“Jodoh takkan ke mana. Tetapi, jika jodoh sudah di depan mata, maka kau bisa lari ke mana?”
*****
Pagi-pagi.
Trriiiinggggg!
Tangan kanan Nazarel meraba ke atas nakas untuk mematikan alrm. Ia terpaksa bangun pagi karena di sana ada kakek dan neneknya, turun dari ranjang dengan kedua mata tertutup, berjalan menuju ke kamar mandi. Dan untung saja tidak kejedot pintu seolah dia sudah hafal letak pintu meski dengan kedua mata tertutup juga.
Setelah mandi.
Nazarel turun untuk sarapan. “Selamat pagi semua,” sapanya pada semuanya.
“Pagi sayang,” jawab nenek Neina tersenyum seraya melebarkan kedua tangan meminta pelukan cucunya itu.
Sementara yang lainnya malah menatapnya aneh. Mungkin mereka baru saja membahas tentang Nazarel tanpa sepengetahuannya.
“Mau sarapan apa sayang?” tanya Lorra yang sibuk menyiapkan sarapan untuk semuanya.
“Omelet keju,” jawab Nazarel merasa masih ngantuk meski baru saja mandi.
“Aku juga,” kata Zain ingin makan juga omelet dicampur keju.
“Bukannya kamu udah makan dua roti isi barusan?” Nico menggelengkan kepalanya.
“Masih kurang,” Nazarel yang menjawab, “lihat aja, perutnya masih rata.”
Semuanya terkekeh.
Datang Alter ke sana. “Pagi semua? Wahh masih pada sarapan?”
“Kamu udah sarapan Al?” tanya Lorra kala Alter duduk di sebelah Zain.
“Sudah Tante. Tapi kalau melihat banyak makanan kayak gini, laper lagi,” jawab Alter terkekeh.
“Ya udah. Sarapan lagi, Tante bikin crepe pisang,” kata Asmi memberikan piring kosong pada Alter.
“Makasih Tan,” jawab Alter lagi tampak tak sabaran menyantap makanan enak-enak itu.
“Bundamu ke mana? Kenapa belum datang?” tanya Asmi melihat Alter hanya datang sendiri.
“Oh, bunda lagi ada urusan sebentar, kalau ayah pergi ke lokasi. Katanya ada yang nggak beres dengan proyeknya,” ujar Alter mulai menyantap crepe dan juga meneguk s**u cokelatnya.
“Pantes saja Rama pergi juga pagi-pagi sekali.” Neina tadi bertemu dengan Rama yang pamitan kerja tanpa sarapan.
“Oh ya, jam berapa kita pergi ke mallnya mbak Lorra?” tanya Asmi pada Lorra.
“Siangan dikit pasti sudah buka semua,” jawab Lorra menoleh menatap Nazarel.
“Mau pergi ke mall ya Ma, Tan?” tanya Nazarel masih menyantap omeletnya.
“Kamu juga harus ikut Zarel,” kata Lorra mengelap sudut bibir Nazarel karena belepotan keju.
“Aku? Ikut kalian?” tanya Nazarel aneh. Biasanya kalau Asmi ke sana, pasti akan belanja bersama dengan ibunya dan juga Linna sang ibunya Alter. Kenapa sekarang dia dibawa juga.
“Iya lah harus ikut, sesekali Tante pengin juga kan belanja sama ponakan Tante yang cantik ini.” Asmi sedikit membujuk Nazarel supaya ikut dengan mereka.
“Memangnya kenapa Naza? Tidak mau pergi dengan orang tua?” tanya Tuan Herdy aneh.
“Bukan begitu Opa. Tapi …, baiklah. Kali ini aku ikut.” Nazarel tidak mau banyak protes kali ini.
Asmi dan Lorra tersenyum. Tetapi senyum Lorra seperti setengah terpaksa dan seolah ada yang disembunyikannya.
Siangnya mereka pun pergi belanja ke mall bersama dengan Linna.
