“Di saat dua hati sudah ditakdirkan bersama. Sebagaimana jauhnya mereka berada, maka pada saatnya akan dipertemukan dan akan disatukan. Dan setelah bersatu, maka tak ada satupun yang bisa memisahkannya kecuali takdir juga yang bisa melakukannya.”
*****
“WOYY, FAIZZ!” teriak Zand mengejutkan Faiz.
“SIAP PAK!” mendadak Faiz berdiri dari duduknya seraya hormat seolah yang datang adalah atasan mereka.
“Haha, ada apa denganmu?” Zand jadi tertawa membuat Faiz nyengir seraya menggaruk tengkuknya tak gatal.
“Aku kira Pak Andra (Jenderal Polisi),” kata Faiz menurunkan tangannya sembari nyengir lalu menatap kedatangan Zand membawa beberapa berkas kasus baru. “Kasus apa lagi itu?” tanyanya melihat berkas baru.
“Penculikan, sudah ada tiga keluarga yang melapor tentang anaknya yang diculik. Sudah aku kabarkan hal ini pada semua kantor polisi dan kantor pusat juga supaya terus melakukan penyelidikan serta mencari mobil yang dikatakan ciri-cirinya. Aku juga baru pulang dari lokasi kejadian penculikan itu,” ujar Zand heran melihat raut wajah bahagia Faiz yang seolah kontras terlihat baginya.
Faiz hanya ber-oh saja seakan tak tertarik mendengarkan lebih lanjut kasus itu.
Zand membuka topinya lalu duduk di kursi depan meja Faiz. “Ngomong-ngomong, kasus pembunuhan kemarin. Dekat dengan kasus penculikan kali ini.”
“Hmmm, kampung itu lagi ternyata. Kenapa penjagaan di sana kurang dan juga banyak sekali kejadian kejahatan di sana?” keluh Faiz sudah tahu daerah itu dan tampaknya penduduk kampung yang disebutkan barusan memang seakan kampung bebas dari peraturan pemerintah.
Zand menatap Faiz. “Apa kau mendapat lotre?”
“Tidak. Memangnya kenapa?” Faiz malah balik bertanya.
“Terus? Kenapa wajahmu cerah sekali seolah matahari baru terbit dari Timur?” tanya Zand semakin penasaran.
Faiz duduk di kursi yang saling berhadapan dengan Zand. “Apa kau mengingat ceritaku yang penasaran dengan gadis SMA misterius waktu itu?” tanyanya tampak antusias dikala akan menceritakannya.
“Entahlah. Aku sudah lupa,” jawab Zand pura-pura mencoba mengingatnya.
“Hey, gadis SMA penyuka hujan itu,” kata Faiz mencoba mengingatkan Zand.
“Hmm, gadis yang menolong ibu dan anak pengemis satu tahun yang lalu?” Zand akhirnya mengingatnya juga.
Faiz tersenyum lebar. “Ya, kau masih mengingat ceritaku? Sialan, aku kira kau lupa.”
“Bagaimana bisa aku lupa. Kau sudah menceritakannya hampir jutaan kali …” jengah Zand, “… jangan katakan kalau gadis SMA itu kau temukan hari ini?” Ia menatap Faiz dengan tatapan tajam.
“Bukan aku temukan, tetapi dia sendiri yang datang ke sini,” ujar Faiz melirik ke atas seakan gadis itu berada di langit-langit dan kini tersenyum padanya.
Zand malah mengernyitkan keningnya. “Datang ke sini mencarimu? Atau datang ke sini sebagai pelaku kejahatan?”
“Hey, jangan berkata sembarangan,” kata Faiz tak terima.
“Lalu?” Zand mulai jengah karena Faiz yang memutar-mutar kata.
Faiz berdeham sedikit. “Sebenarnya dia bukan penjahat. Hanya saja dia telah merusak mobil orang yang salah hanya karena ingin membalas sopir pemilik mobil itu.”
“Ahaha, bagaimana bisa? Kasus yang aneh.” Zand jadi ikut tertawa mendengar kasus aneh itu.
Faiz pun menceritakan kejadiannya tanpa menyebutkan nama gadis tersebut. Sementara Zand mendengarkannya sembari bekerja.
Sementara di rumah Tuan Rama.
Lorra tengah sibuk menyiapkan hidangan dan juga kamar kosong untuk menyambut kedatangan ayah mertua bersama keluarga adik suaminya yang akan menginap di sana.
