu, sampai sekarang …,” ia sengaja menggantung nama pengirimnya.
Nazarel berharap kalau Tamara tidak pernah menyebutkan namanya.
Namun, harapannya pupus sudah kala Tamara ternyata menyebutkan namanya.
“Dari penggemar rahasiamu, N.A.Z.A.R.E.L.” Tamara sengaja menekankan nama Nazarel sehingga membuat semua orang terkejut. Tak lama semua lampu senter ponsel mengarah kepada Nazarel dan teman-temannya.
“Huhhhh!”
“Cieeee penggemar rahasia!”
“Jadian ayo jadian!” seru semuanya seakan mendukung Nazarel jadian sama Fino.
“Eit, tunggu dulu,” Tamara menghentikan ucapan semuanya. Ia menarik tangan Fino untuk maju ke depan bersamanya, “mereka mustahil jadian, karena aku dan Fino sudah resmi berpacaran,” ujarnya seraya menggandeng mesra lengan Fino yang diam saja tanpa bisa menjawab atau seakan takut dengan Tamara.
Mereka kembali dikejutkan oleh pengakuan Tamara dan aula kembali riuh oleh tepuk tangan serta ucapan selamat dari teman-teman Tamara maupun Fino.
Nazarel sungguh sangat malu. Ia pun berlari meninggalkan aula dan hanya diterangi lampu senter dari ponselnya. Berlari menjauh entah ke mana.
Andini, Alitha dan Vita pun segera menyusulnya. Namun, harus mencari ke mana di dalam kegelapan sekolah itu? Ketiganya pun berpencar untuk mencari Nazarel.
Fino menarik tangan Tamara ke suatu tempat.
Entah ada di mana Nazarel sekarang? Yang pasti dia hanya ingin menangis dan menyesali kenapa dia terburu-buru mengirim surat untuk Fino? Kenapa pemuda itu membohonginya dan kenapa pula dia harus menangis?
Nazarel menangis pelan. Terdengar suara pertengkaran tak jauh darinya. Awalnya dia tak memedulikan hal itu, tapi kala mendengar namanya disebut-sebut. Akhirnya dia berjalan mendekati tempat di mana ada cahaya di sana. Yang diyakininya adalah belakang sekolah.
“Kenapa lo ngelakuin itu, Tamara?” terdengar suara Fino marah.
“Karena gue kesal dengan cewek sok kecantikan itu,” jawab Tamara tak mau kalah.
“Tapi gue kan udah bilang jangan bacain surat darinya di depan semua ora-”
“Tapi gue puas karena sudah menjatuhkan harga dirinya. Gue yakin mulai sekarang nggak bakalan ada cowok yang mau sama dia,” Tamara benar-benar merasa puas sebab telah mempermalukan Nazarel. Rival dalam segalanya di sekolah.
“Tapi caranya nggak gini juga Tamara, gue udah bilang kalau gue sukanya hanya lo dan nggak bakalan nerima dia. Kenapa malah diam-diam ngambil surat itu dari gue.” Fino tetap kesal dengan perbuatan pacar barunya itu.
“Pokoknya gue puas udah ngelakuin hal ini sama cewek angkuh itu. Gue yakin dia bakalan trauma dan nggak bakalan semudah itu dapatkan cowok lain atau mungkin nggak akan pernah pacaran. Jomblo-jomblo dah seumur hidupnya.” Tamara memang terdengar berlebihan.
Tetapi Nazarel merasa ada benarnya. Rasa sakit malam ini takkan bisa dia lupakan seumur hidupnya. Dan memang tak semudah untuk membuka hatinya lagi.
Tamara kembali berkata. “Ingat ya ucapan gue Fino. Kalau si Nazarel itu nikah duluan nanti ketika lulus kuliah. Gue bakalan mutusin lo.”
“Loh, apa hubungannya sama gue?” Fino semakin heran.
“Karena lo mencegah gue buat bongkar kebusukannya tentang stalkerin lo, nguntutin lo dan bahkan masuk tim basket cuma pengen buat deketin sama narik perhatian lo. Dia nggak senaif yang lo kira Fin, dia itu gadis bermuka dua.”
Fino menghela napasnya. “Tapi gue yakin kalau banyak cowok-cowok yang menyukainya dan dia pasti nikah duluan.”
“Kenapa lo seyakin itu? Gue doain dia jomblo seumur hidup.” Tamara heran mendengar keyakinan Fino dan malah mendoakan kalau Nazarel tidak laku-laku.
