“Masalah tidak akan datang tanpa dicari. Namun, ketika masalah itu datang sendiri, maka kau pasti takkan bisa lari. Selesaikanlah tanpa kau harus bersembunyi.”
*****
Hari itu baru saja berubah gelap.
Seperti biasa, Nazarel pergi tanpa menunggu ayah dan ibunya pulang. Ia hanya berkata pada ibunya akan pergi ke rumah pamannya.
Lorra selalu tenang jika Nazarel pergi menemui adik sepupunya, Alter.
Nazarel pergi ke perkomplekan Utara, bukan hanya ingin menemui Alter, tetapi ada niat lain lagi. Memang sedikit lebih jauh dari perkomplekannya itu. Tetapi hanya 10 menit jika membawa mobilnya.
Sesampainya di sana. Nazarel parkir di depan villa no 295 A.
Gue udah nyampe depan rumah lo. Lo masih di mana?
Nazarel mengirimkan pesan pada adik sepupunya. Satu detik kemudian balasan pun dibacanya.
‘Di belakang lo’
Nazarel sontak menoleh ke belakang. Dan ...
“Duuaarrrr!”
“Eh kodok terbang!” kaget Nazarel memegang dadanya, “sialan lo!” makinya sembari mengeluarkan jurus tendangan anginnya sebagai candaan.
“Hahahaha, mana ada kodok terbang!” gelak Alter kala berhasil mengagetkan Nazarel, “gimana semalam? Udah baikan hati lo?”
Nazarel memegang dadanya merasakan luka hati yang pastinya masih berdarah itu. “Lumayan, udah gue tambal.”
“Lo kira ban bocor,” kata Alter kembali tertawa.
“Ya harus lah ditambal. Kalau nggak, bakalan menganga lebar.” Nazarel mengatakan hal itu sembari terkekeh juga. Tetapi Alter tahu jika tawanya itu hanya sandiwara dan terpaksa saja supaya dia tidak terlalu khawatir padanya.
“Ngapain lo menelepon meminta bantuan gue? Bantuan apa sih? Nanti kayak waktu itu kita kena hukuman berdua.” Belum Nazarel mengatakan apa permintaannya. Alter sudah mengingatkan dan memperingatinya.
“Sekarang nggak akan kena hukuman,” jawab Nazarel penuh keyakinan.
“Kok bisa?” tanya Alter penuh curiga.
“Soalnya kita akan melakukannya secara diam-diam,” ujar Nazarel dengan cengirannya.
Alter tampak berpikir. “Melakukannya secara diam-diam, berarti kita cukup diam aja gitu?”
“Iihh nggak gitu konsepnya oon,” kata Nazarel cemberut.
“Haha, canda. Ya udah, bantuan apa?” Alter diam siap mendengarkan bantuan apa yang diinginkan Nazarel.
“Begini …?” Nazarel perlahan menjelaskan apa yang hendak dia lakukan di wilayah itu.
“Lo gila?” Alter tampak terkejut.
“Masih waras,” jawab Nazarel nyengir.
“Gimana kalau kita ketauan?” Alter masih takut. Secara selama ini kakak sepupunya itu sering sekali menjerumuskannya ke dalam masalah besar.
“Mau bantuin nggak sih? Kalau lo bantuin gue, bakalan gue bantu combalingin sama Alitha, gimana?” bujuk Nazarel seraya menyilangkan kedua tangannya di d**a dengan kedua alis yang naik turun.
“Ogah ah, nanti bisa masuk penjara kita,” jawab Alter masih ragu dan takut.
“Gue bilang nggak bakalan. Ya udah kalau nggak mau bantu. Tadinya gue udah nyiapin kue bertulisan couple AL, kan bagus.” Nazarel pura-pura kecewa.
Couple AL (Alter+Alitha). Alter tampak berpikir.
“Ok kalau begitu. Gagal atau berhasil, pokoknya lo harus nyoblagin gue sama Alitha,” kata Alter akhirnya setuju.
Nazarel tersenyum penuh misteri. Dia akan memberi sedikit pelajaran kepada suami bi Ipih sehingga membuatnya jera supaya tak akan pernah memukul anak dan istrinya lagi.
Keduanya mengeluarkan tas ransel Nazarel dari kursi belakang mobil. Lalu berjalan menelusuri jalanan komplek. Sehingga keduanya kini sampai di tikungan jalan dekat villa no 287 A.