Tak lama. Mobil Rama bersama mobilnya yang dibawa sopir pun memasuki pekarangan.
Lorra hendak menyambutnya. Tetapi ponselnya berdering dan itu dari pengacara Heri. Karena melihat ayah dan ibu mertua serta semuanya turun dari mobil. Dia tak sempat mengangkatnya dan akan menelepon balik nanti setelah menyambut semuanya.
Tuan Herdy Adhitama berjalan dengan bantuan tongkatnya. Meski sebenarnya kesehatan beliau masih bagus. Tetapi senang sekali membawa tongkat berkepala harimau itu.
Rama menyuruh sopir dan juga satpam untuk menurunkan tas-tas koper dari dalam mobilnya dan juga mobil istrinya.
Turun Dhanu adik Rama sekaligus kakak kembar Danang bersama istri dan dua anak laki-lakinya. Dia yang menikah duluan. Membawa kedua anak laki-lakinya yaitu Nicolas dan Turzain atau lebih senang dipanggil Tung-Tung oleh Nazarel.
Nicolas Adhitama cucu pertama di keluarga itu. Berbeda tiga tahun dengan Nazarel dan dia sebentar lagi akan lulus kuliah. Dia bisa datang ke kota itu saat tugas membuat skripsi dan sebentar lagi akan sibuk kuliah lagi di akhir tahun kuliahnya.
Cucu kedua adalah Alter yang saat ini bersama Nazarel di penjara. Danang menikah terakhir tetapi istrinya hamil duluan sebelum Lorra yang tak langsung hamil setelah menikah dengan Rama.
Cucu ketiga barulah Nazarel. Cucu perempuan satu-satunya keluarga Adhitama. Dan cucu terakhir adalah Turzain Adhitama, yang masih sekolah SMP.
Lorra berdiri di teras menyambut ayah dan ibu mertuanya. Tuan Herdy dan Nyonya Neina. “Alhamdulillah kalian datang dengan selamat. Dan juga selamat datang Ayah dan Ibu,” sambut Lorra seperti biasa mengecup punggung tangan Tuan Herdy dan cipika cipiki dengan Nyonya Neina serta Asmi sang istri Dhanu.
“Lama tak bertemu mbak Lorra, gimana kabarnya?” tanya Asmi tersenyum seraya memeluk sekilas Lorra.
“Alhamdulillah baik As,” jawab Lorra senang menyambut kedatangan mereka.
“Selamat malam Tante kami yang semakin cantik,” sapa Nico selalu senang menggoda Lorra.
Lorra tersenyum. “Tak menyangka kau sudah sebesar ini Nico. Tahun lalu ketika berkunjung ke sini, tubuhmu tak sekekar ini,” pujinya melihat banyak perubahan pada Nico hanya dalam setahun saja.
“Tiap hari nge-gym terus, Tan,” jawab Nico menggaruk tengkuknya tak gatal sembari tersenyum.
Turzain atau biasa dipanggil Zain melirik sekilas perutnya yang buncit dan mencoba menyembunyikannya. Sebab tubuhnya itu memang paling gemuk diantara yang lainnya. “Malam Tante,” sapanya juga pada Lorra.
“Tak usah menahan napas Zain. Tante lebih suka yang berisi ketimbang yang kurus,” jawab Lorra tahu Zain mengempiskan perutnya dengan menahan napas supaya terlihat rata.
Zain nyengir lalu menormalkan lagi perutnya. “Beneran Tante memang semakin cantik,” ucapnya seraya nyengir ikut menggoda Lorra.
“Kamu bisa aja,” kata Lorra menoel pipi kanan Zain. “Ayo semuanya masuk,” ajaknya dan Rama hampir bersamaan.
Semuanya pun masuk ke dalam.
“Mana Nazarel?” tanya Neina menanyakan cucu perempuan kesayangannya itu.
Asmi juga menanyakan mana ponakannya itu.
“Dia sedang bersama Alter pergi keluar,” jawab Lorra karena setahunya memang pergi ke rumah Danang, “sebentar lagi mungkin akan datang karena pastinya tidak akan sabar bertemu dengan kalian.”
“Ya, aku sudah rindu dengan anak nakal itu,” kata nenek Neina tersenyum kecil. Cucu perempuan satu-satunya kesayangannya.