“Karena dia gadis baik dan periang,” nada bicara Fino ternyata membuat sakit hati Nazarel sedikit membaik. Meski dia mustahil memaafkan keduanya. Dia tahu kalau Fino tidak berniat memberikan surat itu pada Tamara, tapi tadi kesalahan dia hanya satu, diam kala pacarnya melakukan aksi itu.
Traakkkk.
Lampu pun kembali menyala.
Nazarel bergegas kembali ke aula untuk pamitan pada teman-temannya. Dia tak peduli dengan ejekan atau godaan dari teman-teman sekelasnya atau seangkatannya. Yang pasti, malam itu akan menjadi malam yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya.
Di dalam mobil.
“Lo nggak kenapa-napa, kan, Zarel?” tanya Alter khawatir dengan kakak sepupunya itu. Secara tadi dia hanya mendengar apa kata teman-temannya sebab asyik berbincang cerita horror bersama teman-temannya di belakang sekolah sambil nungguin Pak Dadang memperbaiki kerusakan sakelar listrik sekolah.
Nazarel menggelengkan kepalanya saja dan hanya bisa terdiam. Entah memikirkan kata-kata Tamara tadi, atau entah memikirkan kala dia dipermalukan oleh keduanya.
“Kalau saja gue tadi nggak pergi dari aula, udah gue tonjok tuh si Fino berengsek itu,” geram Alter sampai mengeratkan kepalan tangannya di setir mobil.
“Bukan salah dia …,” jawab Nazarel dengan nada lemah, tadi dia yang mengajak Alter segera pulang sebelum adik sepupunya itu gelap mata dan pasti tarung dengan Fino, “… salah gue yang dengan bodohnya menyukai dia selama hampir empat tahun.”
Alter merasa kasihan juga. Selama ini dia memang tahu kalau Nazarel menyukai Fino, bahkan daftar sekolah SMA yang sama dengan pemuda itu pun dia hanya diam dan ikut daftar ke sana. Tapi, kini dia bersyukur jika Nazarel sudah membuka kedua matanya jika pemuda itu bukanlah pria yang cocok dengannya.
Sesampainya di rumah.
Nazarel mencoba bercanda dan tersenyum lagi pada Alter. Dan Alter pun menjawab candaannya meski dia tahu jika senyum Nazarel palsu belaka sebab tak mau membuatnya tambah khawatir.
Kedua orang tua Nazarel heran. Kenapa putrinya itu pulang cepat. Apa ada sesuatu yang terjadi?
“Naza, kenapa pulang cepat? Apa pestanya sudah selesai?” Lorra bertanya kala Nazarel membuka sepatunya di ambang pintu.
“Pestanya nggak seru, Ma.” Nazarel menjawab dengan nada biasa, menyembunyikan sakit hatinya.
“Alter mana?” tanya Lorra melihat ke belakang Nazarel. Biasanya Alter mampir dulu untuk salam dengannya atau sengaja minta makan di sana.
“Dia lelah katanya. Jadi pulang juga.” Nazarel mengecup pipi kanan Lorra, lalu kembali berjalan menuju ke arah tangga. Di telinganya masih terngiang kata-kata Tamara yang mendoakan kalau dia akan jomblo seumur hidup dan tak laku-laku. Jika laku juga akan mendapatkan pria atau cowok jelek.
Ketika menaiki tangga. Bahkan kakinya hampir saja terpeleset dan untungnya tangannya berpegangan pada besi tangga.
*****
Semalaman Nazarel tidak bisa tidur. Kala tertidur sebentar pun malah bermimpi buruk. Mimpi dia menjadi nenek tua yang tak laku-laku serta mati dengan status perawan tua.
Pagi sekali dia sudah mandi untuk menghilangkan keringat yang membasahinya akibat mimpi buruk itu. Seusai mandi, dia bergegas turun untuk sarapan.
Rama kaget melihat anaknya tumben bangun sepagi itu.
Nazarel mengecup puncak kepala Rama membuat ayahnya itu mengerjap dan menatapnya tak percaya. Ia duduk di sebelah kursi ibunya.
“Naza, udah bangun?” Lorra juga kaget melihat anaknya sudah bangun sepagi itu. Dia yakin pasti semalam ada masalah, hanya saja anaknya itu tak mau menceritakannya.
Lorra menaruh kopi di depan suaminya lalu menuangkan s**u cokelat ke dalam gelas Nazarel. Ia pun duduk di sisi kanan suaminya, saling bersampingan dengan Nazarel.
“Ma jodohin Naza Ma,” tiba-tiba Nazarel merengek seolah meminta jajan, “terus cepet nikahin,” ucapnya enteng sembari menggoyangkan lengan baju ibunya yang tertumpu di meja makan.
Rama hampir saja tersedak kopi panasnya.