“Yang mana sih villa-nya?” tanya Alter melihat sekitaran.
“Yang depan sana,” tunjuk Nazarel.
Alter melihat ke arah yang ditunjuk Nazarel. Ternyata di sana ada pria yang sedang mencuci mobil.
“Ehh, ada satpamnya,” kata Alter takut.
“Justru itu gue ngajak lo ke sini, bukannya mau bantuin?” Nazarel jadi kesal. Puluhan kali dia mengatakan rencananya. Tapi pemuda itu tidak paham-paham.
Alter menelan salivanya berat sembari menengadah ke atas, berdoa, “Ya Allah, kenapa Engkau jadikan kami sepupuan? Sehingga dia sering sekali membawaku ke arah kesialan.”
Nazarel memutar matanya jengah lalu memukul pelan pinggir lengan Alter. Doa apa itu? “Buruan, sebelum sopirnya pulang.”
“Ok, ok. Slow girl,” ucap Alter menghela napasnya panjang kemudian dengan takut-takut mulai melaksanakan aksi mereka.
Suami bi Ipih yang bernama Darya mulai mengelap mobil dengan lap tebal untuk mengeringkannya.
Alter berjalan melewati Darya kemudian tiba-tiba saja dia tampak sesak napas lalu terkulai ke atas jalan.
Darya yang melirik ke arahnya terkejut. “Loh, kamu kenapa, Nak?” tanyanya cemas.
Alter terlihat sesak sambil memegang dadanya.
“Kamu asma?” tanya Darya panik.
Alter mengangguk sembari merogoh sakunya pura-pura mencari alat untuk asma.
Darya takut terjadi apa-apa sama pemuda itu. “Tolong!”
Satpam yang berjaga di pos depan rumah bossnya pun bergegas menghampiri mereka. “Ada apa ini?” tanyanya ikut panik.
“Dia asma Pak,” ujar Darya membantu Alter mencari alatnya.
Di saat kedua pria itu membantu Alter.
Alter menggerakkan tangannya memberi isyarat pada Nazarel.
Nazarel melihat di sana aman. Jadi bergegas menghampiri mobil boss Darya lalu bersembunyi di depan mobil itu supaya tak ada yang melihatnya. Dia mengeluarkan cat semprot, paku dan juga obeng.
Tanpa sepengetahuan mereka. Nazarel mencoret-coret pinggiran mobil dengan cat semprot, mengempeskan ban mobil bagian yang tak terlihat satpam dan Darya. Serta obengnya dia gunakan untuk mencokel serta merusak lampu depan dan juga menggores bagian badan mobil.
Tiba-tiba ada satu tangan memegang pundak Nazarel dari belakang. Dia mengira jika itu adalah Alter. “Alter, kita udah selesai,” ucapnya sembari menoleh ke belakang.
Ternyata itu adalah boss Darya sekaligus pemilik mobil tersebut.
Nazarel menelan salivanya berat, lalu nyengir kepada pria tua dan botak itu. Ia hendak lari tetapi berhasil dipegang pergelangan tangannya oleh pria tersebut.
“DARYAAA! JOKOO!” panggilnya kepada sopir dan satpamnya.
Alter yang sedang berakting asma jadi terkejut kala melihat Nazarel tertangkap basah.
Boss Darya sudah tentu marah besar melihat bagaimana kondisi mobil barunya itu. “Cepat panggil polisi!”
Alter yang hendak lari. Tak sempat sebab satpam mengerti, ternyata pemuda itu juga sekongkolan dengan gadis itu. Dia pun memeluk tubuh Alter dari belakang supaya tak kabur dan pada akhirnya keduanya kini sudah tertangkap.
Bagaimana ini? Mati gue. Batin Nazarel ketakutan.
Akhirnya dia dan Alter dibawa ke kantor polisi. Tentu saja dengan Darya sebagai saksi mata dan bossnya yang melaporkannya.
Dan sialnya. Dari banyaknya kantor polisi wilayah itu. Keduanya dibawa ke kantor polisi Zand.
Nazarel berdiri terpaku di depan gedung kantor polisi itu dengan kedua tangan yang diborgol seolah dia seorang penjahat. Wajahnya seketika semakin memucat. Teringat tentang Pak polisi galak itu, bahkan jaketnya masih ada di rumahnya. Apa kali ini dia akan dipenjara seumur hidup?