Ponsel Lorra terus saja berdering. “Kalian istirahatlah dulu. Kalo butuh apa-apa minta sama bi Ipih.”
Setelah mengatakan itu. Lorra segera pergi ke depan untuk menerima telepon dari pengacara Heri.
“Ya Pak. Ada apa?” tanya Lorra sudah tidak enak hati. Pasti terjadi sesuatu lagi.
“.........”
“A-apa?” Lorra membulatkan kedua matanya mendengar kalau Nazarel dan Alter kini ada di kantor polisi.
“Ba-bagaimana bisa?” tanya Lorra hampir saja mati berdiri.
“........”
“Baiklah, saya akan segera ke sana, jangan beritahu Mas Rama tentang ini,” jawab Lorra mengakhiri panggilannya.
Lorra bergegas masuk ke dalam lalu mengambil tasnya.
“Ada apa Mah?” tanya Rama melihat wajah Lorra yang pucat dan tampak terburu-buru hendak pergi.
“Ahh anu … itu,” Lorra ragu mengatakannya. “Teman arisanku mengalami kecelakaan dan aku sebagai ibu ketua harus hadir di sana. Jadi maafkan aku harus meninggalkan kalian sebentar.”
“Oh ya sudah. Pergi saja, tapi jangan lama-lama,” jawab Rama mengerti keterpaksaan istrinya itu pergi. Hal itu juga demi kemanusiawian.
Lorra pun tak berlama-lama lagi. Langsung pergi bersama sopir menuju ke kantor polisi.
Di kantor polisi.
Zand tampak jengah dari tadi mendengarkan cerita Faiz yang muter-muter dan diulang-ulang. “Hey, kenapa kau selalu menyebutnya dengan panggilan gadis itu atau gadis hujan. Apa dia tak punya nama?” Akhirnya dia bertanya juga nama gadis yang diceritakan Faiz yang saat ini dipenjara bersama dengan sepupunya.
Faiz terkekeh baru sadar. “Sorry, nama gadis hujan itu adalah Nazarel,” ujarnya sembari melirik langit-langit dengan senyuman.
Nazarel? Zand berpikir, kenapa nama itu sama dengan …? “Nazarel?” tanyanya menatap Faiz.
Faiz mengangguk masih dengan senyuman. “Nama yang bagus bukan? Wajahnya juga cantik dan manis.”
Zand masih menyangkal kalau mungkin saja nama itu banyak. “Nazarel siapa kepanjangannya?” Tapi dia juga masih penasaran.
“Tadi dia mengatakan kalau namanya Nazarel Meilla,” ujar Faiz jadi menatap curiga. Biasanya Zand tak bertanya sedalam itu? “Memangnya kenapa kau menanyakannya?”
“Nama marganya?” Zand malah bertanya lagi dan tak menjawab pertanyaan Faiz padanya.
Faiz tampak mengingat-ingat nama marga Nazarel. “Ari …? Bukan, tapi Adi … hmmm Adhi-”
“Adhitama?” potong Zand membuat Faiz bertepuk tangan.
“Ya, Adhitama,” jawab Faiz tersenyum. Tak lama senyumnya menghilang menjadi kernyitan keningnya. “Dari mana kau tahu marganya?” tanyanya curiga.
Zand hendak menjawab kalau gadis itu kemarin yang masuk ke sana karena berkelahi dan juga melanggar lalu lintas serta yang membawa dompet dan jaketnya. “Dia-”
Masuk salah satu anak buahnya ke sana tanpa sempat mengetuk pintu. “Sir Zand dan Sir Faiz. Ibu dari gadis bernama Nazarel sekarang sudah datang.”
Zand tahu itu adalah Lorra sang ibunya Nazarel.
Nazarel dan Alter duduk bersila di lantai penjara saling bersebelahan, terhalang dinding pemisah saja. Wajah Nazarel dan Alter ditempelkan ke celah besi-besi jeruji seolah penjahat yang sudah mendekam di sana tahunan.
Alter pun menyanyi. “Pak hakim dan pak jaksa, kapan saya akan disidang? Sudah tiga tahun mendekam. Belum juga ada panggilan.”
“Ishh, berisik tau,” jengah Nazarel mendengar nyanyian Alter. Untung saja dua penjara itu memang disiapkan untuk orang-orang yang belum ditentukan bersalah atau tidaknya sehingga tak banyak orang di sana. Penjara sebenarnya berada di bawah gedung itu dan belakang gedung juga.