Nazarel merasa heran. Kenapa mereka semangat sekali membelikannya pakaian dan juga semuanya? Bukankah ulang tahunnya masih lama dan juga tidak ada hari spesial di bulan ini. Atau karena mereka senang sebab untuk pertama kalinya dia mau ikut berbelanja bersama ibu-ibu?
Entahlah. Kali ini juga Nazarel menurut saja karena merasa bersalah pada ibunya. Sebab ulah kenakalan dan kecerobohannya, uang tabungan ibunya terkuras olehnya.
Tak terasa mereka berbelanja sampai sore tiba.
Sepulangnya.
Nazarel semakin aneh sebab tiba-tiba saja kakeknya ingin berbicara dengan semuanya. Dan yang paling mengejutkankan adalah dia sudah menemukan jodoh untuknya. Rama juga sudah pulang dan berkumpul di sana.
“AAPAAA?! PERJODOHAN?” kaget Nazarel mendengar penuturan kakeknya kenapa mereka semua datang ke sana. Kali ini bukan hanya sekadar untuk liburan melainkan untuk perjodohannya juga.
Rama dan Lorra menatap Nazarel aneh.
Rama paling utama merasa aneh. “Apa kamu kemarin bercanda tentang ingin dijodohkan dan segera menikah?”
Nazarel menelan salivanya berat. Dia mengira jika ayah dan ibunya akan menentang keinginannya itu sebab dia memang baru saja lulus SMA. Tanpa diduga jika hal itu malah memberi semangat pada kakeknya juga, bahkan malahan sudah mendapatkan calon suaminya secepat kilat seperti itu. “Bukan begitu Pa. Tapi secepat ini?”
Lorra juga menatap aneh Nazarel. “Jadi yang mau bikin dulu cucu launching, coming soon itu boongan?”
Nazarel memang hanya sedikit menggoda kedua orang tuanya karena kesal dan takut atas doa Tamara untuknya. Tapi, kini dia berpikir lagi. Harus secepat itu. Memang ucapan karena emosi, akan menyisakan penyesalan ujungnya. Ia jadi cegukan dan memang jika gugup atau cemas akan cegukan.
“Hikk hikkk.”
“Ya Naza, Opa sudah berjanji dengan teman masa kecil Opa untuk menjodohkanmu dengan cucunya,” ujar kakek Herdy baru mengatakan niat utama kedatangannya ke sana, “kebetulan mereka juga sudah menantikan hal ini sejak dulu.”
“Tapi kenapa harus aku, hikkk?” tanya Nazarel heran dan sedikit berubah pikiran jika dijodoh-jodohkan oleh Opanya yang pastinya akan menjodohkannya dengan pria kuno, taat aturan, atau mungkin juga sudah setengah tua. Bukankah kakeknya sangat menyukai pria yang penurut, rapi, beradab dan juga mungkin saja pria berkacamata yang culun seperti kacung.
“Karena dulu kami berjanji akan menikahkan anak kami jika mempunyai anak perempuan dan laki-laki. Sayangnya kami berdua hanya memiliki anak laki-laki dan pada akhirnya lahirlah kau. Jadi kakek harus menepati janji itu.” Kakek Herdy menjelaskan tentang keluarga temannya yang hanya mempunyai dua anak laki-laki dan dia juga mempunyai tiga anak laki-laki.
Kini teman masa kecilnya itu mempunyai tiga cucu laki-laki dan dia mempunyai tiga cucu laki-laki dan cucu perempuan. Maka dari itu, perjodohan jatuh pada Nazarel dan cucu temannya yang siap untuk menikah.
“Perjodohan apa ini? Ini bukan zaman Siti Nurbaya lagi Opa, hiikkk,” protes Nazarel tetap tak menerimanya.
“Minum dulu yang banyak,” Lorra memberikan air putih pada Nazarel, “jadi kamu berubah pikiran Naza?” tanyanya menghela napasnya lega.
“Dan mau daftar kuliah?” tanya Rama juga.
Nazarel berpikir sejenak, cegukannya juga sudah mulai hilang.