Seumur hidup?
Sepertinya terlalu berlebihan. Tetapi begitulah yang ada dipikiran Nazarel saat ini.
“Ayo masuk,” kata salah satu polisi baru yang tugas di kantor itu mendorong Nazarel supaya segera masuk ke dalam.
“Ahhh,” rintih Nazarel karena dorongan pria itu begitu kasar padanya.
“Heyy, pelan-pelan dong. Dia seorang gadis dan kami bukan penjahat!” seru Alter tak terima melihat Nazarel didorong dengan kasar.
“Bukan penjahat?! Kalian telah merusak mobil orang tanpa sebab dan berkata bukan penjahat!” bentak polisi itu kasar bercampur marah sehingga membuat nyali Alter menciut seketika.
Alter mengerjap takut. “Bukan begitu Pak. Tapi-”
“Ayo masuk,” kata polisi kedua membawa Alter masuk diikuti oleh Nazarel di belakangnya.
Tetapi untungnya hari ini tampaknya Zand sedang tugas luar. Jadi Nazarel berharap jika kali ini akan keluar kantor polisi sebelum kedatangannya.
Faiz yang melihat kedatangan keduanya dari ruang kerjanya, mengernyit heran.
“Duduk,” kata polisi baru bernama Barro.
Nazarel duduk bersampingan dengan Alter.
Darya dan bossnya sedang memberi keterangan atas gugatan untuk Nazarel bersama pemuda itu.
Faiz akhirnya menghampiri keduanya. Ketika melihat wajah Nazarel, tiba-tiba senyumnya mengembang. Tampaknya Faiz pernah melihat Nazarel di suatu tempat.
★Flashback★
Satu tahun sebelumnya.
Hari sedang hujan dan Faiz tengah melakukan kontrol keliling di mobil sendirian. Dia memarkirkan mobil di pinggiran jalan lalu masuk ke sebuah toko kue untuk memesan kopi dan camilan.
Kedua matanya menangkap sosok gadis yang sedang berdiri di depan restoran seberang cafe tempatnya berdiri saat ini dari dinding kaca besar cafe. Gadis itu membawa bungkusan makanan dari restoran tersebut sembari sebelah tangannya memainkan air hujan seraya tersenyum.
Gadis itu tampaknya baru pulang sekolah sebab masih memakai seragam SMA dan juga menggendong tasnya.
Awalnya dia hanya melirik sekilas saja. Tetapi perhatiannya terpusat kembali pada sosok gadis itu dikala ada wanita tua bersama anak kecil tengah berteduh juga di sana.
Faiz melihat wanita tua dan anak kecil itu tampaknya seorang pengemis. Bahkan pelayan restoran itu keluar dan hendak mengusir keduanya dari depan sana.
Namun, gadis itu tampaknya tak terima dan marah pada pelayan restoran tersebut sembari membela dan mencegah wanita tua bersama anak kecil itu untuk pergi dari sana. Hal itu tak luput ditonton oleh orang-orang yang berteduh yang berada di sekitarnya. Di luar dan di dalam restoran juga.
Bahkan gadis itu sengaja memanggil manajer restoran tersebut sembari membicarakan sesuatu yang serius. Dia mengeluarkan uang dari dalam tas lalu diberikannya pada manager sembari masih terlihat kesal.
Manager restoran bersama pelayannya tampak meminta maaf pada wanita tua bersama anak kecilnya dan tak menerima uang yang gadis itu berikan. Gadis itu menyuruh keduanya masuk saja, mungkin untuk mentraktir mereka.
Tetapi wanita tua itu tampaknya malu untuk masuk ke sana dan pamitan pergi meski masih hujan deras.
Gadis itu tersenyum lalu memberikan bungkusan makanan yang dibawanya serta uang yang tadi di keluarkannya. Tak lupa payung di dalam tasnya dia buka dan diberikan juga kepada wanita tua dan anaknya.
Wanita tua itu tampaknya mendoakan seraya mengusap pipi gadis itu sekilas dengan senyuman juga. Dia pun pergi membawa makanan, uang dan juga payung bersama anak kecil yang bersamanya.