“Nasib oh nasib, Ya Tuhan. Kenapa kau menciptakan makhluk bar-bar seperti gadis yang disebelah ini,” kata Alter merajuk dengan melodramanya seperti biasa.
Nazarel menghela napasnya jengah.
“Naza, kalau kita dipenjara seumur hidup gimana?” tanya Alter setengah takut.
“Nggak bakalan ih. Pasti Mama akan datang dengan Pak Heri supaya membebaskan kita.” Nazarel yakin kali ini juga dia akan dibebaskan oleh ibu dan pengacaranya seperti kemarin.
Kini Lorra dan Pak Heri berada di ruangan Zand bersama dengan Darya dan bossnya.
Zand menjelaskan jika keterangan Nazarel melakukan kesalahan itu hanya untuk membantu bi Ipih yang bekerja di rumahnya. Sebab suaminya itu sering melakukan KDRT pada istri dan anaknya.
Tentu saja Darya tidak terima. Apa mereka punya bukti dan kenapa harus merusak mobil bossnya yang tidak tahu menahu masalah mereka. Tentu saja di sini Nazarel yang bersalah.
Zand juga tidak bisa memenjarakan Darya sebab memang tidak punya bukti atau laporan dari istri dan anaknya itu.
Lorra berbisik pada Pak Heri. Lalu Pak Heri menjelaskan kalau mereka mencabut laporan dan gugatan itu. Mobil yang rusak akan diperbaiki menjadi seperti baru lagi dan Lorra juga akan memberikan uang ganti rugi yang cukup lumayan selain uang perbaikan mobil.
Awalnya boss Darya tetap tidak terima. Lorra pun dengan tegas menjelaskan jika anaknya dipenjara. Itu berarti kewajibannya memperbaiki mobil dan mengganti uang ganti rugi batal. Jadi mereka tidak punya apa-apa.
Setelah dipikirkan lagi. Akhirnya boss Darya akan mencabut laporannya dengan uang damai sebagai ganti rugi dan memperbaiki semua kerusakan mobilnya luar dan dalam.
Lorra merasa lega mendengarnya. Begitu juga Zand. Tetapi Zand berjanji dalam hati kalau dia tidak akan membiarkan pria bernama Darya itu lepas dari genggamannya. Ada asap pasti ada api dan dia yakin jika apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Nazarel pasti karena Darya memang melakukan KDRT pada istri dan anaknya. Tunggu saja waktu yang tepat, dia sendiri yang akan memasukkannya ke dalam penjara.
Setelah bersalaman. Darya dan bossnya pun keluar dari sana.
Zand menyuruh Barro untuk mengeluarkan Nazarel bersama saudaranya, Alter.
Nazarel masih duduk bersila di lantai, begitu juga Alter.
“Naza, aku yakin kita nggak akan pernah keluar dari sini,” kata Alter mulai membuka suara lagi.
“Ihh, nggak denger apa tadi Pak Heri bilang apa. Kita berdua pasti akan keluar dari sini secepatnya,” jawab Nazarel meyakinkan diri sendiri juga dan berharap akan segera keluar dari sana.
Tak lama Barro datang lalu membuka pintu penjara. “Kalian berdua sudah bebas dan boleh pergi. Tetapi ingat, kalian jangan sampai masuk lagi ke sini dengan kasus konyol seperti tadi,” ucapnya sambil tertawa.
“Siap Pak!” jawab Alter semangat bercampur bahagia.
Nazarel juga tentunya. Keduanya dengan girang keluar dari penjara.
Nazarel dan Alter berjalan beriringan sembari cengar cengir tak jelas menelusuri lorong penjara.
“Aku bilang juga apa. Mama dan Pak Heri pasti bisa menyelesaikannya.” Nazarel sangat senang akhirnya bisa keluar juga.
Lorra menyilangkan kedua tangannya di d**a melihat kedatangan Nazarel dan Alter.
“Maamiiii,” rengek Nazarel bergelayut manja pada ibunya.
Zand dan Faiz menghampiri keduanya.
Faiz tampak senang sebab bisa menemukan sang gadis hujannya. Sementara Zand menatap gadis itu datar saja.
“Tanteku yang paling cantik.” Alter juga senang menyambut Lorra.