“Masih untung kau bukan Siti Nurbaya. Sebab Siti Nurbaya dinikahkan dengan pria yang sudah tua, sementara pria yang akan menikah denganmu masih muda,” jawab kakek Herdy tidak mau mendengar penolakan lagi. Dia sudah terlanjur menelepon sahabat baiknya itu dan sudah sepakat untuk mempercepat perjodohan kedua cucu mereka. Memenuhi janji sewaktu masa muda dulu.
Akhirnya dia bercerita kalau perjanjian itu bukan hanya sekadar ucapan sesama teman, atau ucapan asal saja di saat sedang senang. Tetapi ucapan janji itu ketika mereka sedang sama-sama susah dan merintis pekerjaan masing-masing.
Dan sesungguhnya perjanjian perjodohan itu berawal dari teman masa kecilnya menjual tanah warisan kedua orang tuanya demi memodali dirinya. Lihatlah kini dia sudah mempunyai beberapa hektar tanah di beberapa kota untuk pembangunan perkomplekan dan juga pinggiran kota untuk gedung-gedung menjulang.
Sudah pasti dia takkan mengingkari janji itu dan ingin semakin mempererat hubungan mereka menjadi besan, meski dari cucu mereka. Demi menghargai pengorbanan dan juga bantuan teman baiknya itu.
Nazarel menunduk, karena jika sudah menyangkut masalah balas budi dan atas pertolongan keluarga itu. Lihatlah dia lahir dari keluarga berada dan istilahnya bisa makan dari sendok emas.
Maka dari itu, semalam ketika Nazarel sudah tidur. Mereka membicarakan masalah perjodohan itu. Rama juga tidak bisa mengatakan tidak, begitu juga Lorra jika itu memang terbaik untuk anak mereka.
Kakek Herdy juga menjelaskan kalau pemuda itu dari keluarga baik-baik dan Rama juga sudah mengenal keluarga itu, meski belum mengenal bakal calon menantunya seperti apa serta yang terpenting keluarga tersebut tinggal di kota itu juga.
Neina ternyata tidak sepemikiran dengan suaminya. “Naza, sayang. Kalau kau benar-benar menolaknya. Oma akan menjelaskan kepada keluarga itu kalau kau belum siap menikah-”
“Tidak Oma, aku akan menerimanya,” potong Nazarel tahu jika menolak artinya harus siap kuliah di Luar Negeri dan dia sudah tahu sifat kakeknya itu. Diam tetapi keras dan bertindak di luar dugaannya. Lagipula memang kesalahan dia yang pertama ingin dijodohkan.
“Kamu menerimanya?” tanya Rama merasa heran. Semudah itu anaknya menerima perjodohan itu.
“Iya Pa, aku menerimanya sebab penasaran pemuda seperti apa yang akan menjadi calon suamiku,” jawab Nazarel mencoba tersenyum. Dan akan aku buat dia menyesal jika menerimaku, akan membuat dia benci padaku. Sehingga nanti dia yang akan meninggalkanku. Jreenng, batal lah pernikahanku, lanjutnya dalam hati mempunyai rencana lain. Jika dia membangkang, tidak akan berakhir baik dan tetap saja semua hanya akan menjadi drama yang berakhir dia yang kalah.
“Syukurlah,” jawab semuanya senang. Ternyata Nazarel tidak sesusah yang mereka bayangkan dan juga bukan gadis pembangkang. Lagian dia sendiri yang meminta dijodohkan.
Zain sedang nyemil potato chip-nya tiba-tiba nyeletuk. “Nanti dia jelek, terlihat tua, gemuk dan juga giginya agak tonggos-”
“He'eehhh, Zain. Jangan nakutin Nazarel.” Nico menoyor belakang kepala Zain yang malah terkekeh.
Kakek Herdy bangkit dari duduknya. “Kalau begitu bersiap-siap lah. Aku akan segera menghubungi mereka untuk bertanya di mana dan kapan kalian akan bertemu.”
Nazarel juga tak banyak bicara lagi. Pergi ke kamarnya meski dengan hati yang menahan kekesalannya. Masa depannya juga sudah diatur oleh mereka. Bisa apa dia? Dan jika harus kabur, kabur ke mana?