Faiz malah diam terpaku melihat kejadian itu. Ada sepasang wanita dan pria masuk ke cafe sambil memuji gadis yang membela pengemis dan anaknya tadi. Bahkan rela memberikan makanan dan uang serta payungnya kepada wanita tua itu.
Keduanya berkata. Di zaman sekarang sudah jarang gadis baik hati seperti gadis SMA itu.
Faiz masih menatap gadis SMA yang saat ini memayungi kepala dengan tas ranselnya kemudian berlari menembus hujan entah ke mana? Lamunannya buyar kala pelayan cafe memberikan pesanannya.
Kejadian singkat barusan rupanya sudah menggugah hati Faiz. Dia menjadi penasaran siapa gadis baik tersebut?
Dari semenjak hari itu. Faiz sering mampir ke cafe atau restoran di daerah sana. Berharap bisa bertemu lagi dengan gadis waktu itu. Tetapi tak pernah dia sekalipun bertemu dengannya lagi. Meski sudah bubar sekolah SMA, di hari libur sekolah atau terkadang lewat ke beberapa sekolah SMA daerah sana berharap bisa melihatnya lagi. Tetap tak pernah bertemu dengan gadis tersebut.
Siapa gadis itu? Siapa namanya dan di mana alamatnya? Sampai satu tahun, Faiz masih mengingat senyuman gadis misterius itu. Gadis asing yang hanya bertemu sekilas tetapi mampu merebut hatinya.
★Flashback off★
Faiz tersenyum melihat Nazarel yang tampak cemberut seraya saling menyenggol lengan Alter. Senyumnya hilang kala melihat keduanya masih diborgol. “Kalian!” panggilnya pada Barro dan Jaky yang tadi membawa Nazarel dan Alter. Keduanya menghampiri Faiz.
“Ya Pak Faiz. Ada apa?” tanya Barro.
“Lepaskan borgolan mereka,” perintah Faiz membuat Nazarel dan Alter tersenyum padanya. Keduanya senang, ternyata masih ada juga polisi baik seperti pria itu.
“Ada kejadian apa ini?” tanya Faiz heran. Kejahatan apa yang dilakukan gadis dan pemuda itu? Apa keduanya kena razia di hotel? Atau kasus narkoba, atau pula kejahatan lainnya?
Jaky pun melepaskan borgolan keduanya.
Nazarel tampak lega seraya mengusap pergelangan tangannya itu yang terasa sakit, bahkan ada tapak merahnya.
Barro pun menjelaskan. “Gadis itu telah merusak mobil Tuan yang di sana tanpa sebab sementara pemuda itu yang menolong aksinya dengan berpura-pura sakit asma di jalanan.”
“Ppptthhh, hahaha!” Faiz malah tertawa terbahak. Kasus apa itu? Benar-benar menggelikan. Dia pun duduk di meja seberang Nazarel dan Alter.
“Coba jelaskan, kenapa kalian melakukannya?” tanya Faiz bernada lembut membuat semua polisi di sana heran. Faiz memang tak sekeras dan setegas Zand. Tetapi seharusnya tak selembut itu juga kepada tersangka.
Darya dan bossnya mendekat ke sana juga.
“Saya mau keduanya dipenjara supaya jera. Anak-anak nakal itu telah merusak mobil mahal dan baru saya!” boss Darya masih marah tak terima.
Sementara Darya tahu jika gadis itu anak majikan istrinya dan diam saja.
Faiz meminta boss Darya untuk tenang dahulu dan mendengarkan penjelasan kedua muda mudi itu.
Alter masih menyenggol pelan Nazarel supaya dia yang menjelaskannya. Secara kan pelaku utama dan otak dari segalanya adalah Nazarel.
Nazarel menelan salivanya berat. Untungnya di sana tak ada polisi yang kemarin tugas. Mungkin setiap hari ganti-ganti sif sehingga hari ini tak ada yang mengenalinya. Gadis pembuat onar di jalan dan pelanggar rambu lalu lintas juga.
“Sa-saya, tadinya mau membalas pria itu,” tunjuk Nazarel pada Darya dengan takut-takut.
“Membalas saya?” kata Darya menunjuk hidungnya sendiri.
Nazarel mengangguk. “Karena Bapak telah memukuli anak dan istrinya terus mengambil uang serta bermain judi dan mabuk-mabukan.”