“Apa kamu bilang? Dijodohin?” Lorra aneh dengan sikap putrinya itu. Jadi dia menganggap Nazarel hanya bercanda seperti biasanya.
“Serius Ma, Pa. Aku ingin cepet nikah,” rengek Nazarel masih memegang lengan baju ibunya.
Lorra malah memegang kening Nazarel.
“Aku nggak demam, Ma.” Nazarel segera menepis lengan ibunya lalu memampang wajah sebalnya.
“Kamu ini, masih bocil minta dinikahin. Kuliah dulu yang bener, baru aja lulus SMA.” Rama yang menjawab sembari membalik koran pagi yang dipegangnya.
“Tapi anak tetangga, tujuh belas tahun udah menikah. Masa aku udah delapan belas tahun kurang dua bulan nggak boleh sih, Pa?” protes Nazarel mencari dalil nikah muda. Bahkan ada juga yang masih lima belas tahun sudah menikah dan mempunyai anak.
“Ckk,” ibunya malah berdecak, “kamu nggak kesurupan, kan? Kenapa pulang dari pesta kelulusan SMA tiba-tiba minta dijodohin?”
Nazarel terdiam kala membayangkan acara pesta kelulusan semalam. Terlintas lagi bagaimana mesranya pemuda yang disukainya semenjak SMP menggandeng seorang gadis lain, lebih tepatnya berpacaran dan bergandengan dengan rival di kelasnya. Yang lebih parahnya, keduanya telah mempermalukannya dan berkata kalau dia tidak akan laku-laku.
Gadis itu menggelengkan kepalanya. “Aku nggak kesurupan kok Ma. Cuma, kalau nikah dulu. Naza nanti kan bisa konsen kuliah, nggak jelalatan nyari cowok buat dijadiin pacar. Terus nanti di kampus nggak bakalan ada yang berani ganggu kalau tau Naza udah punya suami.” Ia bersikukuh mencari dalil-dalil supaya cepat dinikahkan.
Rama menatapnya aneh. “Emang selama ini kamu di SMA jelalatan nyari pacar? Bukan belajar?”
Nazarel jadi terkekeh. “Belajar dong Pa. Cuma kan pacar juga wajib,” ujarnya tanpa tahu malu sampai lagi-lagi Rama menggelengkan kepalanya.
“Wajib endasmu,” jawab Rama ingin sekali menjitak kepala putrinya itu.
“Ayo dong Ma. Jodohinnya sama yang ganteng, gagah terus yang baik dan tidak sombong-”
“Sekalian pintar menabung,” potong ayahnya lagi.
“Nah itu juga penting, jangan yang pelit. Nanti Naza kekurangan jajan,” ujar Nazarel banyak nawarnya.
“Sudah minta, nawar lagi,” gedek Lorra tak menghiraukan permintaan aneh putri semata wayangnya itu.
“Harus dong Ma. Nanti jodoh Naza kakek-kakek atau gemuk atau jelek kan nggak mau juga,” dalih Nazarel menatap ibunya penuh dengan permohonan, “terus kalau pelit. Mama dan Papa mau nanti Naza tinggal tulang dan kulit doang kekurangan makan dan jajan. Masa tega anak semata golek yang cantik, imut serta lucu ini tersiksa dan pulang ke sini kurus kerempeng?” PD-nya memuji diri sendiri. “Hmm lalu yang seumuran kalau bisa, biar bisa kuliah bersama. Atau yang tuaan dikit, jangan yang tua banget biar bisa antar jemput kuliah nantinya.”
Rama menggelengkan kepalanya. “Kamu tuh minta calon suami atau minta sopir?”
“Iyalah Pa. Pernikahan itu harus romantis, mengantar istri kuliah dan menjemputnya pas pulang kuliah. Kalau bertengkar bisa bercerai, kan. Terus nanti balikan lagi.” Nazarel korban novel dan drama-drama luar membuatnya membayangkan hal manis itu.
“Naza-Naza, dikira pernikahan itu permainan. Hari ini nikah, sudah bosan cerai gitu, udah gitu baikan lagi dan nikah lagi,” kata Rama sembari tertawa kecil.
“Papa malah nertawain sih? Naza bukan anak kecil lagi. Anak tetangga aja rumah tangganya awet, langgeng terus nggak kedengaran suka bertengkar meski masih tinggal sama kedua orang tuanya juga,” protes Nazarel tidak mau dianggap masih bocil.
“Anak tetangga mah nikah muda karena hamil duluan,” celetuk Lorra memberitahu anaknya itu tentang apa yang tidak diketahuinya.