Setelah kakek Herdy menelepon sahabatnya. Ternyata pemuda itu malah meminta malam ini mereka ketemuan dan kebetulan ada pesta yang harus dia datangi malam ini di mana mengajak Nazarel ketemuan di sana.
Asmi, Linna dan Lorra langsung sibuk mendadani Nazarel yang baru selesai mandi. Mendengar Nazarel dan calon suaminya itu akan bertemu di sebuah pesta. Mereka mendadani Nazarel dengan dandanan anggun.
Hari pun berubah gelap. Nazarel sudah siap berangkat.
“Cantiknya,” kata Asmi memeluk sekilas Nazarel
“Ponakan siapa dulu dong,” goda Linna juga.
Lorra hanya tersenyum. “Hati-hati di sana dan jika ada minuman beralkohol. Jangan menyentuhnya.”
“Iya-iya Ma. Aku tau dan aku bukan anak kecil lagi,” jawab Nazarel merasa sedikit jengah dengan wejangan mereka.
“Naza, aku akan mengantarkanmu,” kata Alter semangat.
“Dia akan diantar sopir,” jawab kakek Herdy membuat Alter manyun.
“Kenapa? Aku juga ingin pergi ke pesta, Opa,” kata Alter merajuk.
“Kamu hanya akan merusak acara pertemuan mereka,” kata Neina menggelengkan kepalanya.
“Tapi itu pesta. Bukan acara makan malam romantis cuma berdua,” kata Alter ingin sekali pergi bersama Nazarel. Memang bukan untuk merusak, tetapi memang ingin pergi ke pesta.
“Aku juga,” sambung Zain yang memikirkan jika pergi akan memakan makanan enak-enak.
Nico merangkul kedua bahu mereka. “Jika kalian cowok sejati. Kalahkan aku di game PS,” tantangnya supaya keduanya tidak merajuk terus, “ayo main game. Lama nih nggak main bareng.”
“Si tung-tung mana bisa main,” ledek Alter asal.
“Yee, aku paling jago main game,” jawab Zain tak mau kalah.
“Iyalah, tiap hari bukan belajar malah main game.” Nico mengedipkan sebelah matanya pada Nazarel isyarat selamat bersenang-senang tanpa ada yang ganggu dan juga hati-hati.
Nazarel menghela napasnya panjang. Membayangkan bagaimana nanti pemuda yang akan dijodohkan dengannya. “Kalau begitu, aku pergi dulu,” ucapnya tanpa semangat.
“Tunggu dulu,” kata kakek Herdy.
Nazarel berhenti melangkah menunggu kakeknya mau apa.
Kakek Herdy memberi isyarat pada Asmi supaya memberikan sesuatu padanya.
Asmi mengeluarkan sekuntum mawar putih agar dibawa oleh Nazarel.
“Bunga mawar putih?” Nazarel tidak mengerti kenapa harus membawa bunga mawar putih.
“Di pesta nanti pastinya akan banyak orang dan mungkin banyak juga yang membawa bunga untuk para pasangannya. Pria calon suamimu membawa sekuntum bunga yang sama denganmu. Dan jika banyak pula yang membawa sekuntum mawar putih. Dia pasti akan menghubungi nomor ponselmu. Jadi pastikan ponselmu jangan di silent,” ujar kakek Herdy memberi nasihat.
“Ya,” jawab Nazarel singkat lalu melanjutkan langkahnya ke arah mobil. Kenapa harus diantar sopir? Apa takut dia kabur atau tidak datang ke pesta itu.
Pesta? Sepertinya lebih tepat disebut kencan buta.
Nazarel masuk ke dalam mobil dan mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Sepanjang jalan, dia masih bertanya-tanya dan juga membayangkan seperti apa pemuda itu?
Akhirnya ia sampai juga di depan sebuah gedung di mana di sana pesta akan segera dimulai.