Darya terkejut lalu dengan gelagapan menyangkalnya. “Siapa yang memukuli istri dan anak saya dan apa kau punya bukti, Nona?” tanyanya balik marah karena tentu saja tak terima.
Nazarel mengerjap tak percaya dan memang benar, mana ada maling ngaku. “Ya, kalau tidak percaya, saya akan memanggil asisten yang bekerja di rumah sa-”
Braaakkk!
Boss Darya menggebrak meja kasar. “Lalu apa hubungannya dengan kau merusak mobil saya, Nona?” tanyanya marah tak terima.
“Tenang Pak, tenang. Di sini kantor polisi,” kata Faiz mencoba menenangkan boss Darya.
Lagi-lagi Nazarel menelan salivanya berat. “Supaya Anda meminta ganti rugi pada sopir Anda itu. Karena dia telah menganiaya istri dan anaknya.”
Darya merasa jengah mendengarnya.
Boss Darya juga tetap tak bisa menyalahkan sopirnya dan di sana memang Nazarel bersama pemuda itu yang salah. Sebab dia tak ada hubungannya dengan sopirnya itu. Jika ingin merusak seharusnya rusaklah benda milik sopirnya itu.
“Tolong kalian penjarakan keduanya. Kalau tidak dipenjara, maka saya akan melapor ke kantor pusat dan menuntut jika kantor polisi ini tak adil serta malah membela yang salah.” Boss Darya mengeluarkan ponsel menelepon pengacaranya.
“Pak polisi, boleh kami juga menelepon pihak keluarga kami?” tanya Alter baru buka suara lagi.
Faiz mengangguk seraya mempersilakan Alter mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja bersama ponsel Nazarel dan juga barang bukti kejahatan mereka berupa cat semprot, obeng dan juga pisau kecil yang digunakan Nazarel untuk membocorkan ban mobil.
Alter melirik Nazarel yang mendapat anggukan kakak sepupunya itu, sudah pasti akan menelepon pengacara keluarga mereka.
“Saya akan menggugat kantor polisi ini jika tidak memenjarakan keduanya,” kata boss Darya masih ngotot dan marah.
Setelah Alter selesai menelepon Pak Heri, pengacara keluarga mereka. Dia menatap Nazarel yang masih cemberut.
Faiz yang tak tahan mendengar ocehan pria tua itu pun menyuruh Barro memenjarakan keduanya sementara, sampai pihak wali keduanya datang dan menyelesaikan masalah itu. Dia juga meminta Barro untuk memperlakukan keduanya biasa saja jangan seperti kepada dua orang tersangka pembunuhan.
Keduanya kini digiring masuk ke dalam penjara yang paling dekat dengan pintu. Ruangan terhubung lorong terpisah tetapi masih saling bersebelahan.
Seumur hidup. Keduanya baru merasakan yang namanya masuk ke dalam jeruji besi. Nazarel duduk dengan helaan napas panjang. Untuk kali ini dia takkan lepas dari yang namanya kuliah dan pasti akan dikirim untuk kuliah di Luar Negeri.
Kesalahan yang fatal.
Tentu saja.
Bahkan Alter untuk kali ini akan kebagian hukuman juga dari Tuan Danang, sang Ayahnya.
Faiz duduk di ruangannya seraya tersenyum. Akhirnya dia bertemu lagi dengan gadis SMA waktu itu dan tahu namanya adalah Nazarel Meilla Adhitama. Yang terlihat semakin manis dan cantik. Dulu dia melihat gadis yang bernama Nazarel itu berisi dengan kedua pipi yang sedikit cubby. Tapi kini terlihat sedikit dewasa dan tubuhnya juga langsing. Dia berpikir mungkin saat ini gadis itu sudah kuliah, bukan gadis SMA lagi.
Perlu disyukuri, jika kali ini dia tak susah-susah mencari. Sebab gadis itulah yang ternyata datang sendiri, dengan kasus yang dirasanya menggelikan. Sayangnya dia terpaksa harus memenjarakan sementara gadis itu bersama adik sepupunya.
Faiz sedikit melamun sembari senyum-senyum sendiri. Sehingga tak menyadari kedatangan Zand bersama Toni temannya setelah tugas luar.
“Faiz?” panggilan Zand di ambang pintu ruangannya tak terdengar oleh Faiz.
★BERSAMBUNG★