Nazarel malah tersenyum iseng. “Apa aku juga harus hamil duluan biar cepet dinikahin?”
Lorra dan Rama saling menatap kaget.
“Anak uedan (edan)!” ucap keduanya menyembur Nazarel yang langsung bangkit dari duduknya lalu berlari ke arah tangga.
Sebelum naik tangga. “Pokoknya kalau nggak cepat dinikahin, calon cucu ucul Mama dan Papa launching, coming soon!!”
“NAZAREELLLL!” teriak Lorra gedek dengan ucapan anaknya itu. Siapa yang mengajarinya dan kenapa putrinya itu ngotot ingin segera dinikahkan meski jalannya dengan perjodohan?
Nazarel masih tersenyum. Dia yakin pasti kedua orang tuanya akan segera mencarikan jodoh untuknya. Ketakutan akan doa Tamara terkabul membuat dirinya menjadi was-was dan membayangkan bagaimana kelak bakal jadi jodohnya. Pakai kacamata? Gemuk? Jelek? Hitam? Atau sudah tua? Sementara dia harus mencari jodohnya ke mana? Rasa trauma menyukai seorang pemuda membuat hatinya tertutup untuk saat ini.
Rasa sakit itu akan selalu menganga lebar dan pastinya takkan mudah untuk dilupakan bagi Nazarel. Demi melancarkan perjodohan itu, dia akan membuat syarat mau kuliah tetapi nikah dahulu, rasanya sudah menembak dua burung dengan satu panah. Jika mereka tidak segera mencarikan jodoh untuknya, dia ada alasan tidak mau kuliah. Dan jika memang segera dinikahkan, maka dia juga bisa membuktikan pada Tamara dan teman-temannya siapa yang menikah duluan.
Mudah-mudahan kedua orang tuanya mencarikan jodoh yang cocok dan mengerti dirinya. Syukur-syukur jika pria itu seorang Ceo tampan seperti di novel-novel khayalannya.
Di dapur.
“Mama yakin anak kita nggak kesurupan?” tanya Rama mulai menghabiskan kopinya.
“Entahlah Pa. Rasanya ada yang aneh dengan Nazarel. Setahu Mama, banyak gadis-gadis sepertinya yang nggak mau dinikahkan, apalagi dijodoh-jodohkan. Alasannya masih muda lah dan juga terkadang ingin mengejar cita-cita terdahulu lah-”
Kriinggg.
Ponsel Rama berdering, memotong ucapan Lorra.
“Ayah?” kata Rama menatap Lorra bercampur heran karena sepagi itu kenapa ayahnya menelepon.
“Angkat Pa. Mungkin ada hal penting,” kata Lorra penasaran juga.
Rama mengangkat telepon ayahnya yang berada di kota lain.
“........”
“Bagaimana keadaan ayah dan ibu?” tanya Rama menanyakan keadaan mereka di sana.
“........”
“Kami juga baik, Nazarel dan Alter juga sudah lulus SMA,”
“........”
“Dia belum mau daftar kuliah, Yah. Malahan barusan berkata mau kuliah tapi harus menikah dulu. Kan lucu Yah,” ujar Rama sembari terkekeh.
Terdengar kekehan dari ayahnya juga.
“Ya. Dia malah meminta dijodohkan.”
“........”
“Apa?! Ayah bercanda?” Rama terlihat terkejut mendengarnya.
Lorra melihat raut wajah tegang suaminya itu. Pasti ada berita yang tidak disukainya.
“Baiklah Yah. Kami akan menunggu kedatangan kalian.” Rama menutup telepon lalu menoleh menatap istrinya.
“Ada apa Pa? Mereka mau datang ke sini?” Lorra bertanya dengan cemasnya.
Rama mengangguk. “Mereka mau datang mungkin besok lusa karena masih libur sekolah. Dan juga …,” ucapannya menggantung membuat Lorra semakin heran.
“Dan juga apa Pa?” Lorra semakin penasaran.
“Ayah sudah menemukan jodoh atau calon untuk Nazarel,” lanjut Rama menghela napasnya. Terlihat tak percaya dengan apa yang terjadi. Putrinya menjadi aneh semenjak pulang dari pesta kelulusan. Lalu, tiba-tiba saja ayahnya malah bahagia mendengar Nazarel ingin menikah dulu dan mengatakan kebetulan mereka ingin datang karena ayahnya sudah menemukan jodoh untuk Nazarel.
Lorra duduk dengan tatapan tak percaya mendengarnya. “Dijodohkan dengan siapa?”
Rama menatap istrinya dalam. “Dengan cucu sahabat dari kecilnya.”
★BERSAMBUNG★