“Sekali lagi, terima kasih Pak.” Lorra mengucapkan terima kasih pada Zand dan yang lainnya karena sudah bisa menyelesaikan masalah itu dengan baik-baik meski uang yang dikeluarkan olehnya bukan jumlah sedikit. Demi anak gadisnya tidak dikirimkan kuliah di luar negeri, mengorbankan tabungannya tidak jadi masalah.
Zand mengangguk dan mempersilakan mereka boleh keluar dari sana.
Nazarel melirik sekilas pada Zand yang dirasanya menatapnya dengan tatapan mengerikan. Berbeda dengan tatapan Faiz yang begitu hangat padanya.
“Manis sekali,” gumam Faiz masih menatap punggung Nazarel.
“Hmmm? Apa kau bilang?” tanya Zand pada Faiz.
“Akh, nggak pa-pa,” jawab Faiz nyengir.
Nazarel dan Alter duduk di dalam mobil Nyonya Lorra yang dibawa oleh Lorra sendiri sebab sopir membawakan mobil Nazarel.
Nazarel yang duduk di depan tampak menunduk tak bisa berkata apa-apa lagi. Sebab itu kedua kalinya dia masuk ke kantor polisi. Bahkan tadi merasakan bagaimana masuknya ke dalam penjara.
“Kalian berdua, kalau ada yang bertanya jangan katakan baru keluar dari kantor polisi,” kata Lorra tampak jelas menahan amarahnya.
“Sudah pasti Tante, karena bakalan jomblo seumur hidup kalau tahu aku pernah masuk penjara,” jawab Alter masih dengan candaannya.
“Tante serius Alter,” kata Lorra mengagetkan Alter dan Nazarel. “Karena Opa sama Oma dan yang lainnya sudah datang ke rumah.”
“APAAA?! MEREKA SUDAH ADA DI RUMAH?!” Nazarel dan Alter terkejut mendengarnya.
“Hmmm, jadi jangan sampai ada yang tahu dari mana kalian.” Lorra mulai membelokan mobil ke jalanan perkomplekan.
Nazarel dan Alter berdoa. Semoga mereka tidak akan pernah tahu kalau keduanya baru keluar dari kantor polisi.
Mobil pun parkir di halaman rumah. Alter dan Nazarel turun duluan lalu berlari ke dalam rumah.
“Opaaa, Omaaa kangen,” kata Nazarel langsung memeluk keduanya yang masih duduk di ruang keluarga.
“Loh, dari mana saja kalian berdua?” tanya Tuan Herdy memeluk erat Nazarel yang memeluknya dari samping.
“Abis pulang bermain sama teman-teman,” jawab Alter memeluk Nyonya Neina.
“Woyy, kalian apa kabar?” Nico muncul di balik pintu dengan segelas jus jeruk.
“Pasti abis jalan-jalan,” Zain juga muncul dengan kue di tangannya.
“Wohh tung-tung, kau kenapa semakin meral?” goda Nazarel membuat Turzain menatapnya sebal.
“Haha, biasa lah Naza. Sepupumu ini nggak pernah bisa diet,” jawab Asmi membawakan dua gelas air putih untuk kedua mertuanya.
“Tante, kangen,” Nazarel bangkit dari duduknya lalu memeluk Asmi.
“Sama Om nggak kangen, Naza?” kata Dhanu menghampiri mereka.
“Tentu saja kangen,” jawab Nazarel beralih memeluk Dhanu.
Tidak berapa lama. Danang dan juga Linna sang istri sekaligus ibu Alter datang juga ke sana.
Semuanya berkumpul bercanda tawa. Nazarel dan Alter saling melirik. Untung saja tidak ada yang tahu masalah mereka.
Tuan Herdy menatap Nazarel dengan tatapan sayu. Siapa yang mengira jika ternyata kakeknya itu sudah tahu semua yang menimpa Nazarel. Bagaimana kenakalannya dan juga sudah dua kali cucunya masuk ke kantor polisi. Senyumnya mengembang karena mengingat ucapan Rama yang mengatakan kalau Nazarel malah minta dijodohkan. Hal itu akan semakin memudahkannya untuk memenuhi janjinya pada sahabat dari kecilnya dulu.
Sungguh tidak ada yang tahu jika kedatangan Tuan Herdy kali ini membawa sebuah kejutan untuk mereka. Terutama Nazarel, dia sudah menentukan jodoh untuk cucu perempuan satu-satunya itu.
★BERSAMBUNG★