Masuk akalkah kencan buta di sebuah pesta? Harusnya di sebuah restoran, atau di cafe atau pula di taman seperti di TV-TV. Menurutnya lebih bagus jika pertemuan pertama di tempat yang tidak ramai seperti itu.
Banyak para pasangan dan juga pria serta wanita memakai gaun dan pakaian pesta datang ke sana. Nazarel juga melihat banyak dari mereka membawa bunga. Apa nanti dia tidak akan salah orang? Tapi kata kakeknya, pria itu akan menghubunginya. Jadi, siapa pun pria yang mempunyai nomornya dan membawa sekuntum bunga mawar putih. Itulah pria bakal calon suaminya.
Nazarel memakai gaun satin panjang berwarna magenta. Tanpa lengan tetapi depan dan belakang tertutup. Lekukan tubuh langsingnya begitu jelas dengan gaun seperti putri duyung bagian bawahnya. Membawa tas tangan dan sepatu high heels berwarna senada. Satu set emas putih berbentuk sayap (anting panjang, kalung mungil, gelang dan cincin berbentuk sama yaitu sayap burung dara) menambah cantik dirinya. Rambut di keriting bagian bawahnya dan pinggiran depannya. Malam ini dia disulap seperti wanita dewasa.
Di depan pintu masuk, Nazarel menyebutkan namanya saja tanpa undangan seperti orang-orang yang datang ke sana. Tetapi tampaknya namanya memang sudah terdaftar sehingga penjaga pintu mempersilakannya masuk. Wow, di dalam juga sudah banyak yang datang. Undangan pesta mewah itu kenapa dia harus datang ke sana? Sementara tak seorang pun yang dikenalnya di sana.
Nazarel tidak terlalu memperhatikan orang-orang. Sebab kini dia harus fokus pada satu pemuda yang membawa mawar putih dan dia hanya bisa melihat pintu utama di mana semua orang pasti masuk dari sana.
Padahal sesungguhnya tadi dia sudah merencanakan akan meminta bantuan temannya supaya menjadi pacar bohongannya. Dia ingin dijodohkan dengan pemuda pujaannya kelak. Bukan kencan buta seperti itu.
Awalnya dia akan memilih pemuda impiannya jika sudah menemukannya, meskipun tidak mengenalnya. Nanti orang tuanya akan datang ke rumah pemuda itu dan menjodohkan mereka. Pemikiran konyol memang, tapi bukankah dia juga berhak memilih siapa dan bagaimana pemuda yang harus menjadi suaminya.
Maka dari itu dia meminta bantuan temannya menjadi pacar bohongannya jika nanti pemuda yang datang jauh dari apa yang dia bayangkan atau bukan termasuk tipenya.
Tetapi semua gagal sebab temannya itu tidak bisa datang karena bertengkar dengan tunangannya yang tak lain masih bersahabat dengannya, yaitu Vita. Kini, mau tidak mau dia harus menemui pria bakal calon suaminya itu.
Sudah lama Nazarel menunggu dengan gelisah.
Setiap pria kebanyakan membawa mawar merah. Dan ada pula yang membawa mawar putih tapi satu buket, bukan satu kuntum saja. Jantung Nazarel berdetak setiap kali melihat seorang pria masuk membawa bunga.
Traakkk.
Semua lampu hiasan mulai dinyalakan menambah nuansa di sana semakin ramai dan mewah. Ternyata itu adalah pesta valentine dan sial sekali, Nazarel sampai melupakan tanggal itu saking sibuk menguruskan urusan orang lain.
Di pinggiran panggung band musik ada lampu bertulisakan 'Happy Valentine Day' yang baru saja dinyalakan dan dibuka tutupnya. Kenapa waktunya harus di malam itu? Kenapa tidak di hari-hari berikutnya? Nasib jomblo ya begitu, melupakan hari yang dirasanya penting bagi setiap pasangan.
Banyak pemuda memperhatikan Nazarel yang berdiri sendirian dengan sekuntum bunga mawar di tangannya.
Sesekali ada satu pemuda atau dua pemuda menghampiri dan bertanya padanya. Namun, Nazarel selalu menjawab dengan jawaban yang sama yaitu dia sedang menunggu tunangannya. Jadi, tidak ada yang berani mendekatinya.
Tunangan? Dia juga geli mengatakan tunangan pada orang yang belum dikenalnya dan tak tahu bagaimana wajahnya? Yang pasti malam ini dia datang ke sana niatnya akan berbicara dengan pemuda itu kalau dia menolak perjodohan bodoh itu.
Hampir dua puluh menit Nazarel berdiri di tempatnya. Tanpa mengambil makanan atau minuman. Rasanya ingin sekali dia kabur dari sana sebab selama ini, dia sangat benci pesta-pesta seperti itu.
Tiba-tiba muncul seorang pria memakai jas putih dengan sekuntum mawar putih di tangannya.
Mulut Nazarel menganga melihat kedatangan pria itu di pintu masuk dan tampak mencari-cari seseorang. Mustahil?! jerit Nazarel dalam hati melihat pria itu gemuk, memakai kacamata putih dan rambutnya dibelah tengah membuatnya ingin sekali langsung berlari kabur. Bagaimana bisa kakeknya akan menjodohkannya dengan pria seperti itu?
Pria itu melihat ke arah Nazarel dan menatapnya.
Apa dia melihatku? Batin Nazarel mengerjap takut. Pasti dia melihatku. Ia melihat bunga di tangannya dan pastinya pria itu juga melihatnya.
Karena kaget dan takut ditemukan oleh pria itu. Nazarel membalikkan tubuhnya dan memutuskan akan memakan bunga mawar putih itu supaya tidak diketahui kalau dirinya adalah gadis yang akan dijodohkan dengannya. Sebab tak ada tempat atau waktu untuk membuangnya.
Namun, baru saja semua kelopak bunga masuk ke dalam mulutnya. Seorang pria kini berdiri di hadapannya. Pria tinggi memakai setelan jas hitam dan juga sekuntum bunga mawar putih di tangannya.
Nazarel perlahan mendongak sebab pria itu begitu tinggi darinya. Mungkin jika tidak memakai sepatu hak tinggi, tubuhnya yang mungil itu hanya sebatas d**a pria tersebut.
Pria itu tersenyum miring menatap wajah Nazarel yang terlihat lucu sebab hendak memakan bunga mawar yang dibawanya dan di tangannya tinggal batang bunga saja. Ia mengacungkan sekuntum bunga mawar putih di tangan kanannya ke hadapan Nazarel dan memencet nomor di ponselnya yang dipegang di tangan kiri.
Benar saja kalau ponsel di dalam tas Nazarel berdering.
Nazarel menganga dengan kelopak bunga masih di dalam mulutnya. Ia segera mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Dilihatnya nomor tidak dikenal. Beberapa detik kemudian panggilan terputus tepat saat pria itu mematikan panggilannya.
Jantung Nazarel semakin berdetak melihat pria itu memencet kembali panggilan dan tersambung ke ponselnya lagi. Sudah jelas kalau pria itu adalah pria yang akan dijodohkan dengannya. Ia mengerjap menatap pria itu yang tak lain adalah Zand Navindra. Polisi yang sudah dua kali bertemu dengannya dan masuk ke kantor polisi di mana dia bekerja.
Lagi-lagi Zand tersenyum dan dengan kedua alisnya ia menunjuk ponsel Nazarel yang masih berdering. Lalu sedetik kemudian dia pun mematikannya kembali. Dengan tangannya dia membantu mengeluarkan semua kelopak bunga dari dalam mulut Nazarel.
“Uhukk uhukk.” Nazarel sampai terbatuk-batuk seraya mengusap mulutnya karena merasa pahit kemudian mengambil segelas air putih di depannya lalu meminumnya. “Kau?” ia masih menatap tak percaya pada Zand.
“Ya, ini aku Nona pengacau,” canda Zand membuat Nazarel sebal.
Kenapa harus dia? Geram Nazarel dalam hati lalu menunduk karena malu juga.
Tiba-tiba Zand menarik tangan Nazarel supaya menjauh dari keramaian itu. Membawanya ke balkon gedung yang lumayan sepi sebab semuanya sedang berada di dalam.
Nazarel menghempaskan kasar tangan Zand sampai terlepas. “Bagaimana bisa itu kau, Pak.po.li.si?” ia menekankan kata polisi untuk menyinggungnya.
Zand mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu.
Nazarel menghentakkan kaki kanannya sebal. “Kenapa kakek menjodohkanku denganmu?” Ia masih tidak habis pikir jika pria yang akan bertunangan dengannya lebih tua darinya. Bahkan lebih tua dari adik sepupunya yang paling tua yaitu Nicolas.
“Memangnya kenapa? Apa kau tidak suka denganku?” tanya Zand heran. Padahal dia kan juga tampan, punya jabatan, pekerjaan dan pastinya sudah mapan.
Nazarel menatapnya tak percaya dan masih berharap kalau semua ini hanyalah mimpi. “Kau bukanlah tipeku. Dan selama ini aku tidak suka dengan seorang polisi,” ujarnya lagi. Karena polisi itu vampir negara. Lanjutnya dalam hati.
Zand menghela napasnya panjang. Tidak mengira jika gadis itu ternyata tidak langsung menyukainya. “Ini adalah perjanjian kakekku dan kakekmu. Jadi, kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi.”
“Tidak bisa? Kenapa kau tidak menolaknya saja?” protes Nazarel masih tidak terima.
“Apa kau bisa menolaknya?” Zand balik bertanya.
Nazarel terdiam tidak bisa menjawab lagi. “Ihhh, kenapa kakek kejam padaku?” ia masih menghentakkan kakinya kesal, “jika aku tahu itu adalah Anda Pak polisi. Sudah pasti aku tidak akan datang ke sini. Lebih baik aku dikuliahkan ke Luar Negeri.”
“Tapi aku datang ke sini karena aku tahu itu adalah kau, Nona Nazarel,” jawab Zand membuat Nazarel terpaku menatapnya. Jadi Zand datang ke sana karena tahu bakal calon istrinya adalah dia.
Zand semakin mendekatkan dirinya membuat Nazarel mundur perlahan. Tatapan Zand terlihat mengerikan bagi Nazarel. Pria itu tiba-tiba berbisik, “bukankah kau yang pertama minta dijodohkan? Jadi, terima saja perjodohan ini. Karena, siapa tahu jika tidak denganku, nanti yang menjadi jodohmu pemuda jelek dan culun. Atau sama sekali jauh dari tipemu.”
Nazarel menelan salivanya berat. Kalau dia menolak pria tampan itu, belum tentu dia akan mendapatkan penggantinya yang lebih tampan dan gagah sepertinya. Apalagi dia seorang polisi, Tamara pasti akan kebakaran jenggot sendiri kala tahu dia menikah dengan seorang polisi atau lebih tepatnya Ajun Komisaris Polisi. Saatnya Nazarel mengembalikan semua ucapan dan doa rivalnya itu yang takkan laku-laku nantinya.
“Baiklah. Aku akan menerima perjodohan ini.” Jawaban Nazarel membuat Zand tersenyum miring.
“Kau tenang saja. Kita tidak akan dan tidak boleh mencampuri urusan masing-masing dan jangan pernah bersikap kalau kau adalah istri sungguhanku. Aku juga nggak akan mencampuri urusanmu selama hal itu tidak merusak pandangan orang terhadap rumah tangga kita dan jangan sampai ada orang yang tahu sebab apa kita segera menikah,” ujar Zand panjang lebar.
Tentu saja Nazarel merasa senang karena hal itu pula yang dia inginkan. Tidak mencampuri urusan masing-masing seperti yang ada di syarat nikah kontrak. Hanya bedanya, dia tidak tahu batas kontrak pernikahan mereka itu sampai kapan. Yang pasti, posisi dia aman tidak akan pernah pergi kuliah di luar negeri.
★BERSAMBUNG★